Kisah cinta tak akan selalu mulus jalannya, seperti yang Ayesha rasakan. Setelah lama hatinya kosong, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengisi hari-harinya. Berpetualang bersama, mereka berdua memiliki mimpi membangun rumah tangga yang harmonis, tapi nasib berkata lain, setelah menikah sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Ayesha harus melupakan mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lain yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Akankah Ayesha bisa melewati semuanya atau ia harus menyerah dengan semua yang terjadi di kehidupannya?
Angkasa sudah berhenti mencari tahu di mana keberadaan perempuan yang ia cintai sejak lama bahkan perempuan itu adalah cinta pertamanya. Semenjak gadis itu menghilang Angkasa selalu mencari di mana keberadaannya, namun selalu nihil hasilnya. Di saat sudah berhenti mencari informasi tentang gadis itu, saat itu ia justru mendapatkan alamat dimana gadis itu tinggal, tapi kenyataan membuatnya kecewa dan memilih untuk melupakan gadis pujaan hatinya. Tapi takdir berkehendak lain, saat ia sudah berhasil melupakannya. Takdir apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALY 7
Rangga
Setelah hari di mana ia melamar Yesha, dan gadis itu mengatakan jika Rangga harus meminta persetujuan pada orang tuanya, ia pun mengambil cuti selama satu Minggu. Kebetulan ia belum mengambil cuti selama hampir satu tahun bekerja di rumah sakit tersebut, membuatnya lebih mudah untuk cuti lebih lama. Setelah mengurus cutinya, tanpa memberitahu Yesha ia pun terbang ke kampung halaman, ingin segera meminang gadis pujaan hatinya, tapi setelah sampai rumah, ia harus bersabar karena kedua orang tuanya sedang berada di luar kota. Menghadiri acara pernikahan anak sahabat Mama, mungkin sekaligus berlibur, karena menurut Art-nya kedua orang tuanya pergi sejak dua hari yang lalu.
Pagi harinya ternyata Mama dan Papanya sudah kembali, dengan perasaan bahagia sekaligus menegangkan, ia pun menghadap kedua orang tuanya, mengutarakan keinginannya untuk meminang seorang gadis yang sudah mengisi hari-harinya sejak beberapa bulan yang lalu.
"Kamu serius sudah siap menikah?" pertanyaan yang berasal dari sang Mama setelah ia berhasil menjelaskan maksud tujuannya.
"Serius Ma, emang aku pernah bercanda sama Mama?" ia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya. Tapi ia sudah tahu pasti jawaban mereka, seperti saat ia akan menjadi seorang mualaf, dengan mudahnya Papa dan Mama mengijinkannya, memberi kebebasan pada dirinya untuk menentukan jalan hidup, karena ia sudah dewasa.
"Papa akan menyetujui apa yang menjadi keputusan kamu, yang terpenting kamu harus bertanggung jawab dengan keputusanmu itu," tegas sang Papa. Jawaban yang sama saat ia mengatakan ingin berpindah keyakinan, mudah sekali bukan?
Dengan di antar kedua orang tuanya, tanpa kerabat atau sanak saudara yang lain, karena ini mendadak, ia mendatangi kediaman orang tua gadis pujaan hatinya. Dengan berbekal alamat yang ia dapat dari data kampus yang sengaja ia minta dari sahabatnya, tentu saja dengan jalan memohon, karena data itu tak boleh sembarang orang tahu. Akhirnya ia pun mendapatkan alamat tersebut, berharap rumah gadis itu masih di tempat yang sama belum pindah, karena jika sudah pindah ia tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa.
Dan di sinilah ia bersama dua orang tuanya berada, di rumah Om Farhan ayah dari Ayesha, gadis yang ia kagumi plus ia cintai, yang ternyata juga rekan bisnis Papa.
Dengan debaran jantung yang tak menentu dan kegugupan yang tiba-tiba melanda saat berhadapan langsung dengan kedua orang tua Ayesha, ia pun mengutarakan niat dan tujuan mereka datang, yang tak lain ingin meminang Ayesha. Membuat Om Farhan dan istrinya terkejut, mungkin karena mereka belum memberitahu sebelumnya.
Menjelaskan, alasannya meminang Ayesha, jika mereka sering bersama meskipun dalam kontes belajar agama, ia tak mau terjadi sesuatu kedepannya seiring kebersamaan mereka, takut terjadi fitnah atau sesuatu yang tidak diinginkan diantara mereka, apalagi mereka dua mahkluk berbeda jenis yang tidak memiliki ikatan apa pun.
"Om kagum sama kamu, tapi Om akan tanyakan dulu pada anak Om, apakah dia mau menerima kamu atau tidak, Om takut salah mengambil keputusan, karena dia yang akan menjalani semua ini, bukan Om," ucap Om Farhan.
Setelah itu seperti yang dikatakan, istri Om Farhan berpamitan ingin menelfon putrinya. Dan keputusan yang di berikan oleh kedua orang tua Ayesha membuatnya bernafas lega, setelah tadi merasakan sesak di dada, kini dadanya terasa plong, luar biasa.
"Tapi, biarkan Yesha menyelesaikan praktiknya dulu, baru kalian boleh menikah. Biarkan dia menjalani profesinya dulu, sebelum benar-benar mengurus rumah tangga," ucap Tante Nayla, sepertinya khawatir jika Yesha mengandung di saat ia masih menempuh pendidikan kedokteran.
Rangga berfikir sejenak, itu artinya mereka menikah masih setahun lebih, dan selama itu ia masih akan berstatus sama sebelum melamar Yesha, yaitu dua orang lain yang tidak memiliki hubungan apa pun.
"Begini Om, Tante, aku setuju saja kita menikah setahun lagi, berarti selama setahun itu kami masih sering berjumpa dan status kami masih sama sebelum saya ke sini, apakah itu tidak masalah menurut Om dan Tante? Kalau Om dan Tante tidak keberatan, saya ingin mengajukan satu permintaan," Rangga sudah yakin ingin mengutarakan niatnya yang baru saja terselip setelah mendengar penuturan Tante Nayla.
"Permintaan apa? Jika itu baik, Om akan mengabulkannya, tapi jika tidak baik pasti akan langsung menolak," tanya Om Farhan.
"Bagaimana kalau kita menghalalkan hubungan ini, biarkan kami menikah secara agama, dan saya janji tidak akan meminta hak saya pada anak Om sebelum kami resmi menikah secara agama dan negara, saya juga ingin Yesha menjalankan pendidikannya dengan nyaman," terangnya. Ia yakin pasti bisa melakukan semua itu.
"Anggap saja kita masih pacaran, tapi pacar halal," pungkasnya.
Om Farhan dan Tante Nayla tampak saling pandang, lalu keduanya tersenyum penuh makna.
"Kalau masalah itu, saya belum bisa menjawab, akan kami pikirkan dulu. Nanti saya akan menelfon kamu setelah mempunyai jawaban,"
Rangga pun mengangguk, jujur ia gugup sekali, tapi melihat respon baik dari kedua orang tua Yesha membuatnya lebih bisa mengendalikan kegugupannya itu.
****
Setelah pulang dari kediaman Om Farhan, Rangga selalu menebarkan senyum, bahkan saat sampai di rumah pun ia tak sega menyapa Art-nya dengan senyum paling manis yang ia punya. Kedua orang tuanya pun bersyukur, ternyata mereka di terima dengan baik di rumah keluarga Farhan. Pak Farhan memang seperti apa yang dibicarakan oleh rekan bisnis yang lain, jika lelaki paruh baya itu ramah terhadap siapa pun.
Tapi senyum di bibir Rangga tiba-tiba memudar, karena setelah beberapa jam yang lalu mengirim pesan pada Yesha, gadis itu tak sedikit pun membalas pesannya, bahkan tidak membacanya. Padahal ini hari Minggu dan di pastikan, gadis itu libur tidak ke rumah sakit. Membuatnya menyesal, berfikir yang tidak-tidak tentang Yesha. Apakah gadis itu tidak bahagia setelah ia melamarnya? Jika benar seperti itu, ia sepertinya akan menyerah, tidak ingin memaksa jika Yesha tidak menyukainya. Ia pun kembali mengirim pesan pada gadis itu, dan lagi tidak di balas oleh Yesha, membuat ia menyerah.
Waktu sudah hampir tengah malam, matanya belum mau terpejam, bahkan ia sudah menghalau dengan membaca beberapa lembar ayat suci, tetap saja belum mau terpejam, mungkin karena kegelisahan hatinya. Ia kembali meraih ponsel yang berada di atas nakas, ingin mengetahui apakah pesannya sudah dibaca oleh Yesha tau belum?
Seketika senyumnya mengembang, ketika melihat pesannya sudah di baca, dan Yesha sedang mengetik balasan, dengan segera ia pun menghubungi nomor tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Hallo, assalamualaikum Kak. Maaf aku baru pegang hape, tadi ada panggilan mendadak dari rumah sakit, dan hapeku ketinggalan di apartemen," terdengar suara yang ia rindukan dari seberang sana.
"Wa'alaikumussalam Ay, tidak masalah, kamu pasti lelah, istirahatlah jangan lupa makan malam ya," ucapnya dengan tersenyum bahagia.
"Eh, kok. Em, iya Kak,"
Rangga tahu jika gadisnya sedang gugup di seberang sana.
"Tanpa bertanya pun aku tahu, jika kamu juga bahagia dengan keputusan orang tua kamu, kan?" sepertinya Rangga bisa menebak isi hati Ayesha.
"Em, iya Kak, terimakasih udah memenuhi permintaanku, datang ke rumah orang tuaku,"
"Itu sudah pasti akan aku lakukan, Yaudah sekarang kamu mandi, makan malam lalu istirahat, besok harus kembali bekerja lagi, kan? Aku juga mau istirahat, sudah tenang rasanya setelah mendengar suara kamu,"
"Iya Kak, aku tutup dulu ya, assalamualaikum,"
Setelah berbicara dengan Yesha, hatinya benar-benar tenang, ternyata ia sempat berburuk sangka pada gadis itu. Ia tersenyum membayangkan, bagaimana jika mereka sudah menikah nanti, sepertinya bahagia sekali. Ia bersyukur bisa mendapatkan gadis seperti Yesha, setelah ia di tinggalkan oleh sang kekasih karena memilih berpindah keyakinan, dan sekarang mantan kekasihnya itu sudah menikah dengan lelaki pilihannya.
.
.
.
Maaf di part ini kalau kurang giamana gitu, masalahnya aku udah nulis eh kehapus, nyesek enggak tuh? Dan akhirnya aku buat lagi deh, tidak seperti pemikiran yang awal, jadi mungkin agak kurang greget.