Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana di dalam kelas 11 IPA 1 masih terasa begitu mencekam. Napas Clara yang memburu, diselingi dengan tatapan mata yang berkilat penuh kebencian, masih tertuju tepat ke arah Alya. Di sisi lain, Alya berdiri dengan tenang, jemarinya terkunci di balik punggung, mempertahankan postur tubuh yang tidak menunjukkan tanda-tanda gentar sedikit pun.
Tepat saat Clara hendak melontarkan makian balasan yang lebih kasar, dentuman sepatu formal terdengar dari arah koridor, semakin mendekat dan semakin nyaring. Langkah kaki yang sangat khas itu membuat hampir seluruh siswa yang berada di dalam kelas seketika duduk tegak. Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia yang dikenal paling disiplin dan sangat tidak mentoleransi keributan, muncul di ambang pintu kelas.
"Ada apa ini?" suara berat dan tegas Bu Ratna membelah keheningan. Beliau mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, matanya berhenti pada Clara yang masih berdiri dalam posisi menantang di depan meja Alya. "Clara, kamu lagi apa di kelas 11 IPA 1? Dan kenapa suara kamu terdengar sampai ke ruang guru di ujung koridor?"
Clara, yang biasanya selalu bisa beralasan dengan licin di depan guru, mendadak kehilangan kata-kata. Ia mengerjapkan matanya, berusaha meredam emosi yang masih mendidih di dadanya agar tidak meledak di depan Bu Ratna.
"Ini, Bu... Alya dia—" Clara mencoba memulai kalimatnya dengan nada yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar seperti korban, namun Bu Ratna segera memotongnya dengan tatapan tajam.
"Saya tidak menanyakan apa yang dilakukan Alya. Saya bertanya kenapa *kamu* berdiri di kelas orang lain dengan nada bicara yang begitu tinggi? Apa kamu tidak tahu bahwa sekarang sudah waktunya pergantian jam pelajaran? Kembali ke kelas kalian sekarang juga!" perintah Bu Ratna dengan intonasi yang tidak bisa dibantah.
Clara menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Ia merasa sangat terhina karena ditegur di depan teman-teman sekelas Alya yang tadi sempat menontonnya kalah argumen. Ia melirik sekilas ke arah Alya, lalu mendekat sedikit dan membisikkan kalimat penuh ancaman yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "Urusan kita belum selesai, Alya. Ingat itu."
Setelah melontarkan kata-kata tersebut, Clara memutar tubuhnya dengan kasar, memberi isyarat kepada teman-temannya untuk segera pergi. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai sebagai pelampiasan rasa kesal, ia meninggalkan kelas 11 IPA 1 menuju kelasnya sendiri di IPS 3. Siska dan dua anggota gengnya yang lain pun ikut terbirit-birit mengikuti langkah pemimpin mereka yang sedang dikuasai amarah.
Bu Ratna menghela napas panjang melihat punggung Clara yang menjauh, lalu beralih menatap Alya. "Alya, kamu tidak apa-apa?"
Alya mengangguk pelan dengan senyum tipis yang tulus. "Saya baik-baik saja, Bu. Terima kasih sudah datang tepat waktu."
Setelah Bu Ratna memberikan arahan untuk memulai pelajaran, suasana kelas perlahan kembali normal. Namun, ketenangan di dalam kelas tidak dirasakan oleh Adel dan Jesica. Keduanya justru menoleh ke arah Alya dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Al, lo beneran gak apa-apa? Tadi dia bilang urusan belum selesai, itu artinya dia bakal nyari cara lain buat ganggu lo," bisik Adel cemas sembari menarik ujung lengan baju Alya.
Alya kembali duduk, mengambil pulpennya, dan membuka buku catatannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku sudah terbiasa dengan drama seperti itu, Del. Kalau dia mau cari masalah lagi, silakan. Selama aku tidak salah, aku punya alasan untuk tetap berdiri tegak."
Jawaban Alya yang sangat tenang itu membuat Adel dan Jesica tertegun. Mereka baru menyadari satu hal Alya bukanlah gadis lemah yang bisa digilas begitu saja oleh kesombongan Clara. Ketenangan Alya bukan berasal dari ketidaktahuan, melainkan dari kedewasaan dan prinsip hidup yang matang. Di saat kebanyakan orang akan menangis atau ketakutan jika diancam oleh anak seorang pemilik yayasan, Alya justru merasa bahwa ancaman tersebut hanyalah angin lalu yang tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkan fokusnya.
Sementara itu, di kelas 11 IPS 3, suasana di dalam ruangan tidak kalah panas. Clara yang duduk di bangkunya terus saja memukul-mukul meja dengan ponselnya. Teman-temannya di geng tidak berani mengeluarkan suara, takut terkena semprotan amarah Clara yang masih meluap.
"Gila, bener-bener gila! Bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu ke gue di depan banyak orang!" gerutu Clara kepada Siska. "Dia pikir dia siapa? Beraninya ngelawan gue?"
"Tapi Cla, jujur aja sih, tadi dia kelihatan keren banget pas jawab lo. Dia tenang banget, gak kayak lo yang langsung naik pitam," celetuk salah satu temannya yang langsung dibalas dengan tatapan mematikan oleh Clara.
Clara mendengus keras. "Keren apanya?! Itu namanya kurang ajar! Gue harus buat dia sadar tempat. Kalau dia mau jualan, gue pastiin gak ada satu pun orang yang berani beli kue murahan dia lagi."
Di dalam hatinya, Clara menyusun rencana jahat. Ia sudah tidak peduli lagi apakah rencananya itu melanggar aturan sekolah atau tidak. Baginya, harga diri sebagai sosok yang paling disegani di sekolah harus dikembalikan, dan Alya adalah hambatan yang harus disingkirkan.
Di sisi lain, Alya yang tidak tahu apa yang sedang direncanakan Clara di kelas sebelah, justru sedang tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Ia menatap layar ponselnya yang kembali berdenting. Kali ini, bukan hanya dari pelanggan yang memesan kue, tapi ada sebuah pesan masuk dari akun yang sangat dikenalnya.
_Devan Narendra: "Jangan didengerin omongan orang yang gak penting. Fokus aja sama apa yang lagi lo kerjain sekarang._
Alya terdiam sejenak membaca pesan tersebut. Ia tidak menyangka Devan akan mengirimkan pesan pribadi. Mengingat Devan tadi memantau dari jauh, mungkin saja cowok itu mendengar sedikit keributan atau sudah tahu apa yang dilakukan Clara. Alya membalas pesan tersebut dengan singkat namun sopan,
_Terima kasih, Devan. Aku tidak memikirkannya._
Setelah mengirim pesan, Alya meletakkan ponselnya kembali ke saku. Ia kini sadar bahwa perjalanannya untuk melunasi biaya *study tour* tidak hanya sekadar pertarungan antara dirinya dan kemiskinan, tetapi juga pertarungan melawan ego orang-orang yang merasa berkuasa.
Pelajaran hari itu pun berjalan seperti biasa, namun pikiran Alya sudah melayang ke arah dapur rumahnya nanti sore. Ia sudah bertekad, apa pun ancaman Clara nantinya, ia tidak akan membiarkan gangguan tersebut menghambat targetnya. Ia akan membuktikan bahwa hasil keringat yang jujur, keberanian yang tepat, dan ketulusan dalam bekerja jauh lebih berharga daripada status sosial yang disandarkan pada harta orang tua.
Sore harinya nanti akan menjadi pembuktian bagi Alya. Ia akan membuat pesanan teman-temannya dengan kualitas terbaik, lebih baik dari yang kemarin, agar setiap orang yang memakannya bisa merasakan usaha keras yang ia curahkan. Ancaman Clara yang menyebutkan "urusan belum selesai" justru dianggap Alya sebagai pengingat untuk bekerja lebih keras lagi, agar ia bisa segera mencapai tujuannya dan tidak perlu lagi terlibat dalam drama yang tidak perlu di lingkungan sekolah. Alya Saraswati, gadis dengan mimpi besar dan keberanian baja, telah menetapkan langkahnya untuk terus maju, melompati kerikil tajam bernama Clara, menuju masa depan yang jauh lebih cerah.