NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit

Rakit kayu sederhana yang dirakit Marno berderit keras dihantam gulungan arus air garam yang kian memburu. Di dalam lorong batu purba yang gelap gulita, suara gemuruh air yang memantul pada dinding tebing terdengar bagaikan raungan raksasa bawah bumi. Cipratan air asin menyengat mata dan luka-luka kecil di kulit Sari, namun gadis itu tak sedikit pun melonggarkan cengkeramannya pada tali pengikat rakit. Di dalam ransel terpal kedap air yang terikat di dadanya, Kitab Usada Tengger tersimpan rapat—sebuah pusaka penyelamat yang menjadi tumpuan harapan seluruh warga Desa Karang Tumpuk.

"Pegang yang kencang! Di depan ada celah muara!" teriak Marno dari bagian belakang rakit.

Pande besi bertubuh kekar itu menekankan kayu pengayuhnya kuat-kuat ke dinding batu untuk mengendalikan arah meluncurnya rakit. Otot-otot di lengan kirinya menegang hebat, sementara Si Mbah di samping Sari merapatkan tubuhnya, memejamkan mata erat-erat sembari memperketat ikatan kain merah di kepalanya.

Tiba-tiba, lorong batu yang tadinya sempit dan membungkus mereka dalam kegelapan pekat mendadak melebar secara drastis. Cahaya rembulan sore yang jingga keperakan menyambar penglihatan mereka dengan menyilaukan!

SPLASSSHHH!

Rakit kayu itu terlontar keluar dari mulut gua tebing, melayang sesaat di udara sebelum akhirnya menghantam permukaan air yang tenang dengan dentuman air yang tinggi. Air menyembur ke segala arah, dan rakit bergoyang heboh sebelum akhirnya terapung stabil di tengah hamparan air yang luas.

Mereka telah sampai di Danau Bening—danau air asin tersembunyi yang terletak di kaki bukit sebelah selatan Desa Karang Tumpuk.

Sari batuk-batuk kecil, mengusap air asin yang membasahi wajahnya, lalu menengadah menatap langit. Awan hitam tebal bergulung-gulung menutupi separuh cakrawala sore. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore di hari keempat. Lingkaran bulan di langit mulai menipis drastis, menandakan bahwa beberapa jam lagi malam bulan mati akan menyelimuti bumi sepenuhnya.

"Kita sudah sampai di batas selatan desa, Kang!" seru Sari penuh kegembiraan yang membuncah.

Namun, senyum di bibir Sari seketika sirna saat matanya melempar pandangan ke arah Puncak Bukit Karang Tumpuk di kejauhan.

Dari puncak tertinggi yang biasanya ditumbuhi pohon-pohon pinus rimbun itu, membumbung tiga pilar asap hitam pekat yang tebal dan berbau busuk. Asap itu tidak bergerak mengikuti arah angin biasa, melainkan menggeliat melingkar di udara bagaikan tiga ekor naga raksasa yang sedang mengepung pemukiman warga di bawahnya.

"Asap itu..." desis Marno dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat garang. "Murid-murid Tengger yang tersisa sudah memulai persiapan Upacara Sumbang Darah!"

Uuk! Uuk! Si Mbah berdiri di atas jungkat-jangkit rakit, menunjuk-nunjuk ke arah tepi danau dengan panik.

Di tepi Danau Bening yang biasanya sunyi, tampak beberapa ekor bangkai burung dan kera hutan tergeletak kaku dengan mulut mengeluarkan cairan hitam. Air danau di sekitar tebing pun telah berubah warna menjadi keruh keabu-abuan.

"Racunnya sudah mulai merembet lewat air tanah," kata Sari dengan suara bergetar. "Kang Marno, kita tidak punya waktu untuk beristirahat! Kita harus segera menuju puncak bukit sebelum ritual itu selesai saat tengah malam!"

Marno mendayung rakit kayu itu sekuat tenaga menuju tepian danau yang dangkal. Begitu rakit menyentuh daratan berlumpur, mereka bertiga melompat turun tanpa memedulikan kaki yang basah dan kelelahan fisik setelah menempuh perjalanan berbahaya dari perut bumi.

Sembari berlari menyusuri jalan setapak pinggiran desa menuju bukit, Sari melihat pemandangan yang menyayat hati.

Desa Karang Tumpuk yang biasanya hangat dan dipenuhi gelak tawa warga kini mencekam bagaikan desa mati. Pintu-pintu rumah panggung tertutup rapat, jendela-jendela dikunci menggunakan pasak kayu tebal. Di sepanjang jalan desa, terabur serbuk kuning dan daun-daun sirih—bukti bahwa Pak Karto RT dan Mbok Sumi telah berusaha keras menjalankan perintah untuk membentengi desa dari serangan angin ghaib.

Dari balik jendela salah satu rumah, Mbok Sumi yang telinganya amat tajam mendengar derap langkah kaki Marno dan Sari. Perempuan tua itu membuka pintu sedikit, melongokkan kepalanya dengan wajah cemas yang dipenuhi keringat dingin.

"Sari?! Marno?!" panggil Mbok Sumi dengan suara serak.

Sari berlari mendekati teras rumah Mbok Sumi. "Mbok! Kami pulang! Kami berhasil membawa Kitab Usada Tengger!"

Mbok Sumi meraba-raba wajah Sari dengan jemarinya yang gemetar, lalu bernapas lega hingga dadanya kumat-kamit memanjatkan rasa syukur. "Kalian selamat, Nak... Syukurlah! Tapi keadaan desa sangat buruk! Sejak sore tadi, tiga murid terbaik Mbah Jiwo Suro yang memimpin sekte dari bukit utara datang membawa mangkuk-mangkuk kuningan. Mereka mengutuk tanah desa ini!"

Pak Karto RT keluar dari balik pintu sambil memegang senapan anginnya yang sudah terisi penuh. Muka RT yang jujur itu pucat pasi. "Sari, beberapa sumur warga di hilir sudah mulai berbau amis darah! Jika tengah malam nanti puncak bulan mati tiba dan mereka menyembelih tumbal di atas puncak, seluruh air di desa ini akan berubah menjadi racun mematikan!"

Marno melangkah maju, menepuk dada bidangnya. "Tenang, Pak RT! Mbah Jiwo Suro sudah tewas tenggelam di Sendang Biru! Murid-muridnya di atas bukit itu tidak tahu kalau pimpinan mereka sudah binasa. Kita akan hancurkan altar ritual mereka malam ini juga!"

Mbok Sumi memegang tangan Sari erat-erat. "Sari, resep di dalam kitab itu... apa yang dibutuhkan untuk menetralkan racun darah mereka?"

Sari dengan cepat merogoh ransel terpalnya, menunjukkan gulungan kulit kerbau tersebut. "Di dalam kitab ini tertulis, Racun Teluh Sewu hanya bisa dimatikan jika inti obor ritual mereka disiram dengan campuran Air Garam Murni dan Serbuk Kemuning Putih yang ditumbuk bersama air murni!"

Mbok Sumi tersentak, lalu mengukir senyum tipis di bibirnya. "Bunga kemuning... Bunga yang kau tanam di halaman rumah panggungmu, Sari! Bunga itu tumbuh dari tanah yang telah disucikan dari dendam bibimu!"

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Pak Karto RT bersama dua warga desa yang memberanikan diri keluar langsung berlari ke teras rumah panggung milik Sari. Mereka memetik seluruh bunga kemuning putih yang sedang mekar sempurna di sepanjang pagar, lalu menumbuknya bersama garam dapur murni di dalam sebuah kuali tembaga besar.

Sari menampung cairan penawar berwarna putih harum itu ke dalam beberapa bumbung bambu tebal yang diikatkan di pinggang Marno, Sari, dan Si Mbah.

"Mbok Sumi, Pak RT, tetaplah berada di dalam rumah dan jaga warga!" pesan Sari mantap. "Biarkan kami bertiga yang menyelesaikan sisa-sisa kegelapan di atas bukit!"

Malam pun jatuh sepenuhnya melingkupi Pegunungan Tengger. Langit malam itu gelap gulita tanpa sinar rembulan sedikit pun—sebuah malam bulan mati yang sempurna bagi para penganut ilmu hitam untuk melepaskan kutukan terbesar mereka.

Di Puncak Bukit Karang Tumpuk, sebuah pelataran batu kuno telah diubah menjadi tempat ritual yang mengerikan. Tiga buah obor raksasa berbahan bakar minyak mayat menyala dengan api berwarna merah darah, mengeluarkan asap hitam pekat yang terus membumbung tinggi.

Di tengah pelataran, tiga orang pria bertubuh kurus kering dengan jubah hitam bertuliskan rajah merah berdiri melingkari sebuah Bejana Tembaga Raksasa. Wajah mereka tertutup topeng kayu berbentuk muka tengkorak, dan di tangan masing-masing tergenggam sebilah pisau belati lengkung yang tajam.

Pria di tengah—sang pemimpin murid yang bernama Karsa—mengangkat kedua tangannya yang kurus ke udara, membacakan mantra-mantra tua bernada miring yang menggetarkan dedaunan di sekitar puncak.

"Wahai roh-roh gelap Gunung Tengger!" seru Karsa dengan suara nyaring melengking. "Master Jiwo Suro telah memerintahkan kita untuk membalas dendam atas hancurnya pusaka Seruni! Malam bulan mati ini, darah di bejana ini akan menjadi angin kematian bagi seluruh bernyawa di Karang Tumpuk!"

Kedua murid lainnya mengangkat seekor kambing hitam jantan yang terikat rapat di atas bejana, bersiap untuk menggorok leher hewan tersebut sebagai tumbal utama penyebar racun.

"Hentikan kezaliman kalian!"

Sebuah teriakan lantang yang menggelegar memecah mantra jahat mereka!

Dari balik semak-semak pinus di tepi pelataran, Marno melompat keluar dengan martil raksasanya yang terangkat tinggi di udara! Di sampingnya, Sari berdiri dengan belati terhunus dan bumbung bambu penawar di tangan, sementara Si Mbah meluncur dari dahan pohon pinus sambil membawa dua buah batu tajam!

Karsa tersentak kaget, menurunkan pisau belatinya. Matanya yang tajam di balik topeng kayu membelalak gumpal. "Marno?! Dan keponakan Seruni?! Bagaimana mungkin kalian bisa kembali dari Gua Sendang Biru hidup-hidup?!"

"Guru kalian yang jahat itu sudah mati membusuk di dasar kolam beracunnya sendiri!" raung Marno garang. "Dan sekarang, giliran kalian yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!"

Marno menerjang maju tanpa ragu, mengayunkan martil besinya secara mendatar menuju ke arah Bejana Tembaga Raksasa!

CRANGGG!

Hantaman martil Marno menghantam Bejana Tembaga hingga terpelanting belasan meter, memuntahkan seluruh minyak hitam dan mematikan persiapan tumbal mereka dalam seketika!

"Keparat!" jerit Karsa murka. "Bunuh mereka! Jangan biarkan mereka menyentuh obor ritual!"

Dua murid Tengger lainnya mencabut keris-keris beracun dari pinggang mereka, melompat menyerang Marno dan Sari secara bersamaan dari dua arah yang berbeda. Pertempuran sengit di puncak bukit di bawah naungan malam bulan mati pun meletus hebat!

Seorang murid mencoba menusuk Sari dari belakang dengan serangan kilat. Namun Si Mbah lebih cepat! Kera hitam itu melompat tepat ke atas muka bertopeng sang murid, mencakar topeng kayu itu hingga pecah dan menggigit telinga musuh dengan ganas!

"ARGGGH! KERA SIALAN!" jerit murid itu sambil berputar-putar mencoba melepaskan Si Mbah dari kepalanya.

Sari mengambil kesempatan emas itu. Ia mencabut bumbung bambu berisi cairan penawar bunga kemuning dan garam murni, lalu menyiramkannya tepat ke atas salah satu obor raksasa berapi merah darah!

PYURRR!

PSSSSSSSSSSHT!

Asap putih beraroma wangi bunga kemuning menyembur dahsyat begitu cairan penawar menyentuh api obor! Api merah darah yang menyala ganas seketika padam total, meninggalkan pilar asap hitam yang melempem dan terurai hilang di udara!

"Satu obor sudah padam!" teriak Sari penuh semangat.

Marno yang sedang bertarung sengit melawan Karsa dan satu murid lainnya melihat keberhasilan Sari. Dengan sisa-sisa tenaga dan keberanian yang membara, Marno mengibaskan parang panjangnya di tangan kiri untuk menangkis sabetan keris Karsa, sementara tangan kanannya yang kaku meraih bumbung bambu kedua di pinggangnya.

"Sari! Lempar bumbungmu ke obor ketiga!" teriak Marno sembari melemparkan bumbung bambunya sendiri tepat ke dalam kobaran obor raksasa kedua!

BOMMM!

Obor kedua meledak menjadi uap wangi, memadamkan satu lagi pilar asap racun yang mengancam desa!

Melihat dua dari tiga obor ritualnya telah musnah dan ajian racun mereka mulai tawar di udara, Karsa—pemimpin murid Tengger—menjadi kalap luar biasa. Wajahnya yang terbebas dari topeng memperlihatkan raut keputusasaan yang mengerikan.

Ia berlari mendekati obor raksasa ketiga yang masih menyala merah, mengambil sebotol minyak racun pekat dari sakunya, dan bersiap menyiramkannya ke dalam api untuk meledakkan seluruh sisa racun ke arah Desa Karang Tumpuk secara serentak!

"Jika desa itu tidak bisa jadi milik Tengger, maka desa itu harus hancur bersama kalian semua!" raung Karsa histeris.

"Jangan harap!" jerit Sari berani.

Sari tidak lagi sempat berlari mendekati obor tersebut. Dengan keputusan nekat, Sari melemparkan bumbung bambu terakhir di tangannya melintasi udara bagaikan sebuah tombak!

Di saat yang sama, Si Mbah yang baru saja melumpuhkan murid kedua, melompat tinggi di udara dan menendang bumbung bambu tersebut dengan kedua kaki belakangnya—membuat laju terbang bumbung bambu itu meluncur dua kali lebih cepat dan keras!

PRANGGG!

Bumbung bambu berisi cairan penawar bunga kemuning pecah tepat di atas kepala Karsa dan menyiram seluruh permukaan obor raksasa ketiga secara bersamaan!

PSSSSSSSSSSSSSSSSSSST!

Semburan uap putih raksasa membumbung tinggi ke langit malam. Api merah darah terakhir padam seketika, dan ledakan hawa harum bunga kemuning menyapu seluruh Puncak Bukit Karang Tumpuk dalam sekejap—menghancurkan setiap molekul racun Teluh Sewu yang hendak disebarkan ke desa.

Karsa terlempar ke belakang, tersungkur di atas tanah basah. Kekuatan ghaib yang menopang fisiknya runtuh total seiring padamnya ketiga obor ritual tersebut. Ia dan kedua rekannya merangkak ketakutan dalam kegelapan malam, menyadari bahwa seluruh warisan ilmu hitam Perguruan Gunung Tengger telah musnah tak tersisa di tangan seorang gadis biasa, seorang pande besi, dan seekor kera hutan yang setia.

Dengan ratapan kesakitan dan rasa malu yang mendalam, ketiga murid Tengger yang tersisa melarikan diri merayap ke dalam kegelapan hutan rimba—pergi meninggalkan wilayah Pegunungan Tengger untuk selama-lamanya.

Puncak Bukit Karang Tumpuk kini kembali sunyi dan tenteram.

Asap hitam berbau busuk telah hilang sepenuhnya dari udara, digantikan oleh aroma harum bunga kemuning yang terbawa angin malam yang sejuk. Di langit, awan-awan hitam perlahan-lahan terurai, mengungkapkan taburan ribuan bintang yang bersinar terang bagaikan berlian di atas tanah desa.

Marno menjatuhkan martil besinya ke tanah, terduduk lelah di atas batu sambil menghela napas panjang penuh kebebasan. Si Mbah melompat ke atas bahunya, menepuk-nepuk pipi Marno dengan lembut.

Sari berdiri di tepi pelataran bukit, menatap ke arah pemukiman Desa Karang Tumpuk di bawah sana. Dari kejauhan, lampu-lampu minyak di rumah-rumah warga mulai menyala satu per satu, menandakan bahwa ancaman racun telah berlalu dan kedamaian telah kembali merengkuh desa mereka.

Sari meremas Kitab Usada Tengger di tangannya, lalu tersenyum menatap langit malam yang indah. Rantai kutukan masa lalu bibinya telah benar-benar putus, dan sebuah babak baru yang penuh cahaya keberkahan telah menanti mereka di esok hari.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!