Kisah ini tentang seorang gadis polos bernama Aluna George yang terjebak dalam pernikahan bersama seorang mafia berdarah dingin. Alexandre Graham seorang pria tampan yang tidak pernaheduli soal cinta, baginya wanita mainan.
Harta, tahta dan kekuasaan membuatnya mampu memilih wanita manapun yang ia inginkan. namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan gadis manis dari acara lelang.
Hubungan yang awalnya baik, akhirnya rusak karena sebuah kesalahan. kesalahan yang membuat keduanya harus terikat, kesalahan apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aluna dan Elena
Aluna telah selesai membersihkan pecahan kaca di lantai, tentu saja dengan Alex yang terus mengawasi dirinya. Pria itu sedang duduk santai di atas sofa sambil memainkan handphone miliknya, sesekali ia melirik gadis itu memastikan ia melakukannya dengan benar.
Salah satu hal yang membuat Alex menjadi seorang pembisnis dan mafia yang sangat hebat adalah ia selalu memastikan apa yang ia perintahkan di lakukan dengan benar. Pria itu bahkan tidak segan untuk turun langsung dalam kegiatan tersebut, benar-benar ciri pemimpin yang baik bukan.
"sudah selesai," ucap Aluna pelan dengan wajah menunduk, meski kesusahan karena kakinya yang sakit ia masih mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Alex.
"Baguslah sekarang istirahatlah!" tidak itu bukan sebuah perhatian dari nada bicaranya pria itu sedang memerintah.
Setelah itu ia berjalan keluar dari sana, setibanya di pintu pria itu berbalik dan menatap Aluna.
"Jangan lupa minum obatmu," ucap Alex sambil menunjuk obat yang ada di nakas.
Jantung Aluna berdetak lebih cepat, apa tadi adalah sebuah perhatian? tapi tunggu dulu kenapa jantungnya berdebar? ia tidak mungkin jatuh cinta pada pria asing bernama Alex itu bukan?
Menyadari hal bodoh yang melintas di pikirannya Aluna tertawa dalam hati, tidak ia tidak jatuh cinta mungkin saja karena beberapa Minggu ini ia terus bertemu pria jahat maka saat Alex memperhatikan dirinya jantungnya berdebar.
Sibuk menertawakan dirinya dalam hati, bibirnya tanpa ia sadari malah tersenyum membuat Alex langsung menyadari kesalahan dari nada bicaranya.
"Jangan Baper, aku hanya ingin kau cepat sembuh dan membayar semua hutangmu! karena jika kakimu masih terus sakit kau tidak akan bisa bekerja dan melunasi hutangmu yang tidak sedikit itu," sambung Alex berhasil membuat Aluna terkena mental, dasar pria tak berperasaan!
Setelah mengucapkan kalimat menyebalkan itu, Alex kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu. Ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa mengucapkan kalimat perhatian seperti itu, bisa rusak reputasinya sebagai mafia kejam.
"memangnya siapa yang baper hanya karena di perhatikan oleh pria seperti dirimu," kesal Aluna saat pria itu telah berlalu pergi dari hadapannya.
"Dasar pria menyebalkan!" sambung gadis cantik itu sambil mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur.
....
Alex berjalan ke ruang kerjanya, Hari ini ia sedang malas untuk pergi ke kantor. ingatan tentang malam mengenaskan yang menimpa adiknya membuat moodnya berantakan.
Mengingat itu pria itu jadi teringat Aluna, sebenarnya ia kagum gadis itu itu masih terus melakukan apa yang diperintahkan padanya dengan baik meskipun harus dengan susah payah.
Yah ia kagum, karena rata-rata wanita yang ia temui akan bermanja dan mengatakan ia tidak mampu. hal yang membuat Aluna terlihat sedikit meenarik, karena ia sedikit berbeda.
Dan juga jika di ingat-ingat gadis itu cukup cantik, ingat cukup itu tandanya belum sampai pada cantik. gadis itu juga terlihat mandiri meski usianya sangat muda, jika Alex perkirakan usia gadis itu adalah delapan belas tahun.
Jika delapan belas tahun, apa tidak akan aneh jika bersanding dengannya yang sudah berusia tiga puluh tahun. Apa itu sudah termasuk dalam kategori tidak lazim, tapi bukannya ada beberapa orang yang bahkan terpaut sangat jauh dengan usia pasangannya.
Tunggu dulu, kenapa ia memasangkan dirinya dengan gadis itu. Dasar bodoh, tidak mungkinkan hanya karena kagum ia lalu ingin menikahi bocah ingusan seperti Aluna.
Tapikan ia memang sudah cukup matang untuk menikah, tapi apakah gadis itu mau dengannya?
lagi-lagi Alex menggeleng, kenapa tidak mau pria itukan punya segudang pesona. Tapi tentu ia tidak mungkin menikah dengan sebarang wanita, apalagi gadis ingusan seperiti Aluna.
Memikirkan Aluna membuatnya teringat pada Elena, satu-satunya keluarga yang ia miliki. pria itu tersenyum saat menyadari nama dari keduanya hampir terdengar sama, bahkan ia yakin pasti ada anak kembar yang menguntungkan nama itu.
Tapi tentu Elena berbeda dari Aluna, dari segi apapun adiknya itu adalah wanita terbaik yang pernah ia temui. Tapi karena masa lalu yang buruk, pria itu harus kehilangan sosok itu.
Alex menghela nafas panjang, lebih baik ia mengerjakan perkerjaananya. Yah meskipun di rumah ia juga harus tetap bekerja, ia bukan tipe bos jahat yang membiarkan karyawannya berkerja sendiri. lagipula kasian Bagas jika harus menghandle semuanya sendiri, bisa-bisa sahabatnya itu beruban di usia tiga puluh tahun.
Pria itu pun mengambil laptop miliknya memeriksa berkas yang memang sudah dikirim oleh Bagas, Fokus lada pekerjaannya membuat pria itu tidak menyadari suara ketukan pintu yang semakin saat semakin keras.
Namun suara pecahan kaca membuatnya terkejut hingga menyadari suara ketukan pintu tadi, Alex mengkerutkan dahinya.
Pria itu melangkah ke arah pintu dan membukanya memperlihatkan seorang wanita dengan wajah pucat menatapnya panik.
"Tuan, nona Elana menganmuk," ucal Bibi, yah ynag sedari tadi mengetuk pintu itu salah bibi.
Tanoa pikir panjang, pria itu langsung berjalan ke arah di mana yang di maksud bibi.
"Bagiamana bisa dia keluar dari kamarnya? dan kenapa dia bisa mengamuk?" tanya Alex pada bibi dengan nada kesal tapi masih terdengar sopan.
"Saya tidak tau tuan, tadi saya dari pasar meminta tolong mang Ujang untuk membawa barang belanjaan dan saat tiba di ruang keluarga ternyata ada nona Elena, dan stelah ia melihat mang Ujang nona langsung mengamuk dan melempari kami dengan apapun yang ada di sampingnya," jelas bibi panjang, dari nada suaran terdengar jelas bahwa ia gemetar karena terkejut.
"Hubungi dokter Dea," ucap Alex saat tiba di pintu ruang keluarga, ia bisa melihat adiknya dengan rambut acak-acakan sedang mengamuk.
Sebenarnya Alex ingin masuk, pria itu takut jika adiknya menginjak pecahan vas dari kaca yang terhambur di lantai.
Belum juga kekhawatiran tentang pecahan kaca itu menghilang, Elena berhasil menemukan pisau buah yang memang selalu ada di keranjang tempat buah-buahanhan di letakkan.
Tanpa fikir panjang pria itu bergegas masuk ke dalam sana, namun langkahnya terhenti saat melihat dari arah lain seorang gadis dengan langkah tertatih datang dan menarik pisau yang ada di tangan Elena.
Gadis itu adalah Aluna, awalnya ia ingin bertanya di mana dapur karena air minum di kamar tempat ia tau habis.
Namun saat keluar dari kamar ia mendengar suara pecahan kaca, rasa penasaran mendorong Aluna untuk melihat apa yang terjadi.
Dan betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita dengan rambut acak-acakan sedang meletakkan pisau di dekat lehernya, insting kemanusiaannya tiba-tiba menyala membuat ia tanpa banyak fikir langsung berlari ke sana dan merebut pisau itu.
Gadis itu membuang jauh-jauh Pisau tersebut, lalu memeluk tubuh wanita yang sedang mengamuk itu.
TBC
hello para readers jangan lupa tinggalkan jejak