Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Jeritan di Balik Pintu Besi dan Sisa Prajurit Kekaisaran
Aula utama Kekaisaran Aethelgard perlahan kembali diselimuti keheningan yang mencekam setelah sisa-sisa entitas iblis ranah kelam hancur menjadi debu hitam. Tidak ada lagi suara geraman buas ataupun derap cakar tajam yang menggores lantai marmer peninggalan masa lalu. Yang terdengar kini hanyalah deru angin malam yang menyusup masuk melalui celah-celah pilar batu raksasa yang retak, membawa serta sisa-sisa bau belerang yang perlahan menipis di udara.
Di hadapan singgasana batu jati berukir naga berkepala tiga yang dipenuhi jaring laba-laba, Lin Fan berdiri tegak tanpa menunjukkan eksponi kelelahan sedikit pun. Urat-urat emas di lengan kirinya berangsur-angsur meredup, kembali menyatu ke dalam kulit di bawah kendali mutlak sistem. Manik matanya yang sempat memancarkan cahaya keemasan terang kini kembali berwarana hitam pekat, namun menyimpan ketajaman pandangan yang sanggup menembus kegelapan paling pekat sekalipun.
Pemuda itu memalingkan wajahnya dari singgasana kosong tersebut. Perhatiannya kini sepenuhnya terpusat pada sebuah pintu besi tua berukuran raksasa yang terletak tepat di balik undakan singgasana. Pintu itu digembok dengan rantai besi tebal berlapis jaring mantra pelindung yang telah berkarat dan melemah.
Sfx: Bzzzzzt...
[Peringatan Sistem: Deteksi Kehidupan Organik Lemah]
[Jumlah Subjek: 14 Orang Manusia (Kondisi Fisik: Malnutrisi Berat, Trauma Mental Tingkat Tinggi)]
[Sumber Sinyal: Sektor Ruang Bawah Tanah B-1 (Bekas Penjara Pengawal Kerajaan)]
Lin Fan melangkah mendekati pintu besi tersebut. Setiap langkah kakinya menimbulkan suara pantulan gema yang berat di dalam aula yang luas. Begitu ia berada dalam jarak satu meter dari pintu, getaran ketakutan yang sangat halus mulai terasa merambat melalui getaran udara di sekitarnya.
Di balik pintu besi tebal itu, suara napas yang tercekat dan bisikan-bisikan tertahan terdengar samar-samar.
"Apakah... apakah iblis-iblis itu sudah pergi?" suara parau seorang pria paruh baya terdengar bergetar hebat dari dalam ruang bawah tanah, disusul oleh suara isak tangis tertahan dari seseorang yang berusaha ditenangkan. "Suara ledakan tadi... jangan-jangan ada monster baru yang datang untuk memangsa kita..."
Lin Fan tidak segera menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu menyentuhkan ujung jari telunjuknya yang dilapisi pendaran tipis energi keemasan ke permukaan gembok besi yang berkarat tebal.
Sfx: KITSCH... CLANG!
Tanpa menggunakan kekuatan fisik yang berlebihan, mantra pengunci kuno yang melapisi rantai tersebut hancur lebur seketika. Rantai besi tebal putus menjadi beberapa bagian dan bergemerincing jatuh menghantam lantai batu. Lin Fan mendorong daun pintu besi yang berat itu dengan satu dorongan ringan.
Sfx: CRAAAAAK...
Pintu besi terbuka secara perlahan, memunculkan kepulan debu tebal yang langsung disibak oleh hembusan angin tipis dari luar. Cahaya bulan yang masuk melalui atap aula yang runtuh menyinari bagian dalam ruangan bawah tanah yang gelap dan lembap.
Di dalam ruangan berukuran sempit itu, belasan orang manusia dengan pakaian zirah kekaisaran yang sudah robek-robek dan berlumuran darah kering tampak meringkuk di sudut ruangan. Mereka saling berpelukan, menutupi wajah dengan tangan kotor mereka, seolah bersiap menerima kematian yang sudah lama mereka nantikan.
"Jangan bunuh kami... kumohon..." rintih seorang pria berambut putih acak-acakan yang mengenakan sisa seragam panglima. Ia berdiri dengan gemetar di depan rekan-rekannya, mencoba melindungi mereka meskipun tubuhnya sendiri terlihat sangat kurus dan dipenuhi luka goresan pedang. Namanya Kapten Valen, pengawal pribadi terakhir yang setia menjaga sisa-sisa inti istana sebelum Kaisar melarikan diri entah ke mana.
Lin Fan menatap kelompok manusia yang malang itu dengan tatapan tenang. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu berucap dengan nada suara yang datar namun tegas.
"Jika aku berniat membunuh kalian, pintu itu tidak akan kubuka dari luar," kata Lin Fan pelan. "Bangunlah. Tempat ini tidak lagi dihuni oleh monster-monster yang kalian takuti."
Mendengar suara manusia alih-alih raungan iblis, Kapten Valen dan orang-orang di belakangnya perlahan-lahan mengangkat kepala mereka. Mata mereka yang cekung karena kelaparan menatap sosok pemuda asing yang berdiri di ambang pintu dengan balutan pakaian sederhana namun memancarkan aura wibawa yang luar biasa besar.
"Manusia...? Kamu... manusia?" bisik Kapten Valen tidak percaya. Ia melihat ke arah tumpukan abu hitam di kejauhan aula utama—sisa dari ratusan iblis yang baru saja dibantai habis oleh Lin Fan dalam waktu kurang dari sepuluh menit. "Apakah... apakah kamu yang menghabisi gerombolan Iblis Ranah Kelam di luar sana?"
"Bukan urusan kalian siapa yang menghabisi mereka," jawab Lin Fan dingin. Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan bawah tanah yang suram itu. "Yang lebih penting, bagaimana kalian bisa bertahan hidup di tempat yang telah ditinggalkan oleh penguasa kalian sendiri?"
Pertanyaan itu membuat suasana di dalam ruangan bawah tanah mendadak sunyi senyap. Isak tangis yang tadi sempat mereda kembali terdengar, kali ini bercampur dengan rasa kepedihan dan kebencian yang mendalam.
Kapten Valen perlahan-lahan berlutut di atas lantai batu yang dingin, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh tanah.
"Kami adalah sisa-sisa Pasukan Pengawal Inti Kekaisaran Aethelgard," ucap Kapten Valen dengan suara parau yang menahan tangis. "Dua tahun lalu... ketika gerbang dimensi terbuka dan bangsa iblis menyerbu masuk dari jurang selatan, Yang Mulia Kaisar alih-alih memimpin perlawanan, justru memilih untuk menyelamatkan diri bersama para pejabat tinggi melalui jalur pelarian rahasia. Mereka meninggalkan kami, meninggalkan jutaan rakyat di kota luar, dan menjual inti energi pertahanan istana demi membeli keselamatan pribadi mereka sendiri."
Valen mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara air mata mengalir melewati pipinya yang kotor oleh debu.
"Kami terjebak di sini... bersembunyi dari hari ke hari, menyaksikan rekan-rekan kami satu per satu mati dimangsa oleh iblis-iblis itu, atau mati kelaparan di dalam kegelapan ini. Kami bukan lagi prajurit yang gagah berani... kami hanyalah sekelompok pengecut yang menunggu ajal."
Lin Fan mendengarkan penjelasan itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Di dalam batinnya, sistem memberikan analisis secara instan mengenai kebenaran informasi tersebut.
[Analisis Validasi Pengakuan Subjek: 99.8% Akurat]
[Kondisi Mental Subjek: Kehilangan Harapan / Membutuhkan Figur Otoritas Baru]
[Rekomendasi Strategis: Menggunakan Kelompok Ini Sebagai Titik Awal Restorasi Kekaisaran]
Lin Fan menarik napas perlahan, lalu melangkah masuk ke dalam ruang bawah tanah tersebut. Ia berhenti tepat di depan Kapten Valen yang masih berlutut di tanah.
"Pengecut atau bukan, itu adalah masa lalu," kata Lin Fan datar. Ia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Kapten Valen. "Mulai detik ini, Kekaisaran Aethelgard tidak lagi memiliki kaisar yang memimpin mereka. Dan tempat ini... telah beralih kepemilikan di bawah wilayah kuasa Pagar Iblisku."
Kapten Valen mengangkat kepalanya, menatap uluran tangan Lin Fan dengan pandangan terbelalak. Ada kilatan cahaya keemasan yang berputar di dalam bola mata pemuda itu, memancarkan daya tarik ghaib yang memaksa jiwa siapa pun untuk tunduk dan percaya.
"Pagar... Iblis?" gumam Valen kebingungan.
"Ya," jawab Lin Fan singkat. "Berdiri dan keluarlah dari tempat ini. Kalian butuh makanan, pemulihan, dan tempat perlindungan yang layak. Dan aku... butuh orang-orang yang mengerti seluk-beluk struktur istana ini untuk membantuku membersihkan sisa-sisa kotoran yang tertinggal."
Kapten Valen terdiam sejenak, memandangi tangan Lin Fan yang kokoh dan bersih dari keraguan. Secercah harapan yang telah lama padam di dalam dadanya perlahan-lahan mulai menyala kembali—bukan lagi harapan akan kembalinya sang kaisar pengkhianat, melainkan harapan baru di bawah naungan tangan seorang pemuda misterius yang baru saja menaklukkan ratusan iblis seorang diri.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kapten Valen meraih uluran tangan Lin Fan dan berdiri tegak untuk pertama kalinya setelah sekian lama terjebak di dalam kegelapan.
"Baiklah..." kata Valen dengan suara yang kini jauh lebih mantap. "Atas nama sisa prajurit yang masih bernapas di tempat ini, kami menyerahkan kesetiaan kami kepadamu... Tuan Lin Fan."
Sfx: Bzzzzzt!
[Pemberitahuan Sistem: Akuisisi Pengikut Setia Pertama Berhasil]
[Membuka Fitur Tambahan: 'Manajemen Sumber Daya Manusia & Alokasi Wilayah Sektor']
[Poin Kepercayaan Wilayah: +5.000 Poin]
Lin Fan mengangguk kecil. Ia membalikkan badan dan berjalan keluar menuju aula utama yang kini diterangi oleh cahaya bulan purnama yang terang. Di belakangnya, Kapten Valen memimpin belasan prajurit yang tersisa untuk melangkah keluar dari kegelapan bawah tanah, menatap lembaran baru sejarah yang baru saja dimulai di atas reruntuhan Kekaisaran Aethelgard.
Namun, Lin Fan tahu betul bahwa pembersihan aula utama dan penyelamatan segelintir prajurit ini hanyalah permulaan kecil. Di luar dinding istana yang hancur, jutaan rakyat di kota kekaisaran masih terlantar, dan para penguasa iblis wilayah luar pasti akan segera menyadari kejatuhan pasukan pengintai mereka di aula ini.
Perang yang sesungguhnya untuk merebut dan membangun kembali kekaisaran runtuh ini baru saja akan diuji.