Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
Asap tebal masih mengepul hitam di perairan pelabuhan Nanohana, berpadu dengan debu gurun yang diterbangkan angin daratan Alabasta. Puing-puing kapal agen Billions Baroque Works terapung-apung menyedihkan, menjadi monumen peringatan singkat atas apa yang terjadi ketika seseorang mencoba menghalangi jalan Erebus.
Di atas geladak kapal Tartarus yang merapat sempurna di dermaga utama, Putri Vivi tertegun. Sepasang matanya menatap nanar ke arah kerumunan warga Nanohana di pinggir pelabuhan yang langsung membeku, bersujud, atau lari tunggang-langgang ketakutan. Mereka tidak melihat penyelamat; mereka melihat sekawanan malaikat maut yang baru saja menghapus blokade laut dalam waktu kurang dari sepuluh detik tanpa menyisakan satu pun musuh bernyawa di permukaan air.
"M-Mereka... empat kapal perang hancur seketika..." bisik Vivi dengan bibir bergetar hebat. Ia mencengkeram erat pagar pembatas kapal, menyadari bahwa taruhan yang ia ambil bersama kelompok misterius ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Roy Mustang melangkah santai melewati Vivi, merapikan manset seragam birunya yang sedikit terkena abu mesiu. Ia melirik gadis itu dengan senyum tipis.
"Jangan pasang wajah ketakutan begitu, Tuan Putri," ujar Mustang dengan nada tenang dan profesional. "Di dunia militer, ini disebut sebagai pembukaan negosiasi yang efektif. Sekarang, warga kota tahu siapa pemilik wilayah baru ini."
Di buritan kapal, Enel mendengus pelan sambil meregangkan kedua tangannya. Cincin emas di punggungnya berderak mengeluarkan sisa-sisa ion listrik statis.
"Yahahahaha! Menghancurkan kapal-kapal kayu murahan itu sama sekali tidak menaikkan detak jantungku," ejek Enel lewat sambungan mental yang langsung merasuk ke benak Muzan. "Pencipta, apakah di daratan ini semua musuhnya sebodoh itu? Mereka bahkan tidak sempat memohon sebelum hangus."
Muzan Kibutsi tidak menggubris celotehan Enel. Remaja berjubah hitam itu berdiri tegak di dekat tangga keluar kapal, kedua tangannya tersembunyi di dalam saku jubah. Di balik tudungnya, mata hitam Muzan berbinar lembut, bukan karena emosi, melainkan karena kilatan cahaya biru dari panel holografik sistem yang hanya bisa dilihat olehnya seorang.
Sebuah deretan teks notifikasi berwarna keemasan melayang di depan pandangannya, melaporkan hasil dari kehancuran blokade Nanohana beberapa saat lalu.
«"DING! LAPORAN MISI OTOMATIS SAGA: ALABASTA"»
«"Target Terselesaikan: [Pemusnahan Blokade Billions Nanohana]"»
«"Evaluasi Pertempuran: Efisiensi 100%, Waktu Eksekusi 4.2 Detik, Korban di Pihak Host: 0."»
«"Distribusi Hadiah Berhasil:"»
«"- +5.000.000 Belly (Diperoleh dari jarahan logistik dan konversi nilai sisa aset musuh)"»
«"- +50 Poin Kekuatan Mental (Mental Skill Points)"»
«"- Peningkatan Sinergi Faksi: [Erebus] - Pengaruh Teritorial di Alabasta: 5%"»
«"STATUS KEUANGAN SAAT INI:"»
«"Saldo Belly: 29.369.850 Belly (Setelah akumulasi sisa dan hadiah misi)"»
«"STATUS KAPASITAS PENGENDALIAN BONEKA:"»
«"Slot Aktif: 4 / 5 (Tersedia 1 slot kosong untuk pemanggilan darurat atau rotasi taktis)"»
Muzan membaca deretan data itu dalam keheningan pikiran. Poin kekuatan mentalnya kini meroket naik, memperluas kapasitas pemrosesan otaknya dan memperkuat ketahanan psikologisnya terhadap serangan mental luar seperti Haoshoku tingkat lanjut atau ilusi kompleks. Saldo Belly-nya juga kembali pulih mendekati angka tiga puluh juta, memberikan kebebasan finansial yang cukup untuk membeli item pendukung di Black Market Tier 1.
Sistem ini bekerja dengan efisiensi yang memuaskan, batin Muzan dingin. Setiap konflik yang kita ciptakan tidak hanya memperluas reputasi Erebus, tetapi juga memberi bahan bakar bagi ekspansi asetku.
"Tuan Muzan," suara pelan Mr. 9 memecah konsentrasi mentalnya. Pria bermahkotakan kecil itu menunjuk ke arah ujung dermaga dengan tangan gemetar. "Umm... warga kota mulai mundur, tapi... aku melihat beberapa orang mencurigakan di gang-gang pasar rempah. Mereka adalah agen tingkat menengah Baroque Works yang tidak ikut dalam gugus tugas pelabuhan. Apa yang harus kita lakukan?"
Muzan menarik kembali panel sistemnya dari pandangan. Ia menoleh perlahan ke arah Mr. 9, lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan utama kota Nanohana yang mulai sepi.
"Biarkan mereka bersembunyi di sarang mereka," jawab Muzan, suaranya mengalir tenang namun dingin. "Seekor tikus yang ketakutan di dalam lubang tidak akan bisa mengubah arah badai. Kita tidak akan membuang waktu memburu agen rendahan di jalanan kota."
Muzan melangkah menuruni papan titian kapal, menginjakkan kakinya secara resmi di atas daratan pasir Alabasta. Sepatu botnya beradu dengan debu jalanan Nanohana.
"Kita punya tujuan yang jauh lebih penting," lanjut Muzan, menoleh ke arah Mustang dan Enel yang menyusul di belakangnya. "Mencari tempat peristirahatan yang layak, menyusun ulang strategi, dan menunggu kelompok bajak laut Topi Jerami serta agen-agen elit Baroque Works saling memangsa di padang pasir."
Vivi ikut turun dari kapal, berjalan di samping Muzan dengan ekspresi tegang. "Tunggu... jika kita tidak langsung menyerang Crocodile di Rainbase, lalu di mana kita akan tinggal di kota ini? Nanohana penuh dengan mata-mata Baroque Works!"
Baru saja Vivi menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara keroncongan yang sangat keras terdengar dari arah gang pasar rempah-rempah tak jauh dari tempat mereka berdiri.
KRRROOOOYYYYK...!
Suara perut kosong itu begitu nyaring hingga menghentikan langkah semua orang di rombongan Erebus.
Dari balik tumpukan keranjang buah kaktus dan rempah-rempah di sudut gang, sesosok pemuda bertubuh tegap, mengenakan celana pendek, kemeja terbuka, dan topi jerami yang khas, berjalan sempoyongan sambil memegang perutnya. Rambut hitamnya sedikit berantakan akibat terjatuh di pasir.
"Aduh... laparnya..." gumam pemuda itu dengan mata setengah tertutup, berjalan tanpa melihat ke depan. "Kenapa kota ini tidak punya restoran yang menyajikan daging panggang raksasa di setiap sudut jalan..."
Langkah pemuda itu terhenti tepat satu meter di depan Muzan Kibutsi.
Monkey D. Luffy mendongakkan kepalanya, mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu akibat kelaparan, mencoba fokus melihat siapa orang yang menghalangi jalannya.
Suasana di dermaga Nanohana mendadak menegang. Mr. 9 dan Vivi menahan napas. Roy Mustang menyipitkan matanya, tangan kanannya bersiap di dekat sarung tangannya. Sementara di atas tiang kapal, Enel mendengus geli melihat manusia bodoh yang berjalan tanpa arah di hadapan sang Pemimpin.
Luffy menatap sosok Muzan yang diselimuti jubah hitam tebal, lalu pandangannya bergeser melihat Roy Mustang, dan terakhir menatap Enel yang melayang santai di udara.
Otak Luffy berputar lambat selama tiga detik penuh.
"Eh?" Luffy memiringkan kepalanya. "Paman Berjubah Hitam? Dan Paman Api? Kalian... kenapa kalian ada di sini juga? Apakah kalian sedang mencari daging?"
Muzan Kibutsi menatap kapten bajak laut Topi Jerami itu dengan ekspresi datar tanpa emosi. Di dalam pikirannya, sistem secara otomatis memindai parameter fisik dan nilai buronan Luffy yang baru saja diperbarui.
Monkey D. Luffy. Buronan senilai 30 Juta Belly. Variabel utama takdir di lautan ini, batin Muzan. Dan dia kelaparan di tempat yang salah pada waktu yang sangat tidak tepat.
Muzan menyunggingkan senyuman tipis di balik tudungnya. Papan catur Alabasta kini resmi mempertemukan para bidak utamanya di atas tanah yang sama.