NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retaknya Keluarga Sienta

Di kediaman keluarga Sienta, suasana terasa seperti medan perang. Udara dingin menyelimuti ruangan, tetapi ketegangan di antara para penghuninya jauh lebih panas dari api. Dua kubu berdiri saling berhadapan, dan di tengah-tengah mereka, keluarga besar yang dulu disegani kini mulai retak.

Kenta Sienta duduk di kursi kepalanya dengan wajah batu. Matanya yang tajam menatap istrinya dengan sorot penuh kecurigaan. Di hadapannya, Belinda Helrena berdiri dengan tegap, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

"Kau tidak bisa membatalkan pertunangan itu, Belinda," ucap Kenta, suaranya dingin dan tegas. "Aku sudah memutuskan. Grey Vincentes akan menikahi Keilla, dan melalui pernikahan itu, kita akan mengambil alih kekayaan keluarga Vincentes."

Belinda mendengus. "Kau masih memikirkan kekayaan mereka? Sudah jelas Grey tidak lagi mencintai Keilla! Dia bahkan mengabaikannya di depan umum! Kau ingin putrimu menikah dengan pria yang membencinya?"

"Apa yang kau ketahui tentang cinta?" Kenta membentak, matanya menyala. "Ini bukan tentang cinta, Belinda. Ini tentang kekuasaan! Tentang masa depan keluarga Sienta!"

"Keluarga Sienta?" Belinda tertawa pahit. "Kau begitu sibuk memikirkan kekuasaan hingga kau buta terhadap apa yang terjadi di sekitarmu! Gianna Vincentes telah kembali, dan kau masih berpikir kau bisa mengendalikan segalanya?"

Kenta berdiri dengan kasar, kursinya terdorong ke belakang. "Diam! Kau tidak tahu apa-apa tentang rencanaku!"

"Dan kau tidak tahu apa-apa tentang orang yang kau hadapi!" balas Belinda dengan suara meninggi.

Di sudut ruangan, Keilla berdiri dengan gelisah. Tangannya gemetar, matanya bergerak cepat dari ayahnya ke ibunya, mencoba memahami apa yang terjadi. Hatinya terasa sesak menyaksikan keluarganya hancur di hadapannya.

"Kenapa sikap Ibu seperti berubah?" pikirnya, bingung. "Apa ada seseorang yang menyuruhnya membatalkan pertunangan?"

Ia mencurigai ada orang di balik ibunya—seseorang yang memanipulasi Belinda untuk melawan Kenta.

Di sampingnya, Alarga Pigeinta berdiri dengan tenang, tangannya di saku jas putihnya. Ia bersiul ringan, mencoba bersikap santai meskipun situasi di sekelilingnya memanas.

Namun, melihat Keilla yang tampak kebingungan dan ketakutan, ia merasa tidak punya pilihan lain selain membantunya.

"Keilla," bisiknya pelan, "kurasa kau harus mengikuti perkataan ayahmu."

Keilla menoleh dengan mata membelalak. "Apa? Jangan gila! Aku tidak ingin bertunangan dengan Grey lagi—apalagi menikah dengannya! Kau tahu sendiri bagaimana dia memperlakukanku!"

Alarga menghela napas. "Dengarkan aku, Keilla. Aku hanya memberi saran padamu agar mengikuti ayahmu."

Ia menatap Keilla dengan tatapan serius, suaranya menjadi lebih rendah.

"Sebaiknya kau jangan pedulikan ibumu. Orang di belakangnya sangat berbahaya. Biarkan saja ibumu pergi dan menghilang dari kehidupanmu."

Keilla terdiam. Matanya menatap Alarga dengan penuh pertanyaan.

"Keluarga Sienta akan musnah jika ibumu terus berada di sini," lanjut Alarga, suaranya tegas. "Orang yang berada di belakangnya... berbahaya. Kau harus menjauhkannya dari keluarga Sienta."

Keilla menunduk, pikirannya berputar cepat.

"Apa maksudnya?" tanyanya dalam hati. "Siapa yang berada di belakang Ibu? Dan mengapa dia begitu berbahaya?"

Alarga melanjutkan, "Percaya atau tidak, itu terserah. Tapi yang pasti, selama ibumu berada di kediaman keluarga ini... orang yang berada di belakangnya akan secara perlahan menghancurkan keluarga Sienta berkeping-keping."

Keilla menggigit bibirnya. Matanya menatap ibunya yang masih berdebat dengan Kenta.

"Sudah kuduga," pikirnya, hatinya berat. "Ibu menjadi pengkhianat. Keluarga Sienta terkenal kekejamannya... siapa pun yang berani menghancurkan keluarga ini harus pergi."

Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah maju dengan tekad.

"Keilla?" Kenta menoleh, bingung melihat putrinya mendekat. "Kenapa kau ke sini? Ini bukan tempat untukmu. Kembalilah ke kamarmu!"

Namun, Keilla tidak mendengarkan. Ia mendekati ayahnya dan membisikkan semua perkataan Alarga ke telinga Kenta.

Wajah Kenta yang tadinya bingung berubah tegas. Matanya menyipit, dan di dalam hatinya, api kecurigaan mulai menyala.

"Penjaga!" panggilnya tegas.

Pria berbadan besar dengan tombak di tangannya melangkah maju. "Siap, Tuan!"

Kenta menunjuk ke arah Belinda dengan tatapan dingin. "Buang wanita ini ke dalam hutan."

Belinda terkejut. Wajahnya memucat. "Apa? Tunggu dulu—aku tidak salah! Kenapa aku dibuang?"

Kenta menatap istrinya dengan mata dingin. "Aku tidak akan membuangmu, Belinda. Tapi statusmu sebagai bagian dari keluarga Sienta sudah tidak berlaku lagi. Pergi dari kediaman ini—atau kau akan bernasib sama seperti pelayan sebelumnya."

Belinda terdiam. Ia menatap suaminya, lalu menatap putrinya, lalu menatap semua orang di ruangan itu. Tidak ada yang berani membelanya.

Dengan langkah gemetar, Belinda berjalan keluar dari kediaman. Gaunnya berkibar tertiup angin malam, dan di matanya ada campuran antara kemarahan dan ketakutan.

Semua anggota keluarga Sienta hanya bisa diam menyaksikan. Tidak ada yang berani bersuara—ucapan Kenta adalah mutlak.

Kenta menatap kepergian istrinya, lalu berbalik menghadap anak buahnya.

"Siapapun orang yang berada di belakangmu," gumamnya pelan, "aku harus menyingkirkannya sebelum semuanya terlambat."

Ia mengepalkan tangannya.

"Keluarga Sienta tidak boleh hancur," pikirnya, matanya menyala tekad. "Bahkan jika aku harus menghukum bagian penting dari keluarga ini sendiri."

Di luar, Belinda berjalan sendirian di bawah cahaya bulan, tidak tahu ke mana harus pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!