Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Brak!
Sebuah tumpukan dokumen tebal dilemparkan dengan kasar hingga berserakan di atas lantai marmer sebuah kantor mewah di Beijing.
Wang Hao berdiri di balik meja direkturnya dengan napas memburu dan dasi yang sudah ditarik longgar berantakan.
Wajahnya yang biasanya terlihat tampan dan angkuh kini dipenuhi oleh keringat dingin dan kantung mata hitam yang sangat tebal.
"Bagaimana bisa proyek utama kita dibatalkan secara sepihak oleh investor?" teriak Wang Hao kepada sekretarisnya yang berdiri gemetar di sudut ruangan.
"Maafkan saya, Direktur Wang, tapi cacat desain pada sistem cloud yang kita buat ternyata menyebabkan kerugian besar di pihak klien," jawab sekretaris itu dengan suara parau.
Wang Hao mengusap wajahnya dengan kasar, merasa frustrasi yang luar biasa mencekik lehernya pagi ini.
Proyek itu adalah proyek yang ia curi dari ide Yao Wi beberapa hari yang lalu sebelum ia memecat pemuda itu.
Ia mengira ide itu sudah sempurna, namun ternyata ada perhitungan algoritma rumit yang hanya dipahami oleh Yao Wi seorang.
Tanpa Yao Wi untuk menyelesaikan masalah teknisnya, sistem itu hancur berantakan saat diluncurkan ke pasar kemarin.
Kring! Kring!
Telepon di atas meja Wang Hao berdering nyaring, menampilkan nomor dari pihak bank pusat.
Wang Hao menatap telepon itu dengan tatapan ngeri layaknya melihat hantu di siang bolong.
Ia tahu pihak bank pasti menelepon untuk menagih hutang perusahaannya yang sudah jatuh tempo sebesar sepuluh miliar rupiah.
Jika ia tidak bisa membayar uang itu dalam minggu ini, perusahaannya akan disita dan ia akan dijebloskan ke penjara atas tuduhan penipuan.
Ceklek.
Pintu ruang direktur tiba-tiba terbuka tanpa diketuk, dan seorang wanita muda berpakaian serba bermerek melangkah masuk dengan wajah cemberut.
Wanita itu adalah Li Na, mantan pacar Yao Wi yang kini telah resmi menjadi kekasih Wang Hao demi uang dan gaya hidup mewah.
"Sayang, kenapa kartu kredit utamaku ditolak saat aku mau membeli tas Hermes keluaran terbaru tadi?" keluh Li Na sambil memajukan bibirnya manja.
Wang Hao yang sedang pusing tujuh keliling langsung meledak amarahnya mendengar rengekan wanita materialistis di depannya ini.
"Tas Hermes? Perusahaanku sedang di ambang kebangkrutan dan kau masih memikirkan tas sialan itu?" bentak Wang Hao tanpa ampun.
Li Na tersentak kaget dan mundur selangkah, matanya terbelalak karena ini pertama kalinya Wang Hao membentaknya dengan kasar.
"T-tapi kau bilang proyek barumu sukses besar dan kita akan menjadi miliarder bulan ini," protes Li Na dengan suara gemetar.
"Semuanya hancur, Li Na, ide dari mantan pacar gembelmu itu ternyata memiliki celah fatal yang tidak bisa kuperbaiki!" teriak Wang Hao frustrasi.
Li Na terdiam, tiba-tiba bayangan wajah lelah Yao Wi yang dulu selalu memasakkannya mi instan setiap malam terlintas di benaknya.
Tapi ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu, merasa tidak ada gunanya mengingat pria miskin yang sudah ia buang.
Tok! Tok!
Sekretaris Wang Hao kembali mengetuk pintu yang terbuka dan melangkah maju dengan sebuah tablet di tangannya.
"Direktur, saya baru saja membaca berita bisnis yang sedang viral nomor satu di seluruh negeri pagi ini," lapor sekretaris itu dengan ragu.
"Mungkin ini bisa menjadi jalan keluar untuk masalah pendanaan perusahaan kita yang sedang kritis."
Wang Hao langsung merampas tablet itu dari tangan sekretarisnya dan membaca judul berita utama yang terpampang besar di layar.
KONGLEMERAT MISTERIUS SUNTIKKAN TRILIUNAN RUPIAH DI KOTA MATI LINZHOU, BANGUN RUMAH SAKIT FUTURISTIK DALAM SEMALAM!
Mata Wang Hao menyusuri artikel itu dengan kecepatan tinggi, membaca setiap detail keajaiban ekonomi yang terjadi di kota kecil bernama Linzhou.
Artikel itu menyebutkan bahwa sebuah perusahaan baru bernama Linzhou Corp sedang memborong seluruh aset kota tanpa mempedulikan harga pasar.
Di akhir artikel, disebutkan bahwa bos besar di balik perusahaan raksasa itu adalah seorang pemuda bermarga Yao.
"Linzhou? Bukankah itu kota kelahiran si pecundang Yao Wi?" gumam Li Na yang ikut mengintip dari balik bahu Wang Hao.
Wang Hao mendengus sinis dan langsung tertawa meremehkan mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Kau pikir bos besar Linzhou Corp ini adalah mantan pacarmu yang gembel itu?" ejek Wang Hao dengan mata menyipit tajam.
"Di seluruh negeri ini ada jutaan orang bermarga Yao, dan Yao Wi hanyalah lalat kecil yang bahkan tidak mampu membayar uang kos."
Li Na mengangguk setuju, ia sangat yakin pria yang ia tinggalkan itu pasti sedang mengemis di pinggir jalan saat ini.
Tidak mungkin seorang budak korporat yang gajinya ia peras setiap bulan tiba-tiba menjadi triliuner dalam waktu kurang dari seminggu.
"Kau benar, Sayang, Tuan Yao yang ini pasti anak dari keluarga konglomerat lama yang sedang mencari mainan baru di daerah terpencil," balas Li Na menjilat.
Otak licik Wang Hao langsung berputar cepat merencanakan sebuah strategi untuk menyelamatkan nyawanya.
Orang kaya baru di daerah terpencil biasanya sangat naif dan mudah dibutakan oleh proposal bisnis dengan istilah asing dari ibu kota.
"Sekretaris, siapkan proposal investasi kita yang paling meyakinkan dan palsukan beberapa data keuntungannya," perintah Wang Hao dengan senyum licik.
"Kita akan terbang ke Linzhou siang ini juga, aku akan membuat Tuan Yao yang kampungan ini memberikan sepuluh miliar secara cuma-cuma kepadaku."
Di saat yang sama, ratusan kilometer dari sana, suasana di Kota Linzhou terasa sangat hidup dan penuh semangat.
Suara denting alat berat terdengar dari kejauhan, menandakan dimulainya pembangunan pusat perbelanjaan di Jalan Utama Sudirman.
Sementara itu, di lantai puncak markas besar Linzhou Corp, Yao Wi sedang duduk bersantai di kursi kebesarannya.
Ia menatap pemandangan kotanya yang mulai berubah dari balik jendela kaca pintar dengan secangkir teh hijau hangat di tangannya.
Sruput!
"Ah, hidup yang sangat membosankan jika semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan menjentikkan jari," gumam Yao Wi sambil tersenyum kecil.
Ting!
Pintu lift terbuka dan Shen Yue melangkah masuk dengan langkah cepat dan anggun seperti biasanya.
"Selamat pagi, Tuan Bos, laporan harian untuk Rumah Sakit Elit sudah masuk," lapor Shen Yue sambil menyerahkan tabletnya.
"Direktur Su Qing benar-benar gila kerja, ia sudah melakukan lima operasi pengangkatan tumor otak berturut-turut tanpa istirahat sejak malam tadi."
Yao Wi mengangguk puas, merasa investasi lima miliarnya pada dokter es itu sudah mulai membuahkan hasil yang memuaskan.
"Pastikan dia makan dan istirahat yang cukup, aku tidak mau aset berhargaku pingsan karena kelelahan," pesan Yao Wi dengan santai.
"Baik, Tuan Bos, dan ada satu hal lagi yang perlu saya laporkan terkait investasi luar," lanjut Shen Yue dengan nada yang sedikit lebih serius.
Shen Yue menggeser layar tabletnya dan menampilkan sebuah daftar panjang nama-nama perusahaan dari seluruh negeri.
"Berita tentang kekuatan finansial kita sudah menyebar ke seluruh Tiongkok pagi ini."
"Ada lebih dari seratus proposal masuk dari berbagai perusahaan yang memohon suntikan dana investasi dari Linzhou Corp."
Yao Wi menguap pelan, merasa sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan-perusahaan luar yang tiba-tiba datang mengemis kepadanya.
"Tolak semuanya, Shen Yue, uangku hanya akan berputar di dalam Kota Linzhou, tidak sepeser pun akan keluar dari batas kota ini," perintah Yao Wi mutlak.
Sistem telah menetapkan aturan itu sejak awal, dan Yao Wi tidak punya niat untuk melanggarnya demi orang luar.
"Saya mengerti, Tuan Bos, tapi ada satu perusahaan dari ibu kota yang profilnya mungkin menarik perhatian Anda," ucap Shen Yue sambil menatap bosnya dengan penuh arti.
Shen Yue menekan satu nama di layar tabletnya dan memperbesar profil perusahaan tersebut ke monitor layar datar di dinding ruangan.
Sebuah logo perusahaan dengan tulisan SKYTECH BEIJING muncul di layar besar tersebut.
Yao Wi menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh, matanya langsung menyipit tajam menatap logo yang sangat familiar itu.
Itu adalah perusahaan tempatnya memeras keringat siang dan malam selama lima tahun.
Perusahaan tempat Wang Hao merebut proyeknya, menginjak harga dirinya, dan merebut pacarnya hanya beberapa hari yang lalu.
"SkyTech mengirimkan proposal ke sini?" tanya Yao Wi dengan suara rendah yang tiba-tiba membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
"Benar, Tuan Bos, Direktur mereka yang bernama Wang Hao memohon pertemuan tatap muka besok pagi untuk meminta investasi sebesar sepuluh miliar," jelas Shen Yue.
Shen Yue sudah melakukan riset mendalam tentang masa lalu bosnya, sehingga ia tahu betul siapa Wang Hao dan apa hubungannya dengan Yao Wi.
Itulah sebabnya ia sengaja tidak langsung membuang proposal dari SkyTech tersebut.
Yao Wi meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan bunyi ketukan yang cukup keras.
Sebuah seringai yang luar biasa mengerikan perlahan terbentuk di wajah tampannya, menyerupai iblis yang baru saja menemukan mainan favoritnya.
"Dunia ini benar-benar sempit, aku bahkan belum repot-repot mencari mereka untuk balas dendam, tapi mereka sendiri yang datang menyerahkan lehernya," tawa Yao Wi dengan sangat dingin.
"Shen Yue, balas email mereka dan katakan bahwa Direktur Utama Linzhou Corp bersedia bertemu dengan mereka besok pagi."
"Dan pastikan kau menyiapkan karpet merah yang paling mewah untuk menyambut tamu agung kita dari ibu kota ini," lanjut Yao Wi dengan nada sarkas yang sangat kental.
Shen Yue tersenyum simpul, ia bisa merasakan aura pembunuhan finansial yang sangat pekat menguar dari tubuh bosnya.
"Siap laksanakan, Tuan Bos, saya akan memastikan mereka mendapatkan penyambutan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup," balas Shen Yue sambil membungkuk hormat.
Yao Wi memutar kursinya menghadap jendela kembali, menatap langit biru Kota Linzhou yang cerah tanpa awan.
"Wang Hao, Li Na, bersiaplah," batin Yao Wi sambil mengepalkan tangan kanannya hingga tulang jarinya berbunyi pelan.
"Aku akan menunjukkan kepada kalian berdua seperti apa rasanya dihancurkan oleh pria yang kalian sebut pecundang kampungan."
Di saat yang bersamaan, Wang Hao dan Li Na sedang duduk di kursi kelas bisnis sebuah pesawat yang melaju menuju bandara provinsi terdekat dari Linzhou.
Li Na sedang asyik memoles lipstik merah menyala di bibirnya menggunakan cermin kecil.
"Sayang, setelah kita mendapatkan sepuluh miliar dari orang udik itu, pastikan kau membelikanku kalung berlian yang kita lihat di majalah kemarin," rengek Li Na manja.
Wang Hao menyandarkan kepalanya di kursi yang empuk sambil tersenyum penuh percaya diri.
"Tenang saja, Sayang, mengambil uang dari konglomerat kampung itu semudah mengambil permen dari tangan bayi," sesumbar Wang Hao tanpa rasa berdosa.
"Besok pagi, kita akan pulang ke Beijing sebagai pemenang dan aku akan menampar wajah semua investor yang meremehkanku."
Mereka berdua tertawa bersama di atas pesawat, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang terbang dengan kecepatan penuh menuju jurang neraka yang telah disiapkan khusus untuk mereka.
Kesombongan mereka dari ibu kota akan segera bertemu dengan tembok baja yang terbuat dari triliunan rupiah uang tunai di kota mati bernama Linzhou.
Dan tamparan kenyataan yang menanti mereka besok pagi akan membuat kematian terasa seperti sebuah anugerah yang sangat mewah.