Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Sekolah
Saat berada di sekolah.
"Kamu baik-baik saja kan Vin?"
Dari sekian banyak teman Gavino, hanya Bianca yang memanggil namanya dengan sebutan nama pendek, Vin.
"Ya. Aku baik-baik saja."
"Dante sudah keluar dari rumah sakit. Tapi dia masih ijin terlebih dahulu, untuk tidak masuk sekolah."
Gavino hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi cerita Bianca. Karena dia juga tahu, bagaimana keadaan Dante yang sebenarnya saat ini. Bahkan pada malam itu, Gavin juga tidak tahu apa dan bagaimana bisa dia menghajar mereka-mereka, temannya Alano.
Saat ini, mereka sedang menunggu jam pelajaran di mulai. Ada Lorenzo juga di antara mereka. Tapi dia hanya diam menyimak pembicaraan mereka berdua. Karena dia memang tidak tahu, bagaimana kejadian pada malam itu.
Tapi di tempat duduk yang biasanya ditempati Alano masih kosong. Dia belum juga masuk ke dalam kelas. Bersama dengan teman-temannya yang lain.
Dante dan Jeffrie, tidak mungkin masuk kelas. Karena mereka berdua tidak masuk sekolah. Masih ijin karena sakit.
Tapi teman satu geng Alano bukan hanya sekedar mereka berdua saja. Masih ada Verdi, Pierre. Dan ada juga yang cewek, yaitu Violetta Madalena.
Meskipun kedua temannya yang lain adalah cewek, tapi kedua cewek tersebut juga berkelakuan sama seperti Alano dan kawan-kawannya. Sama-sama brengsekkk dan tukang onar.
Suka mengusik ketenangan temannya yang lain. Dan juga mem-bully yang lemah.
Sayangnya, mereka adalah anak-anak orang kaya dan pejabat tinggi. Sehingga mereka juga tidak tersentuh oleh peraturan sekolah. Yang sebenarnya tegas dan ketat juga.
Mungkin, memang seperti itulah keadaan umum, di mana pun berada. Kekuasaan dan uang, bisa membuat orang menjadi lebih dihargai dan dihormati. Sehingga aturan dan hukum, tidak berarti bagi mereka.
Ternyata, Alano dan Verdi ada di bawah tangga. Mereka sedang merencanakan sesuatu, untuk membalas kelakuan Gavino yang dianggap tidak patuh pada mereka.
Ada Pierre dan Madalena juga diantara mereka berdua.
Sedangkan Violetta tidak tampak. Mungkin dia tidak masuk sekolah hari ini. Karena katanya ada pemotretan dan konferensi pers, untuk perusahaan besar papanya.
"Nanti, ajak anak-anak kelas lain juga. Biar si cecunguk Gavin kapok!"
Verdi mengangguk setuju, dengan usulan Alano. Dia juga merasa geram, di saat mendengar cerita Alano. Tentang Dante dan Jeffrie.
"Aku pikir, Gavino itu ada ilmu sihir."
"Maksud Kamu?" tanya Verdi bingung, dengan perkataan Alano.
Madalena dan Pierre juga menatap ke arah Alano dengan bingung. Mereka bertiga, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar tadi.
"Kalian pikir Aku sedang membual? Heh tidak ya! Ini benar-benar di luar akal."
Dengan suara pelan, namun penuh tekanan. Alano menceritakan kembali tentang kejadian malam itu. Dan dia juga mengatakan kecurigaannya pada Gavino, yang memiliki sihir. Karena Alano, tidak melihat luka ataupun memar pada muka ataupun tubuh Gavino tadi pagi.
"Dan kalian tahu, Dante serta Jeffrie terkapar dengan banyak luka! Padahal Gavino masih terbaring tanpa terlihat ada pergerakan juga."
"Lalu menurut kalian, jika ini bukan sihir apa?" tanya Alano gusar. Dia sebenarnya ingin tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Tapi semuanya memang nyata.
"Aku jadi penasaran dengan apa yang Kamu ceritakan ini," ujar Madalena dengan mata berbinar.
Dia memang sangat suka dengan cerita-cerita yang di luar nalar. Bahkan dia berambisi untuk bisa ada di dalam dongeng cerita-cerita dongeng putri yang kuat atau menjadi kesatria.
Itulah sebabnya, Madalena suka sekali ikut dalam geng yang kuat dan ditakuti oleh orang lain. Dia merasa menjadi seorang prajurit di dalam kelompoknya.
Padahal, belum tentu geng yang dia ikuti itu menjadi geng teladan. Tapi justru lebih seringnya, geng tersebut membuat onar.
Di saat mereka berempat tampak serius menyusun rencana, ada seseorang yang tanpa sengaja mendengar perkataan mereka. Yang ingin membuat perhitungan dengan Gavino saat pulang sekolah nanti.
'Aku harus memberitahu Gavino. Kasihan dia, jika harus di hajar Alano bersama kawan-kawannya nanti.'
Orang tersebut berkata dalam hati. Dia tidak jika, Gavino mengalami sesuatu yang buruk. Karena perbuatan yang dilakukan oleh Alano bersama dengan teman-teman geng_nya.
*****
Saat jam istirahat sekolah.
"Gavin. Gavin!"
Gavino menoleh ke arah belakang, di mana ada temannya yang memanggil namanya.
"Ya, ada apa?"
"Kamu pulang sekolah langsung pulang saja ya! Gak usah ke mana-mana."
Kening Gavino mengernyit heran, karena perkataan temannya itu.
"Maksud Kamu?" tanya Gavino bingung. Dia merasa aneh, dengan perkataan temannya. Karena semua orang juga tahu, jika dia akan langsung pulang ke rumah. Jika sudah waktunya untuk pulang.
Tidak sama seperti teman-temannya yang punya uang banyak. Karena mereka, kandang-kandang pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Untuk nongkrong atau sekedar jalan-jalan mencari makan atau minuman.
Temannya itu tampak berdiri, kemudian berjalan mendekat ke tempat duduknya Gavino. Dia tidak mau, jika pembicaraan mereka akan di dengar oleh orang lain. Karena di sekolah ini, dinding saja bisa bicara, untuk mengadu pada orang yang dianggap kuat.
"Aku tadi mendengarkan perkataan Alano," kata temannya tadi, dengan sambil berbisik di telinga Gavino.
Mendengar perkataan temannya, Gavino memicingkan mata. Memikirkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh temannya itu.
Akhirnya, temannya itu berbisik-bisik lagi di telinga Gavino. Mengatakan apa yang tadi dia dengar, saat melintasi tangga. Dan melihat keberadaan Alano bersama dengan yang lainnya juga.
Sekarang, Gavino mengangguk paham. Dia tahu, kalau Alano tidak mungkin membiarkan dirinya tenang. Apalagi, dengan apa yang terjadi malam kemarin itu.
Dengan membuang nafas panjang, Gavino mengangguk mengiyakan perkataan temannya tadi. Karena dia juga tidak suka dengan keributan dan kekerasan. Jadi dia berpikir bahwa, lebih baik menghindari geng motor. Dari pada harus mengikuti kemauan mereka.
Bianca masuk ke dalam kelas, bersama dengan Lorenzo dan beberapa temannya yang lain.
Bianca menyodorkan minuman kaleng, ke arah Gavino.
"Ini buat Kamu. Minumlah!"
Tak lama kemudian, ada Alano yang juga memasuki kelas. Dia melihat dengan tidak suka, ke arah Gavino. Apalagi dia juga melihat, bagaimana Bianca memperlakukan Gavino. Yang menurut terlalu berlebihan.
"Cih! Penjilat."
Alano mengumpat sambil tersenyum miring. Saat melewati tempat duduknya Gavino.
Bianca yang ikut mendengarkan perkataan dan umpatan Alano, mendelik tidak suka. Dia menatap tajam ke arah Alano, yang saat ini duduk di atas mejanya sendiri.
Tapi Gavino tidak juga bergeming. Dia tetap diam dan hanya meminum minuman yang tadi diberikan oleh Bianca.
"Lihatlah semuanya! Putri cantik sedang merayu gembel yang tidak tahu diri. Hahaha..."
Alano mulai mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Dengan kata-katanya yang pedas. Dia mulai mem-bully dengan kata-kata yang menyakitkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Tapi Alano tidak peduli. Dia hanya ingin membuat Gavino marah. Itulah sebabnya, makin lama kata-kata yang diucapkan oleh Alano, semakin ngawur dan tidak patut untuk didengarkan siapa saja.
Dan ini juga yang membuat Gavino akhirnya melawan mereka.