Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memastikan
Hoeek! hoeek! hoeek!
Alina berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya, lagi-lagi ia mengalami mual sudah 3 hari ini. Alina pikir hanya masuk angin biasa, tapi sudah beberapa kali ia minum obat masuk angin tak juga membuat rasa mualnya hilang.
Tok-tok-tok!
"Sayang, ayo turun! sarapannya sudah siap nanti kamu telat berangkat kerjanya." Ibu memanggil Alina di kamarnya karena sudah hampir jam 7 Alina belum juga turun.
"Iya, Buk." Alina membuka pintu dengan wajah lesu.
"Kamu kenapa nggak semangat gitu? Biasanya jam segini sudah siap?"
"Badan Alina lemes banget, Buk. Butuh piknik deh kayaknya."
"Alasan! bilang aja males, cepetan sarapan keburu dingin!"
Alina akhirnya mengekori ibunya ke ruang makan. Dia benar-benar tak berselera makan akhir-akhir ini, hanya makan beberapa suap dan langsung berangkat kerja.
Sejak pertemuannya dengan Reyhan, Alina selalu pulang lebih awal bersama Sinta. Sore ini Sinta sudah menunggu Alina di dekat kamar mandi, wanita muda itu sudah beberapa kali keluar masuk kamar mandi.
"Al, lo kok lama banget sih?" Sinta membuka pintu kamar mandi.
"Astagaaa Alina ...!" Sinta terkejut melihat Alina yang terduduk lemah di bawah wastafel, mulutnya ternganga.
Beberapa hari ini memang Alina terlihat pucat dan lemah. Saat Sinta bertanya dan memintanya periksa ke dokter, Alina selalu bilang hanya masuk angin atau kelelahan saja. Tapi Sinta benar-benar dikejutkan dengan kondisi sahabatnya itu saat ini.
"Al. Lo kenapa, Al? Ya ampun, Al! Udah gue suruh periksa ke dokter lu ngeyel banget sih!" omelnya saat membantu Alina berdiri.
Alina hanya tersenyum "Gue nggak apa-apa, Sin," jawab Alina lemah.
"nggak apa-apa gimana! Tubuh Lo aja lemes gini, anak kecil aja juga tau kalo Lo itu beneran sakit."
"gue antar ke dokter aja! Udah berapa kali coba Lo muntah tadi, sampe keringet dingin gini." Sinta memapah Alina keluar.
Alina tidak menjawab lagi kali ini. Dia hanya diam mendengarkan omelan Sinta dengan pasrah.
"Lo itu udah ngalahin kakak ipar gue yang lagi hamil tau nggak, muntah-muntah mulu."
Deg!
Alina menghentikan langkahnya, dia baru menyadari bahwa sudah 1 bulan lebih dia belum datang bulan.
"Nggak mungkin! itu nggak mungkin terjadi!" Alina bergumam pelan tapi masih bisa terdengar oleh Sinta.
"Apanya yang nggak mungkin, Al?" tanya Sinta heran.
"Sin, ayo kita ke rumahmu! Mampir dulu ke apotek, gue harus mastiin sesuatu."
"Mastiin apa Al? Lo itu lagi sakit."
"Makanya gue mau mastiin sakit gue, ayo cepetan!" Alina sedikit panik dia benar-benar takut apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi.
Sinta hanya menuruti keinginan Alina mengantarnya ke apotek dan pulang kerumahnya. Sinta tinggal sendirian di rumah karena orang tuanya pindah ke Surabaya dua tahun yang lalu, kakak Sinta juga sudah mempunyai rumah dan keluarga sendiri.
Dalam perjalanan wajah Alina terlihat pucat pasi. Sesaat setelah sampai, dia segera masuk ke kamar mandi dan mengeluarkan testpack yang baru saja dia beli. Dia mulai memasukkan alat itu ke dalam urine dan menaruhnya. Hati Alina berdebar tak karuan saat ini, dia memejamkan mata rapat-rapat, berharap hasilnya tidak seperti yang dia pikirkan.
Saat membuka mata, Alina benar-benar syok. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, dada Alina terasa hampir meledak bahkan nafasnya serasa berhenti di kerongkongan.
Alina menangis histeris melihat benda pipih itu menunjukkan dua garis merah yang berarti positif, Alina menatap tak percaya benda pipih itu.
Sinta yang bingung mendengar tangisan Alina membuka pintu kamar mandi.
"Al ada apa, Al? kenapa Lo nangis?" Sinta mendekati Alina, tapi sebelum mendapat jawaban dari Alina matanya sudah lebih dulu menangkap benda pipih yang tergeletak di lantai
"Al ini ...."
"Gue hamil, Sin. Gue hamil! hiks ...." Alina semakin terisak, bahunya terguncang karena tangisan itu.
Sinta memeluk tubuh Alina, mencoba menenangkan Alina dengan menepuk nepuk punggungnya. Dia tidak ingin bertanya apapun sekarang, hanya isakan Alina yang terdengar di ruangan itu. Sinta membiarkan Alina menangis dipeluknya berharap pelukan itu bisa menguatkan hati Alina saat ini.
Dunia ini memang menyakitkan, sangat menyakitkan..
Bahkan sekalipun aku menangis, aku begitu tercekik seakan aku akan mati begitu saja..
Dunia ini begitu kejam, bagi orang-orang yang lemah...
Dan aku tidak ingin menjadi lemah...
Terinjak-injak di dunia antah berantah ini..
Hingga kini ku masih menangis getir..
Mencoba mengais kesabaranku, sabar akan ujian yang mendera..
Tapi...
cukup sanggupkah aku menebarkan kebahagiaan dan mengukir indahnya senyuman itu lagi, jika dalam hatiku kesakitan?
#############
Terimakasih sudah membaca cerita Simi gaes, tinggalkan komentar kalian ya. Jangan lupa like dan vote juga.
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍