"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGGEMASKAN
Lucian tersenyum miring, dia tahu betul gadis di depannya ini sedang berbohong, tapi dia memilih untuk tidak membongkarnya.
Ternyata, istri kecilnya ini jauh lebih berbahaya dan menyenangkan dari yang dia bayangkan.
"Jadi, apa menu makan siang kita hari ini, Istriku? Aku sudah menyelesaikan tugasku menanam wortel," tanya Lucian, duduk di kursi kayu dapur.
Ara yang sedang mengambil air minum langsung tersedak mendengar panggilan itu.
Dia berbalik dengan wajah memerah menahan kesal dan malu, menunjuk Lucian dengan sendok kayu di tangannya.
"Sudah kubilang jangan panggil aku begitu saat kita sedang berdua, Tuan Ian! Kontrak kita hanya di depan warga desa!" ucap Ara, ketus.
Lucian hanya menopang dagunya dengan satu tangan, menatap wajah marah Ara yang menurutnya jauh lebih menghibur daripada seluruh pesta dansa membosankan di ibu kota.
"Tapi kamu kan memang istri ku, ada yang salah?" ucap Lucian dengan nada memprovokasi, memamerkan senyum tipisnya yang sangat jarang terlihat.
"Terserah kamu lah! Dasar pria menyebalkan!" umpat Ara, membalikkan badannya dengan kesal dan mulai menyiapkan bahan makanan.
Di dalam hatinya, Ara bersumpah, begitu luka pria ini sembuh total, dia akan langsung menendangnya keluar dari rumah ini.
"Lagipula, mana ada suami yang hanya duduk manis memperhatikan istrinya memasak setelah merusak kapak berharga milik rumah ini?" sindir Ara tanpa menoleh, sengaja mengeraskan suaranya agar pria di belakangnya mendengar.
Lucian yang mendengar sindiran itu hanya mengangkat bahunya santai, posisi duduknya masih sama, menopang dagu dengan satu tangan tegapnya.
"Aku kan sedang memulihkan diri, Nona kubis. Seorang suami yang sakit tidak boleh terlalu banyak mendapat tekanan batin," jawab Lucian, nada suaranya terdengar sangat lempeng tanpa dosa.
Ara memutar bola matanya malas, menaruh pisau dapur dengan hentakan pelan sebelum berbalik untuk menatap Lucian dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Tekanan batin katamu? Sadar diri sedikit, Tuan Ian! Kamu itu menumpang di sini, merusak kapak ku, menghancurkan tempat pemotong kayu, dan sekarang mengoceh tentang tekanan batin?" omel Ara, napasnya sedikit memburu karena gemas melihat ekspresi datar pria itu.
Lucian tidak menjawab dengan kata-kata, justru dia bangkit berdiri.
"Lalu, apa yang kamu inginkan sekarang? Mau aku yang memegang pisau itu dan mengacaukan bahan makan siang kita?" tanya Lucian, berdiri belakang Ara.
"Jangan coba-coba menyentuh pisau ku kalau ujung-ujungnya talenanku juga ikut patah jadi dua!" ancam Ara, membalikkan badannya, menunjuk dada bidang Lucian dengan jari telunjuknya.
"Tubuhmu kecil, tapi suaramu cukup melengking juga saat marah," ucap Lucian, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang membuat Ara semakin ingin melemparnya dengan baskom.
"Bisa diam tidak?!" bentak Ara, wajahnya memerah sempurna karena menahan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Baiklah, baiklah. Aku diam," jawab Lucian, mengangkat kedua tangannya perlahan tanda mengalah, lalu berbalik kembali menuju kursi kayu dengan langkah santai, merasa sangat puas karena telah berhasil menjahili istri rahasianya pagi ini.
Suasana dapur kembali hening, hanya menyisakan suara uap air dari panci sup sayur yang mulai mendidih.
Ara kembali fokus pada masakannya, sementara Lucian menatap punggung kecil itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Setelah masakan nya matang, Ara mengambil dua buah mangkuk tanah liat, menyendok sup sayur hangat yang mengepulkan aroma gurih ke dalamnya, lalu meletakkannya di atas meja.
Tak
"Makanlah, jangan sampai kamu pingsan lagi dan membuatku repot ," ucap Ara, duduk di hadapan Lucian dan mulai menyantap bagiannya sendiri.
Lucian tidak membalas ucapan Ara, dia langsung meraih sendoknya dan mencicipi sup buatan Ara.
Detik berikutnya, keheningan melanda dapur kecil itu karena Lucian sibuk menghabiskan makanannya dengan sangat cepat, membuat Ara yang melihatnya melotot heran.
"Pelan-pelan sedikit makan mu, Ian! Tidak ada yang akan merebut sup itu darimu, dasar rakus," omel Ara, menatap mangkuk Lucian yang sudah bersih setengahnya padahal dia baru menyendok tiga kali.
Lucian menghentikan sendoknya sejenak, menatap Ara.
"Masakan istriku terlalu enak, sayang kalau dilewatkan begitu saja," ucap Lucian santai, lalu kembali menyuap sup nya tanpa beban.
Uhuk
Uhuk
Ara langsung tersedak, Lucian buru-buru meraih segelas air putih dan memberikan nya pada istri nya.
Glek
Ara meminum air itu hingga habis, wajah cantiknya kini memerah padam, bukan hanya karena tersedak, tapi juga karena menahan malu.
"Kamu sengaja ya mau membuatku mati tersedak?!" bentak Ara, menggebrak meja dapur dengan kepalan tangan kecilnya hingga mangkuk mereka sedikit bergetar.
Lucian meletakkan mangkuk kosongnya yang sudah tandas tak tersisa ke atas meja, lalu memajukan tubuhnya sedikit ke depan, menatap wajah memerah Ara dengan jarak yang cukup dekat.
"Aku hanya memujimu, kenapa kamu sensitif sekali? Apa kamu terpesona dengan ketampanan suamimu ini, Hem?" goda Lucian, seulas senyum miring yang sangat tipis terukir di bibir tegasnya.
Ara memundurkan wajahnya dengan cepat, matanya membulat sempurna menatap pria narsistik di depannya ini dengan pandangan tidak percaya.
"Terpesona? Dalam mimpimu, Tuan Ian yang terhormat! Wajahmu itu pas-pasan, masih bagusan bentuk kubis-kubis di kebun belakang daripada mukamu!" cerocos Ara asal-asalan, mencoba menutupi detak jantungnya yang mendadak sedikit berpacu cepat karena ditatap sedekat itu.
Lucian tertawa pelan, sebuah tawa berat dan dalam yang terdengar sangat seksi, membuat ego serigalanya merasa sangat terhibur dengan reaksi menggemaskan dari gadis kecil di depannya ini.
"Kalau wajahku disamakan dengan kubis, berarti seleramu dalam memilih suami sangat unik, Nona kubis," ucap Lucian, menyandarkan punggung tegapnya ke kursi sambil bersedekap dada dengan gaya bos yang menyebalkan.
Ara mengepalkan tangannya kuat-kuat, benar-benar merasa frustrasi menghadapi urat saraf Lucian yang sepertinya sudah putus sejak diserang racun kemarin.
"Ingat ya, aku tidak pernah memilihmu jadi suamiku! Itu semua gara-gara Kepala Desa tua bangkai itu dan mulut besar mu yang asal bicara!" desis Ara, menunjuk-nunjuk wajah tampan Lucian dengan sendok sayurnya yang masih basah.
"Tapi setidaknya sekarang kamu aman dari gosip warga desa, kan? Jadi berterima kasihlah pada suami cerdas mu ini," jawab Lucian, memiringkan kepalanya dengan tatapan menantang yang membuat Ara semakin gemas ingin mencakar wajahnya.
Ara menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya dengan kasar, mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak melakukan tindakan kriminal di siang hari bolong.
"Sudahlah, bicara denganmu membuat selera makanku hilang! Cuci semua mangkuk ini sampai bersih, atau kamu tidur di luar malam ini!" perintah Ara, berdiri dari kursinya sambil menghentakkan kaki kesal menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lucian menatap punggung Ara yang menghilang di balik pintu kamar dengan senyuman miring yang tidak luntur dari wajahnya.
"Menarik," gumam Lucian dengan suara rendah, merasa bahwa kehidupan barunya sebagai suami miskin dari seorang gadis kebun yang galak ini sama sekali tidak buruk untuk dinikmati.