Ilona, gadis jalanan yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Kehidupan jalanan memaksanya menjadi gadis kuat dan pemberani. Berbeda dengan Ayyara, seorang gadis culun yang selalu menjadi sasaran bully di sekolahnya. Selain penampilannya yang culun dan dianggap jelek, dia sedikit gagap saat berbicara. Bahkan kakak dan sepupunya tidak suka padanya.
Hingga suatu hari, terjadi kecelakaan yang membawa perubahan dalam hidup keduanya. Ilona terbangun dalam raga Ayyara. Kecelakaan itu mengubah semua jalan hidup keduanya. Ilona yang tidak memiliki orang tua dan kehidupannya yang susah, berubah mendapatkan kasih sayang orang tua dan kehidupan layak. Dan Ayyara, dia berubah menjadi gadis yang tak mudah ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali sekolah
Ayyara menatap cermin dengan balutan seragam sekolah yang sudah menempel di tubuhnya. Hari ini adalah hari pertamanya kembali masuk sekolah setelah kecelakaan. Ia memperhatikan penampilannya. Penampilan yang begitu jauh berbeda dengan Ayyara sebelumnya. Jika sebelumnya gadis itu mengenakan seragam yang dimasukkan kedalam rok, kacamata dan dasi yang diikat dengan benar, berbeda dengan Ayyara saat ini. Gadis itu mengenakan seragam longgar yang ditaruh diluar, juga dasi yang dipakai dengan tak benar dan kacamata yang sudah ia tinggalkan sejak berada di rumah sakit.
"Ayya, kalo mau bareng kita, cepatan!" Teriak Gian dari bawah.
Ayyara hanya memutar bola mata malas mendengar teriakkan Gian. Tanpa menjawab, ia berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menuju meja makan. Lagi-lagi, Ayyara membuat keluarganya melongo. Bahkan beberapa pembantu tak henti menatapnya.
"Ada apa?" Tanyanya tanpa dosa, setelah berhasil duduk di samping Mala.
"Sayang, apa kamu ngga salah ke sekolah gini?"
"Hah? Engga Ma. Ayya nyaman kayak gini." Mala hanya mengangguk. Jika putrinya nyaman, ia tak masalah. Sedangkan Abima, dia hanya menatap sayang putrinya. Jika itu membuat putrinya nyaman, ia tidak akan protes. Sudah cukup putrinya ia abaikan selama ini.
"Dasi lo dibenerin." Ucap Deon, tak suka.
"Ini udah benar, abang. Cuman ga suka aja ampe kena leher. Kecekik, mati dong Ayya." Balasnya, lalu memasukkan potongan roti ke mulutnya.
Muka dua! Batin Deon saat mendengar Ayyara menyebutnya abang.
Giliran sama Papa Mama, manggilnya abang. Pas sendirian, lo gue. Munafik! Batin Gian.
Setelah sarapan, Ayyara, Deon dan Gian berpamitan ke sekolah. Deon dan Gian menggunkan mobil mereka. Sementara Ayyara, dia diantar oleh pak Tanto.
"Pak? Pak? Bapak!!" Teriakkan Ayyara membuat pak Tanto tersadar dari lamunannya. Lelaki yang sudah sangat lama bekerja di keluarga Abima itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa bengong pak? Geleng-geleng kepala lagi."
"Engga neng. Bapak cuman ga nyangka neng Ayya berubah gini. Bapak salut neng. Jadi neng Ayya ga gampang di tindas lagi sama den Deon sama den Gian."
"Makasih pak. Ngomong-ngomong, Ayya cantik ga? Ayya ga jelek lagi kan?"
"Siapa bilang neng jelek. Eneng cantik, cuman... belum ngerti aja cara ngerawat diri. Sekerang neng Ayya tambah cantik."
"Hahaha... Bapak bisa aja mujinya. Ayo, pak! Nanti Ayya telat."
"Siap neng."
Pak Tanto segera mengemudikan mobil menjauh dari rumah. Jalanan yang padat tak membuat Ayyara telat sampai di sekolah. Mobil pak Tanto berhenti di gerbang sekolah. Ayyara turun sambil mengucapkan terima kasih pada pak Tanto.
Kedatangan Ayyara mencuri perhatian. Puluhan pasang mata terus menatapnya dengan berbagai macam ucapan yang terlontar dari mulut mereka.
Apa itu Ayyara? Dia berubah.
Gadis cupu sekarang berpenampilan badas.
Apa benar itu Ayyara? Dia sangat cantik.
Apa ini efek dari kecelakaan yang menimpanya?
Gumaman-gumaman yang terdengar dianggap angin lalu oleh Ayyara. Gadis itu berjalan melewati mereka begitu saja. Hingga tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya tepat di depan tiga orang yang berdiri bersender di koridor sekolah.
"Gue pikir udah mati lo." Vanya menatapnya dari atas hingga bawah dengan tatapan menilai.
"Tuhan masih ngizinin gue buat nyari orang-orang yang udah ngancurin hidup gue." Jawabnya, melirik Kenzo lalu mengedipkan satu matanya pada cowok itu. Setelahnya ia berlalu begitu saja.
Vanya menggeram kesal. Begitupun Elen dan Kenzo. Ketiga orang itu terus mentap punggung Ayyara yang mulai menjauh dengan tatapan permusuhan.
"Benar kata Deon, dia berubah." Ujar Kenzo.
Gue akan balas lo! Batin Vanya.
***
Bel istirahat berbunyi, membuat semua murid bergegas meninggalkan kelas menuju kantin. Ayyara memasukkan kembali buku-bukunya lalu berjalan keluar.
"Mau ke kantin juga lo? Gue pikir lo bakal ngabisin bekal lo di kelas." Vanya tertawa mengejek di ikuti Elen yang mendorong bahu Ayyara.
"Huh, gue lagi pengen rasain makan di kantin. Makanan rumah gue semuanya mewah. Gue mau ngerasain makanan orang-orang biasa. Dan ngomong-ngomong, di kantin ga ada tulisan Putri dari keluarga Abima Antara dilarang makan disana kan? Gue takut ga di bolehin beli makanan kantin." Ujarnya dengan gaya sombong yang membuat Vanya dan Elen semakin kesal padanya.
"Ayyara!" Bentak Elen.
Ayyara menanggapinya dengan pura-pura terkejut. "Ups, gue salah ya? Maaf ya? Kalo gitu gue mau ke kantin. Bye bye." Gadis itu menjauh tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia bahkan berjalan sambil terkikik, menertawakan ekspresi kesal Vanya juga Elen.
Kedua gadis itu mengepalkan tangan mereka. Vanya maupun Elen tak bisa menampiknya. Ayyara adalah putri dari donatur terbesar di sekolah mereka. Namun, mereka mengabaikan itu dan hanya melihat Deon dan Gian. Bahkan ia sadar sekarang, sepatu yang di pakai Ayyara adalah sepatu bermerek dengan produksi terbatas yang diincarnya. Namun ia gagal mendapatkannya.
Kehadiran Ayyara di kantin kembali mencuri perhatian berpasang-pasang mata siswa maupun siswi yang ada di kantin tersebut. Bahkan sampai Ayyara duduk pun masih di perhatikan oleh mereka. Kenzo menatap dingin pada Ayyara. Begitupun dengan kedua abang Ayyara.
"Ini neng Ayyara ya? Ya Allah, eneng cantik banget neng." Puji Ibu Karni, seorang Ibu kantin.
"Makasih, Bu. Oh ya, saya mau mie ayam satu Bu."
"Siap, neng." Bu Karni segera berlalu. Tak lama, ia kembali dengan semangkuk mie ayam dan segelas es teh. "Ini, neng." Wanita yang hampir berusia setengah abad itu meletakkan mangkuk mie ayam ke meja Ayyara.
"Makasih Bu." Ibu itu mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Ayyara. Baru saja ia hendak menyuapi mie ke mulutnya, Vanya dan Elen datang dan menggebrak mejanya.
Brakkk...
Ayyara langsung mendongakkan wajahnya, menatap kedua cewek itu. "Kenapa? Mau numpang makan juga?" Responnya begitu tenang, berbeda dengan dua cewek itu yang sudah berapi-api. Ditambah, Ayyara seolah sedang mengejek mereka.
"Ini tempat gue! Lo, cari tempat lain!" Ujar Vanya yang hanya diabaikan Ayyara. Gadis itu menyuapkan mie yang sempat tertunda tadi ke mulutnya.
"Heh! Lo dengar ngga?!" Elen dengan suara cemprengnya, menarik tangan Ayyara, hingga sendok yang dipegang terjatuh.
Ayyara bangun dan berdiri berhadapan dengan Vanya dan Elen. Ekspresi wajahnya masih begitu tenang. Membuat semuanya semakin tak menyangka jika itu adalah Ayyara. Dulu, gadis itu akan menunduk tak berdaya saat dilabrak Vanya, Elen maupun yang lainnya. Tapi sekarang, ia melawan dengan begitu elegan.
"Tempat lo? Gue ga liat tuh, ada tulisan ini tempat milik Vanya. Lo ngarang, ya?"
"Lo?!" Vanya maju dan hendak menampar Ayyara. Namun gadis itu menghindar dan mendorong Vanya hingga menubruk tubuh Elen. Keduanya sama-sama terjatuh. Ayyara melirik semangkuk mie yang hanya sesendok dimakannya. Terbesit niat untuk membalas dendam yang sama dilakukan Vanya dan teman-temannya dulu pada Ayyara.
Gadis itu meraih mangkuk dan es teh, lalu menyirami tubuh keduanya.
"Aw... panas! Panas!" Teriak Vanya dan Elen bersamaan.
"Cengeng banget. Orang mienya udah hangat, kok. Kan ada es teh yang kasi dinginin." Ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Ayya!!" Suara ketiga cowok yang berteriak keras membuatnya menoleh. Terlihat olehnya, Kenzo, Deon dan Gian berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan yang sarat akan amarah.
"Lo apain Vanya?!" Bentak Kenzo, membantu Vanya berdiri. Gian juga membantu Elen berdiri.
"Lo bisa liatkan gue apain mereka?"
"Ayya!!" Deon melayangkan tangannya ketika tiba-tiba suara Ayyara menghentikan.
"Yang kenceng namparnya. Palingan ga gue tutupin bekasnya biar ketauan Papa." Ujarnya tanpa berusaha menghindar. Deon yang amarahnya sudah di ubun-ubun berteriak kesal sambil menurunkan tangannya.
"Lo bisa ga, lembut dikit jadi cewek?" Gian menarik kasar tangan Ayyara. Namun gadis itu membalasnya dengan menghempas kasar tangannya.
"Hadeh, gue heran sama lo semua. Gue kasar, salah. Gue lembek ga ada tenaga juga salah. Mau lo semua apa? Hah? Lo mau gue biarin hidup gue ditindas terus sama kalian?!" Ujarnya. "Ingat! Gue pernah digituin sama dua cewek itu. Dan itu balasnnya!" Lanjutnya.
Kenzo yang melihatnya, maju mendekat dengan tatapan sengit. "Lo, cewek yang paling gue benci!!" Ujarnya sambil mengeraskan rahangnya dan menunjuk wajah Ayyara.
"Dan gue, ga peduli!" Balas Ayyara. "Gue udah malas makan. Gue ke kelas dulu. Bu, ini uangnya. Sisanya bayarin buat abang-abang Ayya." Ujarnya kemudian berlalu dari kantin.
Kenzo terus menatapnya dengan sorot mata dingin. Namun, ada sesuatu dalam hatinya. Dia sedikit tertarik dengan penampilan Ayyara yang sekarang ini.