"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui gadis itu?
Aksara keluar dari ruangannya pada pukul 7 malam. Ya, itu sudah lewat jam kantor. Bukan tanpa alasan ia pulang terlambat, melainkan karena ia sedikit minum tadi.
Aksa hanya ingin menenangkan pikirannya, dan untuk itulah ia perlu beberapa waktu agar bisa minum sedikit.
Xyan begitu setia menemani Aksa yang memang ia ketahui pikirannya kacau. Bukan karena masalah dengan gadis yang melakukan one night stand dengannya, melainkan karena papanya tadi turut memintanya untuk segera menikah.
"Papa nggak mau tahu, Aksa. Kamu harus menikah dalam waktu dekat atau papa kirim kamu lagi ke sini."
Begitulah yang papa Aksa katakan. Aksa tidak masalah jika harus kembali ke Amerika, namun pekerjaan nya sebagai penyelundup senjata api akan sulit ia kontrol. Aksa tidak mau itu terjadi.
Dibandingkan pekerjaan nya sebagai seorang Presdir, Aksa lebih menyukai pekerjaannya sebagai seorang mafia. Aksa suka tantangan, ditambah lagi keuntungan yang didapatkan pun tidak kalah besar.
"Tuan, anda sudah merasa lebih baik?" Tanya Xyan dengan sopan.
"Hmm, setidaknya pikiranku bisa lebih ringan." Jawab Aksa tanpa menatap Xyan.
"Oh ya, kita jangan langsung pulang. Aku mau kita pergi ke tempat kerja gadis itu." Tambah Aksara lalu menyimpan ponselnya di saku jas.
"Gadis itu?" Beo Xyan, pria itu memastikan apakah Aksa benar-benar memintanya atau tidak.
"Iya, Xyan. Ayo ke tempat kerja gadis itu. Aku ingin lihat, seperti apa gadis yang telah mencicipi tubuhku ini." Jawab Aksara memperjelas.
Xyan terbatuk sedikit, ia seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Apa yang atasannya barusan adalah sebuah kesalahan.
Bukan gadis itu yang mencicipi tubuh Aksara, tapi Aksara yang sudah mencicipi tubuh gadis itu.
Xyan tidak mampu mengucapkan itu, karena ia bisa-bisa langsung dipecat dan diusir dari keluarga Abiputra.
"Aku tidak memintamu untuk melamun, Xyan. Cepat jalan!" Tegur Aksara dengan wajah yang datar dan dingin.
Xyan pun lekas menjalankan mobilnya. Ia juga menuruti perintah Aksara untuk membawanya ke tempat kerja gadis itu.
Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali. Xyan fokus menyetir dan menyalip mobil yang memang bisa untuk didahului.
Sementara Aksa, pria itu hanya diam sambil menatap keluar jendela. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang Xyan sendiri tidak tahu.
Jarak yang lumayan jauh membuat mereka harus menghabiskan waktu selama 1 jam.
Xyan menghentikan laju mobilnya dan berhenti di depan restoran milik paman dan bibi gadis itu, Ayesha.
"Kita sudah sampai, Tuan." Ucap Xyan memberitahu.
Aksara menatap Xyan sebentar, ia lalu turun dari mobil disusul oleh asisten pribadinya. Mereka berdua langsung masuk ke dalam restoran milik paman dan bibi Ayesha.
Saat keduanya sudah di dalam, Aksa langsung reflek mengibaskan tangannya di depan wajah, seakan menghalau debu yang mau menyentuh tubuhnya.
"Tempat macam apa ini. Ini tidak bisa disebut sebagai restoran, ini rumah makan biasa." Ucap Aksa pelan.
"Selamat datang, Tuan. Silahkan duduk dan mulai memesan." Seorang wanita mendatangi Aksa dan Xyan.
Aksa mundur, menjauhi wanita yang menurutnya bau bumbu itu. Aksa tidak menyukainya.
Wanita itu, Nety. Dia menghilangkan senyumannya saat pria itu memundurkan tubuhnya.
"Ah maafkan saya, Tuan. Silahkan duduk," tutur Nety dengan sopan dengan jarak yang sedikit jauh.
"Kami tidak mau makan, kami mencari seseorang." Ucap Xyan menjelaskan.
Nety tampak kebingungan. "Maaf, Tuan. Tapi siapa orang yang kalian cari?" Tanya Nety bingung.
"Bukan siapa-siapa. Ayo pergi," ajak Aksa lalu keluar duluan meninggalkan Xyan.
Xyan pun lekas menyusul tanpa berkata apapun pada Nety. Membuat wanita kejam itu kebingungan.
"Siapa yang mereka cari, apa itu temannya Aaron." Gumam Nety bertanya-tanya.
Sementara Aksara dan Xyan kembali masuk ke dalam mobil. Xyan bingung mengapa Aksa tiba-tiba pergi, padahal sebelumnya ia yang mengajak kesana.
"Tuan, ada apa?" Tanya Xyan kebingungan.
"Tidak ada apa-apa, kita pulang saja." Jawab Aksara menggelengkan kepalanya pelan.
Xyan lagi-lagi hanya bisa menurut, ia memundurkan mobilnya dan siap untuk pergi, namun Aksa kembali bicara.
"Xyan, tunggu." Tegur Aksara.
Aksara menatap keluar jendela, ia melihat seorang gadis baru saja datang dengan motornya. Gadis itu memakai topi hitam dan jaket berlogo rumah makan itu.
Ketika membuka helm, seketika rambut panjang gadis itu tergerai meski dikunci kuda. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih dan tubuhnya yang mungil.
"Gadis itu …" gumam Aksara menyipitkan matanya.
Aksara mengingatnya. Tubuh mungil dan kulit putih itu, ya gadis itu yang pernah berada satu ranjang dengannya.
"Anda mau kembali ke restoran itu, Tuan?" Tawar Xyan.
"Tidak, kita pulang saja." Tolak Aksara lalu mengalihkan pandangannya.
Xyan pun akhirnya melajukan mobilnya, benar-benar meninggalkan restoran Nety dan Wardi. Mereka pergi tanpa bertemu Ayesha, dan itu atas permintaan Aksa sendiri.
Entah apa yang membuat Aksa berubah pikiran sehingga memilih pergi sebelum bertemu dengan Ayesha.
Sementara itu di restoran milik Wardi dan Nety, Ayesha yang baru selesai mengantar makanan langsung duduk di dapur dan mengambil minum.
"Paman, Bibi. Apa ada lagi pesanan yang harus aku antar?" Tanya Ayesha pada Nety dan Wardi.
"Belum ada, sekarang bantu aku menyiapkan ini dan antar ke meja pojok." Jawab Nety tanpa menatap Ayesha.
Ayesha mengangguk kecil, gadis itu membuka jaket dan topi yang digunakannya, lalu menghampiri bibinya.
"Goreng dengan benar ayamnya, jangan sampai gosong. Awas saja kamu!" Ketus Nety, dan Ayesha hanya tersenyum membalasnya.
Nety mencuci tangannya, ia lalu mendekati suaminya yang sedang membungkus sambal ayam jika ada yang memesan dibungkus.
"Pa, tadi ada dua orang pria datang dan katanya mencari seseorang, dilihat dari pakaiannya, sepertinya mereka bukan orang sembarangan." Ucap Nety bercerita.
"Mencari siapa?" Wardi bertanya, dan ikut bingung.
"Mama nggak tahu, ditanya siapa tapi mereka jawab bukan siapa-siapa dan langsung pergi." Jawab Nety.
"Mungkin teman Aaron." Kata Wardi menerka-nerka.
"Bisa saja, karena tidak mungkin pria seperti mereka mencari Ayesha." Timpal Nety, lalu melirik sinis Ayesha.
Ayesha hanya bisa menghela nafas, ia lebih baik diam saja daripada menyahut dan berakhir kena marah lagi.
Ayesha sudah lelah bekerja seharian penuh, dan lelahnya akan semakin bertambah jika sampai dimarahi dan diancam terus menerus oleh paman dan bibinya.
"Paman, bibi. Aku sudah selesai menggoreng ayamnya." Ucap Ayesha memberitahu.
"Ya antar itu, Ayesha. Apa aku harus terus mengatakannya, aku tadi sudah bilang kan." Balas Nety dengan begitu cepat dan tatapan yang tajam.
"Baiklah." Ayesha hanya membalas dengan satu kata ketika Nety bicara 1000 kata.
Ayesha lekas membawa makanan itu keluar dan mengantarnya ke pelanggan restoran yang duduk di kursi paling pojok.
Selesai mengantar, Ayesha pun kembali ke dapur dan duduk. Gadis itu menghela nafas lelah, kemudian menyeka keringatnya.
"Aku lelah sekali, benar-benar lelah." Bisik Ayesha sangat pelan.
SABAR YA AY, AKU BISIKIN AKSA DULU ☺️
Bersambung..............................