Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
Lantai teratas gedung pusat Baskoro Group di kawasan Sudirman memancarkan kemewahan yang dingin. Dinding kaca raksasa setinggi empat meter menampilkan hamparan hutan beton Jakarta yang berselimut kabut polusi tipis di bawah terik matahari pagi. Di dalam ruang rapat utama, sebuah meja marmer hitam sepanjang sepuluh meter dikelilingi oleh kursi kulit ergonomis kelas atas. Di sinilah keputusan-keputusan bisnis bernilai triliunan rupiah biasanya diketok.
Pukul sembilan kurang sepuluh menit, suasana di dalam ruangan sudah terasa tegang. Tiga orang perwakilan dari Dewan Komisaris—pria-pria paruh baya berjas mahal dengan rahang kaku—duduk sambil memeriksa berkas cetak portofolio yang diajukan oleh tim mahasiswa DKV Surabaya. Di sudut lain meja, Ririn dan dua orang anggota tim inti duduk dengan canggung, berulang kali merapikan letak laptop dan konektor proyektor dengan jemari yang dingin karena gugup.
Anya berdiri di samping podium digital. Dia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengunci perisai di hatinya. Pakaian yang dikenakannya pagi ini sengaja dipilih untuk memberikan pernyataan tegas: dia bukan lagi gadis remaja polos yang bisa diintimidasi. Anya mengenakan setelan blazer berpotongan modern berwarna merah marun pas badan, dipadukan dengan rok span hitam di atas lutut yang menonjolkan kaki jenjangnya. Kulit putih cerahnya tampak begitu kontras di bawah lampu LED ruangan. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam dibiarkan tergerai rapi, jatuh melewati bahu dengan keanggunan yang seksi sekaligus berkelas.
Klek.
Pintu ganda ruang rapat terbuka. Edgard Baskoro melangkah masuk dengan aura kepemimpinan yang mutlak. Pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia dan berahang kokoh mirip Daniel Henney itu mengenakan setelan jas hitam custom-tailored dengan kemeja putih tanpa dasi. Jam tangan perak mewahnya berkilau saat dia menarik kursi utama di kepala meja eksekutif. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung mengunci pandangannya pada sosok Anya, memancarkan sorot mata yang sarat akan kekaguman sekaligus rasa penyesalan yang mendalam.
"Selamat pagi semuanya. Silakan dimulai, Nona Anya," ucap Edgard dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu lembut namun berwibawa.
Anya memberikan satu anggukan formal yang dingin, lalu mulai mengklik layar podium. Suaranya mengalun tenang dan stabil saat dia memaparkan revisi tahap akhir dari eksekusi kampanye visual Baskoro Logistic. Penjelasannya begitu taktis, memadukan analisis psikologi warna dengan segmentasi pasar modern tingkat tinggi.
"Tunggu sebentar, Nona Anya," potong salah satu komisaris berambut beruban, namanya Pak Baskara. Dia meletakkan berkas portofolio dengan ketukan kasar di atas meja marmer. "Saya sudah melihat konsep logo baru yang tim Anda tawarkan. Menurut saya, ini terlalu radikal untuk ukuran perusahaan logistik konvensional seperti kita. Mengapa kita harus mempertaruhkan citra puluhan tahun perusahaan pada desain buatan mahasiswa daerah yang belum memiliki jam terbang di ibu kota? Bukankah lebih aman jika kita menyewa agensi periklanan multinasional di Jakarta?"
Kalimat merendahkan itu seketika membuat Ririn dan anggota tim di sudut meja menundukkan kepala dengan wajah pias, merasa harga diri kampus mereka diinjak-injak di hadapan dewan direksi pusat.
Anya menghentikan tayangan salindia proyektor. Dia tidak tampak panik atau terkejut. Sebaliknya, dia menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Pak Baskara dengan sepasang mata indahnya yang memancarkan ketenangan yang mengintimidasi.
"Pak Baskara," jawab Anya, suaranya terdengar sangat tenang namun sedingin es. "Desain radikal yang Anda maksud didasarkan pada data pertumbuhan audiens digital usia produktif yang naik empat puluh persen dalam dua tahun terakhir. Jika perusahaan konvensional seperti Baskoro Logistic menolak bertransformasi secara visual, maka dalam kurun waktu lima tahun ke depan, kompetitor baru akan merebut seluruh pangsa pasar logistik modern. Dan mengenai status kami sebagai mahasiswa daerah... saya rasa nilai estetika dan efisiensi fungsional sebuah karya tidak ditentukan oleh kode pos domisili pembuatnya, melainkan oleh ketepatan analisis datanya. Dokumen yang ada di tangan Anda adalah buktinya."
Mendengar jawaban yang begitu telak, cerdas, dan tanpa rasa takut dari seorang mahasiswi berusia sembilan belas tahun, Pak Baskara tertegun, wajahnya sedikit memerah menahan malu karena argumennya dipatahkan dalam satu kalimat.
Sebelum ada komisaris lain yang mencoba menyudutkan Anya kembali, Edgard Baskoro menegakkan punggung tegapnya dari sandaran kursi. Dia mengetukkan pulpen peraknya sekali ke atas meja marmer, sebuah kode mutlak yang seketika membungkam seluruh isi ruangan.
"Saya rasa penjelasan Nona Anya sudah lebih dari cukup untuk menjawab keraguan Anda, Pak Baskara," suara bariton Edgard bergaung rendah, dipenuhi penekanan yang tidak menerima bantahan. "Saya pribadi yang menyetujui kontrak kerja sama ini di Surabaya karena saya melihat visi jangka panjang yang tidak bisa ditawarkan oleh agensi multinasional mana pun di Jakarta saat ini. Tim mahasiswa ini bekerja di bawah pengawasan langsung dari meja CEO utama. Jika ada di antara Dewan Komisaris yang meragukan kapasitas mereka, artinya Anda sedang meragukan keputusan bisnis saya."
Edgard memajukan tubuhnya, menatap tajam ke arah jajaran komisaris dengan sepasang mata elangnya yang sedingin es. "Proyek eksekusi logo ini akan tetap berjalan sesuai dengan konsep akhir dari tim Nona Anya. Tidak ada perubahan agensi, dan tidak ada revisi radikal lagi. Rapat selesai."
Jajaran komisaris paruh baya itu hanya bisa saling berpandangan dengan wajah canggung, lalu segera merapikan berkas mereka dan melangkah keluar dari ruang rapat dengan terburu-buru, menyadari bahwa kemarahan sang bos besar bukanlah hal yang bisa mereka hadapi.
Setelah ruangan sepi, hanya menyisakan tim mahasiswa dan Edgard, Ririn segera berbisik pada Anya. "Nya, aku dan anak-anak kembali ke hotel dulu ya untuk merapikan berkas cetaknya. Terima kasih sudah membela kita tadi."
"Iya, Rin. Hati-hati di jalan," jawab Anya pelan.
Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat kembali, menyisakan keheningan yang begitu pekat di antara mereka berdua, Anya mulai merapikan laptopnya ke dalam tas ransel kulit hitamnya.
Edgard bangkit dari kursinya, melangkah perlahan memotong jarak di antara mereka hingga dia berdiri tepat di samping podium digital Anya. Aroma maskulin bercampur wangi kopi premium khas tubuh tegap atletisnya seketika memenuhi indra penciuman Anya, memicu getaran aneh yang coba dia tekan di ulu dadanya.
"Presentasimu sangat memukau pagi ini, Anya," ucap Edgard dengan nada suara yang teramat tulus dan lembut, melepas seluruh topeng formalitas CEO-nya. "Kamu... kamu benar-benar telah tumbuh menjadi seorang wanita yang luar biasa cerdas dan mandiri. Saya bangga melihatmu berdiri di podium itu tadi."
Anya tidak menoleh. Dia mengancingkan ritsleting tas ranselnya dengan gerakan yang teramat anggun, lalu membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi Edgard seutuhnya. Sepasang mata indah Anya menatap lurus ke dalam manik mata pria di hadapannya dengan tatapan yang kosong.
"Terima kasih atas pembelaan Anda di depan komite tadi, Pak Edgard," jawab Anya dengan nada suara yang teramat datar, sedingin es yang tidak akan pernah bisa dicairkan oleh pujian apa pun. "Tapi Anda tidak perlu merasa bangga atas nama saya. Kemandirian dan ketegasan saya hari ini di podium tidak ada hubungannya dengan apresiasi Anda. Ini adalah hasil dari proses bertahan hidup yang terpaksa saya pelajari sendiri setelah Anda dan keluarga saya membuang saya ke Surabaya setahun lalu. Jadi, tolong simpan rasa bangga Anda untuk diri Anda sendiri."
Anya menyandang tas ransel kulitnya di pundak, lalu melangkah berjalan melewati Edgard menuju pintu keluar tanpa keraguan sedikit pun. Sisa wangi bunga lili yang dewasa dan misterius dari tubuh dewasanya yang seksi tertinggal di udara ruangan yang dingin, membakar sisa-sisa kekuatan Edgard Baskoro siang itu. Pria itu berdiri terpaku menatap pintu yang tertutup dengan rasa sunyi dan penyesalan yang semakin mencekam di dalam dadanya, menyadari bahwa di bawah langit Jakarta ini, meskipun dia berhasil membela posisi profesional Anya dari balik meja eksekutif, jarak di antara hati mereka justru terasa semakin membentang teramat jauh.
semangat nulisnya 💪