Kehilangan Lidya,istri yang sedang mengandung anaknya secara tragis membuat Handoyo berjanji untuk membalaskan dendam dan akhirnya menjadi pembunuh berdarah dingin. Kemahirannya dalam menembak dan memiliki gerakan cepat karena keahlian bela dirinya digunakan Handoyo untuk membereskan lawan-lawannya hingga membuatnya disegani, dicintai banyak wanita dan makin membuatnya terkenal. Kekayaan dan popularitas dalam genggaman Handoyo tapi semua itu tetap membuatnya kesepian. Cintanya cuma satu pada Lidya seorang, hingga satu tawaran pekerjaan membuatnya melupakan Lidya, melepaskan sahabatnya dan menyeretnya ke organisasi rahasia yang mampu membuka masa lalunya yang kelam, dan mengalirkan hasrat rindunya pada wanita lain. Tidak, cintaku cuma satu pada Lidya seorang, bukan kamu!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieta Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Revenge
"Jangan pernah bermain -main denganku apabila kamu takut dan tak bisa menerima kekalahan."
*****
Andi hanya bisa menatap ayahnya yang terikat dan duduk membisu di kursi panjang di depan dirinya diikat di tiang bendera. Pria yang pernah menjadi Jendral hebat di negeri ini disuntik kaku dan tidak mampu bergerak ataupun membantu anak lelaki kesayangannya. Andi merasa sedih melihat ayahnya yang mantan orang besar tidak bisa melakukan apa-apa. Tampaknya mereka sudah kalah. Pria bertopeng itu telah melukai seluruh anak buahnya dan mungkin juga yang berada di kediaman ayahnya. Bagaimana dengan adik bungsunya, Anneke? Apakah Anneke juga tewas ditembak pria gila ini?
Andi menatap pria bertopeng itu dengan penuh emosi. Ia sudah tidak bisa berfikir lagi. Tidak ada yang bisa menolong mereka berdua sekarang. Ingin menangis namun ia sungguh malu. Ia hanya bisa marah karena pria itu tidak menerima permohonannya sedari tadi.
"Hei... katakan padaku.... apa salah kami padamu?" teriak Andi dengan penuh amarah pada pria bertopeng itu. Andi merasa lelah dan tak berdaya. Pikirannya kusut dan tak mampu menerka siapa pria gila yang telah menyerang dan menyakiti keluarganya.
"Siapa sebenarnya dirimu?" Jangan jadi pengecut.... kenapa tidak berani satu lawan satu? " Kau curang menyandera ayahku dan menodongku dengan pistol itu... " Maki Andi kembali pada pria yang bertopeng.
Pria itu tersenyum dibalik topeng. Dikeluarkan belati dari balik jaketnya dan ia akhirnya membuka topengnya dan berdiri diantara Andi dan ayahnya. Jarak tempat Andi berdiri dengan kursi tempat ayahnya diikat di kursi itu tidak sampai 10 meter.
"Apakah sekarang kau mengenalku ? " Tanya pria itu dengan santai.
" Siapa kau?" Siapa yang membayarmu ?" Dengar kami akan membayarmu lebih dari orang yang telah menyuruhmu itu, "Teriak Andi pada pria yang baru membuka topengnya.
Andi kehabisan ide untuk menebak pria gila itu yang ada diantara dirinya dan ayahnya. Andi dan Ayahnya menatap pria yang telah menculik dan memaksa mereka ada di alun-alun ini. Mereka merasa tidak mengenal pria itu. Mereka Apakah orang ini adalah bagian dari musuh ayahnya di masa lalu. Pasti bagian dari militer mengingat keahlian menembaknya yang luar biasa. Andi terus berfikir ada orang yang menyuruh pria gila ini untuk menghabisi mereka.
"Andi .... aku berikan kesempatan dulu... katakan pada ayahmu... bagaimana kau menghabisi keluarga Lidya?"
" keluarga Lidya......Bukan aku pelakunya .... aku tidak tahu...sumpah... aku tidak tahu peristiwa penembakan itu !' aku tidak pernah terlibat pada peristiwa itu , " Andi menjawab sambil berteriak membela dirinya.
Andi mulai ingat siapa pria yang tadi menggunakan topeng dan menodongnya. Pria itu yang ada di bingkai foto pernikahan Lidya. Pria ini adalah suami Lidya. Pria yang dulu dianggapnya bodoh dan miskin tetapi sekarang berubah menjadi seorang monster yang sadis . Ia mengingat bahwa pria ini yang mengambil cinta pertamanya hingga ia nekat membunuh Lidya dan keluarganya.
"Jawabanmu salah Andi !" Handoyo menggoreskan belati itu secara cepat dan tidak terduga ke perut mantan jendral itu.
'Akh.... "Teriakan Andi. "maafkan aku, bapak... aku yang salah... tembak dan bunuh aku saja brengsek!" teriak Andi mulai menangis.
Pria yang perutnya ditusuk tidak bisa berteriak ataupun merasa kesakitan, karena tubuhnya terasa kaku dan dia melihat darah mulai bercucuran dari tubuhnya. Handoyo yang memegang belati itu tersenyum dan menepuk pundak pria tua itu dua kali. Diolesnya darah yang ada di perut pria tua itu dengan tangan kanannya yang menggunakan sarung tangan. Dijilatnya darah itu.
"Ini pengganti anakku yang meninggal akibat perbuatan anakmu, Pak Tua !' Suara pria itu terdengar jelas di telinga Andi. "Setiap anakmu salah menjawab, maka kau yang akan menerimanya.... mengerti kau Andi... setiap kau salah bicara, maka pria tua ini yang akan menikmati akibat dari setiap kesalahan jawabanmu, " Ujar Pria yang sudah tidak bertopeng itu.
"Baik akan aku ceritakan semuanya.... lepaskan ayahku.... dia tidak tahu apa yang dilakukan aku dua tahun yang lalu..... tolonglah.... lepaskan ayahku... biar aku saja yang menanggungnya!" Aku yang salah.... aku yang berbuat maka aku yang akan menanggungnya!"
"Oh yach.... apakah kedua mertuaku juga bersalah padamu? Kenapa dulu kau tidak melepaskan mereka, Andi ?" Ujar pria yang memegang belati dengan marah.
"Handoyo.... maafkan aku.... maafkan kesalahanku di masa lalu... aku marah pada istrimu yang memilih menikahimu dan mengandung anakmu, aku cuma menembak mereka secara langsung dan tidak ada penyiksaan......mereka langsung meninggal tanpa mengalami penyiksaan seperti yang kau lakukan pada kami!"
"Jawabanmu salah, Andi.... maka ayahmu akan menanggungnya !" Teriak Handoyo dengan penuh kemarahan. Tidak ada belas kasih di wajah Handoyo. Di otaknya hanya membalaskan dendam pada Andi Setiono dan mewujudkan rencananya.
Ditusuknya kembali perut pria tua itu dan Handoyo mulai membakar ujung kursi panjang itu. Pria tua itu sedikit terkejut melihat langkah Handoyo. Apakah dirinya akan dibakar hidup-hidup? Andi yang melihat itu makin takut melihat ayahnya yang akan dibakar hidup-hidup.
"Handoyo.... tolong maafkan aku.... dengar aku akan ceritakan semuanya.... tapi tolong matikan apinya.... jangan siksa ayahku seperti itu !" Aku akan cerita semuanya.... tolonglah... jangan seperti ini !"
"Apakah Lidya dulu juga seperti ini ? Menangis meminta tolong dilepaskan ? " Tanya Handoyo pada Andi .
" Tidak... Lidya tidak menangis karena aku langsung menembak mereka semua dari dekat.... jadi ....Aku menembak Lidya memang dua kali di perut dan di kening, ia langsung terjatuh dan kemudian karena ayah dan ibu Lidya keluar , aku menembaknya juga ... aku tidak mau ada saksi mata.... itu yang sesungguhnya terjadi, Handoyo!" Biar aku saja yang kau tembak... lepaskan ayahku.... dia sudah tua dan sakit-sakitan.
" Kau bercerita ngawur Andi..... aku sudah baca laporan otopsi dari kepolisian dan itu dibuktikan dengan waktu kematian mereka yang berselisih hampir 1 jam.... Baik aku ceritakan , awalnya kau menembak tepat di kening ibu mertuaku dahulu di dekat pintu masuk , lalu ayah mertuaku keluar dari ruang tengah bersama Lidya.... dan kau langsung menembak ayah mertuaku tepat juga di dikeningnya... kau membuat istri dan anakku ketakutan.... kau yang orang gila.... setelah itu kau tembak perut istriku, setelah dia menolak permintaanmu untuk meninggalkanku.... kemudian kau tembak dia... di kening..... lalu kau bakar mayatnya di depan pagar, hingga besok paginya ketika aku datang.... aku tidak mengenali wajah cantiknya..... itu yang sesungguhnya terjadi....Ingatkah itu Andi?"
Andi terdiam dan menangis. Ia semakin takut ketika kursi panjang itu mulai membakar separuh dan sebentar lagi akan membakar tubuh ayahnya hidup-hidup.
"Maafkan aku , Lidya.... maafkan aku..... aku hanya emosi pada saat itu dan bermaksud menakutimu tapi kau bilang kau tidak takut pada ancamanku !" Andi berkata sambil menangis di hadapan ayahnya dan Handoyo.
Dor
Handoyo menembak kening pria tua itu tepat di keningnya. Pria itu terjatuh di dekat api yang membakar satu sisi kursi panjang dan tubuh tuanya akhirnya tersambar api karena seluruh kursi itu sudah dilumuri dengan minyak tanah oleh Handoyo.
"Aku sudah membereskan ayahmu, Andi.... bagaimana? Keren kan yang kulakukan padamu.... seluruh anak buahmu dan anak buah ayahmu sudah habis di tanganku.... aku berhasil mewujudkan mimpiku.... aku berhasil menggapainya.
"Kau gila dan sadis, Handoyo !" teriak Andi kembali sambil menangis. Ia sudah tidak berharap akan selamat lagi. Ia sudah siap menyambut kematiannya.
"Kau yang mengajariku menjadi seperti ini, Andi.... sekarang giliranmu..... dengar Andi, Jangan pernah bermain -main denganku apabila kamu takut dan tak bisa menerima kekalahan." Ujar Handoyo sambil mengarahkan pistolnya ke perut dan lalu ke kening Andi.
Dor...; Dor....
Handoyo menembak perut dan kening Andi dua kali. Darah langsung mengucur dari kening Andi. Handoyo tersenyum dan melemparkan minyak tanah ke tubuh Andi, lalu ia membakarnya . Seraut wajah puas hadir di wajah Handoyo.
"Aku berhasil Lidya..... aku sudah berhasil Lidya..... sekarang sudah boleh kamu menjemputku !" Handoyo berkata samnbil menatap ke atas langit seolah Lidya memang melihat perbuatannya.
******
Happy Reading Guys.....
Bolehkah kalian tinggalkan jejak kalian disini. Thanks sudah membacanya !"
kukirim vote & setangkai mawar buatmu thor
biar tambah semangat 😊
selamat idul fitri kak.....
semangat...