Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalinan Takdir di Malam Sunyi
Mangkuk mi yang kosong diletakkan kembali di atas meja kayu dengan ketukan
pelan.
Setelah meletakkan sepinggan koin perak murni di atas meja pembayaran untuk
Lin'er, kedua pemuda itu melangkah keluar dari Kedai Bambu Hijau, berjalan
menyusuri jalanan kota yang mulai lengang kembali menuju gerbang selatan Kota
Qingfeng.
Dengan langkah santai, Ye Feng mengunyah sisa buah liar yang dikantonginya sejak
tadi siang. "Mi di kedai tadi benar-benar yang terbaik di kota ini. Apakah
perutmu sudah terasa lebih baik, Chen'er?"
"Iya, terima kasih," jawab Luo Chen menatap jalan setapak berdebu di
hadapan mereka. "Tetapi kau seharusnya tidak perlu membelanjakan koin perakmu
untukku, Feng'er. Upah mencuci ibuku bahkan tidak sebanyak itu dalam seminggu."
"Jangan terlalu dipikirkan," sahut Ye Feng merangkul pundak sahabatnya
dengan tawa lebar yang jenaka. "Koin perak bisa dicari lagi besok di dalam
hutan. Selama perut kita kenyang, segalanya akan terasa lebih mudah."
"Aku harus pulang sekarang," ujar Luo Chen melepaskan rangkulan tersebut
saat mereka tiba di persimpangan jalan menuju gubuk masing-masing di pinggiran
desa. "Ibu pasti sedang menungguku untuk membantu merapikan kayu bakar."
"Sambil berjalan pulang, jangan lupa memikirkan kata-kataku tadi di kedai,"
balas Ye Feng melambaikan tangannya sebelum berbelok menuju gubuknya yang
berjarak delapan puluh meter dari kediaman Luo Chen. "Sampai jumpa besok,
Chen'er!"
Langkah kaki pemuda itu terdengar pelan saat ia memasuki halaman gubuk kayu
reyot keluarganya yang sepi.
Dari balik meja kayu tua di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya sedang
sibuk menyeka permukaan meja menggunakan kain lap basah.
"Bagaimana kotanya, Chen'er?" tanya Mu Xue menoleh, menyeka keringat di
dahinya dengan punggung tangan yang memerah. "Apakah perjalanan bersamanya
menyenangkan?"
Sambil meletakkan buntelan pakaian kosong di sudut ruangan, Luo Chen mendekati
ibunya dengan senyum tipis. "Sangat ramai, Ibu. Banyak toko baru yang menjual
bahan makanan dan herba dasar di sepanjang jalan pasar."
"Apakah kau bertemu dengan anggota klan utama di sana?" tanya suara parau dari
arah ranjang kayu di sudut ruangan yang gelap.
Dengan anggukan pelan, Luo Chen berjalan mendekati ranjang ayahnya yang masih
berbaring lemas dengan tubuh berselimut tipis. "Tidak, Ayah. Kami hanya
berjalan-jalan di area pasar luar dan makan di sebuah kedai mi kecil sebelum
segera memutuskan untuk pulang."
"Baguslah," bisik Luo Hao memejamkan matanya kembali dengan helaan napas
berat. "Hindari wilayah klan utama sejauh mungkin. Tempat itu bukan lagi bagian
dari hidup kita."
Setelah makan malam sederhana dengan menu bubur encer dan sayur liar kukus
selesai, Luo Chen segera masuk ke dalam kamar kecilnya yang terletak di bagian
belakang gubuk.
Sambil duduk bersila di atas ranjang kayu tuanya yang keras, ia memejamkan mata
untuk memulai meditasi harian yang biasa dilakukannya setiap malam sebelum
tidur. Meskipun di dalam dantiannya tetap kosong tanpa ada aliran energi Qi
sedikit pun, ia tetap membiasakan diri untuk memusatkan pikirannya, merenungkan
kembali gerakan-gerakan fisik yang dilihatnya dari para praktisi di pasar kota
siang tadi.
Satu kilatan cahaya keemasan yang sangat terang mendadak melintas cepat di luar
jendela kamarnya yang terbuka lebar, membelah kegelapan malam dengan kecepatan
tinggi layaknya sebuah bintang jatuh.
"Cahaya terang apa itu, apakah sebuah bintang jatuh?"
Tanpa membuang waktu, Luo Chen segera membuka matanya dan melompat turun dari
ranjang kayu, menempelkan wajahnya pada kisi-kisi jendela kayu untuk melihat ke
arah jatuhnya cahaya tersebut.
Cahaya emas itu meluncur lurus ke arah halaman belakang gubuk milik tetangga
mereka, tepat di area kandang ternak kambing milik Paman Li. Suara benturan
keras terdengar dari arah kandang, disusul dengan kepulan asap tipis yang
membubung ke udara malam.
"Siapa di sana?" teriak suara parau dari arah gubuk sebelah, disusul dengan
langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati kandang kambing.
Tanpa membuang waktu, Luo Chen segera menyelinap keluar lewat jendela kamarnya
yang rendah, mengendap-endap melewati rimbunnya semak liar untuk mendekati area
kandang ternak Paman Li tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Sambil menahan napas di balik tumpukan jerami kering, ia mengawasi sosok Paman
Li yang sedang memeriksa kandang kambingnya menggunakan sebuah obor minyak tanah
di tangan kanannya. "Apakah ada rubah gunung yang mencoba mencuri ternakku lagi
malam-malam begini?" gerutu pria tua itu menyorotkan cahaya obor ke
sekeliling kandang yang tampak berantakan.
"Dasar babi hutan pengganggu!" umpat Paman Li setelah tidak menemukan
tanda-tanda adanya hewan liar di dalam kandang, lalu berbalik arah untuk
berjalan kembali masuk ke dalam gubuk kayunya menutup pintu dengan keras.
Setelah suara pintu gubuk Paman Li tertutup rapat, Luo Chen segera keluar dari
tempat persembunyiannya dan melangkah mendekati sebuah lubang kecil berdiameter
setengah meter yang baru saja terbentuk di tengah kandang kambing yang kosong.
Di dasar lubang kecil tersebut, sebuah kitab berwarna emas terang tampak
melayang setinggi sepuluh sentimeter di atas tanah, memancarkan energi pekat
yang sangat hangat hingga membuat udara di sekitarnya terasa bergetar halus.
Sambil mengulurkan tangan kanannya dengan perlahan, Luo Chen mencoba menyentuh
permukaan luar dari kitab emas tersebut. "Benda apa ini?" bisiknya lirih dengan
dahi yang berkerut heran.
Begitu ujung jari telunjuknya menyentuh permukaan keras dari sampul kitab emas
tersebut, satu tarikan energi yang sangat kuat mendadak menyedot seluruh energi
fisik dari dalam tubuhnya secara paksa.
Rasa sakit yang luar biasa hebat menjalar cepat dari ujung jarinya, merambat
melalui pembuluh darah di lengannya hingga menyebar ke seluruh bagian tubuhnya
dalam hitungan milidetik. Otot-otot di tubuhnya menegang keras, dan
sendi-sendinya berderak seolah-olah dipaksa untuk reorganize secara paksa.
"Ugh... tanganku... tidak bisa dilepaskan..." rintih Luo Chen dengan gigi yang
merapat rapat menahan rasa sakit luar biasa yang membakar seluruh jalur
meridiannya yang rusak.
Dengan mata membelalak lebar, ia menyaksikan kitab emas tersebut perlahan mulai
memadat, menyusut dengan cepat menjadi sebuah butiran cahaya emas yang sangat
terang seukuran biji kacang hijau di ujung jarinya.
Butiran cahaya emas itu meluncur masuk ke dalam pembuluh darahnya, bergerak
cepat di sepanjang lengan kanannya sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam area
ulu hati, tepat di mana dantiannya yang belum berbentuk berada.
Satu gelombang energi hangat menyebar dari ulu hatinya ke seluruh penjuru tubuh,
memicu segel kontrak jiwa mutlak yang mengunci dantiannya yang lemah dengan
kilatan cahaya emas tipis sebelum akhirnya menyatuh utuh dengan tubuh dan jalur Meridian nya.
Beberapa menit setelah kejadian fenomena ini berlalu
Ia segera bangkit dari sana dan dengan mengendap-endap ia segera pergi dari situ.