Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Pondok kayu itu berdiri sendirian di tepi danau yang airnya tenang seperti cermin, dikelilingi pohon-pohon tinggi yang daunnya berdesir pelan tertiup angin. Bangunannya sudah tua, dindingnya penuh retakan, tapi atapnya masih kokoh dan lantainya kering. Dika menutup pintu kayu dengan hati-hati, lalu menyebarkan kain lap di lantai agar mereka bisa beristirahat.
“Tempat ini dulunya dipakai penjaga bendungan sebelum danau ini tidak dipakai lagi,” kata Dika sambil menyalakan pelita kecil. “Hampir tidak ada yang datang ke sini. Bahkan pasukan patroli pun jarang melintas—mereka menganggap daerah ini rawa mati tanpa jalan keluar.”
Bapak Harun duduk di sudut ruangan, menatap pantulan cahaya pelita di air danau yang terlihat lewat celah jendela. “Saya tidak menyangka terowongan itu masih ada. Dulu saya hanya mendengar bisikan, tapi tidak pernah berani memikirkannya lebih jauh. Ternyata akar kejahatan ini tumbuh begitu dalam.”
Rendra membuka tasnya, mengeluarkan berkas data dan perangkat penyimpanan, lalu meletakkannya di atas papan kayu yang berfungsi sebagai meja. “Kita punya waktu sebentar. Mari kita susun apa yang kita ketahui sejauh ini, agar tidak tersesat di antara banyaknya rahasia.”
Mereka duduk melingkar. Surya mengambil selembar kertas dan pensil, lalu mulai menulis poin-poin penting:
1. Kebakaran pabrik bukan kecelakaan, tapi untuk menutup jalur penyelundupan lama.
2. Bagas hanyalah perantara, ada orang di atasnya yang tidak diketahui namanya.
3. Terowongan rahasia sudah dibangun sejak tahun 1998, berarti operasi ini berjalan lebih dari dua dekade.
4. Mereka menyembunyikan limbah beracun sekaligus menyelundupkan barang—mungkin juga orang.
“Yang paling mengkhawatirkan,” kata Surya sambil menunjuk poin terakhir, “adalah skala operasinya. Jika sudah berjalan puluhan tahun tanpa ketahuan, berarti ada orang-orang yang terus menjaga rahasia ini dari generasi ke generasi. Bukan hanya satu kelompok, tapi semacam jaringan warisan kekuasaan gelap.”
Saat mereka sedang berdiskusi, Bapak Harun tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah lemari kayu tua yang sudah berkarat di sudut ruangan. Ia menarik gagang yang macet hingga pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada barang berharga, hanya tumpukan buku catatan tua bersampul kulit.
“Siapa yang tahu?” gumamnya pelan. “Dulu penjaga bendungan ini adalah teman lama saya. Dia sering menulis hal-hal aneh yang dilihatnya di sekitar danau.”
Ia mengambil satu catatan paling tebal, membuka halaman yang sudah menguning. Tangannya bergetar saat membacakan isinya:
“12 Mei 1999. Ada truk-truk gelap lewat jalan rahasia menuju gua utara. Tidak ada plat nomor. Mereka menutup jalan sementara agar tidak ada warga yang lewat. Katanya proyek pemerintah, tapi tidak ada petugas yang memakai seragam resmi.”
“20 Agustus 2001. Malam ini terdengar suara bising dari bawah tanah. Seolah ada kereta yang lewat, padahal tidak ada rel di sini. Pagi harinya tanah di sekitar bukit terlihat berubah bentuk.”
“3 Maret 2010. Orang yang menyebut dirinya ‘pengawas wilayah’ datang. Meminta saya tidak menulis apa pun yang saya lihat, dan memberikan uang banyak. Saya menolak, tapi saya tahu mereka akan kembali.”
Rendra mengambil catatan itu, membaca baris demi baris. Ternyata selama ini ada saksi bisu yang mencatat setiap gerak-gerik mereka, meski tidak tahu tujuannya. “Catatan ini adalah bukti berantai. Jika kita temukan catatan lain dari tempat berbeda, kita bisa melacak siapa pemimpin sebenarnya di balik semua ini.”
Tiba-tiba Dika yang sedang memeriksa sekeliling pondok berlari masuk dengan wajah waswas. “Ada jejak ban di jalan tanah menuju danau. Tidak segar, tapi baru ada sekitar dua atau tiga jam lalu. Mungkin orang lain juga tahu tempat ini.”
“Bukan pasukan Bagas,” kata Surya memastikan. “Mereka biasanya bergerak berkelompok dan merusak apa saja yang ada di depannya. Jika mereka tahu kita di sini, sudah pasti mereka menyerbu dari tadi.”
Rendra menatap catatan di tangannya, lalu ke arah jendela yang menghadap danau. “Mungkin ada orang lain yang juga mencari kebenaran. Atau mungkin… ada orang yang dulu takut bicara, dan sekarang berani muncul.”
Malam semakin larut. Mereka memutuskan untuk beristirahat dengan giliran—dua orang berjaga, dua orang tidur. Rendra duduk di ambang jendela, menatap bayangannya sendiri di air danau. Ia teringat adiknya, teringat rekan-rekannya yang dulu setia, teringat janji yang pernah ia ucapkan untuk menjaga keadilan. Ia tahu jalan di depannya masih sangat panjang, penuh rahasia yang belum terungkap dan bahaya yang tak terduga.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak berjalan sendirian. Ada teman yang setia, ada saksi yang berani bersuara, dan ada jejak yang tak bisa dihapus meski waktu berlalu puluhan tahun.
Di kejauhan, di balik pepohonan, sepasang mata mengawasi pondok itu dari kegelapan. Sosok itu tidak bergerak, hanya diam memperhatikan, lalu perlahan menghilang—seolah bayangan lain yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk muncul.