Semuanya nampak baik-baik saja, dia ceria , bahagia , ramah , kuat dan tegar! Tetapi itu hanya cover nya saja, dan yang kenyataannya adalah?
Dia rapuh, cengeng dan juga sakit!
Dan semua nya berubah ketika dia sembuh dari sakit yang membuat mental nya terganggu.
Dia bukan lagi wanita ramah dan ceria, melainkan wanita cuek dengan wajah datar dan segudang frestasi dan kekayaan!
*
Zahra Khoerunisa, memilih untuk pergi dan meninggalkan cinta pertama nya daripada bertahan dengan sakit yang teramat sakit.
-Di ambil dari kisah nyata-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Aeni tidur di atas sofa yang ada di kamar Zahra, ia tidak ingin menganggu tidur Zahra karena sempit oleh nya yang ikut tidur di atas ranjang.
Ia terbangun saat mendengar suara yang agak bising di luar kamar Zahra.
Ia lalu mengintip suara siapakah itu dan kenapa malam-malam begini sangat bising.
Aeni melihat Ibu Jeni yang sedang menonton televisi di ruang tengah , dan Ayah Beni menonton televisi di ruang keluarga.
"Ya ampun, kenapa keluarga ini bisa hidup dengan cuek begini? Bahkan menantu nya sedang sakit pun mereka cuek" gumam Aeni tak habis pikir.
Ia lalu melangkah menuju ke sofa, disana bukannya ia tidur tetapi malah memainkan ponsel karena ngantuk nya yang sudah hilang.
Hingga tengah malam ia baru mendapatkan ngantuk dan bergegas terlelap di atas sofa kembali.
**
Matahari menerobos masuk ke celah gorden kamar Zahra, bahkan burung pun sudah berkicau dengan ramai di luar sana.
Zahra mengerjapkan mata nya saat cahaya matahari masuk semua ke dalam kamar nya.
Ia menyipit melihat seseorang yang sedang membuka gorden di kamar itu.
"Aeni" panggil Zahra dengan parau.
"Iya Kak" jawab nya dengan membalikan tubuh nya.
Hah.
Kaget? Tentu saja Zahra kaget karena seingat nya semalam ia langsung tidur dan tidak ada Aeni di kamar.
Yang lebih kaget nya lagi ia bangun kesiangan padahal ia tidak pernah bangun siang.
"Jangan kaget gitu, Kak. Aku sudah sejak semalam ada disini" kekeh Aeni dengan menghampiri Zahra.
"Kok aku sampai gak sadar yah" cicit Zahra dengan bingung
"Jelas, karena Kakak sudah tidur dengan nyenyak" balas Aeni tertawa kecil.
Zahra ikut tertawa, ia sudah merasa baikan dan memutuskan untuk langsung mandi dulu.
Sedangkan Aeni, ia duduk menunggu Zahra di atas ranjang.
"Seharusnya Pak Wendi sudah sampai sejak tadi kesini" gumam Aeni bingung.
Ya memang hari sudah menunjukan jam 07 pagi dan seharusnya Wendi sudah sampai sejak jam 06 pagi karena dia berangkat sehabis subuh.
Hingga lamunan Aeni sedikit terbuyarkan ketika pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Zahra yang sudah rapih.
"Kak, kenapa Pak Wendi belum datang? Seharusnya kan sudah datang sejak tadi?" tanya Aeni bingung.
"Sebentar Kakak cek ponsel dulu" jawab Zahra.
Ia lalu melihat ponsel nya dan ada satu chat dari sang Suami.
-Aku akan ikut touring dulu dengan beberapa pekerja ke hutan, dan mungkin besok pagi sampai Rumah-
Begitulah kira-kira isi chat dari Wendi, Zahra langsung tertunduk lemas saat melihat nya.
Ya, akhir-akhir ini Wendi sering ikut touring ke Hutan untuk berburu disana dikala dia libur bekerja.
"Kenapa, Kak?" tanya Aeni khawatir.
"Mas Wendi tidak jadi pulang, dia akan berburu ke Hutan dulu bersama teman-temannya" jawab Zahra tersenyum.
Hah.
Aeni membuang nafas kasar, ia lalu bangkit dari duduk nya dan mengambil bubur yang sudah ia siapkan sejak tadi untuk Zahra.
"Makan dulu Kak, dan jangan lupa minum obat nya ya. Aku pamit dulu untuk ke kebun Teh" ucap Aeni dengan cepat.
"Hati-hati ya, dan terimakasih untuk semua ini" balas Zahra lembut.
Aeni mengangguk, ia sedikit kesal karena Wendi yang lebih mementingkan hobby nya di bandingkan sang Istri yang sakit.
"Dasar keluarga tidak punya hati" gerutu nya sambil keluar kamar.
Di Rumah itu sudah sepi, Ayah Beni sudah berangkat bekerja dan Ibu Jeni berangkat ke pasar.
Aeni melajukan motor nya dengan sedikit kencang karena kesal yang masih menderu.
Ia juga bahkan sepanjang jalan menggerutu tak jelas.
Sedangkan Zahra, setelah kepergian Aeni ia duduk di atas sofa dengan memangku bubur yang disiapkan untuk nya.
"Ternyata aku tidak lebih penting dari hobby mu itu, Mas" ucap nya dengan tersenyum kecut.
Zahra lalu menghabiskan bubur nya dan minum obat, meski masih sedikit lemas ia memaksakan untuk membereskan Rumah.
Zahra membersihkan Rumah tersebut hingga bersih dan selesai, saat membuka kulkas ia melihat ada beberapa sayuran yang masih bisa ia masak.
Zahra langsung saja memasak nya dengan tanpa beban sedikitpun, hanya saja cahaya ceria di wajah nya terlihat redup.
Hingga selesai memasak dan ia tata di meja makan dan kemudian datanglah Ibu mertua nya yang baru kembali dari pasar.
"Eh Zahra, sudah selesai masak?" tanya nya dengan senyum tanpa dosa.
"Sudah Bu, aku keluar dulu ya mau jalan-jalan pagi" jawab Zahra sekalian berpamitan.
Ibu Jeni mengangguk dengan tersenyum kecil, lalu ia membereskan barang belanjaan yang ia beli dari pasar, setelah nya ia langsung makan karena sudah lapar.
*
Zahra berjalan-jalan pagi sampai ke Taman yang tak jauh dari Rumah mertua nya.
Disana banyak anak-anak yang sedang bermain dan berlarian karena memang hari ini adalah hari minggu.
Zahra duduk di salah satu kursi taman, ia memperhatikan anak-anak yang sedang berlarian kesana kemari.
Ia tersenyum kecil kala melihat seorang anak perempuan yang sedang belajar berjalan terjatuh.
"Enak kali ya kalau sudah punya anak, bisa punya teman kala Suami sibuk" gumam Zahra dengan tersenyum kecil.
Zahra duduk disana hingga matahari naik dan menyengat baru ia memilih untuk pulang.
Ia melihat bahwa sang Ibu mertua sedang mengobrol dengan teman akrab nya.
"Baru pulang, Nak?" tanya Ibu Jeni.
"Iya Bu, maaf ya lama" jawab Zahra tak enak.
"Tidak apa, masuklah" ucap Ibu Jeni dengan tersenyum.
Zahra mengangguk dan ia melangkah masuk ke dalam setelah bertegur sapa dengan tamu sang mertua.
Langkah Zahra terhenti saat teman Ibu mertua nya bertanya dengan suara agak keras.
"Zahra belum hamil juga ya" ucap nya tanpa beban.
"Belum Bu, padahal saya sudah sangat ingin Cucu" balas Ibu Jeni tersenyum kecil.
"Udah di periksa belum?" tanya teman nya.
"Sudah, tapi semua nya aman. Tapi entah kenapa sampai saat ini belum juga hamil padahal nikah udah mau 3 Tahun" jawab Ibu Jeni dengan enteng.
Deg.
Zahra yang mendengarkan itu semua merasakan hati nya sangat sesak.
Ia sedikit cepat melangkah menuju kamar nya karena air mata yang sudah akan menetes.
Bukan inginnya yang sampai sekarang belum juga punya anak, dia sudah beberapa kali ke Dokter dan pengobatan herbal tetapi hasil nya masih nihil.
Zahra hanya bisa sabar karena mungkin belum.di kasih kepercayaan oleh yang maha kuasa untuk hamil.
Tetapi hampir setiap hari ia selalu mendengar pertanyaan atau ucapan Cucu dan Cucu.
Tanpa mereka sadari bahwa Zahra sangat tertekan dan juga merasa sakit hati nya dengan ucapan tersebut.
Tetapi Zahra selalu berusaha acuh dan mengabaikan nya , ia juga tidak terlalu memikirkan semua nya dan hanya bisa terus berdo'a serta memohon agar bisa cepat mendapatkan momongan.
.
.
.
ini perkataan atau sekedar kalimat cerita
pasti yg mandul itu Wendy scra pamannya kn GK BS punya ank dengan Tante mila