Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4
Setelah oval dan Arden berangkat, apis membelah kayu untuk bahan bakar pengapian dalam memasak, sambil memendam rasa kesal di dalam hati.
Apis diam dan tidak mau berbicara dengan Guru Naga Langit, menunjukkan rasa kecewa dan kesal yang masih membara di dalam hatinya.
Guru Naga Langit memahami perasaan Apis dan membiarkannya untuk sementara waktu, berharap Apis dapat memahami alasan di balik keputusannya.
Guru Naga Langit tahu bahwa Apis masih muda dan memiliki semangat yang besar, dan ia percaya bahwa Apis akan dapat memahami dan menerima keputusannya suatu hari nanti.
...
Malam hari setelah makan, Guru Naga Langit duduk bersama Apis dan memulai percakapan yang hangat.
"Murid ku, bicara lah, jangan di pendam dalam hati."ucap Guru Naga Langit.
"Jadi begini guru... Saya sangat ingin ikut dengan mereka...."ucap Apis.
Apis membuka diri dan mengutarakan kekecewaannya.
"Guru, kami berlatih bersama, susah senang bersama, bertahun-tahun bersama... Jika pihak kerajaan yang menentukan mungkin saya tak akan kecewa... Tapi ini ketentuan dan keputusan ada pada guru dan guru tidak memberangkatkan kami semuanya... Ini misi pertama... kalau bisa saya ingin menjalankan misi pertama ini bersama Bang Oval dan Bang Arden... Saya paling muda, jadi saya sangat ingin ikut bersama mereka..." ucap Apis dengan wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca.
Apis mengungkapkan perasaannya dengan jujur, menunjukkan betapa ia sangat ingin menjadi bagian dari misi tersebut dan membuktikan dirinya bersama Oval dan Arden.
Guru Naga Langit mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian, memahami perasaan Apis dan mempertimbangkan kata-katanya.
"Apis, aku tahu kamu merasa kecewa, tapi keputusan ini bukan karena aku tidak percaya padamu. Aku memiliki alasan tertentu untuk memilih Oval dan Arden untuk misi ini," ucap Guru Naga Langit dengan lembut.
Karena tak tega melihat Apis yang sedih dan kecewa, Guru Naga Langit pun memberikan izin kepada Apis untuk ikut menjalankan misi.
"Baiklah Apis, kamu saya izinkan, berangkatlah esok pagi untuk menyusul mereka... sekarang sudah malam..."ucap Guru Naga Langit.
Mendengar hal itu Apis langsung senang dan gembira.
"Hip hip horeeeee yahouu... !!! Terimakasih guru....."ucap Apis senang.
Apis tidak ingin menunggu sampai esok pagi, ia ingin segera berangkat dan menyusul Oval dan Arden.
"Tidak guru, jika esok pagi berangkat saya malam ini tak bisa tidur karena memikirkan tugas ini, lebih baik saya berangkat sekarang saja... saya sangat siap dengan tugas ini..."ucap Apis.
Apis dengan semangat menyiapkan kuda nya dan memakai baju pendekar, Pendekar Naga Hitam.
Guru Naga Langit tersenyum dan memberikan pesan kepada Apis.
"Baiklah, berhati-hatilah muridku."
Apis pun dengan segera pergi memacu kudanya untuk menyusul kakak seperguruannya Oval dan Arden, dengan semangat dan tekad yang membara di dalam hatinya. Ia siap untuk menghadapi tantangan dan membuktikan dirinya sebagai Pendekar Naga Hitam.
..
Malam itu Apis memacu kecepatan kudanya, menerobos hutan dan melewati lembah dengan percaya diri.
Walaupun gelap malam, Apis tidak merasa takut karena ia menggunakan kesaktian tenaga dalam untuk fokus ke mata, sehingga penglihatannya menjadi tajam dan dapat memilih jalan dan arah dengan baik, sama seperti ketika siang hari.
Apis berpikir bahwa Oval dan Arden mungkin belum sampai di Lembah Larangan, dan berharap mereka beristirahat di suatu tempat malam ini dan tidak bergerak.
Dengan demikian, Apis dapat menyusul mereka esok pagi dan bergabung dengan mereka untuk menuju ke Lembah Larangan bersama-sama.
Kuda Apis berlari cepat, dengan kecepatan tinggi pun Apis masih bisa bernyanyi untuk mengusir sepi.
"Bergadang jangan bergadang kalau tiada artinya.. hiyaaaa !! Hiyaa!!! Bergadang jangan bergadang kalau tidak punya uang... Hiyaa!! Hiyaaa !!.."ucap Apis menyayikan lagu favorit.
Apis terus memacu kudanya, menggunakan kesaktian dan kemampuan yang dimilikinya untuk menavigasi melalui hutan yang gelap.
Ia yakin bahwa dengan kecepatan dan kemampuan yang dimilikinya, ia dapat menyusul Oval dan Arden dan bergabung dengan mereka dalam misi untuk mengambil tongkat pusaka yang dirampas oleh Pendekar Harimau.
***
Di lain tempat, malam itu Oval dan Arden menghentikan laju kuda mereka karena melihat sebuah warung yang masih buka di malam hari.
"Itu ada warung makan cukup besar, kita makan setelah itu beristirahat di sini untuk melepas lelah."ucap Oval terhadap Arden.
"Oke kebetulan saya sudah lelah dan lapar dan ngantuk... Paket komplit deh ini."ucap Arden.
Mereka memutuskan untuk berhenti dan makan di warung tersebut.
Oval dan Arden masuk ke warung dan memesan dua porsi makanan.
"Ini warung buka sampai jam berapa?"tanya Arden kepada pemilik warung ketika menyediakan makanan.
"Warung kami ini sudah tiga tahun buka 24 jam, karena pagi dini hari sekitar jam 4 atau jam 5 banyak yang makan di sini dari para pekerja tani yang hendak bekerja di sawah."ucap pemilik warung.
Setelah selesai makan, Oval meminta izin kepada pemilik warung untuk numpang istirahat di samping warung tersebut.
Di samping warung ada beberapa kursi panjang yang kosong, oval berpikir bisa untuk tidur istirahat sebentar.
Pemilik warung mengizinkan dan mereka beristirahat dengan nyaman.
Namun, pagi dini hari, sekitar jam 3 pagi suasana tampak riuh dan menjadi kacau ketika warung tersebut hendak dirampok oleh sekelompok orang.
Lima orang berwajah garang , mengancam pemilik warung untuk menyerahkan uang hasil berjualan.
Oval dan Arden yang sedang beristirahat terkejut dengan suara ribut di dalam warung.
Oval dan Arden bangun dan melihat situasi, mengetahui ada perampok, Oval dan Arden segera bereaksi.
Mereka melihat bahwa perampok tersebut adalah dari kelompok dari Pendekar Harimau , Oval dan Arden langsung bersiap untuk bertarung.
Oval dan Aden bertarung dengan lima perampok tersebut dengan kemampuan mereka yang tinggi akan ilmu beladiri dan tenaga dalam.
Beberapa jurus dilancarkan, dan beberapa serangan mampu mendarat tepat sasaran.
Rupanya para perampok tersebut bukan tandingan bagi Oval dan Arden, perampok tersebut hanya seram di wajah tapi ilmu beladiri masih minim.
Setelah beberapa jurus, perampok tersebut akhirnya dapat dikalahkan dan para perampok meminta ampun.
Mereka berlari meninggalkan warung tersebut, meninggalkan Oval dan Arden yang berdiri dengan percaya diri.
Pemilik warung berterima kasih kepada Oval dan Arden atas bantuan mereka.
"Terima kasih, tuan-tuan. Kalian telah menyelamatkan saya dan warung saya," ucap pemilik warung dengan rasa syukur.
Oval dan Arden hanya tersenyum dan mengangguk, "Tidak apa-apa, kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan," ucap Oval dengan santai.
Baru beberapa jam tidur sudah terganggu dan berkelahi dengan perampok, rasa ngantuk Oval dan Arden hilang.
Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan walaupun hari masih gelap.
Sekitar jam 5 pagi Oval dan Arden melanjutkan perjalanan.
Mereka membawa kuda dengan kecepatan sedang dan sedikit santai, tidak ingin memaksakan diri setelah pertarungan sebelumnya.
Oval dan Aden berjalan dengan santai, menikmati suasana pagi yang masih sepi. Mereka berbicara sedikit tentang pertarungan sebelumnya dan bagaimana mereka berhasil mengalahkan perampok tersebut.
"Tidak buruk untuk pemanasan sebelum menuju ke Lembah Larangan," ucap Oval dengan senyum.
Arden mengangguk setuju, "Ya, kita harus tetap waspada dan siap untuk menghadapi apa pun yang akan kita temui di sana." Mereka berdua terus berjalan menuju ke Lembah Larangan.