NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Gladys menatap sekeliling kamar utama yang kini menjadi tempatnya tinggal.

Langkah kakinya mendadak terhenti di depan meja rias.

Di sana, sebuah foto berbingkai indah yang menampilkan sosok almarhumah Dewi masih terpampang jelas, seolah terus mengawasinya dan mengingatkan Gladys akan posisinya yang hanyalah sebuah bayangan.

Raka yang berjalan tepat di belakang Gladys membawa koper langsung menyadari arah pandangan istrinya. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya.

"A-aku bantu," ucap Raka gugup.

Dengan perlahan, ia menurunkan foto Dewi dari atas meja rias, lalu menyimpannya dengan cermat ke dalam laci, bermaksud memberikan ruang sepenuhnya bagi Gladys tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu.

Gladys hanya menganggukkan kepalanya pelan, menatap datar perlakuan Raka yang kini mendadak manis dan perhatian.

Sementara itu, di tempat lain, aroma harum telur dadar yang sedang digoreng memenuhi dapur apartemen Praduta.

Pria itu mengaduk masakan di atas wajan dengan tenang, menikmati ketenangan pagi setelah rencananya berjalan mulus.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah keheningan.

Praduta mematikan kompor, menyapu tangannya dengan serbet, lalu melangkah santai untuk membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, sosok Nayla berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan tatapan mata penuh kecemasan sekaligus amarah.

"Masuklah," ucap Praduta datar tanpa terkejut sedikit pun.

Nayla melangkah masuk dan langsung berbalik menghadap Praduta sebelum pintu sepenuhnya tertutup rapat.

"Pra, apa yang sebenarnya kamu rencanakan?!" cerceca Nayla dengan suara bergetar.

"Kenapa, kamu bisa bersama Gladys semalam? Bukankah kamu sudah tahu kalau Gladys itu istri dari Raka, kakak tirimu sendiri?!"

Praduta menyunggingkan senyum sinis. Sorot matanya berubah menjadi begitu dingin dan penuh kebencian.

"Kakak tiri?" kekeh Praduta hampa.

"Anak dari pria yang tidak pernah mengakui keberadaanku? Pria yang membiarkan ibuku membuangku ke jalanan hingga semua orang mencapku sebagai anak haram?!"

Praduta mengepalkan tangannya kuat-kuat, meluapkan amarah yang selama puluhan tahun terkubur di dadanya.

"Papa Devandra dan seluruh keluarganya harus membayar setiap rasa sakit dan penderitaan yang aku alami! Dan Gladys, dia adalah kunci terhebatku untuk menghancurkan Raka dari dalam."

Mendengar letupan dendam yang begitu membara dari pria di depannya, air mata Nayla menetes.

Ia melangkah mendekat, lalu memberanikan diri menggenggam kedua tangan Praduta yang mengepal kaku.

"Hilangkan rasa dendam kamu, Pra." bisik Nayla lirih, menatap dalam-dalam ke iris mata Praduta.

"Jangan hancurkan hidupmu hanya demi membalas dendam pada mereka. Aku mencintaimu, Pra."

Praduta seketika terdiam. Pengakuan jujur yang meluncur tulus dari bibir Nayla membuat keheningan membungkus ruangan itu, membekukan kemarahan Praduta untuk sejenak.

Praduta menatap Nayla yang berdiri di hadapannya dengan mata berembun.

Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti keheningan yang berat.

Genggaman tangan Nayla terasa hangat di jemarinya yang masih mengepal kaku, namun dinginnya dendam di dada Praduta terlalu pekat untuk diluluhkan begitu saja.

Praduta perlahan menarik tangannya dari genggaman Nayla.

Ia mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah jendela apartemen dengan rahang yang mengeras.

"Cinta tidak bisa menghapus masa laluku, Nayla," suara Praduta terdengar dingin dan datar.

"Kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dibuang, dicap anak haram, dan hidup tanpa dianggap oleh ayah kandungmu sendiri. Sementara Rak, dia mendapatkan segalanya. Kasih sayang, harta, dan kehormatan keluarga Devandra."

Nayla menggelengkan kepalanya panik, air matanya menetes makin deras.

"Tapi Gladys tidak bersalah dalam hal ini, Pra! Jangan manfaatkan dia! Kamu hanya akan menyakiti wanita yang tidak tahu apa-apa!"

Praduta tersenyum sinis, senyuman yang begitu asing bagi Nayla.

"Justru karena Gladys tidak bersalah, Raka akan makin hancur saat tahu istrinya berpaling kepadaku. Lagipula, Gladys sendiri yang mencari kenyamanan itu padaku. Aku hanya memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh suaminya."

"Pra, tolong," bisik Nayla lirih, suaranya terdengar putus asa.

"Kalau kamu terus seperti ini, kamu sendiri yang akan hancur pada akhirnya."

Praduta menoleh kembali pada Nayla, menatapnya dengan tatapan tajam tanpa keraguan.

"Terima kasih atas perasaanmu, Nayla. Tapi jangan pernah campuri urusanku dengan keluarga Devandra. Kalau kamu tidak bisa mendukungku, cukup diam dan lihat bagaimana aku menghancurkan mereka satu per satu."

Nayla menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan isak tangis yang pecah di dadanya.

Rasa sakit melihat pria yang dicintainya begitu buta oleh dendam membuat hatinya teriris.

Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Nayla berbalik dan berlari keluar meninggalkan apartemen Praduta, membiarkan pintu membentur dinding dengan suara cukup keras.

Praduta hanya menatap pintu yang terbuka itu dengan pandangan dingin, lalu kembali melangkah ke dapur untuk mematikan kompornya yang sempat terabaikan.

Sementara itu, di kediaman Devandra, aroma kesegaran memenuhi kamar utama saat Gladys selesai membersihkan diri.

Pikirannya masih dipenuhi kepedihan, tetapi kehidupan tetap harus berjalan.

Ia melangkah turun ke dapur, berusaha menyibukkan diri dengan menyiapkan sarapan simpel berupa roti panggang, telur, dan cangkir kopi hangat untuk Papa Devandra serta Raka.

Saat semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja makan, Gladys menyapa mertua dan suaminya dengan canggung.

Mereka makan dalam keheningan yang cukup canggung.

Begitu menyelesaikan sarapannya, Gladys merapikan piringnya dan berdiri.

"Pa, Mas, aku pamit berangkat ke kafe dulu," ucap Gladys pelan, berniat melangkah pergi sendirian seperti biasa.

Namun, belum sempat Gladys melangkah jauh, Raka menghentikan usahanya dengan menyapu mulutnya menggunakan serbet dan ikut berdiri dari kursi.

"Aku antar, Gladys. Aku juga ingin mampir ke kafemu," ujar Raka dengan suara lembut namun tegas.

Deg!

Gladys terkejut hingga berdiri mematung di tempatnya. Mata indahnya berkedip beberapa kali, tidak menyangka Raka akan menawarkan hal seperti itu—pria yang dahulu sama sekali tidak pernah peduli pada keberadaan kafenya, bahkan pernah memandang sebelah mata usahanya.

Papa Devandra yang memperhatikan dari meja makan memberikan anggukan menyetujui, seolah memberi isyarat agar Gladys menerima iktikad baik suaminya.

Gladys menelan salivanya yang terasa pahit. Menguasai keterkejutannya, ia akhirnya menunduk pelan.

"I-iya, Mas.." jawab Gladys terbata, mencoba menetralkan rasa gugup dan kecanggungan luar biasa yang melingkupi dadanya.

Gladys membuka pintu mobil dan mendudukkan dirinya di kursi samping kemudi.

Aroma harum parfum maskulin milik Raka yang sangat familier seketika memenuhi indra penciumannya, menghadirkan nostalgia getir yang membuat dadanya terasa agak sesak.

Gladys memilih memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah kaca depan.

Saat Gladys hendak meraih sabuk pengaman, gerakan tangannya terhenti.

Raka mendadak memajukan tubuhnya sangat dekat.

Jarak mereka yang begitu rapat membuat Gladys tertahan breath-less, tubuhnya menegang seketika.

Namun, bukannya melakukan hal lain, Raka hanya mengulurkan tangannya melintasi dada Gladys untuk meraih tali sabuk pengaman, lalu menguncinya pada slot di samping kursi dengan bunyi klik yang halus.

Sebelum menarik tubuhnya kembali, mata Raka sempat menatap dalam ke iris mata Gladys, menyalurkan rasa penyesalan dan kelembutan yang sangat asing bagi Gladys.

"Ayo kita berangkat," ucap Raka pelan dengan senyum tipis yang dipaksakan agar tidak membuat istrinya makin canggung.

Raka kembali ke posisi kemudinya, menyalakan mesin, lalu perlahan melajukan mobil sedannya membelah jalanan pagi kota yang mulai padat menuju DeGla Cafe.

Di sepanjang perjalanan, keheningan melingkupi mereka—sebuah keheningan yang sarat akan kecanggungan dan jarak perasaan yang masih membentang sangat jauh.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!