Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama
Selamat membaca guys
Jangan lupa jempolnya (👍)
Maaf harus menunggu lama
Cekidot
***
Bagaimanapun perasaan Hana saat ini benar-benar bahagia. Kenapa? Karena Hana di terima bekerja di perusahaan SJC tempat sahabatnya juga bekerja. Tidak menyangka saat Audy memberitahu kalau ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Memang untuk kerja di sini harus bersaing dengan kandidat yang tidak sembarangan. Hana saja masih baru di dunia kerja. Maksudnya belum berpengalaman dan anehnya perusahaan ini malah menerimanya begitu saja.
"Ini bukan mimpikan?" gumamnya berdiri di gedung pencakar langit. SJC bukan perusahaan biasa saja malah sangat sangat luar biasa. Yang Hana tahu di artikel yang dibacanya. Pemilik sebelumnya Galang Braham Winajaya lah yang mendirikan perusahaan. Dilanjutkan anak keduanya Reza Aditya Winajaya yang sekarang menjabat CEO. Dan sebentar lagi beliau akan pensiun dan dilanjutkan kembali pada anak pertamanya Bimantara Reza Winajaya. Hana tidak habis pikir keluarga satu ini begitu hot news di Indonesia mengalahkan ke viral nya para artis yang sengaja cari sensasi.
Hana menepuk pipinya agar sadar dari pikirannya. Sudah jelas nyata masih saja berpikir semuanya mimpi. Setelah tahu lolos. Dia memberitahu Azata dan Safira mereka bangga akan peluangnya yang tidak sedikit orang bisa beruntung sepertinya. So, Azata pun mendukungnya.
Semangat Hana. Semangat. Hari pertama harus mengesankan.
Ia memasuki gedung. Karyawan masih berhilir mudik di lobby karena masih sisa lima belas menit jam kerja masuk. Hana berjalan ke resepsionis menghampiri wanita yang bernama Indah itu.
"Selamat pagi." sapa Hana ramah.
"Selamat pagi Mbak Hana. Selamat ya sudah diterima masuk kerja di sini. Sangat beruntung kerja dengan posisi sebagai sekretaris CEO." balasnya dengan kata yang membuat Hana berbangga.
"Terima kasih. Mbak masih ingat sama nama saya?"
"Masih. Nama Mbak Ciara Hanaria Azata kan belum ganti? Sebelumnya Pak Soni sudah menghubungi saya." ucap Indah menjelaskan membuat Hana malah berbidik sedikit masam.
Pantas saja Indah memanggilnya Hana bukan Ciara bagi mereka yang tidak tahu. Hana sedikit penasaran kenapa bisa diterima dan menghubungkan semua ini berhubungan dengan pria paruh baya bernama Soni.
Jangan-jangan Om Om itu yang meloloskan aku.
"Oh begitu. Lalu saya harus kemana setelah ini?"
"Mbak bisa menunggu Mbak Audy. Beliau sebentar lagi ke bawah."
"Baiklah."
Luna duduk disamping meja resepsionis. Menunggu kedatangan sahabatnya Audy. Tadi pagi mereka akan berangkat bareng tapi tidak jadi karena Azata malah mengantarnya berangkat. Cukup lima menit Hana menunggu. Datanglah Audy dengan setelan baju jas berwarna navy dengan bawahan rok di bawah lutut.
"Sorry menunggu lama" kata Audy memeluk Hana. "Selamat Hana kamu diterima. Akhirnya kita bisa sama-sama lagi." ucapnya kegirangan. Melepas pelukannya. Sedangkan Indah melihatnya hanya menggeleng memaklumi.
"Thanks. Kamu yakin aku yang diterima. Bukan salah satu wanita kemarin menurutku mereka benar-benar memiliki kandidat kuat untuk menjadi sekretaris CEO. Aku mah apa atuh."
"Oi. Bersyukur. Aku saja tidak percaya saat Pak Soni malah pilih kamu."
"Maksudnya?"
"Bukannya aku mengejek. Tapi kamu belum ada pengalaman bekerja sama sekali."
"Setuju sih sama kamu." kata Hana. Ia melihat ke sekeliling arah pandang kemudian berbisik pada telinga Audy agar orang tidak mendengar ucapan Hana. "Menurut kamu Pak Soni nggak demen kan sama aku yang masih perawan ting ting."
Audy tertawa geli saat mendengar ucapan Hana yang menuduh Soni menyukainya. Semua orang yang jalan hilir mudik mengarah pandangannya pada keduanya dengan pandangan aneh.
"Kamu kok ketawa, Dy. Aku serius. Saat pertama ketemu saja pandangannya itu Om terus terarah sama aku. Kan serem."
"Jauh-jauh dari pikiran negatif. Pak Soni itu suami setialah sama bininya. Toh bininya adik Pak Reza. Masa mau sama perempuan macam kamu."
"Gini-gini banyak yang naksir."
"Tapi kenapa masih jomblo."
"Masih pencarian. Sebentar lagi aku bakal nemuin pria yang aku idam-idamkan selama ini."
"So, aku menunggu."
My calon pacar di mana kamu sembunyi.
***
"Sudah siap?"
Seorang pria memandang penampilannya dengan penuh percaya diri. Di bantu seorang wanita paruh baya merapikan dasinya.
"Tentu saja."
"Kamu harus bisa tenang. Ini adalah penyambutan pertama kamu dan pengenalan kamu sebagai CEO baru. Mommy yakin anak Mommy akan menjadi atasan yang dikagumi karyawannya. Jadi, semangat untuk kamu Biboy." ucap Luna menepuk bahu Bima setelah selesai membantu mendasikan anaknya itu.
Bima menghela. "Mom, please jangan panggil aku Biboy lagi. Aku sudah menjadi pria dewasa apa kata orang nanti. Masa CEO SJC masih di panggil nama kecilnya." kata Bima protes akan panggilan namanya bukan tidak suka namun dia merasa aneh saja masih di panggil Biboy.
"Mommy suka. Kalau kamu mau Mommy berhenti memanggilmu Biboy. Ada syaratnya."
"Pake syarat segala."
"Mau nggak Mommy berhenti panggil kamu Biboy."
"Apa syaratnya?"
"Mommy mau kamu cepat mencari pendamping kalau tidak pacar juga boleh. Baru deh Mommy berhenti panggil kamu Biboy."
Bima menimbang-imbang ucapan Luna masih saja menginginkannya berhubungan dengan seseorang. Bagaimana pun Bima harus segera menemukan tambatan hatinya.
"Oke deal."
Luna senyum sumbringah mendengarnya semoga bukan hanya ucapan saja. Bima dan Luna melangkah kakinya keluar. Setelah membantu Bima dengan menyiapkan segala sesuatunya.
Keduanya ikut bergabung dengan mereka yang sudah lebih dulu menyantap sarapannya.
"Pagi guys." sapa Bima duduk bersebelahan dengan Kaivano.
"Pagi." balas mereka memandang ke arah Bima yang tampak mengagumi akan penampilannya yang begitu menawan dan gagah. Hari pertama masuk perusahaan harus benar-benar berkesan. Mereka menyantap sarapannya namun Reza buka suara.
"sekretaris untuk kamu sudah Ayah persiapkan atas rekomendasi Soni. Ayah yakin pilihannya tidak akan salah. Hari ini sudah mulai bekerja." ucapan Reza membuat Luna dan yang lain penasaran. Menatap Bima terlihat biasa saja tidak ada respon tersenyum sesaat ke arah Reza tidak menjawab hanya mengangguk mengerti.
"Pria atau wanita?" tanya Kaivano yang malah yang kepo. Bima melirik Kaivano tidak suka. Karena adik bungsunya pasti akan mengulik topik di pagi hari dengan nyirnyirnya.
"Wanita." singkat Reza.
"Cantik nggak?"
Reza mengerut alisnya mendengar ucapan Kaivano. Kenapa juga dia yang banyak tanya bukan Bima yang harusnya menanyakannya.
"Ehm. Kalau lihat fotonya cantik." kata Reza melirik wajah ke arah Luna. "Tapi masih cantikan Mommy."
Mereka yang mendengar ucapan Reza menggeleng kompak akan gombalannya. Reza memang tiada hari tanpa gombalan untuk istrinya. Apalagi mulai besok dia sudah tidak mengurus pekerjaan kantor dan di serah terima pada Bima. Hingga dirinya memutuskan untuk berlibur honeymoon dengan Luna keliling dunia berdua.
"Boleh dong kenalan." kata Kaivano ngasal jemplak. Membuat Bima maupun yang lain greget akan sikap Kaivano yang bisa dibilang tebar pesona pada setiap wanita cantik. "Modus." mereka serentak membalas.
Mereka tertawa.
***
Hana berada di ruangan bersama dengan Soni. Pria itu memberikan intruksi dan pepatah wejangan untuk Hana. Sebelumnya memang ia belum banyak tahu akan tugas kerjanya. Soni dengan sigap membantu apa saja yang harus dikerjakan. Selama dua jam lamanya Hana banyak bertanya akan tugas seorang sekretaris. Pantas saja Hana di beritahu untuk datang lebih awal tepatnya untuk persiapan segalanya nanti saat hendak menyambut CEO baru. Hana jadi gugup. Karena dia akan menjadi sekretaris nomor satu di SJC.
"Ini buku catatan milik saya. Kamu bisa mempelajari semuanya." ucap Soni menyodorkan catatan agenda miliknya berwarna merah padanya. Hana senang dan cepat mengambilnya sebelum Soni berubah pikiran.
"Ini benaran untuk saya? Terima kasih Pak. Senang banget dapat warisan dari sekretaris legend kayak Bapak. Suatu kehormatan."
"Itung-itung membantu. Karena keponakan saya itu selalu banyak perhitungan. Saya harap kamu bisa belajar cepat. Saya memilih kamu dengan banyak pertimbangan dan persetujuan dari Pak Reza CEO sebelumnya."
Begitukah? Hana merasa tersanjung dan bangga. Meski ia merasa minder. Tapi mendapat sebuah kepercayaan untuknya mengambil posisi yang menurutnya sangat besar tanggung jawabnya membuat Hana harus bekerja keras. Tidak mau membuat mereka yang mempercayai kecewa.
"Saya boleh bertanya sesuatu sama Bapak?" tanya Hana sudah gatal sejak kemarin.
"Silahkan."
"Bapak mengenal saya?" tanya Hana.
Soni terdiam. Menatap Hana yang begitu penasaran. Mungkin dia merasa akan tatapan dan sikapnya saat wawancara waktu itu. Soni bingung mengenal atau tidak dengan Hana. Tapi wajahnya begitu familiar termasuk namanya. Melihat data mereka berdua pun begitu sama. Bukan mengira Hana mirip dengan orang yang sedang dicari keponakannya.
"Saya tidak mengenalmu hanya saja kamu sangat mirip seseorang." balasnya jujur demikian.
"Pantas saja Bapak terus saja memandang saya waktu itu membuat saya sedikit takut."
Soni tertawa pelan. Ternyata tatapannya dianggap seram. Mungkin Hana berpikir kalau dirinya seorang Om-Om mesum.
"Maaf kalau membuat kamu takut. Jangan berpikiran saya menyukai daun muda. Saya masih waras kalau memang bersikap begitu." ucap Soni membuat Hana malu sempat menuduhnya yang tidak-tidak padahal aslinya baik pake banget. Sampai memberi ajaran singkat menuangkan ilmunya.
"Maafkan saya Pak."
"Sudahlah saya juga yang salah. Sebelum acara akan dimulai kamu bisa bergabung dengan yang lain nanti saya akan kenalkan pada Bimantara atasanmu." kata Soni sebelum hendak berdiri mencoba mengecek lagi persiapan di showroom yang berkapasitas lebih dari seribu orang itu.
"Siap Pak."
Mereka berdua keluar ruangan. Hana melihat Audy sudah berdiri di depan pintu ruangan mengajaknya ikut gabung ke showroom untuk acara besar SJC. Karena sebentar lagi acara akan mulai sedangkan Soni melenggang turun menyambung pimpinan mereka dan keluarga besar Winajaya turut hadir dalam penyambutan. Sebuah momen yang tidak terbayangkan untuk mereka bisa melihat langsung keluarga satu ini. Sangat langka bagi mereka semua berkumpul di depan umum. Mereka tidak gila status ataupun ketenaran seperti keluarga kaya lain yang ingin selalu di ekspos media.
Hana dan Audy melangkah menuju tempat acara dengan hati berdebar-debar. Rasanya begitu amat gelisah. Tapi Audy selalu memberi semangat pada Hana. Saat sampai tujuan mereka semua karyawan sudah duduk menunggu sang bintang utama.
"Seperti apa Bimantara Reza Winajaya itu?"
***
Gimana seru?
Tolong dong bantu aku buat cari visual yang cocok. Menurut kalian yang mana?
Gambar A
Gambar B
Sok atuh di pilih menurut kalian. Terima kasih.