"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20 -Gairah Cinta Terlarang
Beda halnya dengan ketegangan di Jakarta, suasana sore di Nusa Dua justru diselimuti keheningan yang hangat...
Sentuhan Arden terasa begitu lembut di bibir Alyssa, seolah-olah wanita itu adalah barang kaca yang sangat berharga dan takut pecah. Ciuman yang awalnya hanya sebuah bentuk keputusasaan, perlahan berubah menjadi ketukan penuh gairah dan kerinduan yang sudah lama terpendam.
Alyssa memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa sakit, dikhianati, dan perasaan tak dihargai yang ditanamkan Adrian padanya seolah menguap, tergantikan oleh rasa hangat dari dekapan Arden. Alyssa melingkarkan jemarinya di tengkuk Arden, membalas ciuman pria itu—seseorang yang selalu ada dan tidak pernah meninggalkannya.
"Sa..." bisik Arden terengah-engah saat mengurai ciuman mereka beberapa senti, menatap mata Alyssa yang berkaca-kaca dengan tatapan dalam. "Kalau kamu suruh aku berhenti sekarang... aku bakal berhenti."
Alyssa menatap manik mata Arden yang jujur. Tak ada kebohongan atau manipulasi di sana, hanya ada cinta murni.
Bukannya mendorong Arden, Alyssa justru menarik kerah kaus pria itu, membawa bibir mereka kembali bertemu. Isyarat tanpa kata itu sudah cukup bagi Arden.
Sore itu, di balik tirai kamar hotel yang menahan teriknya matahari Nusa Dua, batas di antara mereka resmi runtuh. Alyssa menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Arden—pria yang bukan suaminya, namun menjadi satu-satunya orang yang memeluknya di saat dunia membuangnya.
Suasana kamar mendadak hening sewaktu pendar jingga matahari terbenam mulai memudar berganti malam.
Di atas ranjang tebal itu, Arden berbaring miring seraya menatap wajah Alyssa yang tertidur pulas di dadanya akibat kelelahan. Senyum tipis terukir di bibirnya, tangannya terulur mengusap lembut rambut Alyssa. Ada rasa bahagia luar biasa yang membuncah di dadanya, namun sekaligus tekad bulat: ia tidak akan pernah membiarkan Adrian menyakiti Alyssa lagi.
Perlahan, mata Alyssa terbuka. Saat menyadari posisinya yang polos di dalam dekapan Arden, jantungnya berdegup kencang. Momen beberapa jam lalu berputar kembali di kepalanya bagai kaset rusak.
"Ya Tuhan... apa yang sudah aku lakukan?" batin Alyssa gemetar. Rasa bersalah sempat melintas, namun saat ia mengingat bagaimana Adrian meninggalkannya begitu saja demi Hanum, rasa bersalah itu menguap digantikan oleh rasa pasrah.
"Udah bangun, Kak?" sapa Arden lembut seraya mengecup dahi Alyssa dengan penuh kasih sayang.
Pipi Alyssa mendadak merona merah. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arden, tak sanggup menatap mata adik iparnya tersebut... atau pria yang kini sudah mengambil seluruh hatinya itu.
"Arden... kita... kita ini gak benar," bisik Alyssa pelan, suaranya terdengar cemas.
Arden mempererat pelukannya, menatap Alyssa dengan penuh keseriusan. "Gak ada yang gak benar, Sa. Adrian yang buang kamu, dan aku yang bakal ambil tanggung jawab itu. Mulai detik ini, kamu cuma punya aku."
Alyssa akhirnya mengangguk pasrah. Semua yang terjadi tidak bisa diputar kembali, dan ia memilih untuk mengikuti saja ke mana alur hidup akan membawanya.
Setelah selesai membersihkan diri, Arden mengajak Alyssa menuju sebuah kafe yang tak jauh dari bibir pantai. Kebetulan, di sana sedang ada keramaian sebuah acara. Tak lupa, Arden memesankan makanan dan minuman hangat untuk mereka berdua.
Alyssa mengenakan dress pantai panjang berbahan katun lembut berwarna cream dengan motif bunga-bunga kecil. Ia memadukannya dengan cardigan rajut tipis untuk menghalau angin pantai yang mulai dingin, serta sandal flat bertali yang simpel. Sementara Arden tampil santai namun tetap menawan dengan kemeja dan celana pendek cargo warna hitam.
Pandangan Arden tak lepas dari Alyssa yang tengah tersenyum memperhatikan keramaian di kafe tersebut. Rupanya, sekelompok orang di sana sedang menggelar acara gender reveal. Arden terdiam sejenak—ia tahu betul, jauh di dalam hatinya, Alyssa sebenarnya sangat merindukan kehadiran seorang buah hati.
Saat mereka sedang asyik dengan pikiran masing-masing, ponsel Alyssa berdering singkat menandakan ada notifikasi masuk. Alyssa membukanya, dan nama Adrian tertera di sana.
“Alyssa, maaf. Pekerjaan di Jakarta benar-benar gak bisa aku tinggalkan. Kamu di sana saja dulu ya, lanjutkan liburanmu dan nikmati apa pun yang kamu mau. Aku sudah kirim uang ke rekeningmu.”
Tepat di bawah pesan Adrian, muncul pesan baru dari nomor Hanum.
“Alyssa, suamimu mau menikahi ku. Boleh, kan? Boleh lah ya, kita bisa berbagi suami. Lagipula, aku bisa memberikannya anak yang gak bisa kamu kasih.”
Jemari Alyssa seketika mengepal erat meremas ponselnya. Wajahnya menegang menahan amarah dan rasa sakit yang mendadak menyeruak kembali.
Arden yang memperhatikan perubahan raut wajah Alyssa langsung menyadarinya. "Ada apa, Kak?" tanya Arden lembut.
"Gak apa-apa, Den," balas Alyssa berusaha bersikap biasa saja.
Melihat itu, Arden terulur menggenggam jemari Alyssa yang dingin di atas meja, memberikannya kehangatan. "Aku kan udah bilang, kalau ada apa-apa cerita sama aku. Kamu gak perlu memendam semuanya sendiri, oke?"
Alyssa menatap Arden lalu tersenyum tipis, berusaha menenangkan pria di hadapannya. "Iya... tapi ini benar-benar gak penting, kok."
Alyssa mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa gertakan Hanum di pesan itu hanyalah bualan semata.
Arden tak lantas percaya begitu saja. Ia bisa melihat kilat luka di mata Alyssa, meski wanita itu berusaha menutupinya dengan senyuman. Tanpa menginterogasi lebih jauh tidak akan memaksa, Arden berdiri dari kursinya.
"Yuk," ajak Arden seraya mengulurkan tangannya.
Alyssa mendongak bingung. "Ke mana? Makanannya kan baru dipesan, Den."
"Jalan-jalan sebentar di pinggir pantai depan kafe. Mumpung pesenannya belum datang, daripada kamu melamun terus di sini," ujar Arden lembut.
Alyssa menyambut uluran tangan Arden. Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri garis pantai Nusa Dua yang berada persis di depan kafe. Suara deburan ombak malam dan pendar lampu-lampu gantung menciptakan suasana yang begitu hangat dan tenang.
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣