NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Ujian Kontrol

Pagi hari keenam menyapa Distrik Bawah Kota Toga dengan embusan angin pegunungan yang membawa hawa sejuk, kontras dengan atmosfer di dalam bengkel Moses yang tetap membara. Bongkahan Bijih Besi Meteorit Amfibi yang dibawa Askara kemarin kini terletak di tengah meja kerja, bersanding dengan serpihan pedang baja yang hancur dan sisa-sisa logam rongsokan.

Moses berdiri di samping sebuah balok logam berbentuk kubus besar berwarna kelabu gelap keperakan. Logam itu memancarkan kilau padat yang memantulkan cahaya api tungku dengan begitu kokoh. Askara yang baru saja selesai membersihkan diri dan membetulkan letak jubah hitamnya melangkah mendekat, matanya tertuju pada balok besar tersebut.

"Ini adalah Besi Titanium Hitam," ucap Moses, mengetuk permukaan balok tersebut dengan jari kekarnya yang kasar. Bunyi dentang yang dihasilkan terdengar sangat padat dan berat, mengindikasikan tingkat kepadatan molekul yang luar biasa tinggi. "Logam ini adalah salah satu material pertahanan terkuat yang biasa digunakan untuk melapisi gerbang benteng kerajaan atau zirah para jenderal besar. Secara fisik, mustahil membelahnya dengan pedang besi biasa, apalagi dengan pedang tua berkarat yang kau gunakan kemarin."

Moses membalikkan tubuhnya, mengambil pedang tua berkarat yang kemarin digunakan Askara untuk membunuh Gorgon Shield-Bear. Kondisi pedang itu kini sangat memprihatinkan; mata pisaunya sudah somplak di beberapa bagian dan strukturnya sudah sangat rapuh akibat korosi. Moses menyerahkan kembali gagang pedang itu ke tangan Askara.

"Sekarang kita tiba pada syarat ketiga. Ujian terakhir sekaligus penentu kelayakanmu," kata Moses dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh penekanan. "Tantangannya sederhana: tebas dan belah balok titanium ini menjadi dua bagian menggunakan pedang rapuh ini."

Askara mengernyitkan keningnya, menatap bilah pedang di tangannya. "Kau melarangku menggunakan sihir kemarin, Orang Tua. Tapi jika aku menebas balok ini murni dengan kekuatan fisik, pedang busuk ini akan langsung hancur berkeping-keping sebelum sempat menggores permukaannya."

"Tepat sekali!" Moses menyeringai sinis, sepasang mata kelabunya berkilat penuh tantangan. "Itu sebabnya untuk ujian terakhir ini, aku justru memerintahkan mu untuk menggunakan sihir kegelapan murni dari wadah kosong mu! Tapi dengar baik-baik, Bocah. Jika kau mengalirkan sihirmu secara brutal dan tidak terkontrol seperti saat kau melawan para perampok di bukit kapur itu, energi pekatmu akan langsung mengikis dan menghancurkan molekul pedang tua ini dalam sekejap. Kau harus mengalirkan sihir kegelapanmu sedemikian rupa... buat energi itu melapisi mata pisau pedang ini setipis rambut, namun memiliki kerapatan dan ketajaman yang setajam silet!"

Moses melangkah mundur, melipat kedua tangannya di depan dada yang kekar. "Ini adalah ujian kontrol. Jika kau berhasil membelah titanium ini dan pedang tua di tanganmu tetap utuh tanpa hancur, kau lulus. Tapi jika pedang itu hancur menjadi debu, pergilah dari bengkelku. Aku tidak sudi membuatkan pedang mahakarya untuk monster yang tidak tahu cara mengendalikan kekuatannya sendiri."

Askara terdiam di depan balok titanium besar itu. Ia menggenggam gagang pedang berkaratnya dengan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak di dalam dadanya. Ia tahu ini adalah batas ujian yang sesungguhnya. Selama ini, ia selalu menggunakan sihir kegelapan murninya secara meledak-ledak dan brutal—sebuah luapan energi mentah yang menghancurkan apa saja yang dilewatinya, termasuk wadah senjatanya sendiri.

Setipis rambut, namun setajam silet... batin Askara mengulang ucapan sang maestro.

Askara memejamkan sepasang mata hitamnya. Ia mulai membuka segel wadah kosong di dalam jiwanya, memanggil secercah kabut kegelapan murni yang dingin dan pekat. Biasanya, energi itu akan langsung melonjak keluar seperti air bah, membungkus seluruh lengan dan senjatanya dalam kobaran aura hitam yang liar. Namun kali ini, Askara memaksakan kehendak mentalnya untuk menekan luapan tersebut.

Ia membangun sebuah bendungan imajiner di dalam sirkulasi tubuhnya. Secara perlahan, dengan tingkat konsentrasi yang luar biasa tinggi hingga tetesan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, Askara mengalirkan energi kegelapan itu dalam aliran yang sangat kecil, sehalus benang sutra, menelusuri lengan kanannya dan merembes masuk ke dalam gagang pedang tua.

Krrrr...

Besi tua itu mulai bergetar samar, mengeluarkan suara deritan rapuh. Udara di sekitar bilah pedang mendadak turun drastis, menjadi sangat dingin. Askara membuka matanya yang kini memancarkan pendaran hitam pekat yang misterius. Di mata pisau pedang yang berkarat itu, seulas lapisan tipis energi kegelapan berwarna hitam pekat bergulir dengan sangat tenang. Energi itu tidak lagi berkobar liar, melainkan memadat, berputar dengan kecepatan ekstrem dalam ketebalan yang tidak lebih dari sehelai rambut manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!