Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Menjelang senja, cahaya matahari keemasan menyelinap masuk melalui jendela besar kediaman Menteri Pertahanan. Di taman belakang rumah, sebuah meja kecil telah disiapkan di bawah naungan pohon sakura yang mulai meranggas. Aroma teh hangat bercampur dengan semilir angin sore yang tenang.
Yuna duduk dengan anggun sambil memegang cangkir teh di kedua tangannya. Di seberangnya, Tuan Satoshi menikmati waktu senggang yang jarang dia miliki. Untuk sesaat, pria yang dikenal tegas dan ambisius itu tidak tampak seperti Menteri Pertahanan yang disegani banyak orang. Dia hanya terlihat sebagai seorang ayah yang sedang menghabiskan waktu bersama putrinya.
Keheningan nyaman mengisi sela-sela percakapan mereka.
Tuan Satoshi menyesap tehnya sebelum tersenyum tipis.
"Besok kau akan menghadiri pesta ulang tahun Putri Hikari."
Yuna mengangguk pelan.
"Aku ingin bertemu dengannya lagi. Tuan Putri adalah orang yang dermawan. Aku menyukainya sikapnya. Jarang seorang Tuan Putri yang mempunyai sikap seperti itu. Kebanyakan mereka akan sombong karena kedudukannya."
Satoshi memperhatikannya beberapa saat. Di matanya, Yuna sudah tumbuh menjadi wanita yang hampir sempurna. Cantik, cerdas, berbakat, dan dicintai rakyat.
Sebuah kebanggaan yang telah dia bangun selama bertahun-tahun.
Namun justru karena itulah...
Satoshi tidak ingin semua itu berakhir sebagai kebanggaan biasa. Di balik senyumnya, sebuah ambisi perlahan berputar.
Yuna. Suatu hari nanti, dia harus berdiri di tempat yang lebih tinggi dari semua bangsawan itu. Bukan sebagai tamu. Tetapi sebagai seseorang yang mereka hormati dan takuti.
Sementara itu, Yuna sama sekali tidak menyadari pikiran ayahnya. Dia hanya menikmati teh hangat dan langit senja yang perlahan berubah jingga. Andai hidup bisa sesederhana saat-saat seperti ini. Tanpa politik. Tanpa ambisi. Tanpa takdir yang ditentukan orang lain.
Yuna tersenyum tipis.
"Aku sudah menyiapkan hadiah. Sebuah lukisan."
Satoshi tampak tertarik.
"Lukisan seperti apa?"
Yuna menunduk sejenak.
"Seekor burung putih yang berdiri di tepi sangkar yang terbuka."
Satoshi terdiam beberapa saat. Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya.
"Menarik."
"Aku ingin menggambarkan kebebasan."
"Kebebasan?"
Yuna mengangguk.
"Burung itu bisa pergi ke mana saja. Tetapi dia masih ragu untuk terbang."
Satoshi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Menurutmu Tuan Putri akan menyukainya?"
"Mengapa tidak."
Satoshi menatap putrinya cukup lama. Lalu berkata pelan.
"Bagaimana jika kau membuatnya sedikit berbeda?"
Yuna terlihat bingung.
"Berbeda?"
Satoshi berjalan mendekati jendela.
"Misalnya..."
Dia berhenti sejenak.
"Burung itu berada di dalam sangkar emas."
Yuna berkedip.
"Sangkar emas?"
"Burung itu memiliki makanan terbaik. Tempat tinggal terbaik. Tidak kekurangan apa pun."
Satoshi tersenyum tipis.
"Tetapi tetap saja seekor burung di dalam sangkar."
Yuna mulai memahami maksud ayahnya.
"Ayah ingin aku mengubah maknanya?"
"Bukan mengubah."
Satoshi menggeleng.
"Hanya memperjelasnya."
Ruangan menjadi sunyi. Yuna menunduk melihat tangannya sendiri.
"Tuan Putri mungkin akan merasa tersinggung."
Satoshi tertawa kecil.
"Kenapa harus tersinggung?"
"Karena semua orang akan mengerti maksudnya."
"Bukankah semua orang hidup di dalam sangkar mereka masing-masing? tidak ada manusia yang benar-benar bebas, Yuna."
"Belum tentu. Mereka para bangsawan terkadang tidak memikirkan maknanya. Namun, kemewahan lukisanmu yang bercampur emas dan cat berharga yang sulit didapatlah yang mereka akan lihat. Nilainya justru lebih berharga. Realistis saja." lanjut Tuan Satoshi.
Satoshi kembali duduk. Nada suaranya terdengar santai.
"Tidak akan ada kata-kata yang menyerang siapa pun. Tidak ada tuduhan. Tidak ada kritik. Hanya sebuah karya seni."
Yuna tetap diam.
Satoshi lalu menatap putrinya dengan lembut.
"Kadang sebuah lukisan mampu mengatakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan secara langsung."
Yuna tahu ayahnya sedang menginginkan sesuatu. Dan dia juga tahu apa itu. Yuna perlahan menurunkan pandangan.
"Ayah ingin Tuan Putri sebagai burung di dalam sangkar."
Satoshi tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin dia berpikir dirinya merasa kalah."
Jawaban yang tidak menjawab apa pun. Namun justru karena itulah Yuna mengerti. Keheningan kembali memenuhi.
"Oh ya." ucap Tuan Satoshi.
Yuna menoleh.
"Di pesta nanti. Ada orang yang ingin Ayah perkenalkan kepadamu."
Satoshi tersenyum.
Yuna seolah sudah paham dengan siapa yang dimaksud ayahnya. Dia hanya bisa mengiyakan permintaan ayahnya. Rencana-rencana kecil mulai bergerak perlahan. Seperti bidak catur yang baru saja dipindahkan satu langkah.
---
Malam menyelimuti Hutan Terlarang.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan tua yang menjulang seperti bayangan raksasa. Cahaya bulan menembus celah dedaunan dan membentuk pola-pola samar di tanah.
Di sebuah area terbuka yang tersembunyi jauh di dalam hutan, seorang pria tua duduk bersila di atas batu besar.
Master Genjiro.
Matanya terpejam. Seolah sedang bermeditasi. Suara langkah kaki mendekat. Kazura dan Fumiro muncul dari balik pepohonan. Mereka segera berlutut hormat.
"Master."
Genjiro perlahan membuka mata.
"Kalian kembali."
Kazura mengangguk.
"Kami membawa informasi dari istana. Besok malam adalah pesta ulang tahun Putri Hikari."
Master Genjiro tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Fumiro melanjutkan.
"Hampir seluruh bangsawan penting akan hadir. Keluarga kerajaan juga. Termasuk para pemburu elit."
Keheningan singkat muncul. Kazura saling melirik dengan Fumiro. Mereka sebenarnya sudah memperkirakan jawaban yang akan keluar. Perintah. Rencana. Atau mungkin serangan besar.
Namun, Master Genjiro hanya mengambil cangkir tehnya. Menyesapnya pelan. Lalu berkata santai.
"Kalau begitu biarkan mereka berpesta."
Kazura dan Fumiro saling melirik.
"...Master?"
"Biarkan mereka menikmati malam itu."
Fumiro terlihat bingung.
"Tetapi bukankah ini kesempatan yang baik?"
Master Genjiro tersenyum tipis. Kesunyian hutan mendadak terasa lebih dingin.
"Kesempatan baik untuk apa?"
Kazura mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Master Genjiro berdiri perlahan. Jubah hitamnya bergerak diterpa angin malam.
"Untuk membunuh mereka?"
Tidak ada jawaban.
"Untuk membuat mereka panik?"
Masih tidak ada jawaban. Master Genjiro menatap langit. Bulan purnama menggantung tenang di atas sana.
Kazura mengernyit. Mereka tidak mengerti. Master Genjiro terkekeh pelan.
"Terkadang kalian terlalu terburu-buru."
Fumiro menunduk.
"Maafkan kami, Master."
Genjiro menggeleng.
"Kalian masih muda. Karena itulah kalian belum memahami satu hal."
Dia menatap cangkir teh yang dia pegang, lalu berkata lagi,
"Masa-masa tenang adalah sesuatu yang paling berharga."
Kazura terdiam.
Master Genjiro melanjutkan.
"Biarkan mereka tertawa. Biarkan mereka berdansa. Biarkan mereka menikmati anggur terbaik. Biarkan mereka merayakan ulang tahun sang putri."
Senyum tipis muncul di wajah pria tua itu.
"Karena suatu hari nanti..."
"...mereka akan merindukan malam itu."
Hutan mendadak terasa sunyi. Bahkan suara serangga malam seolah ikut menghilang.
Kazura merasakan bulu kuduknya berdiri. Master Genjiro tidak terdengar marah. Tidak terdengar mengancam. Namun justru itulah yang mengerikan.
Seolah kehancuran yang dia bicarakan bukan lagi kemungkinan. Melainkan sesuatu yang sudah pasti terjadi. Master Genjiro memejamkan mata.
"Ada kalanya kematian bukan hukuman terbesar."
Kazura dan Fumiro menahan napas.
"Ada hal yang lebih menyakitkan. Yaitu melihat semua yang kau cintai runtuh perlahan di depan matamu."
Angin malam berembus pelan. Senyuman tipis masih menghiasi wajah Masterl Genjiro.
"Kehancuran akan terasa jauh lebih pahit bagi mereka yang pernah merasakan kebahagiaan."
Untuk pertama kalinya malam itu, Kazura merasakan ketakutan. Bukan terhadap kerajaan. Bukan terhadap para pemburu elit. Melainkan terhadap orang yang berdiri di hadapannya sekarang.
"Kadang aku lupa. Master tidak pernah berbicara tentang kemenangan. Tidak pernah berbicara tentang kekuasaan. Namun setiap kali dia berbicara tentang masa depan... Aku selalu merasa seperti sedang melihat seseorang yang sudah menyaksikan kehancuran dunia lebih dulu. Dan yang paling mengerikan... Master Genjiro tampak sabar menunggu hari itu tiba." batin Kazura.