Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Pertemuan dengan Kakek Idris
Hari Minggu pagi tiba dengan langit Milan yang cerah. Sarah sudah bangun sejak pukul enam. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan: Siapa sebenarnya Kakek Idris? Bagaimana sikapnya? Apakah ia akan menyukaiku?
Ia berdiri di depan cermin, mencoba beberapa pakaian. Akhirnya, ia memilih dress panjang berwarna krem dengan cardigan tipis berwarna cokelat. Penampilannya sederhana namun rapi. Riasan wajahnya tipis, hanya sedikit bedak dan lipstik berwarna natural.
Pukul sembilan kurang sepuluh, bel apartemennya berbunyi. Sarah membuka pintu dan melihat Felix sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja batik yang rapi.
"Selamat pagi, Sar. Siap?" sapa Felix.
"Siap, Fel. Tapi aku agak gugup," jawab Sarah jujur.
Felix tersenyum. "Tenang aja. Kakek Idris itu orangnya tua, tapi hati baik. Bos bilang dia suka ngobrol sama orang baru. Kamu pasti bisa."
Sarah menghela napas, lalu mengikuti Felix turun ke mobil. Felix mengemudi dengan santai, sesekali bercerita tentang Kakek Idris.
"Kakek Idris dulu pengusaha besar di Indonesia. Dia pensiun dan sekarang lebih suka tinggal di Italia karena cuacanya. Tapi dia masih sering ngasih nasihat ke Bos soal bisnis. Kata Bos, Kakek Idris ini orangnya tegas, tapi sangat adil."
"Maksudmu dia galak?" tanya Sarah.
"Nggak galak, tapi disiplin. Dia suka orang yang jujur dan sopan. Kalau kamu jujur, dia pasti suka," jawab Felix.
Mobil melaju sekitar 30 menit, lalu berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya klasik Eropa. Rumah itu dikelilingi pagar besi hitam tinggi, dengan halaman luas yang ditanami pohon cemara dan bunga-bunga warna-warni.
Felix memarkir mobil di depan pintu utama. Saat Sarah turun, ia melihat Samudra sudah berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih lengan panjang tanpa dasi, dengan celana hitam. Ia tersenyum tipis melihat Sarah.
"Selamat pagi, Sarah. Kamu tepat waktu," sapa Samudra.
"Selamat pagi, Pak. Aku agak gugup," jawab Sarah.
"Tidak perlu gugup. Kakek sudah menunggumu di ruang keluarga. Ikuti aku."
Samudra menuntun Sarah masuk ke dalam rumah. Interior rumah itu sangat elegan, dengan perabotan kayu jati berukir dan lukisan-lukisan klasik di dinding. Sarah menatap sekeliling dengan kagum, tapi ia berusaha tidak terlalu mencolok.
Mereka memasuki ruang keluarga. Di sana, di atas sofa kulit berwarna cokelat, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang masih tebal, mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat tua. Kulitnya sawo matang, matanya tajam, dan ada bekas luka kecil di alis kirinya. Pria itu adalah Kakek Idris.
Kakek Idris menatap Sarah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sarah merasakan tatapan itu seperti sinar X-ray yang menembus hatinya. Ia menunduk sopan.
"Selamat pagi, Kakek. Saya Sarah," ucap Sarah.
Kakek Idris tidak langsung menjawab. Ia menatap Sarah beberapa detik, lalu tersenyum tipis. Senyuman itu tipis, tapi tidak tampak menakutkan.
"Silakan duduk, Sarah," ujar Kakek Idris, suaranya berat dan tegas.
Sarah duduk di kursi di hadapan Kakek Idris. Samudra duduk di sebelah Sarah, sedangkan Felix berdiri di dekat pintu, menjaga jarak.
"Jadi, kamu Sarah. Wanita yang mengandung anak cucuku," kata Kakek Idris.
Sarah mengangguk. "Iya, Kakek. Saya Sarah."
Kakek Idris menatap Samudra sekilas, lalu kembali menatap Sarah. "Samudra bilang kamu adalah ibu pengganti. Aku tidak tahu detail kontrak kalian, dan aku tidak perlu tahu. Yang aku pedulikan, satu: apakah kamu sehat? Dan dua: apakah kamu bisa menjaga anak ini dengan baik?"
Sarah menelan ludah. "Saya sehat, Kakek. Saya rutin kontrol kehamilan. Dan saya akan menjaga anak ini sebaik mungkin."
Kakek Idris mengangguk pelan. "Bagus. Aku suka jawaban yang langsung. Jangan banyak basa-busi."
Suasana menjadi sedikit lebih santai. Kakek Idris kemudian bertanya tentang kesehatan Sarah, tentang pola makannya, dan tentang bagaimana ia menghabiskan waktu. Sarah menjawab dengan jujur dan tidak berlebihan. Sesekali, Kakek Idris tersenyum mendengar jawaban Sarah yang lugas.
Setelah beberapa saat, Kakek Idris berdiri. "Sudah waktunya makan malam. Aku sudah pesan makanan dari koki kesukaanku. Mari kita makan bersama."
Mereka pun pindah ke ruang makan. Meja makan yang panjang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan: sup, pasta, daging panggang, dan salad. Felix ikut duduk bersama mereka, karena Kakek Idris memintanya.
Makan malam berlangsung dengan hikmat. Kakek Idris sesekali menceritakan kisah masa mudanya di Indonesia, tentang bagaimana ia membangun perusahaan dari nol. Samudra mendengarkan dengan hormat, sesekali menimpali. Sarah juga mendengarkan, merasa kagum dengan perjuangan Kakek Idris.
Namun, Sarah merasa sangat canggung. Ia tidak tahu di mana harus meletakkan tangannya, bagaimana cara memotong daging yang benar, atau kapan harus bicara. Ia hanya mengikuti alur pembicaraan, dan sesekali tersenyum sopan.
Setelah makan malam selesai, Kakek Idris menatap Sarah. "Sarah, aku ingin berbicara denganmu berdua saja. Mari kita minum teh di taman belakang."
Sarah menatap Samudra, mencari isyarat. Samudra mengangguk pelan, memberikan izin. Sarah pun mengikuti Kakek Idris ke taman belakang.
Taman belakang rumah itu sangat luas. Ada sebuah kolam ikan koi, dan beberapa kursi kayu di dekat air mancur. Kakek Idris duduk di salah satu kursi, menyilangkan kakinya. Sarah duduk di kursi di hadapannya.
Seorang pelayan menyodorkan dua cangkir teh hijau. Kakek Idris mengambil cangkirnya, menyesap perlahan, lalu menatap Sarah dengan tatapan yang dingin dan datar.
"Sarah, aku tidak suka berbelit-belit. Jadi aku akan bertanya langsung," ujar Kakek Idris.
Sarah menegang. "Silakan, Kakek."
"Kamu hanya ibu pengganti, kan? Aku tahu Samudra membayarmu untuk mengandung anak ini. Dan saat anak ini lahir, kamu akan pergi," kata Kakek Idris, suaranya datar seperti es.
Sarah terkejut. "Kakek... tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Aku tidak buta. Samudra adalah cucuku. Dia tidak akan membawa wanita asing ke keluarganya tanpa alasan yang jelas," jawab Kakek Idris. "Yang ingin aku tanyakan: apakah kamu berniat untuk benar-benar pergi setelah anak ini lahir?"
Sarah menunduk. Tangannya sedikit gemetar memegang cangkir teh. "Aku... aku tidak tahu, Kakek. Awalnya aku menganggap ini hanya kontrak. Tapi sekarang..."
"Tapi sekarang?" tanya Kakek Idris.
Sarah mengangkat kepalanya, menatap mata Kakek Idris. "Sekarang... aku mulai peduli. Pada janin ini. Dan pada..." Sarah tidak melanjutkan kalimatnya.
Kakek Idris tersenyum tipis. Senyuman itu dingin, tapi ada sedikit kehangatan di baliknya. "Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Tapi aku akan memberimu satu nasihat. Jangan biarkan uang atau kontrak mengikat hatimu. Jika kamu sudah mulai peduli, jangan berpura-pura tidak. Itu hanya akan menyakitimu di kemudian hari."
Sarah menatap Kakek Idris, tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Kakek Idris seperti palu yang menghantam hatinya. Ia memang sudah mulai peduli. Pada janin. Pada Samudra. Tapi ia takut mengakuinya.
Setelah beberapa saat, Samudra datang ke taman. "Kakek, Sarah, sudah cukup? Malam semakin dingin."
Kakek Idris berdiri. "Ya, sudah. Sarah, terima kasih sudah datang. Kamu boleh pulang sekarang. Besok, kalau kamu mau, kamu bisa datang lagi."
Sarah mengangguk, merasa lega tapi juga bingung. Ia berpamitan dengan Kakek Idris, lalu berjalan keluar bersama Samudra.
Di dalam mobil, Felix mengemudi. Samudra dan Sarah duduk di belakang. Sarah diam, pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata Kakek Idris.
"Kakek bilang apa?" tanya Samudra.
Sarah menatap Samudra. "Dia tahu tentang kontrak. Dan dia bilang... jangan biarkan uang atau kontrak mengikat hatiku."
Samudra menatap Sarah, matanya dalam. "Lalu... bagaimana hatimu sekarang?"
Sarah tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menatap ke luar jendela. Ada banyak hal yang ia ingin katakan, tapi ia tidak berani mengatakannya. Tidak sekarang.
Mobil melaju meninggalkan rumah Kakek Idris. Dan di dalam hati Sarah, ada satu pertanyaan yang terus bergema: Apakah aku bisa pergi setelah anak ini lahir?