"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 25, Kami Bercerai!
Koper berwarna gelap itu menggelinding pelan mengikuti langkah Anna ketika ia memasuki halaman sebuah bangunan tiga lantai yang berdiri di antara deretan rumah sewa di kawasan Jakarta. Tempat itu tentu jauh berbeda dengan apartemen yang selama lima tahun terakhir menjadi rumahnya bersama Jeevan; tidak ada lobi berlapis marmer, pendingin ruangan yang menyambut sejak pintu otomatis terbuka, atau pun petugas keamanan berseragam rapi yang mengenali setiap penghuni. Hanya ada bangunan sederhana bercat putih gading, beberapa pot tanaman yang diletakkan sembarangan di dekat tangga, serta suara televisi milik penghuni lantai pertama yang terdengar samar dari balik pintu. Namun entah mengapa, ketika berdiri di sana, dada Anna justru terasa sedikit lapang, seolah-olah tempat sederhana itu memberinya izin untuk menjadi manusia biasa tanpa harus memikirkan apakah dirinya sudah cukup baik untuk memenuhi harapan siapa pun.
Anna mengangkat kopernya perlahan saat menaiki anak tangga menuju lantai dua. Roda benda itu berapa kali membentur ujung keramik hingga menghasilkan bunyi berat yang menggema di lorong sempit. Napasnya sedikit tersengal ketika akhirnya sampai di depan kamar Sherly, lalu ia berhenti sejenak untuk memandang ke arah tangga lain yang menghubungkan menuju lantai paling atas. Di atas sana terdapat rooftop kecil yang selama bertahun-tahun seperti menjadi markas tidak resmi mereka bertiga. Tidak mewah, bahkan hanya di hiasi satu meja kayu pendek seperti amben, lalu sofa panjang yang warnanya sudah kusam, jemuran tali serta beberapa pot berisi sayuran seperti cabe rawit, kemangi dan daun bawang, serta rangkaian lampu kecil yang dipasang Sherly dengan ambisi sebesar dekorator kafe meskipun hasilnya lebih menyerupai lampu tujuh belasan.
Namun, di tempat itulah Anna, Sherly serta Irene pernah menghabiskan banyak malam dengan makanan murah, menceritakan pekerjaan, keluhan hidup, serta tawa yang sering kali baru berhenti ketika penghuni lain menyuruh mereka mengecilkan suara.
Bibir Anna tanpa sadar membentuk senyum tipis. Setidaknya, untuk sementara waktu, ia tahu kemana harus pulang.
Tangannya terangkat mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Tidak sampai semenit kemudian terdengar langkah tergesa dari dalam, disusul bunyi kunci yang diputar sebelum pintu terbuka lebar. Sherly muncul mengenakan kaus longgar dan celana pendek, sementara rambutnya dijepit asal ke atas kepala. Perempuan itu seharusnya baru masuk kerja pada shift siang sehingga wajahnya masih terlihat seperti seseorang yang belum sepenuhnya berdandan dengan rapi.
"Anna?"
Pandangan Sherly turun. Bola matanya melihat sebuah koper, yang di genggam erat oleh Anna.
Lalu ia kembali menaikan pandangannya dan menatap wajah sang sahabat.
Dahinya langsung berkerut. "Loh?"
Anna tersenyum kecil. "Aku boleh numpang beberapa hari?"
Sherly tidak langsung menjawab. Ia malah menarik koper dari tangan Anna dengan gerakan spontan.
"Masuk dulu. Berat banget, sih. Kamu bawa pakaian atau Jeevan sekalian dimasukin ke sini?"
Tawa kecil lolos dari bibir Anna. "Kalau Mas Jeevan dimasukin ke situ, kopernya gak bakal nutup."
Sherly terkekeh seraya menunjuk sahabatnya. "Nah, masih bisa bercanda. Berarti belum kiamat."
Sherly membawa koper tersebut masuk lalu meletakkannya di dekat lemari. Ruangan yang ditempatinya tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman untuk satu orang. Sebuah sofa kecil berada tidak jauh dari ranjang, sementara dapur mungil menempati salah satu sudut ruangan. Beberapa foto mereka bertiga tertempel pada dinding dekat meja makan, dan sisanya foto-foto liburan Sherly dan kekasihnya Dean.
Anna duduk di sofa.
Baru setelah tubuhnya tenggelam pada bantalan empuk itu menyadari betapa lelahnya dirinya.
Bukan karena perjalanan.
Melainkan karena tadi pagi ia meninggalkan lima tahun kehidupannya di balik sebuah pintu.
"Dean...masih tinggal di sini, Sher?" tanya Anna basa-basi.
"Nggak. Dia tinggal bareng kedua orang tuanya sekarang. Semenjak membahas pernikahan...dia jadi agak menghindar dariku." Jawab Sherly.
Sherly berjalan menuju dapur lalu kembali membawa segelas air putih. Ia menyerahkannya kepada Anna sebelum mengambil tempat di sebelahnya, tetapi perempuan itu tidak langsung bertanya apa pun. Sebuah keajaiban kecil, mengingat mulut Sherly biasanya bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan otaknya menyaring pertanyaan.
Anna meminum beberapa tegak.
"Kamu...di usir sama Mas Jeevan?" tanya Sherly tanpa basa-basi membuat Anna hampir tersedak.
"Tidak," jawabnya cepat seraya meletakan gelas Kembali di nampan.
"Lalu? Kenapa kamu mau nginep beberapa hari di sini...tapi kamu bawa koper segala, Na. Kan aneh, iya kan?" tanya Sherly lagi.
Anna terdiam sesaat. Bibirnya berkedut hendak berbicara namun kembali mengulang kata pada otaknya sebelum lisan yang berucap.
"Sher," panggil Anna nyengir canggung.
"Hm?" sahut Sherly seraya menatap sahabatnya.
"Aku sama Mas Jeevan... memutuskan untuk bercerai." Ucapnya pelan seraya menundukkan kepala.
Hening sesaat, bahkan Sherly sampai mengedipkan kedua kelopak matanya sambil menatap Anna-- pendengaranku tidak salah, kan?
"Hah? Maksud kamu apa, Na?" tanya sambil mendadak tegak.
Lagi-lagi Anna nyengir canggung. "Bisa pelan sedikit, Sher?"
Sherly langsung menutup mulutnya. "Opss... sorry. Tadi...kamu bilang apa?"
Sherly benar-benar terlihat ingin memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Aku sama Mas Jeevan...cerai, Sher." Jawab Anna lagi.
"CERAI?!" Tanya Sherly lagi meninggi dengan keterkejutan.
"Sherly," tegur Anna lagi.
"Oke, oke." Sherly menurunkan volume suaranya, meskipun ekspresi wajahnya masih menyerupai seseorang yang baru diberitahu bahwa bumi akan berhenti berputar sore nanti. "Cerai? Maksud kamu cerai yang...cerai?"
Anna menahan tawa. "Memangnya ada jenis cerai yang lain?"
"Mas Jeevan selingkuh?" tanya Sherly.
Anna menggeleng pelan. Lalu Sherly kembali bertanya seolah tidak memberikan kesempatan untuk Anna menjelaskan terlebih dahulu.
"Dia punya perempuan lain? Dia mukul kamu? KDRT? Atau jangan-jangan...dia diam-diam punya istri ke dua?" tanya Sherly menebak-nebak.
Anna menggeleng seraya tersenyum. "Enggak Sherly..."
"Kalau enggak, kenapa kalian bercerai? Oh! Atau dia punya anak di kota lain?"
"Tidak." Jawab Anna mulai malas.
Sherly mengembuskan napas keras sembari menepuk pahanya sendiri. "Terus kenapa tiba-tiba cerai? Kemarin kalian masih baik-baik aja! Jangan bilang, manusia kulkas dua belas pintu itu bikin sesuatu di belakangmu. Sumpah, Na, kalau dia macam-macam, aku patahkan kakinya."
Anna menoleh. "Kamu mau masuk penjara?"
"Demi sahabat, penjara tidak menghalangi persahabatan." Ungkapnya bangga.
"Sherly." Sahut Anna menggeleng-gelengkan kepala.
"Dulu aku ikutan taekwondo, kamu lupa Na?" ujarnya seraya berdiri.
Anna terkekeh kecil. "Lagian kamu ikutan taekwondo cuma sampe kelas dua SMA."
"Sabukku biru, Anna!" tegasnya.
"Kamu berhenti gara-gara naksir anak basket." Celetuk Anna santai.
Sherly terdiam beberapa detik. "Itu tidak ada hubungannya dengan kemampuan tendanganku."
Sudut bibir Anna terangkat semakin tinggi. Untuk beberapa saat, ruangan kecil itu dipenuhi sesuatu yang ringan, seperti angin yang menyelinap melalui celah jendela setelah berhari-hari udara terasa pengap. Sherly memang selalu seperti itu. Perempuan tersebut memiliki kemampuan aneh mengubah kesedihan menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan tanpa membuat luka kehilangan maknanya.
Namun senyum Anna mereda. Bukan hilang sepenuhnya, hanya menjadi lebih tipis.
"Aku yang minta cerai."
Kalimat itu akhirnya membuat Sherly berhenti berceloteh.
"Kamu?" ulang Sherly masih tidak percaya.
Anna mengangguk.
"Kenapa?" Sherly menatap sahabatnya lamat.
Tatapan Anna jatuh pada kedua tangannya sendiri. Jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuan, begitu tenang hingga nyaris tidak menunjukkan bahwa di balik kulit dan tulang itu ada jiwa yang bertahun-tahun kelelahan menahan perang sendirian.
"Karena aku sakit." Jawab Anna santai.
Wajah Sherly seketika berubah. "Apa?"
Anna mengangkat pandangan. "Aku sakit."
Sherly memucat. Segala lelucon yang tadi memenuhi wajahnya seperti disapu seseorang dalam satu tarikan napas.
"Sakit apa?" tanya Sherly panik dan khawatir.
Anna belum sempat menjawab ketika Sherly kembali menyambar dengan kepanikan yang bergerak lebih cepat daripada logika.
"Jangan bilang kanker."
Anna mengerutkan dahi.
"Atau tumor?" tanya Sherly lagi cepat.
"Sher--"
"Penyakit jantung? Kamu...kamu...gak bakal ninggalin aku kan?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan Sher. Aku gak sakit yang kamu sebutkan tadi." Ucap Anna.
Sherly mulai benar-benar panik. "Terus apa? Jangan bilang kamu bentar lagi meninggal terus sengaja cerai supaya Jeevan bisa menikah lagi setelah kamu mati. Demi Tuhan, Anna, kalau ternyata hidup kamu berubah jadi drama Korea, aku--"
"Sherly!" sela Anna.
"A-apa?" Sherly meraih jemari sahabatnya dan meremasnya pelan penuh khawatir.
Anna menatap Sherly cukup lama sebelum sebuah senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
"Ayo cepetan bilang, Na! Kamu sakit apa?!" tegas Sherly semakin panik.
"Aku didiagnosa mengalami gangguan depresi dan anxiety, Sher...mentalku sakit...aku..."
Sherly langsung memeluk sahabatnya, ia mengusap punggung Anna begitu Sherly mengetahui jika selama ini sahabat yang terlihat baik-baik saja ternyata sedang menerjang badai yang siapa menerjang kapan saja.
"Aku udah beberapa kali ke psikiater...aku baru belajar menerima kalau aku memang gak baik-baik aja..." ucapnya lirih.
"Kenapa...kenapa kamu baru bilang?" tanya Sherly menahan tangis.
"Karena aku gak mau repotin kamu dan Irene...aku takut semua orang kecewa dengan sakit yang aku alami..."
"Bodoh. Kamu gak sendirian. Ada aku sama Irene...." tangis Sherly akhirnya pecah.
"Aku takut, sakitku ini malah membuat Mas Jeevan menjauh. Untuk itu lebih baik aku yang menjauh..." ungkapnya.
...💞💞💞...
Jangan lupa subscribe, bintang lima, follow, vote, komen dan like🫶
Boleh juga kok reader semua mau ngasih mawarnya buat Yehppee 🫶 🫶 🥹
...BERSAMBUNG...