Disarankan untuk membaca terlebih dahulu Terjebak Pesona Mamah Muda.
Ricky memiliki anak diluar nikah, akibat dari perbuatannya dimasa lalu. Anak itu bernama Maira yang dibesarkan oleh ibu angkatnya yang bernama Aida.
Ibu Juwita menginginkan agar Maira diasuh oleh Ricky. Agar Aida mau menyerahkan Maira kepada Ricky, Ricky harus menikah dengan seorang perempuan yang mau menerima Maira dan menerima masa lalunya.
Follow Ig Deche : @deche62
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Masa Lalu Ricky.
Setelah selesai sarapan mereka mengganti baju mereka dengan pakaian resmi. Tanpa sengaja warna baju gamis Hanifa senada dengan kemeja batik Ricky yaitu warna cream.
“Wah, kalian janjian, ya?” tanya Handi ketika melihat warna kemeja batik Abangnya sama dengan warna baju gamis Hanifa.
“Tidak,” jawab Hanifa. Ia pun bingung kenapa bajunya bisa senada dengan kemeja batik Ricky, padahal mereka tidak janjian.
“Itu tandanya kami sehati,” kata Ricky.
“Iya, tidak Hanifa?” tanya Ricky.
“Hah?” Hanifa bingung dengan pertanyaan Ricky.
“Sehati, apanya?” gumam Handi sambil mencibir.
Ibu Juwita tersenyum melihat kemeja batik Ricky senada dengan gamis milik Hanifa. “Mungkin mereka mempunyai keinginan yang sama. Sama-sama ingin pakai baju berwarna cream,” kata Ibu Juwita.
“Tau begitu aku juga pakai kemeja batik berwarna cream. Biar kita kembaran bertiga,” sahut Handi.
“Sudah tidak usah diributkan soal warna baju. Batik Papah aja tidak sewarna dengan Mamah. Tapi Mamah, masih tetap menjadi cinta Papah,” kata Pak Agus.
“Papah dan Mamah sudah tua, siapa yang mau memperhatikan,” sahut Handi.
“Sudah ah, jangan meributkan masalah pakaian. Coba lihat cucu Mamah begitu cantiknya, belum ada yang memuji,” kata Ibu Juwita menunjuk ke arah Maira. Maira nampak cantik menggunakan gaun yang bermotif bunga bunga yang berwarna-warni.
“Maira, bajunya bagus siapa yang membelikan?” tanya Ibu Juwita kepada Maira.
“Mama,” jawab Maira.
“Mamahnya pinter memilikan baju untuk Maira,” puji Ibu Juwita.
“Ayo kita berangkat! Nanti kita ketinggalan acara akad nikah,” kata Pak Agus. Semua orang masuk kembali ke dalam mobil, lalu merekapun meninggalkan rest area.
Akhirnya mereka sampai di kabupaten Kuningan, sebuah kota kecil yang terletak di dekat perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sesampainya di Kuningan mereka langsung menuju ke rumah Ibu Nia saudara sepupuh Ibu Juwita.
Di rumah Ibu Nia nampak sudah banyak keluarga yang berkumpul. Mereka akan berangkat bersama-sama menuju ke rumah pengantin wanita.
“Alhamdullilah, Ceu Ujuh akhirnya datang juga,” ucap Ibu Nia ketika melihat Ibu Juwita sekeluarga datang. Ibu Nia lalu memeluk Ibu Juwita. Ibu Juwita dipanggil Ujuh oleh saudara-saudaranya.
“Kirain tidak akan datang,” kata Ibu Nia.
“Kan Ceuceu sudah janji bakalan datang sekeluarga. Janji harus ditepati,” kata Ibu Juwita.
Ibu Nia beralih ke Pak Agus.“Apa kabar, Kang Agus? Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini,” sapa Ibu Nia sambil menyalami Pak Agus.
“Alhamdullilah sehat,” jawab Pak Agus.
Pak Herman suami Ibu Nia menghampiri mereka. “Pak, ada orang Cireundeu jauh-jauh datang ke sini,” kata Ibu Nia kepada suaminya.
“Terima kasih, Ceu Ujuh. Sudah mau datang ke sini,” kata Pak Herman sambil menyalami Ibu Juwita.
“Apa kabarnya, Kang?” sapa Pak Herman kepada Pak Agus sambil menyalami Pak Agus.
“Alhamdullilah sehat,” jawab Pak Agus.
Ricky, Handi dan Hanifa menyalami Pak Herman dan Ibu Nia.
“Ini siapa, Ceu?” tanya Ibu Nia menunjuk Hanifa.
“Oh, itu pegawainya Ricky,” jawab Ibu Juwita.
“Oh, pegawainya Ricky. Nia kira calon istrinya Ricky,” kata Ibu Nia.
Aamiin ya robbalalamin. Doakan saja Nia, kata Ibu Juwita di dalam hati.
“Ini siapa yang cantik? Kok belum salam sama Nenek?” tanya Ibu Nia sambil menowel dagu Maira.
“Anaknya, Ricky. Namanya Maira,” jawab Ibu Juwita.
“Kapan Ricky menikah? Kok Nia tidak diundang?” tanya Ibu Nia bingung.
“Ricky belum menikah. Maira anak di luar pernikahan. Begitulah Ni, anak muda jaman sekarang, tidak bisa menjaga pergaulan,” jawab Ibu Juwita.
“Betul, Ceu. Banyak anak muda yang begitu,” ujar Ibu Nia.
Hanifa mendengar perkataan Ibu Juwita sontak langsung kaget. Namun ia diam saja.
Dimana Ibunya Maira? Kenapa Pak Ricky tidak pernah menceritakan tentang Ibunya Maira? tanya Hanifa di dalam hati.
“Ceu, ayo sarapan dulu,” kata Ibu Nia.
“Ceu Ujuh tadi sudah sarapan di rest area,” jawab Ibu Juwita.
“Kenapa sarapan di rest area? Kan Nia sudah bilang, kalau Nia sudah siapkan sarapan pagi,” kata Ibu Nia kecewa.
“Kebetulan sekalian istirahat di rest area,” jawab Ibu Juwita.
“Ya sudah, kalau begitu ngemil-ngemil aja. Sambil menunggu pengantinnya siap,” kata Ibu Nia.
“Iya, Ni. Terima kasih,” jawab Ibu Juwita. Ibu Nia pergi untuk menyapa keluarganya yang lain. Ibu Juwita dan keluarga duduk di bangku yang sudah disediakan.
Maira melihat kue di atas meja langsug meminta kue. “Kakak, Maia au uweh,” kata Maira.
“Sebentar kakak bilang dulu ke Nenek,” kata Hanifa.
Hanifa beranjak dari kursinya menghampiri Ibu Juwita. “Bu, Maira mau kue,” kata Hanifa.
“Boleh, ambil saja. Kamu juga kalau mau makan apa, ambil saja,” jawab Ibu Juwita.
“Iya, Bu,” jawab Hanifa. Hanifa mengajak Maira ke meja tempat kue di sajikan.
“Maira mau kue apa?” tanya Hanifa.
“Mau uweh yang inyih,” Maira menunjuk ke puding.
Hanifa mengambilkan puding yang ditunjuk oleh Maira. Lalu kembali lagi tempat duduk mereka. Hanifa menyuapi puding ke Maira. Batita itu menikmati pudingnya. Ricky menghampiri Hanifa dan Maira sambil membawa puding lalu duduk di samping Maira.
“Hanifa, apakah kamu mendengar pembicaraan Mamah saya dan Bi Nia?” tanya Ricky kepada Hanifa.
Hanifa menoleh ke Ricky, ia menjawab dengan mengangguk. Ricky menghela nafas. “Kapan-kapan saya akan ceritakan tentang Maira kepada kamu,” kata Ricky.
“Saya tidak berhak ikut campur dengan kehidupan Bapak. Saya hanya pengasuh Maira,” ujar Hanifa sambil memperhatikan Maira yang sedang makan.
“Kamu harus tau, agar kamu tahu siapa Ibunya Maira. Supaya kamu juga tidak kaget kalau ada orang yang mengaku sebagai Neneknya Maira,” kata Ricky dengan suara pelan.
Hanifa menoleh ke Ricky. “Nenek dari Ibunya Maira sudah mulai mencoba menghubungi saya. Sepertinya beliau sudah mengetahui keberadaan Maira,” kata Ricky.
“Selama ini keluarga Vivin tidak ada yang tau keberadaan Maira. Mereka hanya mengetahui kalau Maira sudah dibuang begitu saja di pinggir sungai. Hanya saya yang tau keberadaan Maira. Sampai akhirnya mereka tau keberadaan Maira dari Pak Firas. Namun Vivin dan Papahnya masih bersikap acuh dan tidak mau tau. Sekarang Ibu Adelia, Mamahnya Vivin mulai menghubungi saya. Tapi saya masih belum mau berbicara apalagi bertemu dengan beliau. Saya tidak mau beliau mengambil Maira dari saya,” kata Ricky.
Hanifa hanya diam mendengarkan perkataan Ricky. Ia memandangi Maira yang sedang asik menikmati puding.
Kasihan sekali Maira, sampai Ibu kandungnya tidak menginginkannya, kata Hanifa di dalam hati.
Tanpa Hanifa sadari mata Hanifa mulai berkaca-kaca. “Kaka, napa matana?” tanya Maira melihat mata Hanifa yang mulai berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa, kelilipan bulu mata,” jawab Hanifa sambil mengedip-kedipkan matanya.
“Aya, mata Kaka kelilipan bulu mata,” kata Maira kepada Ayahnya.
Ricky memandangi wajah Hanifa, gadis itu terlihat seperti terharu. “Tidak apa-apa. Nanti juga kotorannya keluar,” jawab Ricky sambil mengusap kepala Maira.
Ibu Juwita menghampiri Ricky dan Hanifa. “Ayo kita siap-siap. Sebentar lagi rombongan pengantin mau berangkat,” kata Ibu Juwita.
“Handi mana?” tanya Ibu Juwita. Ia tidak melihat Handi di dekat Hanifa dan Ricky.
“Tuh Om Andi,” Maira menunjuk ke arah Handi. Handi sedang asyik mengajak ngobrol seorang gadis.
“Dasar Handi, tidak boleh melihat yang bening-bening,” ujar Ibu Juwita.
Ibu Juwita menghampiri Handi untuk bersiap-siap berangkat.
SEMOGA NOVEL VIVIN & ERIC SGERA LAUNCING...