Zendaya atau yang biasa di panggil Zee (22), seorang gadis biasa yang memiliki cita cita setinggi langit baik dalam karir maupun kisah asmara.
Berbagai cibiran ia dapatkan, entah karena penampilannya yang sederhana dan terkesan kampungan maupun karena tempat asal nya yang memang dari kota kecil.
Kecerdasan nya tak di lirik di karenakan penampilan nya yang tak menarik.
Hingga ia memilih mengubah takdir hidup nya, dengan menjadi apa yang paling di puja dalam sebuah penampilan. Yaitu menjadi seorang model...!!!
Dan semua itu Zee lakukan berkat motivasi dan inspirasi yang ia dapatkan dari Iblis tampan yang bernama Kenzo Alvian (29), iblis tampan yang menjadi pujaan hati seorang Zendaya.
Penasaran kisah nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 - Harus Tahan Banting
Di hari berikutnya Zee kembali bekerja seperti biasa, namun penampilan nya kali ini sedikit berbeda. Zee membiarkan rambut nya yang sepundak itu tergerai bebas, ia juga memakai baju baru yang di belikan oleh Nyonya Celine. Zee juga memakai bedak dan lips gloss, sehingga penampilannya sekarang sedikit berbeda dari yang sebelum nya.
Sesampainya di rumah Nyonya Celine, Zee langsung masuk ke dalam dan ia tidak melihat siapa pun ada di sana. Zee pun berjalan masuk dan bersamaan dengan itu, Ken baru turun dari tangga dengan ponsel di tangan nya.
"Selamat pagi, Tuan Kenzo..." sapa Zee yang membuat Ken langsung mendongak. Sesaat Ken tercengang saat ia melihat Zee, ia terpukau dengan perubahan penampilan pembantu nya itu namun kemudian Ken segera mengalihkan tatapan nya dan memasang wajah dingin nya.
"Ambilkan tas ku di kamar, lari, cepat!" titah Ken dingin. Zee pun segera berlari naik ke kamar Ken sambil menggerutu.
"Kenapa sih dia selalu meninggalkan tas nya di kamar, dan kenapa juga aku harus selalu di suruh lari? Dia fikir aku aku kuda apa..." gerutu Zee.
Ia mengambil tas nya dan saat berbalik badan, Zee langsung membungkam mulut nya karena Ken sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sangat tajam. Tanpa berbicara sedikit pun, Ken melepaskan sepatu nya dan kemudian mengambil sepatu yang lain. Setelah itu, ia turun dari kamar nya dan Zee mengekori nya dari belakang.
Setelah mengantar Ken, Zee kembali bekerja seperti biasa sambil sesekali menggerutu.
"Aduh, menggerutu itu tidak baik, Zee. Syukuri saja punya bos seperti Kenzo Alvian itu, meskipun dia dingin tapi kan tampan" monolog nya yang membuat ia terkekeh sendiri.
"Hai, Zee. Kamu sudah datang?" seru Nyonya Celine yang baru saja turun dari kamar nya, ia sudah terlihat sangat rapi dan anggun.
"Iya, Nyonya. Tuan Ken juga sudah berangkat" jawab Zee.
"Hem, baiklah. Aku juga mau berangkat, tapi nanti jam 4 aku sudah pulang. Jadi kamu jangan pulang dulu ya, kamu harus melanjutkan latihan mu" ucap nya.
"Baik, Nyonya" jawab Zee senang. Ia juga mengantar Nyonya Celine sampai ke mobil nya.
Setelah Nyonya Celine pergi, Zee melanjutkan pekerjaan nya kembali. Ia memasak, membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika. Zee juga mengantarkan makanan untuk Pak Tono ke depan, dan kemudian Zee sedikit mengobrol dengan nya untuk menghilangkan rasa jenuh.
Setelah semua selesai, Zee duduk di lantai yang dingin sembari menyeka keringat yang bercucuran di pelipis nya. Zee menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan.
"Ya Tuhan, lelah sekali..." keluh Zee "Entah kenapa aku tidak beruntung seperti orang orang, padahal mimpi ku jadi orang sukses tapi berakhir menjadi pembantu" ucap Zee. Kemudian tatapan nya tertuju pada foto Ken yang di panjang di dinding, foto Ken yang tampan namun seperti biasa tanpa senyum.
"Boleh tidak, jika kamu menjadi bagian dari mimpi ku, Ken?" lirih Zee "Aku rasa aku jatuh cinta pada mu, dan aku akan memantaskan diri untuk mu"
.........
Seperti kata kurang Nyonya Celine, ia sudah kembali ke rumah sebelum jam 4 dab Zee pun langsung menyambut nya.
"Kamu sudah makan, Zee?" tanya Nyonya Celine sembari turun dari mobil nya.
"Sudah, Nyonya" jawab Zee.
"Bagus lah, berarti punya tenaga untuk latihan kan?" tanya nya sambil terkekeh dan Zee tertawa kecil sambil mengangguk.
Nyonya Celine pun berganti pakaian dengan pakaian rumahan, sementara Zee mulai latihan meskipun hasil nya sama saja.
"Jangan menatap sepatu mu, Zee..." seru Nyonya Celine saat ia melihat Zee yang berjalan namun sangat menunduk
"Kamu harus mengangkat wajah mu, seperti ini" Nyonya Celine mengapit dagu Zee dengan jemari nya kemudian ianmembuat Zee mendongak.
"Baik, sekarang jalan. Pelan pelan saja..."
Zee mengikuti semua instruksi yang di berikan oleh Nyonya Celine.
"Nyonya, jika saya boleh tanya, kenapa Nyonya sangat baik pada saya dan mau membantu saya?" tanya Zee kemudian, pertanyaan ini sudah muncul sejak Nyonya Celine menawarkan nya menjadi model, apa lagi kebaikan majikan nya ternayata itu tak sampai di sana, masih ada banyak kebaikan lain nya yang tak mungkin bisa Zee balas.
"Karena kamu mengingatkan ku pada Eyang nya Ken, Zee. Dia juga wanita biasa seperti mu, orang kampung dan orang biasa. Sekalipun mereka punya kelebihan, namun sangat sulit untuk di lirik orang lain. Orang orang dengan latar belakang itu seperti tidak punya banyak kesempatan untuk sukses. Dan karena dia tahu tak ada yang memberi nya kesempatan, maka dia menciptakan kesempatan nya sendiri, hingga akhir nya dia punya perusahaan yang sekarang di kelola Ken. Itu perjuangan yang sangat panjang dan tidak mudah"
"Saya pernah membaca kisah nya, karena itu lah nama perusahaan nya Sky" sambung Zee.
"Benar, Sky yang artinya langit. Dia punya mimpi setinggi langit, dan dia ingin seperti langit. Punya bintang, bulan, matahari, pelangi bahkan juga hujan" Nyonya Celine menimpali.
"Semoga saya bisa seperti beliu ya, Nyonya" lirih Zee.
"Pasti bisa, Zee. Asal kamu tekuni apa yang kamu lakukan, dan percaya diri bahwa kamu bisa" ucap Nyonya Celine yang membuat Zee tersenyum kemudian mengangguk yakin.
"Dan, alasan lain aku membantu mu karena kamu itu gadis yang baik, Zee. Cuma kamu yang tahan dengan sikap Ken yang arogan. Dulu sebenar nya Ken adalah anak yang manis dan ceria, tapi saat ayah nya meninggal dan saat itu usia Ken masih 7 tahun, dia jadi berubah. Arogan pada siapa saja, cuma kamu yang mampu tahan bekerja di sini, Zee"
"Hehe, saya butuh uang, Nyonya. Jadi saya harus tahan banting" jawab Zee yang membuat Nyonya Celine tergelak.
"Tahan banting ya? Bahasa mu, Zee..."