Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak siang hari belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Air langit menumpah deras, menghantam kaca-kaca jendela gedung tinggi dan mengubah jalanan aspal menjadi sungai-sungai kecil yang dipadati kemacetan total.
Di dalam dapur besar rumah keluarga Pratama, udara terasa hangat oleh aroma sedap *goulash* daging sapi berempah yang baru saja matang.
Kirana berdiri di depan meja *pantry*, mengenakan mantel panjang berwarna krem dan sepatu bot hujan yang sudah disiapkannya. Dengan gerakan telaten dan penuh ketelitian, ia memindahkan sisa masakan spesial malam anniversary semalam ke dalam sebuah rantang susun empat berukuran sedang yang tertutup rapat.
Meskipun semalam Kirana sempat mengucapkan kata-kata penutup yang dingin di meja makan—bahkan sempat membuat Arka tertegun di hadapan lilin aromaterapi—pagi ini sebuah dorongan lain yang jauh lebih kuat bergolak di dalam hatinya.
Di usianya yang kini memasuki bulan ketiga, di mana emosi seorang ibu sering kali berayun di antara keraguan dan harapan yang rapuh, Kirana berpikir kembali. Apakah benar ia harus menyerah begitu saja tanpa mencoba memberikan satu kesempatan terakhir? Apakah salah jika ia datang ke kantor suaminya, membawakan makan siang hangat yang dimasak dengan tangannya sendiri, dan menunjukkan bahwa ia peduli?
Mungkin, pikir Kirana, benteng es Arka perlahan bisa runtuh jika ia melihat ketulusan yang datang langsung ke hadapannya.
Bi Inah, yang berdiri tidak jauh dari meja dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik Kirana dengan rasa cemas yang teramat sangat. Wanita tua itu meremas ujung apronnya, tidak tahan lagi untuk tidak bersuara.
"Nyonya... di luar hujan besar sekali. Jalanan pasti banjir di mana-mana," ucap Bi Inah dengan suara bergetar, mencoba memperingatkan. "Lagi pula, Tuan Arka itu orangnya sangat sibuk dan kaku. Kalau Nyonya datang ke kantornya tanpa memberitahu terlebih dahulu, dikhawatirkan—"
Kirana menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh, menatap Bi Inah dengan senyuman tipis yang menenangkan.
"Tidak apa-apa, Bi," potong Kirana lembut. "Aku hanya ingin mengantarkan makanan ini. Aku ingin... mencoba sekali lagi untuk melangkah lebih dekat. Aku tidak akan lama di sana."
Melihat sorot mata Kirana yang begitu kukuh, Bi Inah hanya bisa menghela napas panjang pasrah. Ia tahu, tidak ada satu pun argumen yang bisa mengubah keputusan nyonya mudanya hari ini.
Setelah memastikan rantang makanan itu tersimpan aman di dalam tas kanvas tahan air miliknya, Kirana mengenakan syal rajut hangat di lehernya. Melalui aplikasi di ponselnya, ia memesan sebuah taksi daring (*ridesharing*) untuk menjemputnya di teras depan rumah.
---
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil sedan abu-abu milik taksi daring menepi di pelataran rumah besar keluarga Pratama.
Kirana melangkah keluar menyambut derasnya hujan, dilindungi oleh payung hitam besar yang ia pegang erat-erat. Ia membuka pintu belakang mobil, masuk ke dalam kabin yang beraroma khas pengharum mobil kopi bercampur udara basah, lalu menyebutkan alamat tujuan kepada sang pengemudi: *Pratama Tower, kawasan segitiga emas pusat kota.*
Perjalanan siang itu berubah menjadi mimpi buruk di atas roda.
Hujan lebat yang turun tanpa henti menyebabkan genangan air tinggi di beberapa titik jalan arteri ibu kota. Kendaraan merayap sangat lambat, roda-roda mobil berputar di atas genangan air yang menciptakan cipratan besar ke kiri dan kanan. Di dalam taksi, suasana terasa begitu senyap selain suara deru wiper kaca depan yang bergesek cepat dan ketukan rintik hujan di atap mobil.
Kirana duduk di kursi belakang, mendekap tas kanvas berisi rantang makanan itu erat-erat di dadanya.
Di dalam rongga perutnya, sensasi mual ringan sempat merayap naik akibat goncangan mobil yang terjebak macet, namun Kirana mengabaikannya. Pikirannya sepenuhnya terpaku pada satu tujuan: ia ingin segera sampai di kantor Arka, menyerahkan makanan hangat itu, melihat ekspresi terkejut suaminya, dan mungkin... mencairkan kebekuan hubungan mereka sebelum segalanya benar-benar terlambat.
"Sabar ya, Bu. Jalur ke arah kawasan perkantoran lagi padat merayap karena ada genangan di depan," ucap pengemudi taksi lewat kaca spion tengah, melirik penumpangnya yang tampak pucat.
"Iya, Pak. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja yang penting selamat sampai tujuan," jawab Kirana ramah dengan suara lembut.
Waktu terus merambat lambat. Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu tiga puluh menit kini sudah menghabiskan waktu hampir satu setengah jam. Jantung Kirana berdegup lebih kencang dari biasanya, dipenuhi campuran rasa cemas, lelah fisik, dan harapan yang membara.
---
Sesampainya di depan *Pratama Tower*—gedung pencakar langit megah berlantai empat puluh lima milik keluarga suaminya—mobil taksi daring itu berhenti tepat di bawah selasar lobi utama yang terlindung dari hujan.
Kirana membayar ongkos perjalanan, mengucapkan terima kasih kepada sang pengemudi, lalu keluar dari mobil sambil membuka payungnya. Angin kencang langsung menerpa tubuhnya, membuat mantel rajutnya berkibar di tengah udara dingin ibu kota.
Dengan langkah mantap namun hati-hati karena jalanan yang licin, Kirana menaiki tangga lobi dan masuk ke dalam gedung mewah tersebut.
Lobi utama Pratama Tower tampak sangat sibuk dan berkilau oleh lampu kristal gantung. Para karyawan berjas rapi, staf resepsionis berpakaian formal, dan beberapa tamu penting berlalu-lalang dengan cepat. Kehadiran Kirana—dengan mantel rajut basah di bagian ujung bawah dan rambut sedikit lembap akibat cipratan angin luar—tampak begitu kontras dengan kemewahan tempat itu.
Kirana melangkah mendekati meja resepsionis utama.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" sambut seorang wanita resepsionis dengan senyuman ramah namun profesional, memindai penampilan Kirana dari atas ke bawah.
"Selamat siang. Saya Kirana Pratama... saya ingin bertemu dengan Tuan Arka di ruangannya," ucap Kirana dengan suara jelas dan tenang.
Resepsionis itu mengerjap sejenak, lalu jemarinya bergerak cepat mengetik sesuatu di layar komputer meja kerjanya. Dahinya sedikit berkerut.
"Maaf, Nyonya Kirana... apakah sebelumnya sudah membuat janji temu atau melakukan konfirmasi dengan sekretaris pribadi Tuan Arka?" tanya sang resepsionis dengan nada sopan namun kaku.
Kirana menggeleng pelan. "Tidak, saya datang secara langsung. Ini kejutan untuk suami saya."
Resepsionis itu tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang menyembunyikan keraguan. "Mohon maaf sekali, Nyonya. Sesuai dengan prosedur ketat perusahaan dan jadwal CEO hari ini, Tuan Arka sedang memimpin rapat tertutup dengan para direktur investor asing, dan beliau secara khusus memberikan instruksi agar tidak ingin diganggu oleh siapa pun."
Hati Kirana mendadak terasa mencelus kecil, namun ia tidak langsung menyerah.
"Saya hanya ingin menitipkan rantang makanan ini di mejanya, atau sebentar saja masuk ke lantai atas. Tidak akan lama, mbak," bujuk Kirana, suaranya terdengar sedikit memohon.
"Maafkan saya, Nyonya. Aturannya sangat mutlak. Kami tidak diizinkan membiarkan siapa pun naik ke lantai atas tanpa izin langsung dari sekretaris utama," jawab resepsionis itu dengan sopan namun tegas.
Tepat saat Kirana hendak menjelaskan lebih lanjut, sebuah suara familiar terdengar dari arah lift eksekutif di sebelah kanan lobi.
"Ada apa ini?"
Kirana dan resepsionis langsung menoleh ke arah sumber suara.
Seorang wanita karier berpenampilan sangat anggun dengan blazer *beige* desainer ternama dan rambut sebahu tertata profesional sedang melangkah keluar dari lift. Sinta—mantan kekasih Arka yang sempat dilihat Kirana di restoran beberapa waktu lalu—berdiri di sana sambil membawa beberapa berkas penting di tangannya. Sebagai salah satu mitra bisnis eksekutif yang sering bekerja sama dengan perusahaan, Sinta memiliki akses khusus ke lantai atas.
Sinta menghentikan langkahnya saat melihat wanita berambut basah dengan mantel krem berdiri di dekat meja resepsionis. Ketika matanya mengenali wajah Kirana, sudut bibir Sinta terangkat dalam senyuman sinis yang elegan.
"Oh... rupanya Nyonya Pratama," sapa Sinta dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar menarik perhatian orang-orang di sekitar lobi. "Mencari Arka? Sayang sekali, suamimu sedang sibuk luar biasa di ruang rapat atas, membicarakan kontrak miliaran rupiah yang jauh melampaui urusan rumah tangga."
Kirana mengepalkan tangannya di dalam tas kanvas. Ia menatap Sinta dengan pandangan dingin, menolak untuk menunjukkan rasa gentar sedikit pun di hadapan wanita masa lalu suaminya itu.
"Urusan saya dengan suami saya bukan urusan Anda, Sinta," balas Kirana dengan suara datar yang sangat tegas, membuat senyuman di bibir Sinta seketika memudar.
Sinta mendengus pelan, menatap Kirana dengan pandangan meremehkan dari ujung kepala hingga kaki. "Terserah apa katamu. Tapi datang ke kantor di tengah badai hujan seperti ini hanya untuk mencari perhatian suamimu yang sedang sibuk... sungguh tindakan yang sangat kekanak-kanakan dan memalukan. Tidak heran Arka lebih memilih menghabiskan waktu di ruang kerjanya daripada di rumah."
Kata-kata tajam itu menghujam telinga Kirana, namun alih-alih menangis atau marah histeris, Kirana justru menarik napas panjang. Gelombang ketenangan yang dingin merayap ke seluruh tubuhnya. Ia menyadari satu hal: bertahan di lobi ini hanya akan menjadi tontonan murahan.
Kirana menatap sang resepsionis, meletakkan rantang makanan di atas meja dengan gerakan perlahan.
"Tolong berikan rantang ini ke meja Tuan Arka nanti setelah rapatnya selesai," ucap Kirana tenang tanpa mempedulikan Sinta.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Kirana membalikkan badannya. Dengan langkah anggun namun pasti, ia berjalan keluar melalui pintu kaca lobi, menerobos kembali derasnya hujan ibu kota yang belum juga reda, membawa serta sisa-sisa harapan yang kini mulai terkikis habis oleh kejamnya kenyataan.