NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Final

Aku keluar dari ruangan ini bersama dengan papa. Tak hentinya papa merangkul pundakku. Masih banyak teka-teki dan pertanyaan yang ingin kugali jawaban nya pada papa, tapi aku merasa belum mendapatkan waktu yang tepat. Dan mungkin aku pun tidak perlu tahu jawaban semua pertanyaan yang berkecamuk dalam otakku. Aku yang sudah horor sendiri diawal pertemuan tadi, merasa sangat lega karena papa sudah menerimaku dengan welcome bahkan beliau terlihat sangat menyayangi dan mengkhawatirkan ku.

Di halaman gedung ini kami berpisah, papa yang sudah tahu kalau aku membawa mobil mama pun langsung memasuki mobilnya sendiri yang ternyata telah terparkir didepan sini. Kulihat bapak satpam memberikan kunci pada papa dan setelah berpamitan papa pun memasuki mobilnya mulai meninggalkan ku.

Selanjutnya mobil yang dikendarai pun datang dan bapak satpam yang lain keluar dari kemudi lalu memberikan kuncinya padaku.

"Silahkan mas, maaf menunggu lama." Ucapnya sopan.

"Nggak apa-apa pak, terima kasih."

Aku segera melajukan mobil yang kukendarai ini menuju apartemen kak Ivan. Aku berencana mengambil semua barang-barang ku yang masih disana, semoga saja belum ada Kak Ivan di apartemen nya.

Dua puluh menit kemudian aku sudah berada di apartemen kak Ivan. Kuambil ransel yang kusimpan dibawah lemari kemudian memasukkan semua baju-baju dan buku-buku ku kedalam nya. Selanjutnya aku menuju basket laundry dan memasukkan baju-baju kotor ku kedalam kantong hitam yang telah kusiapkan.

Aman..

Sepertinya semua barangku sudah dimasukkan dan tidak ada yang tertinggal lagi.

Dengan langkah cepat aku segera meninggalkan apartemen ini dan bergegas menuju parkiran mobil. Aku merasa harus segera meninggalkan bangunan ini sebelum kak Ivan kembali.

Getaran di iPhone ku membuat aku yang sudah siap menginjak gas, menghentikan nya.

Kak Ivan...

"Halo, Dit." Suara kak Ivan di seberang sana membuatku gugup. Apakah aku ketahuan kabur dari apartemen nya?!

"I-iya kak."

"Kamu malam ini di rumah dulu ya, kakak baru boleh pulang besok. Ferdy juga semalem katanya drop, kayaknya dia kurang cukup istirahat."

"Ba-baik kak. Hmmm... Kak, terimakasih untuk semuanya." Aku mencoba mengutarakan rasa terimakasih ku ini sebelum aku benar-benar akan menghilang dari nya.

"Apaan si, biasa aja lah Dit. Info-info ya kalau ada keluhan yang nggak biasa." Ucapnya diselingi tawa.

"Siap kak."

Obrolan kami berakhir setelah kak Ivan menutupnya. Selanjutnya aku pun telah bersiap melakukan aksi berikutnya.

Aku berencana mengunjungi Ferdy setelah ini. Selain untuk berpamitan meski nantinya pun tanpa kalimat pamitan, aku pun tidak ingin menghilang dari nya tanpa ada kesan baik di akhir perjumpaan kami ini. Aku sengaja mampir ke toko-toko pusat kue dan makanan ringan untuk kubawa sebagai bekal ke rumah Ferdy. Jika dipikir-dipikir, beberapa kali kesana tidak pernah sekalipun aku membawa buah tangan untuk keluarga Ferdy. Padahal setiap kali Ferdy mampir ke rumah pasti ada saja yang dia bawa sebagai oleh-oleh untuk mama.

Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya aku pun sampai di depan kawasan persawahan di daerah Jakarta ini. Sawah luas yang dikelilingi oleh bangunan gedung yang menjulang tinggi. Aku sengaja membuka jendela dan memelankan laju kendaraan ini. Aku ingin menikmati momen ini, meski hawa panas masih setia menyelimuti kondisi di luar sana tapi semilir angin mampu menutupi semua panas yang menyelimuti.

Ferdy,,,

Beruntungnya kamu bisa tinggal di kawasan ini.

"Assalamualaikum..." Aku menyapa babeh yang terlihat duduk membelakangi ku di teras depan rumah besar nya.

"Wa'alaykumussalaam... Eh, Adit?! Sudah sehat?" Segera kusalami tangan beliau setelah beliau berbalik dan menghampiriku.

"Alhamdulillah beh, babeh sendiri apa kabar?"

"Baeek,,, babeh masih perkasa. Nggak usah ditanya juga sudah kelihatan sehat babeh mah." Aku tersenyum menanggapinya sebelum kusampaikan maksud kedatangan ku kesini.

"Oh iya beh, ini ada kue buat iseng-iseng di makan sambil nyantai. Semoga babeh suka ya. Adit mau ketemu Ferdy beh. Di mana ya?" Ucapku kemudian sambil menyerahkan kantong kue besar yang kubeli tadi.

"Waduh... Jadi repot-repot Dit. Tapi siap lah babeh bisa habisin ini bareng anak-anak. Ferdy di kamarnya, langsung masuk aja." Aku mengangguk mengerti dan segera berpamitan menuju kamar Ferdy. Pintu yang setengah terbuka membuat langkahku tidak begitu mengganggu aktifitas penghuni kamar ini. Ferdy tengah tertidur dengan hampir seluruh tubuhnya tertutup selimut. Aku enggan membangunkannya, dia terlihat sangat nyenyak dan nyaman dengan tidurnya. Akhirnya kuputuskan ikut membaringkan tubuhku ini di sampingnya.

Kubuka iPhone ku dan mulai mengetikkan kalimat panjang untuk kak Ivan. Iya, aku tiba-tiba teringat untuk memberi tahu nya kemungkinan alasan yang menjadikan tubuhku bervirus ini.

Kak, Adit takut lupa mau ngasih tau ini. Beberapa hari lalu Ferdy mengingatkan hari naas ketika Adit diserang secara brutal oleh anak patriot. Penyerangan itu memang keroyokan dan Adit hanya sendiri. Kayaknya memang dari kejadian itu Adit tertular HIV. Yang membuat Adit yakin kalau tubuh Adit menyimpan virus HIV ini dari hasil kejadian itu, karena saat itu mereka mengakhiri penyerangan nya dengan menancapkan jarum suntik ke tubuh Adit. Lebih tepatnya menusuk dengan paksa berkali-kali bahkan dengan banyak jarum. Jadi, Adit harap kak Ivan tidak berfikir negatif lagi terhadap Adit. Adit mendapatkan virus ini bukan dari kebejatan Adit karena pergaulan bebas. Tapi lebih tepatnya Adit ditularkan tanpa pernah melakukan apapun. Adit juga mohon pamit ya kak, terimakasih untuk semuanya.

Setelah mengetikkan nya langsung kuatur timer agar pesan tersebut terkirim otomatis besok siang ke nomor kak Ivan.

Selesai...

Aku rasa semua rencanaku sudah hampir mendekati final. Aku hanya perlu berpamitan pada Ferdy, kemudian memastikan papa dan mama bersatu kembali dan terakhir mengambil ijazah di sekolah.

Setelahnya aku akan menjadi Adit yang baru di tempat yang baru, entah dimana. Tapi di tempat itulah aku ingin menjalani kehidupan ku kembali.

POV author

Di tempat yang lain, seorang pria tampan paruh baya dengan setelan jas mahal nya terlihat sibuk mengungkapkan rencana nya pada salah satu WO (Wedding Organizer) yang sengaja dia datangi selepas keluar dari kawasan kantor nya tadi. Dialah pak Dhika, ayah dari seorang anak bernama Aditya putra Mahardhika. Setelah bertemu dengan anaknya tadi dan mendengar semua penjelasan nya, dia tau ada banyak hati yang tersakiti karena nya. Satu sisi dia ingin anaknya segera mendapat kesembuhan dan tidak ada siapapun yang mengetahui sakitnya, namun disisi lain dia pun menyadari betapa jauhnya betapa susahnya betapa tidak mungkin nya sang anak semata wayangnya itu mendapatkan kata kesembuhan. Dia tahu pilihan berat anaknya adalah pilihan terbaik saat ini, karena dia yakin dia tidak akan sanggup melihat anaknya sendiri menderita melihat anaknya sendiri menjadi bahan gunjingan orang lain. Jadi, pergi adalah pilihan terbaik baginya untuk bisa menjadi pribadi baru yang tidak dibayangi predikat bervirus mematikan itu.

Papa janji, papa akan penuhi semua kebutuhan materi mu Dit. Baik-baik lah di tempat baru mau nanti...

Yakinlah Dit, papa tidak membuangmu. Papa hanya tidak akan sanggup melihatmu terluka oleh suara2 yang nanti muncul.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!