Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
Dini hari ini, Aira mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal. Pesan itu bertuliskan, "Aira, aku Kinan. Ini nomor baruku, maaf baru menghubungi kamu."
Aira yang baru bangun tidur mengucek kedua matanya. "Kinan?" gumam Aira.
Ia lalu meninggalkan kamar, sementara Azam masih tertidur pulas. Jam dinding saat itu baru menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Ting!
Sebuah pesan masuk lagi dari nomor yang sama. "Aku di taman kompleks perumahan kamu, Ra."
Aira langsung meninggalkan ponselnya di meja ruang keluarga. Hanya dengan memakai piama, Aira berlari keluar rumah untuk menghampiri Kinan yang berada di taman.
"Kinan!" panggil Aira.
Perempuan berambut sebahu dengan gaun putihnya itu menoleh. Pandangan mereka saling bertemu.
"Aira!" Kinan berlari ke arah Aira, lalu memeluk erat tubuh mungil sahabatnya itu. Tangisnya langsung pecah. Gadis itu menangis sesengukan di bahu Aira.
"Ra, Papa jahat! Papa pukul Mama hanya karena Mama tidak mau tinggal di Eropa," isak Kinan.
Aira mengusap lembut punggung Kinan, mencoba menenangkan gadis itu. Biasanya Kinan selalu tampil elegan dan natural, tidak pernah sekacau ini. Aira kemudian mengusap lembut pipi Kinan yang dipenuhi air mata.
"Kalau kamu tidak keberatan, sini cerita sama aku," kata Aira.
Mereka pun duduk di salah satu kursi taman. Namun, tanpa mereka sadari, ada seorang laki-laki misterius yang sedang memperhatikan mereka dari balik semak-semak.
***
Sementara itu, Azam yang masih tertidur tiba-tiba terbangun saat merasakan sisi tempat tidur di sebelahnya kosong.
"Sayang, kamu di mana?" panggil Azam dengan suara serak khas bangun tidur.
Laki-laki itu turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. "Sayang?" panggil Azam lagi saat melihat kamar mandi di dalam kamar mereka ternyata kosong.
Perasaan tidak enak mulai tumbuh di benak Azam. Ia berlari menuruni anak tangga sambil terus memanggil Aira, namun tetap tidak ada sahutan. Tiba-tiba, Azam melihat ponsel Aira yang tergeletak di meja bergetar, tanda ada notifikasi masuk.
Azam mengepalkan kedua tangannya saat membaca isi obrolan dari nomor yang mengaku sebagai Kinan tersebut.
"Sialan!" geram Azam.
Ia langsung berlari kembali ke arah kamar mereka untuk mengganti pakaian dan menyusul istrinya.
Aira, aku... aku kabur dari rumah. Aku disuruh mama pergi. Aku enggak tahu gimana kejadiannya. Kemarin sore kami tiba di Indonesia. Papa bawa kami ke desa nenek, hiks... Dan sekarang Mama masih ada di sana, Ra. Mama enggak mau kenapa-napa, makanya aku disuruh pergi. Aku cuma bawa HP," kata Kinan tersedu-sedu."Loh, kok bisa? Bukannya papa kamu baik, ya?" tanya Aira polos.Kinan mengangguk."Baru kali ini, Ra. Baru kali ini Papa marah karena Ibu enggak mau tinggal di Eropa, hiks."Aira memeluk Kinan penuh kasih sayang dan kelembutan."Ya sudah, kamu malam ini tidur aja dulu di rumahku, ya. Kamu pasti kecapean," kata Aira.Entah kenapa Aira ikut merasakan sakit saat mendengar tangisan Kinan. Namun, saat dirinya memeluk Kinan, hatinya terasa damai seolah-olah mereka memiliki ikatan batin yang begitu kuat.Kinan mengangguk lemah, lalu mereka berdua pun meninggalkan taman komplek. Belum jauh dari taman, mereka bertemu Azam yang sedang berlari terburu-buru."Mas, kamu ngapain keluar malam-malam? Kamu pasti janjian, kan, sama cewek?!" omel Aira yang tidak mau menerima penjelasan apa pun dari Azam.Azam menghela napas lega saat melihat Aira dan Kinan baik-baik saja."Maafin gue, Zam," kata Kinan gemetar.Meski jarak usia mereka lima tahun, Kinan sudah terbiasa memanggil Azam, Seno, dan Ardi dengan panggilan nama."Santai aja, Nan. Ya sudah, ayo kita pulang," kata Azam. Lalu, mereka pun pulang ke rumah Azam dan Aira."Kalian mirip, ya," kata Azam sengaja.Aira yang sedang menyuapi Kinan langsung menoleh, lalu keduanya saling pandang."Iya!!!" kata Aira. Tiba-tiba Aira merasa wajah Kinan sangat mirip dengannya, hanya saja Kinan terlihat lebih dewasa dan elegan."Kok bisa?" kata Kinan pelan."Mungkin karena kalian kecapean terus habis nangis, makanya kalian salah lihat," kekeh Azam.Saat ini Kinan sudah mengganti pakaiannya dengan piyama baru milik Aira."Ya sudah, mending kalian tidur berdua saja. Saya ke atas duluan," kata Azam lalu meninggalkan ruang keluarga.Aira mengangguk antusias."Yaudah yuk, Kinan, kita tidur. Aku kangen tahu sama kamu."
"Makasih ya, Ra," kata Kinan tulus.Lalu, mereka pun tidur di kamar Aira yang ada di lantai dasar. Di rumah ini, Aira meminta satu kamar yang hanya boleh dimasuki oleh dirinya dan orang yang diizinkannya.Aira memeluk erat tubuh kurus Kinan, dan Kinan hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Aira yang sangat menggemaskan.Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi."Ada apa, Mas? Kok tumben pagi-pagi nyariin aku?" tanya Aira heran karena tidak seperti biasanya Azam memanggilnya."Sayang, aku mau kamu ikut aku ke kantor, ya, mulai hari ini," kata Azam tiba-tiba.Aira mengernyit bingung."Kenapa? Kok tumben? Biasanya kan aku di rumah," tanya Aira bingung.Azam menghela napas dalam. Laki-laki tampan itu tidak mungkin membiarkan Aira di rumah meski ada Mbok Nia."Enggak apa-apa, sayang. Aku cuma enggak bisa jauh-jauh sama kamu. Penginnya lihat kamu terus," kata Azam memelas.Aira merasa tidak enak jika harus menolak permintaan suaminya. Namun, di sisi lain, dia tidak ada kerjaan di kantor suaminya."Tapi kan enggak ada yang harus aku kerjain, pasti nanti aku bosan," kata Aira apa adanya."Kamu jadi sekretaris aku saja, gimana? Mau, kan?" kata Azam senang.
Aira terdiam, lalu mengangguk setuju.
"Terus gimana sama sekretaris kamu yang sebelumnya?" tanya Aira.
"Dia udah keluar, Sayang, dua minggu lalu," jawab Azam santai.
Aira menoleh. "Keluar? Kenapa?" tanya Aira sembari menyodorkan segelas kopi.
"Dia mau menikah dan tinggal di luar negeri. Jadi, dia aku pindahkan ke perusahaan aku yang ada di sana," jawab Azam, lalu menyeruput kopinya.
"Oh, ya sudah deh kalau gitu aku mau," kata Aira setuju.
"Oh ya, Sayang, nanti Kinan kita antar ke rumah Ayah Fikri saja, gimana? Kayaknya di perusahaan Ayah Fikri ada kerjaan buat Kinan," kata Azam tiba-tiba.
Aira duduk di kursi santai di depan Azam. "Nanti aku coba tanyain Kinan dulu, ya," kata Aira.
Mereka pun melanjutkan bersantai di dapur kering.
Aira bersiap-siap. Perempuan berusia 22 tahun itu memilih memakai rok hitam di atas lutut, heels hitam yang tinggi, dan rambut panjangnya digulung menjadi satu. Hal itu membuat dirinya semakin terlihat cantik dan imut.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Azam yang baru saja merapikan kancing kemejanya.
"Sini aku rapihin dasinya," kata Aira.
Perempuan itu berusaha menjinjit agar bisa merapikan dasi suaminya.
*Cup.*
Dengan jahil, Azam menundukkan kepalanya dan mencium sekilas bibir mungil Aira. Mata Aira seketika melotot, dan pipinya merona karena malu.
"Ihh, Mas! Kamu ah jahil banget deh!" omel Aira berpura-pura kesal.
Azam terkekeh, lalu menarik pinggang ramping istrinya. "Kamu cantik banget, Aira sayang," puji Azam tulus.
"Udah yuk berangkat, nanti keburu telat. Kita kan juga mau antar Ki..."
"Nanti Kinan dijemput Seno, Sayang," potong Azam.
Setelah memberi tahu Kinan bahwa Seno yang akan menjemputnya dan melarang Kinan untuk keluar rumah sebelum Seno datang, Azam dan Aira pun berangkat. Mereka duduk di kursi belakang karena mulai hari ini Pak Tarto yang akan menyetir untuk mereka.
"Mas, aku malu. Kira-kira penampilanku terlalu menor enggak, sih?" kata Aira gugup.
Azam menggenggam erat tangan Aira. "Enggak sama sekali, Sayang. Makeup kamu udah bagus dan natural," jawab Azam sembari menatap wajah cantik Aira.
Lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di perusahaan. Sebuah gedung mewah dan ternama dengan 35 lantai.
"Kamu pasti bisa, oke?" kata Azam saat Aira sudah berjalan di belakangnya.
Aira mengangguk. "Baik, Pak," jawab Aira formal.
Dengan langkah tegap, Aira mengikuti langkah Azam. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka berdua.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi, Pak."
Aira hanya diam saat beberapa karyawan mulai menyapa Azam, namun sapaan itu tidak dihiraukan oleh laki-laki tersebut.
"Geysa, mulai hari ini istri saya, Aira Humaira, yang akan menjadi sekretaris pribadi saya," kata Azam kepada salah satu karyawannya yang kebetulan menghampiri.
"Baik, Pak. Bu Aira, kenalin saya Geysa, pengganti Pak Lucky beberapa minggu ini," kata Geysa ramah.
Aira menerima jabat tangan Geysa. "Salam kenal juga, ya," kata Aira ramah.
Setelah kepergian Azam dan Aira, Geysa langsung mengusap tangannya dengan tisu.
"Merasa tersaingi ya, hahaha?" Suara tawa yang begitu menyebalkan terdengar di telinga Geysa.
"Apaan sih, enggak jelas banget deh," gerutu Geysa, lalu meninggalkan Nanda, sahabatnya.
Aira menatap takjub ke dalam ruangan Azam. Ruangan dengan ukuran 15x15 meter itu terlihat sangat luas dan elegan.
"Di sini juga ada kamar tidur, Sayang," kata Azam sembari memeluk tubuh mungil Aira dari belakang.
Aira tersentak kaget. "Mas, ini di kantor!" kata Aira waswas.
Azam terkekeh. "Enggak ada yang bisa masuk sini, Sayang, karena cuma aku yang bisa membuka pintunya," bisik Azam.
Aira menghela napas lega. "Luas banget. Aku mau lihat-lihat, boleh?" tanya Aira, yang langsung diiyakan oleh Azam.
"Boleh, Sayang," kata Azam, lalu berjalan ke arah meja kerjanya.
Aira berlari ke arah jendela kaca besar yang ada di belakang kursi kerja Azam. Dari ketinggian, Aira bisa melihat dengan jelas gedung-gedung dan kendaraan yang berlalu-lalang di taman. Azam tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.
Ruang kerja Azam memang sangat luas dan rapi. Ada tiga rak buku yang tersusun rapi, sofa, meja tamu, serta meja kecil sepanjang tiga meter dengan hiasan bunga mawar di atasnya. Di sana juga terdapat kulkas dan rak-rak tersembunyi.
Selain itu, ada satu kamar tidur yang lumayan luas. Di dalam kamar tersebut dilengkapi dengan kulkas, lemari baju, tiga rak buku, tempat tidur yang empuk, sofa, dan sebuah mesin kopi.
"Wahhh, ini kantor apa rumah? Nyaman banget!" kata Aira takjub, apalagi semuanya serba berwarna hitam.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍