Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.
Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.
Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.
Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan dengan suaminya.
Namun, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.
Tapi... untuk mengetahui lebih lanjut, ikutin terus dong alur cer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7.
Sinopsis – Bab 7.
"Baik dokter? Kalau begitu saya akan memanggil suster Ulfa dan suster Fina terlebih dahulu? Setelah itu, kami akan segera membawa pasien ke ruang ultrasonografi?" jawab suster itu, lalu di balas anggukkan kepala oleh dokter tanda setuju.
Ceklit. "Sus—"
"Sus... bagaimana keadaan calon cucu saya, apa keadaannya baik-baik saja?" dengan perasaan cemas Bu Siska langsung mencekal suster yang keluar untuk memanggil kedua temannya.
"Kami belum tahu pasti keadaan anak yang ada di dalam kandungan pasien Bu? Tapi dokter menyarankan pada kami, agar pasien segera di bawa ke ruang ultrasonografi untuk pemeriksaan lebih lanjut?'' ucap suster memberitahu, kemudian langkahnya untuk memanggil kedua temannya.
"Ya Tuhan, calon cucu kita Pa?" mendengar hal itu Bu Siska seketika menjatuhkan diri ke dalam pelukan suaminya, menangis terisak karna tak kuasa menahan kesedihan mendengar perkataan suster itu lagi.
"Tenang ya Ma? kita berdoa saja, semoga menantu dan calon cucu kita diberi keselamatan oleh Allah?" dengan perasaan sama, tuan Bagas membalas pelukan istrinya sambil mengelus punggung istrinya untuk menenangkan.
Setelah Devina di bawa ke ruang ultrasonografi atau biasa disebut dengan USG, barulah dokter dapat memutuskan langkah apa yang akan di lakukan selanjutnya.
"Dokter... apa hasilnya, bagaimana dengan calon cucu saya?" tanya Bu Siska sekali lagi untuk memastikan keadaan calon cucunya apakah baik-baik saja atau tidak saat melihat dokter keluar dari ruangan USG.
"Anak yang ada di dalam kandungan pasien, alhamdulilah selamat Bu Pak?" ucap dokter memberitahu.
"Wah... Dokter, terima kasih telah menyelamatkan calon cucu saya?" ucap Bu Siska merasa sangat bahagia mendengar perkataan dokter.
"Tapi... ada sedikit masalah, Pak Bu?" tutur dokter melanjutkan ucapannya.
"Masalah apa dokter?" tanya tuan Bagas penasaran sekaligus cemas.
"Keadaan pasien sangat kritis Pak, di otaknya ada pembekuan darah, di tambah lagi salah satu lengannya ada juga yang patah? Jika mengingat hal itu, saya khawatir pasien tidak akan bisa melahirkan secara normal?" jelas dokter berbicara panjang lebar untuk memberitahu.
"Ya Allah?" gumam tuan Bagas dengan ekspresi cemas kembali menyelimuti hati dan pikirannya.
Sedangkan pria yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai Ayah, sama sekali tak memiliki perasaan cemas terhadap istri dan anaknya. Begitu pula dengan Bu Siska, yang terpenting baginya hanyalah mengetahui bahwa calon anak dalam kandungan selamat. Namun untuk kondisi dan keselamatan sang menantu, ia benar-benar tidak perduli sama sekali.
"Lalu... langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya, dokter?" tanya tuan Bagas kembali.
"Kami harus melakukan operasi ceasar untuk menyelamatkan salah satunya?" tutur dokter akhirnya mengambil keputusan.
"Tolong selamatkan anaknya saja dokter, mengenai biayanya dokter tidak perlu khawatir? Karna sudah jelas saya akan bayar berapapun, asalkan kalian berhasil menyelamatkan calon cucu saya? " timpal Bu Siska juga ikut mengambil keputusan sepihak demi kepentingannya sendiri.
"Tidak dokter! Kami masih sangat berharap, dan saya mohon tolong selamatkan dua-duanya?" sahut tuan Bagas menambahkan dengan ekspersi penuh harap.
"Doakan saja yang terbaik ya Pak Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, karna pasien harus segera kami bawa ke ruang operasi?" sambung dokter tersenyum kecut.
"Baik dokter?" ucap Tuan Bagas dan istrinya secara bersamaan, lalu dokter itu mengikuti brankar Devina masuk ke ruang operasi.
"Hmmm... semoga saja dokter tidak bisa menyelamatkan dua-duanya, supaya tidak ada lagi yang menghalangi aku menikahi Vindy?" gerutu Jonathan dalam hati sambil menyunggingkan sudut bibirnya melihat brankar istrinya di dorong keluar melewati dirinya.
Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Nah guys, untuk hari ini cukup sekian dulu cerita dari author. dan nantikan episode selanjutnya yang nantinya akan semakin seru dan menarik.
Dan sebelum di tinggalkan, jangan lupa untuk
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
And Favoritkan😍
See you again thanks for watching🙏🙏🙏