Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Jahat Hendra
Malam di atas bukit pemakaman itu terasa bagai garis batas antara masa lalu yang penuh kebohongan dan masa depan yang harus dihadapi. Kehangatan kecupan Devan di kening Aisha seolah perlahan menyembuhkan hampa di dadanya yang terbakar oleh rasa sakit dan pengkhianatan keluarga Hendra.
Aisha menyandarkan kepalanya di dada Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.
"Terima kasih, Devan. Terima kasih karena tidak pernah melupakanku," bisik Aisha lirih, suaranya parau oleh tangis.
Devan merengkuh bahu Aisha makin erat, jemarinya mengusap lembut rambut hitam gadis itu.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena membiarkanmu menderita selama dua puluh tahun di bawah atap iblis itu. Tapi aku berjanji, Aisha, rasa sakitmu berhenti malam ini."
Pria itu menuntun Aisha kembali ke mobil. Di sepanjang jalan menuju mansion, Devan tidak melepaskan genggaman tangannya. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi topeng dingin yang pura-pura tidak peduli. Aisha kini tahu, di balik setiap tindakan tegas Devan, termasuk membelinya dengan angka fantastis lima puluh miliar, ada dedikasi dan perlindungan tanpa batas.
Keesokan harinya, kehancuran menghantam keluarga Hendra tanpa ampun.
Berita mengenai kebangkrutan total perusahaan Hendra menjadi topik utama di seluruh media cetak, televisi, dan portal berita daring. Seluruh aset rumah, kendaraan mewah, hingga rekening bank milik Hendra dan Sinta dibekukan oleh pihak kepolisian atas tuduhan tindak pidana pencurian aset dan kejahatan keuangan.
Di sebuah kontrakan sempit dan kumuh di pinggiran kota, satu-satunya tempat yang bisa mereka sewa dengan sisa uang tunai di dompet, suasana terasa bagai neraka.
"Ini semua gara-gara kamu, Mas!" jerit Sinta histeris sambil melempar barang-barang ke lantai.
"Kamu bilang transaksi dengan Devan akan membuat kita kaya raya! Sekarang kita melarat! Semua rumah dan perhiasanku disita!"
Hendra duduk di sudut ruangan dengan wajah kusam, mata merah, dan tubuh bergetar. Efek dari gertakan Devan malam itu benar-benar menghancurkannya.
"Tutup mulutmu, Sinta! Kamu pikir aku mau seperti ini?! Devan Alister itu iblis! Dia sudah tahu semuanya sejak awal!"
"Lalu kita harus bagaimana sekarang?!" tangis Clara meledak, menatap jemarinya yang kini tak lagi dihiasi cincin berlian mahal.
"Aku tidak mau hidup miskin seperti ini! Teman-temanku menertawakanku di media sosial."
Clara mengepalkan tangannya, matanya memancarkan amarah dan rasa iri yang sangat dalam saat melihat tayangan televisi di ruangan itu. Di layar kaca, tampak berita Devan Alister sedang menghadiri konferensi pers bersama Aisha, mengenakan gaun kebanggaan, tampak anggun dan terhormat sebagai Nyonya Alister.
"Aisha." geram Clara dengan gigi bergemelutuk.
"Semua ini gara-gara anak pembawa sial itu! Dia menikmati harta dan kemewahan Devan sementara kita membusuk di sini!"
"Tenang, Clara," ucapan Hendra mendadak memotong dengan nada suara yang sangat dingin dan aneh.
Hendra berdiri perlahan. Raut wajahnya tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan keputusasaan seorang penjahat yang terdesak ke ujung jurang, kondisi paling berbahaya dari seorang manusia.
"Papa, punya rencana lain?" tanya Clara, menahan napas.
Hendra tersenyum licik, sebuah senyuman gila.
"Devan memang menang di dunia bisnis. Tapi dia punya satu kelemahan besar sekarang, dan kelemahannya adalah Aisha."
Hendra merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel murah yang baru dibelinya. Dia menekan sebuah nomor rahasia yang tersimpan di memorinya, nomor kontak kelompok tentara bayaran dan sindikat kriminal terlarang yang dulu pernah menjadi koneksi gelapnya.
"Halo?" suara berat dan serak menyahut dari seberang telepon.
"Aku punya pekerjaan untukmu," bisik Hendra dengan tatapan mata yang mengerikan.
"Imbalannya lima ratus juta cash dari simpanan rahasiaku yang tidak terdeteksi bank. Tugasmu mudah, culik wanita bernama Aisha, dan bawa dia ke gudang tua pelabuhan."
Sinta dan Clara terperanjat, namun tidak ada yang menghentikan Hendra. Kebencian telah membutakan pikiran mereka.
Sementara itu, di mansion Alister, suasana malam terasa sangat hangat. Devan dan Aisha menikmati makan malam bersama di ruang makan utama. Untuk pertama kalinya, Aisha tersenyum tulus saat Devan mencoba menuangkan teh hangat untuknya.
"Nanti malam aku harus pergi sebentar ke kantor pusat untuk menandatangani dokumen pelimpahan aset Hendra," kata Devan sambil menatap Aisha lembut.
"Kamu istirahatlah di rumah. Aku sudah menempatkan sepuluh pengawal terbaik di sekeliling mansion."
Aisha mengangguk.
"Jangan pulang terlalu larut, Devan. Aku, aku akan menunggumu."
Devan tersenyum tipis, berdiri lalu mengepalkan tangannya hangat di pipi Aisha sebelum melangkah keluar menuju mobilnya.
Satu jam setelah keberangkatan Devan, keheningan mansion mendadak terpecah.
Brak!
Suara ledakan kecil dan padamnya seluruh aliran listrik mansion secara tiba-tiba membuat ruangan menjadi gelap gulita. Aisha yang sedang berada di kamar utama terperanjat berdiri dari sofanya.
"Bi Sumi? Pak Pengawal?" panggil Aisha dengan jantung berdebar kencang.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara langkah kaki berat bertumpuk yang bergerak cepat di dalam koridor gelap menuju kamarnya.
Klek.
Pintu kamar utama terbuka perlahan. Di balik kegelapan, berdiri tiga sosok pria bertubuh kekar mengenakan topeng hitam. Salah satu dari mereka memegang sebuah saputangan beraroma kimia yang sangat menyengat.
Aisha membelalakkan mata, mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
"Siapa kalian?! Jangan mendekat!"
Sebelum Aisha sempat berteriak memanggil bantuan, pria tertinggi melompat maju dengan cepat dan membekap mulut serta hidung Aisha menggunakan saputangan beracun itu!
"Mmph! Mmpphh—!" Aisha memberontak sekuat tenaga, namun rasa pening luar biasa langsung menyerang kepalanya. Pandangannya perlahan kabur, dan tubuhnya melemas di dalam dekapan pria asing tersebut.
Sebelum kesadarannya benar-benar hilang sepenuhnya menjadi kegelapan, Aisha mendengar salah satu penculik berbisik dingin pada ponselnya yang sedang terhubung secara langsung.
"Tuan Hendra, target sudah berhasil kami amankan. Kami sedang membawanya ke lokasi."