NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng

Mentari pagi perlahan menyinari Puncak Tianyun.

Kabut tipis yang menyelimuti Kuil Qingfeng mulai menghilang.

Di halaman kuil...

Luo Ning dan Qin Xueyao telah selesai memberi hormat kepada makam Pertapa Qingfeng.

Chu Xuan berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Tatapannya tertuju pada nisan batu yang sederhana.

Ia membungkukkan badan perlahan.

Angin gunung bertiup lembut.

Daun-daun pohon tua berguguran perlahan.

Seperti biasa...

Tidak ada jawaban.

Namun hati Chu Xuan terasa jauh lebih tenang.

Ia berbalik.

Tatapannya menyapu seluruh Kuil Qingfeng.

Dinding aula utama mulai lapuk.

Atapnya bahkan kehilangan beberapa keping genting.

Halaman memang bersih berkat Luo Ning.

Namun...

Tetap terlihat sangat sederhana.

Chu Xuan tersenyum kecil.

"Sudah waktunya."

Luo Ning memiringkan kepala.

"Guru?"

Qin Xueyao juga menatapnya penuh rasa ingin tahu.

Chu Xuan tidak langsung menjawab.

Di dalam benaknya...

Panel hitam perlahan muncul.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Poin Tak Terkalahkan】

101.760

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan berkata pelan.

"Sistem."

"Naikkan Avatar."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Avatar Tak Terkalahkan Lv.1】

【Avatar Tak Terkalahkan Lv.2】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Durasi】

30 Menit

1 Jam

【Jangkauan】

1.000 Km

2.000 Km

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Mengurangi 5.000 Poin.】

【Sisa Poin】

96.760

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan mengangguk puas.

"Selanjutnya."

"Perluas Domain."

Panel kembali berubah.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Domain Tak Terkalahkan】

100 Meter

110 Meter

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Mengurangi 2.000 Poin.】

【Sisa Poin】

94.760

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Dalam sekejap...

Tak seorang pun menyadari batas Domain telah meluas.

Namun Chu Xuan dapat merasakannya dengan jelas.

Segala sesuatu dalam radius baru itu...

Kini berada sepenuhnya di bawah kendalinya.

Tatapannya kemudian kembali kepada panel.

"Renovasi Kuil Qingfeng."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Menggunakan 50.000 Poin.】

【Memulai Renovasi Tingkat Pertama...】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

BUMMMMM—

Seluruh Puncak Tianyun mendadak bergetar.

Luo Ning dan Qin Xueyao membelalakkan mata.

"Gempa?"

"Tidak..."

Getaran itu berasal dari Kuil Qingfeng.

Cahaya keemasan turun dari langit.

Menyelimuti seluruh bangunan.

Dinding tua yang retak mulai memperbaiki diri.

Genting-genting usang berubah menjadi baru.

Tiang kayu yang lapuk berubah menjadi kayu spiritual berwarna gelap.

Aula utama membesar hampir dua kali lipat.

Di sisi kiri...

Muncul deretan kamar murid.

Di sisi kanan...

Terbangun dapur baru, gudang, dan ruang penyimpanan.

Jalan setapak batu tersusun sendiri.

Pagar kayu berubah menjadi pagar batu putih.

Namun...

Di belakang aula...

Makam Pertapa Qingfeng tetap sama.

Pohon tua itu pun tidak berubah sedikit pun.

Seolah-olah...

Seluruh renovasi sengaja menghindari tempat tersebut.

Qin Xueyao menutup mulutnya.

"Ini..."

"Keajaiban..."

Luo Ning bahkan lupa berkedip.

Kuil yang selama ini ia rawat...

Berubah menjadi jauh lebih indah hanya dalam beberapa tarikan napas.

Chu Xuan memandang makam Pertapa Qingfeng.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Begini lebih pantas."

"Kakek..."

"Kuil kita akhirnya mulai berubah."

Setelah cahaya menghilang...

Chu Xuan mengangkat tangan kanannya.

Lalu...

Menjentikkan jari.

Tak!

Dalam sekejap...

Tanah kosong di samping kuil bergelombang.

Rumput tersusun rapi.

Ladang luas muncul begitu saja.

Saluran air jernih mengalir membelah kebun.

Pohon persik, pohon pir, dan berbagai pohon buah tumbuh dalam hitungan detik.

Tak jauh dari sana...

Ratusan tanaman obat memenuhi sebuah taman spiritual.

Batu-batu besar tersusun menjadi taman kecil.

Kolam bening muncul lengkap dengan ikan-ikan yang berenang tenang.

Seluruh lingkungan kuil berubah menjadi bagaikan tanah suci.

Luo Ning mematung.

Qin Xueyao menatap Guru dengan mata berbinar.

"Guru..."

"Apakah semua ini..."

Chu Xuan menurunkan tangannya.

"Di dalam wilayahku."

"Aku bisa mengubah hampir segala sesuatu."

Tatapannya kemudian beralih ke makam Pertapa Qingfeng.

"Kecuali..."

"Kuil ini."

"Dan makam beliau."

"Itu tidak akan pernah kusentuh dengan kekuatanku."

Luo Ning dan Qin Xueyao menoleh ke arah makam.

Di tengah perubahan besar itu...

Hanya makam sederhana beserta pohon tuanya yang tetap sama.

Untuk pertama kalinya...

Mereka benar-benar memahami.

Betapa besar rasa hormat Guru kepada orang yang telah membesarkannya.

Mereka berdua membungkukkan badan ke arah makam tanpa diminta.

Chu Xuan melihat pemandangan itu.

Lalu tersenyum pelan.

Hari ini...

Kuil Qingfeng bukan hanya menjadi lebih megah.

Tetapi juga mulai memiliki kehidupan.

Sinar matahari pagi menyinari halaman Kuil Qingfeng yang kini tampak jauh lebih megah.

Luo Ning dan Qin Xueyao masih berdiri memandang sekeliling.

Mereka berdua belum benar-benar terbiasa dengan perubahan besar yang baru saja terjadi.

Sementara itu...

Chu Xuan duduk santai di tangga Aula Utama.

Di tangannya telah tersedia secangkir teh hangat.

Ia menyeruputnya perlahan.

"Hidup seperti ini..."

"...baru terasa nyaman."

Luo Ning tersenyum kecil.

Guru mereka...

Tetaplah Guru mereka.

Meskipun memiliki kemampuan yang luar biasa...

Keinginannya tetap sederhana.

Tidak lama kemudian...

Tulisan hitam kembali muncul di hadapan Chu Xuan.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Misi Guru Resmi Dibuka】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Sebagai Penguasa Kuil Qingfeng, Tuan Rumah berkewajiban membimbing setiap murid hingga mencapai puncak Dao mereka masing-masing.】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Misi Guru I】

Membimbing Luo Ning

Target:

• Mewariskan teknik kultivasi pertama.

• Membantu Luo Ning menembus satu alam kecil.

• Menguasai teknik tersebut hingga tingkat Mahir.

Hadiah:

• 3.000 Poin Tak Terkalahkan.

• Teknik Bela Diri Tingkat Bumi.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Misi Guru II】

Membimbing Qin Xueyao

Target:

• Menggunakan Warisan Guru untuk memperbaiki fondasinya.

• Membersihkan seluruh racun yang masih tersisa.

• Mewariskan teknik kultivasi pertama.

Hadiah:

• 3.000 Poin Tak Terkalahkan.

• Pil Pencuci Sumsum ×1.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Misi Kuil】

Target:

• Kedua murid berlatih tanpa terputus selama tujuh hari.

Hadiah:

• 5.000 Poin Tak Terkalahkan.

• Paviliun Latihan.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan membaca seluruh misi itu.

Kemudian menyesap tehnya sekali lagi.

"Tidak terlalu sulit."

【Sistem percaya Tuan Rumah mampu menyelesaikannya.】

"Aku harap begitu."

Ia berdiri.

Tatapannya beralih kepada kedua muridnya.

"Luo Ning."

"Guru."

"Qin Xueyao."

"Guru."

"Hari ini..."

"Aku akan mengajarkan pelajaran pertama sebagai guru kalian."

Kedua gadis itu langsung berdiri tegak.

Tatapan mereka dipenuhi antusiasme.

Chu Xuan berjalan menuju halaman latihan yang baru muncul setelah renovasi kuil.

Hamparan batu putih terbentang luas.

Udara spiritual di tempat itu jauh lebih kaya dibanding sebelumnya.

Chu Xuan berhenti di tengah halaman.

"Luo Ning."

"Maju."

"Baik, Guru."

Luo Ning melangkah ke depan.

Chu Xuan memandang murid pertamanya.

Setelah Warisan Guru memperbaiki fondasinya...

Aura Luo Ning memang jauh lebih stabil.

Namun...

Ia masih belum memiliki teknik kultivasi yang benar-benar sesuai.

"Sebelum mengajarimu teknik."

"Aku ingin bertanya."

"Mengapa kau ingin menjadi kuat?"

Luo Ning terdiam.

Ia menundukkan kepala.

Beberapa saat kemudian...

Ia mengangkat wajahnya kembali.

"Dulu..."

"Aku ingin menjadi kuat agar tidak diinjak orang lain."

"Tetapi sekarang..."

Tatapannya perlahan berubah mantap.

"Aku ingin menjadi kuat..."

"...agar dapat berdiri di belakang Guru."

"...dan melindungi Kuil Qingfeng."

Chu Xuan tersenyum tipis.

"Jawabanmu berubah."

Luo Ning mengangguk.

"Guru telah memberiku rumah."

"Guru telah memberiku harapan."

"Kalau suatu hari Guru membutuhkan murid..."

"Murid tidak ingin hanya menjadi beban."

Mendengar jawaban itu...

Qin Xueyao menoleh menatap Kakak Luo.

Di dalam hatinya muncul rasa kagum.

Ia menyadari...

Perasaan hormat Luo Ning kepada Guru bukanlah dibuat-buat.

Melainkan lahir dari ketulusan.

Chu Xuan mengangguk pelan.

"Jawaban itu..."

"Cukup."

Ia kemudian menoleh kepada Qin Xueyao.

"Bagaimana denganmu?"

Qin Xueyao sedikit gugup.

Ia menarik napas panjang.

"Sejak kecil..."

"Ayah selalu berharap aku menjadi penerus Kota Canglan."

"Aku berlatih setiap hari."

"Belajar setiap hari."

"Tetapi..."

"Aku tidak pernah benar-benar menentukan jalan hidupku sendiri."

Tatapannya perlahan bertemu dengan mata Chu Xuan.

"Sekarang..."

"Aku ingin menjadi kuat."

"Bukan demi nama keluarga."

"Bukan demi kedudukan."

"Tetapi..."

"...agar suatu hari nanti aku bisa membuat Guru bangga memiliki murid sepertiku."

Keheningan menyelimuti halaman latihan.

Chu Xuan tidak langsung menjawab.

Ia hanya memandang kedua muridnya.

Di dalam hati...

Ia merasa Pertapa Qingfeng dahulu pasti pernah merasakan hal yang sama.

Melihat murid atau anak yang dibimbing...

Mulai menemukan jalan hidupnya sendiri.

Tanpa sadar...

Tatapannya beralih ke arah makam Pertapa Qingfeng yang terlihat dari kejauhan.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Kakek..."

"Aku mulai mengerti."

"Mengapa dahulu kau tidak pernah lelah membimbingku."

Angin gunung kembali berembus pelan.

Daun-daun pohon tua bergoyang lembut.

Seolah-olah...

Pertapa Qingfeng sedang tersenyum melihat penerus Kuil Qingfeng akhirnya benar-benar menjadi seorang guru.

Chu Xuan menarik kembali pandangannya.

"Luo Ning."

"Qin Xueyao."

"Mulai hari ini..."

"Aku akan mengajari kalian."

"Bukan hanya cara menjadi kultivator."

"Tetapi juga..."

"...cara menjadi manusia yang pantas memegang kekuatan."

Kedua murid itu serempak berlutut.

"Murid akan mengingat ajaran Guru seumur hidup."

Di bawah langit biru Pegunungan Tianyun...

Pelajaran pertama Kuil Qingfeng pun resmi dimulai.

Dan tanpa disadari siapa pun...

Benih rasa hormat, kepercayaan, serta ikatan yang semakin dalam antara guru dan kedua muridnya mulai tumbuh, menjadi fondasi bagi perjalanan panjang yang masih menanti mereka.

Bersambung...

1
obeng min
tambah banyak up-nya tambah jos pula ketua mantap👍👍👍👍👍
obeng min
selalu top
obeng min
top👍👍👍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
sikat😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
obeng min
selalu dedepan mantap🤣🤣🤣👍
obeng min
upnya kurg banyak ketua👍👍👍👍👍
andi widya
kerennn
obeng min
mantao ketua 💪💪💪💪💪
Hadi Hadi
bantai
Hadi Hadi
semangat🤭🤭
Hadi Hadi
is good😍😍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
obeng min
👍👍👍👍👍👍
obeng min
💪💪💪
obeng min
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!