NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Aroma manis mentega berpadu dengan harumnya panggangan croissant mengepul hangat di ruang produksi belakang toko roti Sweet Crumb. Jam menunjukkan pukul dua belas siang, waktu di mana seluruh aktivitas pembuatan kue dihentikan sejenak untuk memberikan kesempatan bagi para staf dan karyawan menikmati jam istirahat.

Di sudut ruangan dekat meja adonan besar, tiga orang karyawan tetap toko—Budi si tukang oven yang berbadan gempal, Siska gadis kasir yang ceriwis, dan Ani dekorator kue yang hobi melucu—tengah duduk melingkar di atas kursi kayu. Di tengah-tengah mereka, Rania duduk bersila lesehan di atas lantai keramik yang bersih, memegang sepotong roti isi keju buatan eksperimen terbarunya.

"Wah, bos kita hari ini auranya beda banget," celetuk Siska sambil melirik Rania dengan tatapan menyelidik penuh canda. "Dari tadi pagi senyum-senyum sendiri pas merhatiin layar ponsel. Jangan-jangan saldo rekening toko ketiban rezeki nomplok dari bank gaib, ya?"

Budi mengangguk setuju sambil mengunyah rotinya. "Tau nih, Mbak Rania. Biasanya kalau jam segini muka Mbak Rania itu udah kusut kayak adonan gagal ragi gara-gara mikirin pajak bulanan. Tapi hari ini ceria banget. Jangan-jangan habis nemu investor pangeran tampan ya?"

Rania mendengus kecil, menoyor pelan kepala Budi menggunakan gulungan plastik lapis kue dengan gerakan komedi. "Sembarangan kamu, Bud! Investor pangeran dari mana? Yang ada itu investor titisan iblis bermuka dua yang hobinya ngomel tiap pagi tapi kebetulan lagi khilaf transfer dana."

"Iblis tapi ganteng kan, Mbak?" timpal Ani menggoda sambil tergelak lebar.

Rania memutar bola matanya malas, memasang ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Ganteng dari mana? Yang ada dia itu jelmaan singa kutub yang sombongnya minta ampun! Sok ngatur, pelit, tukang tuduh, dan narsisnya tingkat dewa. Kalau bukan karena kemarin dia salah transfer dana setengah miliar buat modal toko kita, aku sudah jitak kepalanya pakai loyang besi!"

Sontak, tawa meledak memenuhi sudut ruang produksi. Suasana akrab penuh canda tawa itu menunjukkan betapa dekatnya hubungan Rania dengan para karyawannya. Di balik sifatnya yang terkenal perhitungan dan pelit dalam urusan uang, Rania adalah sosok bos pelindung yang sangat menyayangi orang-orang di balik kesuksesan toko rotinya. Gelak tawa dan lemparan candaan ringan itu sejenak meredakan penat dan beban pikiran yang bergelayut di kepala Rania.

Di tengah gelak tawa kebersamaan itu, nada dering ponsel di dalam saku kemeja Rania berdering nyaring. Rania merogoh benda pipih tersebut, melihat nama penelepon tertera di layar Ibu.

Seketika senyum di wajah Rania memudar, digantikan oleh garis wajah yang sedikit mengeras. Hubungannya dengan Sarah, sang ibu, tidak pernah benar-benar hangat. Sejak kecil, semua perhatian dan kasih sayang orang tuanya selalu tercurah habis untuk Resti—kakak sulung kesayangan yang dianggap paling membanggakan.

"Sebentar ya teman-teman, ratu drama menelepon," bisik Rania sinis pada karyawannya, lalu berdiri dan menyingkir sedikit ke dekat jendela gudang untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Bu?" sapa Rania datar tanpa basa-basi.

"Rania! Kau ini lama sekali mengangkat telepon!" suara Sarah langsung menyerbu gendang telinganya dengan nada ketus di ujung sana. "Dengar baik-baik. Malam ini, Ayah dan Ibu mengadakan makan malam keluarga di rumah. Kau harus datang, dan jangan lupa bawa suamimu, Rangga! Ingat, jangan buat malu keluarga Pratama dengan penampilan acak-acakanmu itu!"

Rania mendengus pelan menahan jengkel. "Makan malam dadakan? Kenapa tidak bilang dari kemarin, Bu? Toko sedang padat pesanan."

"Tidak ada penolakan! Ini demi menjaga imej keluarga kita di depan besan baru! Awas kalau kau sampai datang sendirian atau terlambat!"

Tut... tut... tut.

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Sarah.

Rania menghembuskan napas kasar, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Mau tidak mau, ia harus menjalankan kewajiban sandiwara pernikahan kontrak ini di hadapan orang tuanya.

Tanpa buang-buang waktu, Rania kembali merogoh ponselnya, mencari kontak Rangga, lalu menekan tombol panggil. Hanya butuh dua dering sebelum suara bariton yang dingin menyapa telinganya dari ujung sana.

"Ada apa?" tanya Rangga langsung tanpa basa-basi dari ruang kerjanya di Pratama Tower.

"Hei, Tuan CEO yang terhormat," ujar Rania to the point dengan nada malas. "Ibuku barusan menelepon. Malam ini kita diundang makan malam di rumah orang tuaku. Kakak harus datang menjemputku atau menemuiku di sana. Jangan coba-coba mangkir, kalau tidak mau ibuku datang mengamuk ke kantormu."

Di seberang sana, Rangga yang sedang memegang dokumen laporan keuangan Sweet Crumb terdiam sejenak. Pria itu melirik jam tangannya, lalu mengangguk kecil. Mengingat pentingnya menjaga sandiwara pernikahan di depan keluarga besar, ia tidak punya alasan untuk menolak.

"Baiklah. Jam berapa?" jawab Rangga singkat dengan nada dingin berwibawa.

"Jam tujuh malam di kediaman keluarga Santoso. Jangan terlambat, jas mahalnya dipakai biar tidak kelihatan miskin," sindir Rania tajam.

"Tentu saja. Tidak sepertimu yang hobi pakai kemeja flanel kumuh," balas Rangga sengit sebelum langsung mematikan sambungan telepon.

Rania mendengus sebal menatap layar ponselnya yang sudah gelap. "Dasar pria es batu menyebalkan!" gumamnya pelan.

Tepat pukul tujuh malam, mobil sedan mewah hitam milik Rangga terparkir sempurna di halaman depan rumah megah keluarga Santoso. Rangga dan Rania melangkah masuk berdampingan ke dalam ruang makan utama yang sudah ditata sedemikian rupa dengan hidangan makan malam mewah di atas meja panjang berlapis taplak sutra putih.

Sarah dan Andre menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah yang terlihat dibuat-buat. Namun, sejak detik pertama mereka duduk di meja makan, atmosfer ruangan itu langsung berubah menjadi tidak nyaman bagi Rania.

Hidangan demi hidangan disajikan oleh pelayan rumah. Di tengah percintaan formal basa-basi antara Rangga, Andre, dan Sarah, topik pembicaraan tiba-tiba bergeser ke arah yang sangat disukai oleh sang ibu.

"Oh, Rangga sayang... Ibu benar-benar bersyukur kau yang menjadi suami di keluarga ini," ucap Sarah dengan senyum manis yang dipaksakan sambil meletakkan sepotong daging panggang ke piring Rangga. "Resti anakku itu memang sangat beruntung, meski sayangnya kemarin dia sedang khilaf mengejar impian modelnya di Paris. Tapi tenang saja, Rania ini meskipun sifatnya agak kasar, keras kepala, dan tidak seanggun kakaknya, dia tetap anak kami satu-satunya yang tersisa di sini."

Rania yang sedang menyendok sup di mangkuknya hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ibunya.

"Ya, benar kata ibumu, Rangga," timpal Andre menambahi sambil menyeruput air putih. "Rania itu memang sejak kecil keras kepala. Toko roti kecilnya itu... ah, sudahlah, namanya juga usaha murahan kelas teri untuk mengisi waktu luang. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan standar pencapaian Resti yang selalu masuk majalah sosialita elite."

Rangga, yang duduk tepat di sebelah Rania, terdiam sejenak. Pria itu melirik sekilas ke arah Rania. Dari sudut matanya, ia melihat jemari Rania mencengkeram sendok dengan erat, sementara wajah gadis itu menunduk dalam-dalam menatap mangkuk supnya. Tidak ada balasan sengit atau bantahan garang seperti biasanya; Rania kini tampak begitu rapuh, menahan beban luka batin dan rasa tidak diakui oleh orang kandungnya sendiri di hadapan suaminya.

Peringatan laporan investigasi yang dibaca Rangga siang tadi mendadak berkelebat di kepalanya. Laporan itu membuktikan bahwa toko roti murahan yang direndahkan oleh orang tuanya sendiri itu justru memiliki omzet ratusan juta rupiah dan dikelola dengan kecerdasan tingkat tinggi oleh Rania tanpa bantuan sepeser pun dari keluarga.

Namun, alih-alih membela putrinya, Sarah justru semakin gencar merendahkan.

"Iya, Rangga. Kalau suatu saat toko roti Rania itu bangkrut karena dia tidak becus mengelolanya, jangan sungkan-sungkan menegurnya ya," lanjut Sarah dengan nada meremehkan yang amat menyebalkan. "Maklum, bakat bisnisnya memang tidak ada apa-apanya dibanding Resti."

Rania menunduk semakin dalam. Bulir air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan di pelupuk matanya hampir saja tumpah ke atas meja. Rasa sakit akibat terus-menerus dibanding-bandingkan dengan kakaknya sejak kecil kembali mengoyak hatinya, membuat benteng pertahanan garang yang biasa ia tunjukkan runtuh tak bersisa di hadapan keluarganya sendiri.

Di kursi sebelahnya, dada Rangga tiba-tiba bergemuruh. Sebuah rasa amarah yang bukan ditujukan pada Rania, melainkan pada kedua orang tua mertuanya yang tega merendahkan istri di hadapannya sendiri, membakar rongga dadanya.

Tanpa ragu, Rangga meletakkan serbet makannya ke atas meja dengan bunyi gesekan pelan namun tegas. Pria itu menegakkan punggungnya, mengenakan topeng wibawa CEO-nya, lalu menatap tajam ke arah Sarah dan Andre dengan tatapan dingin yang langsung membungkam seluruh percintaan di meja makan itu dalam sekejap.

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!