Menikahlah denganku......!!
Ayra Raiia, terpaksa menerima perjodohan karena keinginan orang tuanya...
Ayra perempuan cantik berumur 22 tahun harus mengakhiri kehidupan bebasnya demi menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah dengan seorang pria anak dari sahabat sang mama.
Akankah pernikahannya berjalan dengan bahagia......?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saki_chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam..
Pagi hari yang membahagiakan menurut Baikal. Semalam dia baru saja mendapat kabar bahagia dari Maminya. Kalau Ayra sudah menyetujui perjodohan ini ,yang berarti sebentar lagi Ayra akan menjadi istrinya. Baikal terus tersenyum sejak tadi dia bangun dari tidurnya. Rencananya hari ini dia akan ke rumah Ayra , mengantar Ayra bekerja dan menjemputnya lagi nanti ketika Ayra pulang kerja. Terus setelah itu , Baikal akan mengajak Ayra kencan atau hanya sekedar jalan-jalan di mall. Baikal sudah merencanakan semuanya apa yang akan dia lakukan bersama Ayra hari ini .Dia tampak excited banget ingin cepat-cepat untuk bertemu dengan Ayra.
Baikal turun menuruni anak tangga. Dia berjalan ke dapur hendak menghampiri Maminya yang tengah sibuk berkutat menyiapkan sarapan.
"Mi .., Baikal berangkat sekarang ya...." pamit Baikal sambil mencium tangan maminya.
"Loh tumben.......biasanya juga sarapan dulu ."
"Gak akan keburu Mi.....Baikal mau jemput Ayra mau ajak berangkat bareng," jawab Baikal dengan perasaan bahagianya.
Mami Diana hanya terkekeh melihat kelakuan anaknya yang seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta itu. Mami Diana belum pernah melihat sisi Baikal yang seperti ini. Setiap kali Baikal berpacaran pasti dia selalu mengeluh sama Maminya. Mengeluh risihlah , privasinya terganggu atau apalah itu. Dia tidak pernah berinisiatif mengajak ceweknya jalan duluan pasti dia yang selalu diajak terlebih dahulu , itu aja dia selalu menolaknya. Tapi berbeda jika Baikal dengan Ayra , Baikallah yang selalu inisiatif terlebih dahulu. Itu perubahan yang dilihat Mami Diana pada Baikal.
"Ya udah sana...hati-hati ," ucap Mami Diana sambil menyodorkan tangannya kepada Baikal.
Baikal memasuki mobilnya dan kemudian menyalakannya , siap untuk menjemput Ayra. Baikal mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan pagi yang masih lumayan sepi kendaraan.
Sekitar 40 menit dalam perjalanan , akhirnya kini Baikal telah sampai di depan rumah Ayra . Dia memakirkan mobilnya dan bersiap untuk turun kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kayu hendak untuk mengetuknya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari dalam rumah .
Ayra yang mendengarnya pun mulai menerka-nerka.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini Ma...? tanya Ayra yang masih sibuk memotong-motong sayuran di depannya .
Mama hanya mengangkat bahunya pertanda dia juga tidak tau siapa yang bertamu sepagi ini.
"Coba kamu suruh Bi Ana untuk membuka pintunya," perintah Mama Leylin kepada Ayra.
"Bi tolong bukain pintu ya..." Bi Ana yang tengah mencuci sayuran pun mulai bergegas ke arah pintu untuk membukakan pintu.
Ceklekk....
"Ya..? " tanya Bi Ana ketika pintu sudah di buka.
"Ayranya ada Bi...? "
"Ada Den ...silahkan duduk dulu . Saya ke belakang dulu manggil Non Ayra ya ."
Baikal menganggukan kepadanya sopan .Kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu.
Bi Ana berjalan ke arah dapur untuk memberitahu kalau ada tamu yang mencarinya.
"Non ada laki-laki yang mencari Non Ayra," ucap Bi Ana memberitahukan Ayra.
"Siapa...? " batin Ayra .
Pasalnya Ayra tidak terlalu dekat dengan laki-laki manapun .Dia hanya punya satu teman laki-laki yang sangat dekat dengannya , namanya Theo itu aja masih di luar negeri . Kalau Theo yang datang pasti juga Bi Ana akan langsung tau.
"Laki-laki ....siapa Bi?" tanya Mama Leylin kepada Bi Ana .
"Itu lo Bu yang kemarin malam datang ke rumah untuk makan malam bersama."
"Baikal maksut Bi Ana ," ucap Mama Leylin memastikan.
"Sepertinya iya Bu , saya tidak tau namanya. "
Mama Leylin sontak saja langsung menyuruh Ayra untuk menemui Baikal yang ada di ruang tamu padahal pekerjaan Ayra sudah nanggung sedikit lagi akan selesai.
"Bentar dulu deh Ma....Ayra potong ini dulu bentar lagi selesai..." kilah Ayra kepada mamanya.
"Udah udah sana .....kasihan Baikal kalau harus nunggu lama-lama , biar nanti itu dipotong oleh Bi Ana."
Ayra hanya bisa menganggukan kepalanya. Sepertinya kalau tentang Baikal sudah tidak bisa dibantah lagi.
Ayra kemudian mencuci tangannya dan siap untuk menemui Baikal yang sedang duduk di ruang tamu.
"Baikal...?" suara Ayra mengagetkan Baikal yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
Baikal mendongakkan kepalanya mendengar suara Ayra memanggilnnya.Dia langsung terpesona dengan pemandangan yang ada di depannya . Cantik , satu kata yang menggambarkan Ayra yang sedang ada di depannya.
"Ada apa..?" tanya Ayra lagi.
Baikal kemudian tersadar dari keterpesonaannya menatap ayra.
"Eh ...a-aku mau ngajak kamu berangkat kerja bareng? " jawab Baikal dengan nada sedikit gugupnya.
"Bukannya kantor kamu sama butik aku gak searah ya Bai....nanti kalau kamu telat gimana..?" Ayra mencari alasan untuk menolak Baikal karena sebenarnya dia gak mau merepotkannya.
"Eh tapi dia sudah jauh-jauh datang ke sini , masa aku tolak sih ....kan kasihan," batin Ayra yang merasa kasihan jika harus menolak Baikal.
"Enggak kok , gak akan telat."
"Mau aku tolak juga kayaknya bakal percuma. Kalau Mama tau pasti aku bakalan disuruh berangkat bareng dia," batin Ayra lagi.
"Ya udah deh ..." Ayra akhirnya menyetujui permintaan Baikal.
"Sudah sarapan belum ...mau sarapan dulu gak? , tadi Mama masak banyakan," tawar Ayra kepada Baikal.
"Boleh .." Baikal tersenyum senang mendengar tawaran sarapan dari Ayra.Jadi gak sia-sia tadi dia belum sarapan.
"yuk...." Ayra mengajak Baikal menuju meja makan.
Mereka berjalan beriringan menuju meja makan. Mama Leylin yang melihat mereka pun langsung tersenyum senang.
"Eh Baikal pagi-pagi sudah datang aja....mau ketemu calon istri ya..?" tanya Mama Leylin yang melihat kedatangan Baikal.
"Iya Tante, mau jemput Ayra." Baikal yang mendengar perkataan Tante Leylin pun tersenyum-senyum sendiri.
"Hiiss ... Mama nih apaan sih..!!" ucap Ayra sambil menepuk pelan tangan Mamanya.
"Ucapan Mama kan benar , kamu memang calon istrinya Baikal , kan? mana yang salah coba? " Ayra menjadi salah tingkah sendiri mendengar jawaban dari Mamanya.
"Terserah Mama ajalah...aku mau manggil Papa sama Kakak dulu," jawab Ayra melarikan diri.
"Lucu banget sih kamu kalau lagi salah tingkah begini," batin Baikal yang sedari tadi terus memperhatikan mereka.
"Eh duduk dulu Bai..... Mama sampai lupa untuk menyuruhmu duduk."
Tak lama kemudia Ayra datang lagi bersama dengan Papa dan Kakaknya,Felix. Papa David pun tak kalah terkejutnya pagi-pagi sudah melihat Baikal ada di rumahnya.
"Loh ada Baikal , kenapa pagi-pagi sudah datang? " tanya Papa David sambil menarik sebuah kursi untuk ia duduki.
"Mau jemput Ayra Om... mau ngajak berangkat bareng," jawab Baikal dengan sopannya .
"Gak usah biar gue yang ngantar." Suara Felix yang tiba-tiba memotong pembicaraan.
Baikal kemudian mendongak menatap ke arah Felix . Felix yang sadar pun balik menatapnya.
"Kenapa..? , lo mending pulang aja biar gue yang ngantar adek gue." Usir Felix kepada Baikal.
Baikal masih diam saja .Dia tidak mau meladeni omongan Felix yang bisa saja membangkitkan amarahnya.
"Felix, Baikal itu calon adik ipar kamu, tidak bisakah kamu ngomong baik-baik dengan dia..?" ucap Mama Leylin dengan nada membentaknya menatap ke arah Felix.
"Mama tidak pernah ngajari kamu berbuat tidak sopan pada orang lain , mana sopan santun kamu!!!"
Mama Leylin bukanlah orang yang gampang marah sama anak-anaknya . Tapi sekali dia marah dia akan sangat menyeramkan bahkan Papa pun tak berani untuk membantahnya , apalagi Ayra dan Felix.Mereka hanya bisa diam mendengarkan.
"Ma ...udah Ma..." ucap Ayra menenangkan mamanya itu.
"Kak... Ayra sendiri yang ingin berangkat bareng Baikal , jadi biarkan Ayra berangkat bareng dia ya...." masih Ayra yang berbicara.
Felix hanya diam dan menganggukan kepala menyetujui permintaan Ayra , dia tidak mau membuat Mamanya marah lagi.
"Kalau begitu kita bisa memulai sarapan , kan?" tanya Ayra sekali lagi.
Sarapan berjalan dengan baik dan nikmat.Mama Leylin sudah tidak marah lagi karena dia tidak bisa marah lama-lama dengan anak-anak kesayangannya itu.
"Ma Pa... Ayra sama Baikal berangkat dulu ya ," pamit Ayra sambil mencium punggung tangan orang tuanya.
"Iya hati-hati."
Baikal membukakan pintu mobilnya untuk Ayra.
"Makasih .." ucap Ayra sambil mendudukkan dirinya di kursi samping kemudi.
Baikal langsung berlari memutari mobilnya , masuk ke dalam mobil juga.
Perjalanan terasa hening dan sangat canggung . Baikal tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana dan begitu sebaliknya dengan Ayra.
Mobil yang mereka berdua tumpangi sudah sampai di depan butik milik Ayra . Ayra sudah bersiap untuk turun dari mobil.
"Makasih ya Bai.....dan maaf untuk soal yang tadi . Kakak tidak bermaksud begitu kok sebenarnya ," ucap Ayra sebelum dia turun dari mobil.
Baikal tersenyum dan kemudian menganggukan kepalanya.
"Ini yang bikin aku tambah suka sama kamu Ayra .Kamu bahkan rela meminta maaf atas kesalahan yang sama sekali bukan kamu yang buat ," batin Baikal.
"Nanti kamu pulang jam berapa Ay..., biar aku jemput ya.." tanya Baikal kepada Ayra.
"Jam lima...tapi nanti kamu capek lo kalau harus bolak-balik.., gak papa?"
"Enggak kok ... justru aku malah senang bisa jemput calon istri aku ," ucap baikal mulai menggoda Ayra.
Ayra menjadi salah tingkah sendiri mendengar ucapan ' Calon Istri ' dari mulut Baikal. Wajahnya berubah menjadi sangat merah.
"Gak usah salah tingkah gitu dong Ay... lihat tu wajah kamu jadi merah banget.." ejek Baikal kepada Ayra . Baikal sangat menyukaimu momen-momen seperti ini.
Ternyata menggoda Ayra bisa sangat semenyenangkan ini.
"Enggak....siapa yang wajahnya merah. Udah ah aku mau turun dulu." Elak Ayra dan bersiap untuk turun dari mobil.
Belum sempat ayra turun dari mobil, Baikal menarik tangan Ayra sehingga Ayra kembali duduk di sampingnya.
"Apa lagi....?" ucap Ayra yang mulai kesal dengannya.
"Ponsel kamu?"
"Untuk apa?" jawab Ayra dengan tatapan bingungnya sambil menyerahkan ponselnya itu.
"Aku kan harus punya nomor ponsel calon istri aku."
Lagi-lagi pipi Ayra memerah mendengar perkataan calon istri dari mulut Baikal.
"Udah , kan ...? Aku mau turun dulu ." Pamit Ayra sambil menyembunyikan rona wajahnya yang sudah memerah itu.
"Iya .." Jawab Baikal .
"Sampai jumpa nanti calon istri," tambah Baikal lagi sebelum dia melanjukan mobilnya menuju ke kantornya.
___________________
Semoga suka ya....love you
jangan lupa tinggalkan jejak ya( ◜‿◝ )♡