Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Persiapan Pesta Agung
Tiga hari sebelum ulang tahun Oma yang ke-80, vila PIK berubah menjadi ruang kerja kedua.
Kotak kain, sepatu, dan perhiasan memenuhi ruang keluarga. Andy Wijaya datang membawa dua koper besar serta sebuah buku sketsa. Penata gaya pilihan Oma itu adalah seorang pria bertubuh ramping dengan kacamata berbingkai merah dan meteran kain melingkar di leher.
Begitu Keira turun, Andy mengitari kursinya satu kali tanpa menyentuh.
"Ya Tuhan, tulang pipinya sempurna! Tapi kurus sekali, seperti boneka yang hampir patah."
Keira langsung menegang.
Andy menangkap perubahan itu. Ia menutup buku sketsa. "Maaf. Saya bicara tentang ukuran, bukan menilai tubuhmu. Kita tidak akan menyembunyikan luka atau memaksamu terlihat seperti orang lain. Kamu yang menentukan bagian mana yang nyaman diperlihatkan."
Keira menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
Andy menunjukkan rancangan gaun panjang berlapis tulle merah muda pucat. Bagian pinggangnya tidak memakai korset. Rok dibuat ringan dan memiliki lipatan tersembunyi agar tidak tersangkut pada kaki kiri. Sepatu yang dipilih datar, dengan penyangga khusus di dalamnya.
"Kalung mutiara satu untai," katanya. "Tidak perlu berlian besar. Wajahmu sudah cukup kuat."
Andy membalik halaman berikutnya. Di sana ada potongan berita tentang pembebasan Keira dan kasus Evelyn. Ia tidak menyembunyikannya.
"Semua penata gaya yang dihubungi lebih dulu menolak karena takut namanya dikaitkan dengan mantan narapidana," katanya. "Saya menerima karena Oma menunjukkan Bangau dan Pinus. Orang yang bisa membuat karya itu tidak membutuhkan saya untuk memberinya martabat. Saya hanya memastikan pakaian tidak menghalangi dia berdiri."
"Kamu percaya aku tidak bersalah?"
"Saya percaya dua kedipan saksi lebih daripada judul berita. Dan kalau ada tamu yang merusak gaun ini, saya akan menagihnya tiga kali lipat."
Keira hampir tersenyum.
"Berapa lama aku harus berdiri saat pemasangan?"
"Maksimal lima menit. Setelah itu duduk. Kalau sakit, kita berhenti."
Untuk pertama kalinya, persiapan pakaian tidak dimulai dari perintah agar Keira menahan sakit.
Saat ia keluar dari ruang ganti, tulle merah muda bergerak seperti kabut di sekitar kakinya. Rambutnya baru disanggul longgar untuk uji bentuk, tetapi garis leher dan mutiara sudah membuat punggungnya tampak lebih tegak.
Rayhan berdiri di pintu.
Napasnya berhenti sesaat.
"Ada yang salah?" tanya Keira.
"Tidak."
Brandon di belakangnya menahan senyum. "Bos biasanya membutuhkan satu detik untuk keputusan Rp 15 triliun. Gaun ini membuatnya lebih lambat."
Rayhan menoleh. "Kamu masih punya pekerjaan."
"Banyak sekali."
Amanda memilih gaun hitam dengan garis sederhana dan lengan panjang. Andy menawarkan warna emas, tetapi ia menolak sebelum kainnya dibuka.
"Aku datang sebagai adik Kak Keira, bukan dekorasi meja," katanya.
Andy menandai ukuran bahunya. "Bagus. Hitam membuat orang berpikir dua kali sebelum mengganggumu."
Keduanya langsung cocok.
Siang berikutnya, semua pindah ke rumah Menteng untuk pemeriksaan akhir tempat acara. Tenda kaca dipasang di taman, lampion emas digantung di antara pohon, dan meja panjang memenuhi ruang makan tua. Nama keluarga konglomerat Jakarta tersusun pada kartu tempat duduk.
Brandon membuka kamar kecil di belakang ballroom. Sepatu datar menunggu di bawah kursi, air dan obat di atas meja, sementara pintu kedua menuju koridor staf. Keira dapat pergi tanpa menembus kerumunan saat nyeri atau panik.
"Tidak ada pintu yang dikunci dari luar," kata Brandon. "Kak Manda memegang kunci kedua."
Keira mencoba gagangnya sendiri sebelum mengangguk.
Bi Sari berada di dapur mengawasi kaldu dan mi panjang umur. Keira melepas gelang medis, mencuci tangan, lalu membantu melipat daun bawang ke dalam mangkuk kecil.
"Nak tidak perlu bekerja," kata Bi Sari.
"Aku ingin membantu."
Bi Sari menggeser semangkuk jamur dan label alergi ke hadapannya. Tugas itu dapat dilakukan sambil duduk. Ketika Keira hendak mengambil baki, Bi Sari menepuk bahunya kembali ke kursi.
"Di dapur Mama, membantu tidak berarti menyiksa kaki."
Kata Mama membuat tangan Keira berhenti di atas label. Ia lalu menulis satu nama lagi dengan lebih rapi.
Rayhan melihat dari pintu. Pada kartu makan miliknya tertulis `tanpa daun ketumbar`, tetapi Keira mengira itu hanya selera. Ia tidak mengetahui alerginya, dan Bi Sari tidak membocorkannya.
Sore hari, undangan berlapis emas tiba di rumah Pondok Indah.
Edmond membuka amplop dengan tangan yang masih dibalut. Namanya, Yolanda, Kevin, dan Vanessa tercetak sebagai tamu keluarga. Di bagian bawah tertulis bahwa Keira Pratama akan hadir sebagai pendamping kehormatan Rayhan Hartono.
Jari Edmond bergetar.
"Mereka sengaja mengundang kita untuk mempermalukan keluarga," katanya.
Kevin membaca undangan dari seberang meja. "Atau karena Keira berhak hadir tanpa meminta izin kita."
Undangan untuk Vanessa diteruskan oleh pengacaranya ke rutan. Sejak percobaan mencekik Evelyn dan pelanggaran syarat pemeriksaan, penahanannya belum ditangguhkan. Secara resmi ia tidak boleh membawa telepon.
Malam itu, layar kecil menyala di balik selimutnya. Ponsel ilegal itu hanya bisa ia gunakan beberapa menit sebelum pemeriksaan blok.
Seseorang mengirim foto uji gaun Keira dan kabar bahwa Rayhan akan memperkenalkannya sebagai tunangan.
Vanessa menggigit bibir sampai darah terasa asin. Ia membuka nomor WhatsApp yang lama disimpan dengan nama `Tante Jessica`.
Jessica Hartono, istri kedua Ferdinand Hartono, tidak pernah diterima penuh oleh Oma. Ia juga membenci Rayhan, anak dari istri pertama suaminya.
Vanessa mengetik cepat.
`Tante Jessica, aku punya cerita tentang "tunangan" Rayhan yang pasti menarik untukmu. Perempuan itu mendekati Rayhan setelah lebih dulu mencari perhatian Om Ferdinand.`
Tanda dua centang muncul.
Lalu berubah biru.