NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

009

Pintu ganda ruang perawatan VIP St. Jude Private Medical Center terbuka lebar tanpa ketukan. Langkah-langkah kaki yang berat, mantap, dan sarat akan otoritas mutlak bergema menembus lantai marmer yang mengilap.

Suasana di dalam ruangan yang tadinya dipenuhi ketegangan sunyi mendadak membeku, tergantikan oleh aura intimidasi raksasa yang seolah sanggup menyedot seluruh oksigen di udara.

Dua sosok paruh baya berpenampilan luar biasa elegan melangkah masuk, diiringi oleh Baxeena yang berjalan sedikit menunduk di belakang mereka.

Di barisan paling depan, berdiri Austin Jaxon Desmon—pria paruh baya berpostur tegap dengan rambut abu-abu keperakan yang dipotong rapi, mengenakan setelan jas hitam buatan pengrajin terbaik Eropa.

Garis wajahnya keras, memancarkan wibawa pimpinan tertinggi dinasti Desmon yang tak terbantahkan.

Di sampingnya, Zephyr Desmon—sang ibu—berdiri anggun dengan gaun musim dingin berwarna biru gelap. Wajah cantiknya yang abadi memancarkan aura dingin yang sangat menusuk, mata tajamnya yang berkilat kejiwaan langsung mengunci sosok Braxley.

Baxeena telah membeberkan segalanya. Dari kehidupan Aurora, pembiusan rahasia di kegelapan malam, kelahiran Draco di bawah atap keluarga Carser, hingga penderitaan Aurora di mansion beracun itu—semuanya telah sampai ke telinga kedua orang tua mereka beberapa jam yang lalu.

Braxley yang sedang berdiri di dekat ranjang Draco perlahan menegakkan tubuhnya. Pria yang biasanya ditakuti oleh seluruh jajaran eksekutif Los Angeles itu kini terdiam kaku saat melihat kehadiran orang tuanya.

"Dad... Mom..." ucap Braxley pelan.

BUGh. BUGH!

Dua pukulan telak melayang secepat kilat.

Kepala Braxley tersentak hebat ke kanan saat tinju keras Austin Jaxon mendarat tepat di rahang kiri juga ulu hatinya.

Pukulan itu begitu kuat, menghantam tanpa keraguan sedikit pun, hingga membuat tubuh tegap Braxley terdorong mundur dua langkah dan menabrak sudut meja medis. Ujung bibir Braxley pecah seketika, mengalirkan darah segar di kulit wajahnya yang pucat.

"Ugh!" Aurora tersentak keras.

Ia refleks menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, matanya membelalak sempurna melihat kejadian di depan matanya. Seorang taipan dingin yang selama ini mengintimidasi semua orang baru saja dihantam tanpa ampun di hadapannya.

AJ tidak menurunkan tangannya. Napas pria paruh baya itu memburu, matanya merah padam menahan murka yang teramat sangat. Ia menunjuk muka Braxley dengan telunjuknya yang gemetar oleh amarah.

"Kau membiarkan cucuku tumbuh dan menderita di Mansion Carser?!" suara AJ menggelegar penuh kebencian dan kekecewaan murni, bergema di setiap sudut ruangan medis itu. "Aku tidak pernah mengajarimu menjadi bajingan brengsek yang tidak bertanggung jawab seperti itu, Braxley! Kau memperlakukan wanita dan anakmu seperti permainan rahasia di kegelapan?!"

Braxley menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan tanpa mengalirkan satu pun keluhan. Pria itu menundukkan kepalanya di hadapan sang ayah, menelan bulat-bulat amarah pria yang membesarkannya.

Namun yang lebih menyakitkan bagi Braxley bukanlah pukulan sang ayah, melainkan keheningan dari ibunya.

Zephyr berdiri mematung di samping Austin. Ia sama sekali tidak memandang Braxley.

Pandangannya bergulir dingin melewati putranya, seolah pria tegap di depannya itu hanyalah seonggok bayangan yang tak berarti.

Raut wajahnya dipenuhi kekecewaan mendalam yang teramat pekat. Zephyr tidak pernah mendidik putra-putranya menjadi berandal pengecut yang menyembunyikan darah daging sendiri dan membiarkan wanita yang dicintainya dizalimi pria lain.

Braxley, sekali lagi, telah menghancurkan kebanggaan ibunya.

"Mom..." bisik Braxley dengan nada parau yang langka.

Zephyr mengabaikannya secara penuh. Dingin. Tanpa kata. Seolah suara Braxley hanyalah angin lalu.

Sebaliknya, tatapan Zephyr melunak seketika saat matanya bergulir dan berbenturan dengan manik mata Aurora yang masih berdiri gemetar di samping ranjang. Air mata keharuan dan rasa penyesalan langsung menggenang di pelupuk mata sang ibu dinasti Desmon itu.

Zephyr melangkah cepat mendekati Aurora.

Sebelum Aurora sempat menyadari apa yang terjadi, Zephyr telah memangkas jarak di antara mereka.

Dan hal yang membuat seluruh orang di ruangan itu menahan napas terjadi: Zephyr Desmon—wanita terpandang yang paling dihormati di kalangan elite internasional—perlahan menundukkan tubuhnya dan hendak berlutut di hadapan Aurora.

"Nyonya... Ibu..." Aurora terperanjat hebat.

Dengan sigap, Aurora langsung menahan kedua bahu Zephyr, mencegah wanita tua anggun itu menyentuhkan lututnya ke lantai marmer yang dingin.

"Tidak! Jangan... Tolong jangan lakukan ini!"

Zephyr menggenggam kedua tangan Aurora erat-erat. Air matanya menetes merobek keangkuhannya sebagai seorang matriark.

"Maafkan putraku yang tidak tahu diri itu, Aurora..." suara Zephyr bergetar hebat, penuh kepedihan dan kesungguhan yang telanjang dari dasar hatinya. "Maafkan kami... Terima kasih, demi Tuhan terima kasih banyak karena kau sudah melahirkannya, membesarkan cucuku dengan sangat baik di tengah neraka yang kau lalui."

Zephyr berpaling sekilas, melemparkan tatapan membunuh yang teramat tajam ke arah Braxley yang masih berdiri mematung, sebelum kembali menatap Aurora dengan kehangatan seorang ibu.

"Demi Tuhan... Mommy benar-benar akan memukulinya sampai dia sadar betapa tololnya dia!" ucap Zephyr dengan nada bersungguh-sungguh. "Kau dan Draco tidak akan pernah lagi menyentuh tempat beracun itu. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang boleh merendahkanmu lagi, Sayang."

Braxley yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan pemandangan di depannya—melihat bagaimana ibunya memeluk Aurora dengan begitu hangat dan ayahnya menatap wanita itu dengan binar perlindungan yang utuh—perlahan menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

Walau ujung bibirnya masih terasa perih dan berdarah akibat pukulan keras sang ayah, ada kilat kepuasan yang teramat pekat menyala di dalam manik mata elangnya.

Ia melangkah pelan mendekati posisi Aurora dan Zephyr, memangkas jarak di antara mereka. Braxley menyilangkan dadanya yang tegap, menatap Aurora lurus-lurus dengan nada suara yang terdengar begitu tenang, sarat akan kebanggaan mutlak yang tak terbantahkan.

"Lihat..." suara Braxley meluncur tajam namun lembut, memecah keheningan haru di ruangan itu. "Orang tuaku mencintaimu... sama besarnya seperti aku mencintaimu, Aurora."

Aurora tersentak kecil, kepalanya terangkat menatap Braxley. Matanya yang basah berkilat oleh perasaan yang teramat rumit. Ia masih berusaha mencerna dinamika gila di dalam ruangan ini—bagaimana sebuah keluarga paling berpengaruh yang tadinya begitu ia takuti, kini justru melingkupinya dengan perlindungan penuh, sementara pria yang bertanggung jawab atas segala kerumitan ini justru berdiri di sana dengan wajah penuh kebanggaan egois.

"Kau masih berani bersuara setelah semua kegilaan yang kau lakukan, Braxley?!" potong Austin Jaxon (AJ) dengan suara rendah yang berbahaya. Sang ayah melangkah maju satu tindak, tatapan matanya seolah siap memberikan pukulan kedua.

"Kau mengurung wanita ini dalam bayang-bayang ketakutan! Kau membiarkan cucuku menyandang nama pria pecundang Carser itu hanya demi memuaskan obsesi dan rasa gengsimu yang tak berguna!"

"Dad," sela Braxley tanpa sedikit pun rasa gentar dalam intonasinya. Ia menatap ayahnya lurus-lurus, mempertahankan posisinya sebagai pimpinan masa depan dinasti Desmon.

"Aku melindunginya dengan caraku. Aku memastikan tidak ada satu pun orang yang benar-benar bisa menghancurkannya. Dan hari ini... semuanya berakhir sesuai pada tempatnya. Dia berada di sini, di tengah keluarga kita."

"Dengan cara membius dan meretas kehidupannya?!" cetus Baxeena dari belakang, tak tahan untuk tidak menimpali tindakan gila kembarannya itu. "Kau bertindak seperti monster gila, Braxley!"

"Aku bertindak seperti pria yang tidak ingin kehilangannya untuk kedua kali!" balas Braxley tegas, suaranya menggelegar menghentikan interupsi adiknya.

Braxley berbalik sepenuhnya menghadap Aurora. Ia mengabaikan tatapan tajam dari seluruh anggota keluarganya, memfokuskan seluruh dunianya hanya pada wanita yang berdiri di depannya.

Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap setetes air mata yang tertinggal di pipi Aurora dengan ibu jarinya yang hangat.

"Kau denger itu, Aurora?" bisik Braxley, nadanya berubah menjadi begitu intim dan protektif, seolah ruangan medis itu kini hanya milik mereka berdua.

"Ketakutan konyolmu selama bertahun-tahun ini... rasa mindermu akan panti asuhan tempatmu dibesarkan... semuanya hanya ada di dalam kepalamu. Aku tidak pernah salah memilih saat menetapkan hatiku padamu Tiga tahun lalu."

Zephyr melepaskan genggaman tangannya dari bahu Aurora, lalu berbalik menatap putranya dengan napas terengah menahan amarah yang mulai mereda menjadi ketegasan seorang ibu.

"Menutup kesalahanmu dengan kalimat manis tidak akan mengubah kenyataan bahwa kau telah membuatnya menderita, Braxley," ucap Zephyr dingin, walau jemarinya kini bergerak lembut mengusap selimut tipis yang membalut Draco di atas ranjang.

"Pria Desmon tidak pernah mengemis atau bertindak picik di kegelapan jika benar-benar mencintai seorang wanita. Kau bertindak seperti pengecut."

"Aku menerima setiap pukulan dan makian dari Mommy dan Daddy," jawab Braxley tanpa ragu, matanya tetap tak teralih dari Aurora. "Tapi aku tidak akan pernah meminta maaf atas fakta bahwa Draco adalah anakku, dan Aurora adalah milikku. Mulai detik ini, tidak ada lagi persembunyian. Tidak ada lagi pernikahan kepalsuannya dengan Jonathan Carser."

Aurora menatap Braxley dengan dada yang bergemuruh. Rasa hangat dari telapak tangan Zephyr yang tadi menahannya, gertakan penuh pembelaan dari Austin Jaxon, dan kini pernyataan bangga dari Braxley... semuanya menghantam pertahanan dirinya hingga runtuh tak bersisa.

Selama bertahun-tahun ia merasa sendirian, merasa menjadi beban, dan menganggap dirinya adalah kemalangan yang harus terisolasi. Namun di dalam ruangan ini, di hadapan orang-orang paling berkuasa yang selama ini hanya bisa ia lihat dari jauh, ia diterima tanpa syarat.

"Axley..." bisik Aurora lirih, suaranya parau. "Kau tidak bisa begitu saja menghapus masa lalu dengan kebanggaanmu..."

"Aku tidak menghapusnya, Aurora. Aku sedang membayarnya," pangkas Braxley mantap.

Ia memegang kedua sisi bahu Aurora, menundukkan kepalanya hingga kening mereka hampir bersentuhan.

"Aku membayar setiap tetes air matamu, setiap penderitaanmu di mansion itu, dan setiap ketakutanmu pada masa depan. Keluargaku sudah ada di sisimu. Kau tidak lagi berdiri sendirian menghadapi dunia. Dan besok pagi..." Braxley menyunggingkan senyum dinginnya yang penuh tipu daya, "...dunia akan menyaksikan bagaimana aku meratakan seluruh hidup Jonathan Carser hingga tak tersisa satu batu pun untuk tempatnya berdiri."

Austin Jaxon mendengus pelan, menatap putra mahkotanya dengan pandangan yang mulai melunak—sebuah pengakuan tersembunyi atas dominasi dan tekad melindungi yang diwarisi putranya.

"Selesaikan kekacauan yang kau buat dengan Carser Corporation dalam waktu dua puluh empat jam, Braxley. Jangan biarkan nama cucuku terseret dalam lumpur media akibat kebodohanmu."

"Sudah kutangani sejak sejam yang lalu, Dad," jawab Braxley tenang. "Pengacara kita sedang menyiapkan dokumen pembatalan pernikahan atas dasar penipuan dan intimidasi, sekaligus pencabutan seluruh aset Carser yang tersisa."

Zephyr mengabaikan obrolan bisnis suami dan putranya. Ia mendekati Aurora, merengkuh tubuh wanita muda itu ke dalam pelukan hangat yang begitu protektif.

"Abaikan pria gila ini untuk sementara waktu, Sayang," bisik Zephyr lembut di telinga Aurora, mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Mulai hari ini, kau dan Draco adalah prioritas utama keluarga Desmon. Biarkan para pria ini menyelesaikan sampah-sampah di luar sana. Rumah kami adalah rumahmu."

Di dalam pelukan Zephyr, di bawah tatapan tajam dan penuh obsesi dari Braxley yang berdiri bangga di sampingnya, Aurora akhirnya memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada di dalam kegelapan, ia merasa benar-benar memiliki tempat untuk pulang.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!