NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Warok berjongkok di samping bangkai harimau tutul. Tangannya menekan dada binatang itu sekilas, lalu ia mengangguk pelan.

"Sudah mati."

Jangkrik mengembuskan napas panjang. Baru sekarang tubuhnya terasa lemas. Adrenalin yang tadi memompa jantungnya perlahan surut, digantikan rasa nyeri yang menusuk dari luka di bahu kiri.

Warok melirik luka itu sekilas. "Masih bisa menggerakkan lenganmu?"

Jangkrik mencoba mengangkat tangannya, namun wajahnya langsung meringis kesakitan. "Bisa... tapi sakit sekali."

"Bagus."

Jangkrik mendengus kesal. "Bagus apanya?"

"Kalau masih sakit, artinya tanganmu belum putus."

Jawaban itu hanya membuat Jangkrik menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan selera humor gurunya.

Warok kemudian mencabut golok yang masih tertancap di tubuh harimau. Darah segar kembali merembes. Tanpa membuang waktu, belati kecil di pinggangnya sudah berpindah tangan. Dengan gerakan cepat dan rapi, ia membelah bagian dada harimau tersebut.

Jangkrik melangkah mendekat, penasaran. "Apa yang kau cari?"

"Pelajaran."

Tak lama kemudian, Warok mengeluarkan sepasang cakar depan harimau, lengkap dengan urat-urat tebal yang masih melekat erat.

"Lihat cakar ini," perintah Warok.

Jangkrik mengamati dengan saksama. "Panjang dan tajam..."

"Bukan itu." Warok menunjuk bagian pangkal cakar. "Setiap kali menerkam, tenaga harimau tidak berasal dari cakarnya."

"Tetapi dari bahunya?" tanya Jangkrik, mengingat pelajaran terdahulu.

Warok mengangguk. "Dan bahu digerakkan oleh punggung." Ia lalu menggeser telunjuknya ke arah pinggang bangkai tersebut. "Sedangkan seluruh pusat tenaganya, berasal dari sini—pinggang."

Warok bangkit berdiri, lalu memungut sebatang ranting pohon sepanjang satu hasta. "Ambil golokmu."

Jangkrik patuh, meski bingung.

"Serang aku."

Jangkrik tertegun. "Sekarang?"

"Sekarang."

Tanpa banyak berpikir lagi, Jangkrik mengayunkan goloknya.

*Sret!*

Warok menangkisnya dengan ranting. Tak sekadar menahan, ujung ranting itu dengan cerdik mendorong pergelangan tangan Jangkrik hingga arah goloknya melenceng jauh.

"Lagi."

Jangkrik menyerang lebih cepat.

Sret! Kembali gagal.

"Lagi."

Untuk ketiga kalinya. Keempat kalinya. Hingga serangan kesepuluh. Tak satu pun tebasan Jangkrik yang berhasil menyentuh ujung pakaian Warok.

Jangkrik mundur dengan napas terengah-engah. "Apa yang salah dengan gerakanku?"

Warok melangkah mendekat. Ia menepuk pinggang Jangkrik. "Di sini."

Lalu berpindah ke bahunya. Tep. "Lalu bahumu."

Tep. "Lalu lenganmu."

Terakhir, Warok menekan pergelangan tangan Jangkrik. "...baru senjatamu."

Jangkrik mengernyitkan dahi, mencoba mencerna.

"Selama ini kau hanya menggerakkan golok," ujar Warok.

"Seharusnya?"

"Kau menggerakkan tubuh."

Warok mengambil alih golok dari tangan Jangkrik. Perlahan, ia memperagakan satu gerakan tebasan.

Aneh. Gerakan golok itu terlihat sangat lambat di mata Jangkrik, namun anehnya, ia sama sekali tidak bisa menangkap momen tepat kapan bilah itu mulai melesat.

"Ilmu golok bukan berada di tangan, melainkan di kaki." Warok menggeser satu langkah. "Tulang belakang." Pinggangnya berputar halus. "Bahu." Lengannya mengikuti alur. "Barulah..."

Golok itu melintas seringan angin.

Sret!

Batang pohon besar di belakang Jangkrik perlahan bergeser, lalu terbelah dua dengan permukaan yang terpotong sempurna.

Jangkrik menoleh. Matanya membelalak tak percaya. Warok bahkan tidak terlihat mengerahkan sekuat tenaga saat melakukannya.

"Mulai besok," Warok mengembalikan golok itu ke tangan muridnya, "kau berhenti memukul pohon jati."

Jangkrik terkejut. "Latihan itu sudah selesai?"

Warok mengangguk. "Kayu sudah mengajarimu tentang keras. Hutan sudah mengajarimu tentang cerdik. Sekarang..." Ia menatap tajam langsung ke manik mata Jangkrik, "...golok akan mengajarimu cara membunuh."

Jangkrik mencengkeram gagang goloknya erat-erat. Untuk pertama kalinya sejak berguru pada Sang Warok, ia merasa telah menjejakkan kaki di gerbang ilmu yang sesungguhnya.

Warok berbalik, berjalan santai meninggalkan bangkai harimau. "Jangan lupa."

Jangkrik segera menyusul dari belakang. "Apa?"

"Besok pagi..." Warok menjawab tanpa menoleh, "...kau sendiri yang harus menguliti harimau itu."

Jangkrik menghela napas panjang. Ia tahu latihan yang jauh lebih berat telah menantinya. Namun kali ini, bukan hanya fisiknya yang akan ditempa.

Jangkrik berjalan beberapa langkah di belakang Sang Warok. Pandangan bocah itu berkali-kali tertuju pada punggung gurunya. Baru hari ini ia benar-benar menyadari satu hal: selama ini Warok tidak pernah menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya. Semua latihan keras, cambukan, dan pukulan yang ia terima selama ini, ternyata masih jauh dari batas kemampuan asli pria itu.

Beberapa saat kemudian, Warok menghentikan langkahnya di sebuah mata air kecil. Ia berlutut untuk membasuh goloknya sampai bersih. Air bening di wadah batu itu perlahan berubah kemerahan.

Jangkrik ikut berjongkok di samping mata air. "Warok."

"Hm."

"Kalau tadi kau mau... kau bisa membunuh mereka bertiga dalam satu gerakan, bukan?"

Warok mengeringkan bilah goloknya dengan sehelai kain. "Bisa."

"Lalu kenapa tidak kau lakukan?"

Warok memasukkan goloknya kembali ke dalam sarung dengan sekali sentakan. "Karena kau harus melihat."

"Melihat apa?"

"Bahwa membunuh bukan soal seberapa cepat, tetapi soal seberapa tepat."

Jangkrik mengernyitkan dahi.

Warok memungut sebutir kerikil lalu melemparkannya ke permukaan air. Pluk. Riak airnya perlahan melebar.

"Kalau aku membunuh pemimpin mereka lebih dulu, dua lainnya pasti akan langsung kabur. Jika mereka kabur, mereka akan membawa kabar. Dan jika kabar itu tersebar, musuh yang datang berikutnya akan jauh lebih banyak." Warok menatap tajam Jangkrik.

"Jadi," lanjut Warok, "aku menghabisi yang paling lemah dulu agar dua lainnya kehilangan keberanian. Lalu kubunuh yang kedua. Dan yang terakhir... kubiarkan dia menyaksikan sendiri kematian temannya. Ketakutan akan membuat gerakannya kacau. Saat itulah waktu paling mudah untuk memutus lehernya."

Jangkrik mengangguk pelan, menyimpan baik-baik pelajaran berdarah itu di dalam hatinya.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Menjelang senja, mereka memasuki bagian hutan yang lebih lebat dan gelap. Tiba-tiba, Warok mengangkat tangan, memberi isyarat.

"Berhenti."

Jangkrik langsung mematung. "Kenapa?"

Warok mengendus udara. "Ada bau darah."

Jangkrik ikut menghirup udara dalam-dalam. Kini ia juga bisa merasakannya—bau anyir yang masih sangat segar.

Warok melangkah waspada mengikuti arah angin. Tak jauh dari jalan setapak, di balik rimbunnya semak berduri, tergeletak seorang lelaki tua. Pakaiannya compang-camping dan tubuhnya dipenuhi luka sabetan yang parah. Napasnya terdengar tinggal satu-satu. Di dadanya, tertancap sebuah pisau lempar.

Jangkrik refleks mendekat. "Dia masih hidup."

Warok berlutut di samping tubuh itu. Matanya langsung tertuju pada gagang pisau lempar yang tertanam di dada sang orang tua. Di sana terukir lambang seekor burung gagak bermata merah. Tatapan Warok seketika berubah tajam.

"Siapa dia?" tanya Jangkrik.

Warok tidak langsung menjawab. Ia mencabut pisau itu dengan satu gerakan perlahan namun pasti. Lelaki tua itu tersedak, memuntahkan darah segar dari mulutnya. Kelopak matanya terbuka sedikit, dan begitu melihat wajah pria di hadapannya, pupil matanya membesar karena terkejut.

"K-kau... Warok..."

Warok mengangguk pelan. "Aku."

Lelaki tua itu mendadak tertawa lirih, suara parau yang menyedihkan. "Hahaha... akhirnya... aku bertemu lagi denganmu..."

Warok menyipitkan mata, menelisik wajah penuh luka tersebut. "Kita saling kenal?"

"Belasan tahun lalu... kau merampok iring-iringan pedagang di utara Mataram... Aku adalah salah satu pengawalnya..."

Ingatan Warok tampaknya terpicu. "Oh... kau orang yang berhasil kabur saat itu."

Lelaki tua itu mengangguk lemah. "Aku mencarimu... selama bertahun-tahun... Tapi ternyata... aku justru kalah di sini..."

Jangkrik memerhatikan keduanya bergantian dengan bingung.

Tiba-tiba lelaki tua itu terbatuk keras, memuntahkan lebih banyak darah. "Bukan... bukan Warok yang melukaiku... Aku diserang oleh... Kelompok Gagak Hitam..."

Mendengar nama itu, Warok langsung terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Jangkrik mengenalnya, sorot mata pria berwajah sangar itu berubah menjadi sangat serius.

"Gagak Hitam?" bisik Warok.

Lelaki tua itu mengangguk lemah, tenaganya terkuras habis. "Mereka... sedang mencari sesuatu... Sesuatu yang bahkan jauh lebih berharga daripada gunungan emas..."

Suaranya kian melemah, nyaris menyerupai bisikan angin. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia menggenggam erat lengan baju Warok. "Dengar... kalau sampai mereka menemukannya... seluruh tanah Jawa akan berubah menjadi lautan darah..."

Kalimat itu menjadi yang terakhir. Pegangannya terlepas, kepalanya terkulai ke samping, dan ia mengembuskan napas terakhirnya.

Suasana hutan mendadak sunyi senyap. Jangkrik menatap mayat di bawah mereka dengan perasaan berkecamuk. "Warok... apa itu Kelompok Gagak Hitam?"

Warok berdiri perlahan. Matanya masih terpaku pada lambang gagak pada pisau lempar di tangannya. Lama sekali ia terdiam, seolah sedang menggali memori lama yang terkubur.

Baru kemudian ia menjawab pendek, "Kelompok yang seharusnya sudah musnah."

Angin sore berembus dingin, membuat dedaunan bergesekan memecah keheningan. Di kejauhan, seekor burung gagak hitam tiba-tiba terbang dan bertengger di dahan pohon yang sudah mati.

“Craaak…!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!