Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Rabu, 26 Oktober 2016 — Pukul 06.12
Arthur Sterling terbangun ketika langit di luar jendelanya masih berwarna kelabu.
Selama beberapa detik, ia hanya berbaring menatap langit-langit apartemen. Tubuhnya masih terasa lelah akibat tidur yang kurang nyenyak, tetapi pikirannya sudah terjaga sepenuhnya.
Hari ini berbeda.
Dalam ingatan yang dibawanya dari kehidupan sebelumnya, akhir Oktober 2016 merupakan periode penting bagi Aurelia Therapeutics. Perusahaan bioteknologi kecil itu akan mengumumkan hasil uji klinis tahap akhir untuk salah satu kandidat obat utamanya. Hasil yang menggembirakan akan mengubah cara investor memandang masa depannya.
Namun, Arthur tidak mengingat setiap detail dengan sempurna.
Ia tidak dapat memastikan jam pengumuman, susunan kalimat dalam siaran pers, atau reaksi pasar pada menit-menit pertama setelah berita dirilis. Ia bahkan tidak sepenuhnya yakin apakah tanggal yang diingatnya merupakan tanggal pengumuman pertama kali dipublikasikan atau hari ketika kabar tersebut mulai mendominasi pemberitaan keuangan.
Karena itulah, ia tidak langsung membuka akun investasinya.
Ia bangkit, mandi, membuat kopi, lalu duduk di meja kecil dekat jendela. Di hadapannya terdapat buku catatan hitam yang sudah dipenuhi analisis mengenai Aurelia.
Arthur membuka halaman terakhir.
Jangan menjual kepastian ketika yang dimiliki hanya kemungkinan.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian, ia membuka laptop.
Halaman informasi pasar mulai dimuat. Setelah beberapa detik, daftar saham muncul di layar. Arthur mengetik nama Aurelia Therapeutics pada kolom pencarian.
Tidak ada pengumuman baru.
Harga saham perusahaan itu hanya bergerak sedikit dibandingkan penutupan sebelumnya. Volume perdagangan awal juga belum memberikan petunjuk yang berarti.
Arthur mengembuskan napas perlahan.
Ia belum bisa menyimpulkan apa pun.
Ia memeriksa informasi resmi perusahaan, halaman hubungan investor, serta pemberitaan bisnis yang tersedia. Tidak ada rilis hasil uji klinis. Tidak ada pengumuman regulator. Tidak ada kabar yang secara langsung mengubah dasar analisisnya.
Arthur menutup beberapa tab, lalu membuka dokumen investasinya.
Posisi opsi beli yang dimilikinya masih menunjukkan keuntungan yang belum direalisasikan. Bagi orang lain, angka itu mungkin terlihat menjanjikan. Namun, Arthur memahami bahwa nilai opsi tidak hanya dipengaruhi oleh harga saham, melainkan juga waktu yang tersisa, volatilitas, dan faktor-faktor lain.
Jika ia menjual sekarang, ia mungkin memperoleh keuntungan lebih kecil daripada yang diharapkan.
Jika ia menunggu, ia berpotensi memperoleh lebih banyak.
Atau kehilangan hampir semuanya.
Arthur menatap saldo rekeningnya yang masih sangat kecil.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mengambil keputusan dengan mempertaruhkan uang yang nilainya cukup untuk membeli gedung pencakar langit. Sekarang, sebagian besar modal investasinya terkunci dalam satu posisi berisiko tinggi.
Ia tidak bangga dengan kenyataan itu.
Ia tahu bahwa dirinya telah mengambil risiko besar karena memiliki keyakinan terhadap masa depan. Namun, ia juga menyadari bahwa keyakinan bukan alasan untuk mengabaikan konsekuensi.
Arthur menuliskan satu catatan baru.
Jika tesis investasi benar, tetap evaluasi harga. Jika tesis salah, jangan mencari alasan untuk bertahan.
Setelah itu, ia menutup laptop dan bersiap pergi ke kampus.
Hari ini, ia masih memiliki kelas.
Dunia tidak akan berhenti hanya karena ia menunggu sebuah pengumuman.
Pukul 09.15, Arthur duduk di ruang kuliah bersama puluhan mahasiswa lainnya.
Profesor William Harris sedang membahas bagaimana ekspektasi memengaruhi harga aset. Di papan tulis, sang profesor menggambar dua kurva sederhana yang menunjukkan perubahan harga sebelum dan sesudah sebuah informasi diumumkan.
"Bayangkan sebuah perusahaan akan merilis hasil penelitian penting," kata Harris. "Sebagian investor yakin hasilnya akan positif. Mereka membeli saham lebih awal. Harga mulai naik bahkan sebelum perusahaan mengumumkan apa pun."
Ia berbalik menghadap kelas.
"Ketika hasil positif akhirnya diumumkan, apa yang terjadi pada harga?"
Seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan.
"Harganya naik lebih tinggi, Profesor. Karena ketidakpastian sudah hilang."
Harris mengangguk.
"Itu mungkin terjadi. Tetapi apakah selalu demikian?"
Mahasiswa tersebut terdiam.
Profesor Harris melanjutkan, "Bagaimana jika harga sudah naik terlalu tinggi sebelum pengumuman? Bagaimana jika hasilnya positif, tetapi tidak sebaik yang diharapkan investor? Atau bagaimana jika banyak investor membeli saham hanya untuk menjualnya segera setelah berita keluar?"
Arthur mendengarkan dengan saksama.
Ia tahu arah pembahasan ini, tetapi mendengar teori tersebut di ruang kuliah tetap memiliki nilai. Pengetahuan dari kehidupan sebelumnya memberinya gambaran mengenai peristiwa yang akan terjadi. Pendidikan yang ia jalani sekarang seharusnya membantunya memahami alasan di balik keputusan yang diambilnya.
"Mr. Sterling," panggil Profesor Harris tiba-tiba.
Arthur mengangkat kepala.
"Jika Anda memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa hasil penelitian sebuah perusahaan akan positif, apakah Anda akan membeli sahamnya tepat sebelum pengumuman?"
Beberapa mahasiswa menoleh kepadanya.
Arthur berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Tidak otomatis, Profesor. Saya akan mempertimbangkan apakah kemungkinan hasil positif sudah tercermin dalam harga, berapa besar potensi kenaikannya dibandingkan risiko penurunan, serta apakah instrumen yang digunakan sesuai dengan toleransi risiko saya."
"Bagaimana jika Anda memiliki keyakinan yang sangat tinggi?"
"Keyakinan terhadap hasil penelitian tidak sama dengan kepastian mengenai keuntungan investasi. Bahkan jika hasilnya positif, harga bisa turun apabila pasar sudah memperhitungkan hasil yang lebih baik."
Profesor Harris tersenyum tipis.
"Jawaban yang baik. Banyak investor mengira bahwa memprediksi sebuah peristiwa dengan benar berarti mereka pasti menghasilkan uang. Padahal, keputusan investasi memiliki lebih banyak variabel."
Arthur menundukkan kepala, mencatat beberapa poin di buku kuliahnya.
Ia tidak merasa bangga karena mampu menjawab pertanyaan tersebut. Justru, ia merasa sedang diingatkan akan sesuatu yang mudah terlupakan ketika seseorang mengetahui lebih banyak daripada orang lain.
Ia mungkin tahu bahwa Aurelia akan mengumumkan hasil yang menggembirakan.
Namun, pasar tidak peduli pada apa yang ia ketahui secara pribadi.
Pasar hanya bereaksi terhadap informasi, ekspektasi, dan keputusan para pelakunya.
Dan Arthur harus tetap bermain berdasarkan kenyataan itu.
Saat istirahat siang, Arthur menemukan Clara duduk di bangku dekat taman kampus.
Gadis itu sedang membaca sebuah buku sambil memegang secangkir teh hangat. Ketika melihat Arthur mendekat, ia menutup bukunya dan tersenyum.
"Kelas Profesor Harris selesai?"
Arthur duduk di sampingnya.
"Baru saja."
"Bagaimana?"
"Kami membahas bagaimana harga bergerak ketika sebuah informasi diumumkan."
Clara menatapnya dengan sedikit rasa ingin tahu.
"Kedengarannya menarik."
"Lebih menarik daripada yang kukira."
Arthur memandang halaman kampus yang mulai dipenuhi mahasiswa. Ia ingin membicarakan hal lain, tetapi pikirannya masih sesekali kembali kepada Aurelia.
Clara tampaknya menyadari bahwa perhatian Arthur tidak sepenuhnya berada di sana.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?"
Arthur menoleh.
"Sedikit."
"Masalah bisnis?"
"Sebagian."
Clara mengangguk, tidak langsung mendesaknya.
Beberapa saat kemudian, ia bertanya, "Bagaimana dengan toko milik Peter? Apakah kalian sudah menemukan masalahnya?"
"Kami baru mulai mengumpulkan data. Penjualan sore hari tampaknya menjadi persoalan utama, tetapi kami belum tahu penyebab pastinya."
"Setidaknya kalian sudah punya arah."
"Ya. Kami mencoba tidak terburu-buru memberikan solusi."
Clara tersenyum.
"Itu terdengar seperti sesuatu yang akan kau katakan."
Arthur tertawa pelan.
"Apakah itu pujian?"
"Aku belum memutuskan."
Mereka tertawa bersama.
Untuk beberapa menit, Arthur berhasil melupakan layar harga saham, kontrak opsi, dan pengumuman yang belum datang.
Clara kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan selembar kertas.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Arthur menerima kertas tersebut.
Itu adalah ringkasan sederhana mengenai hasil uji coba tabel arus kas Samuel. Clara telah menambahkan beberapa catatan berdasarkan informasi yang diberikan pemilik restoran tersebut. Meskipun belum cukup untuk menarik kesimpulan besar, catatan itu menunjukkan bahwa pencatatan pengeluaran harian membantu Samuel menyadari beberapa pembelian bahan makanan yang terlalu sering dilakukan.
"Ini bagus," kata Arthur.
"Aku belum tahu apakah itu akan menghemat banyak uang. Samuel baru mencatat selama beberapa hari."
"Justru itu. Kita tidak perlu membuat klaim yang belum bisa dibuktikan."
Clara mengangguk.
"Aku senang dia benar-benar menggunakannya. Awalnya aku khawatir tabelnya terlalu sederhana."
"Kadang-kadang, sesuatu yang sederhana lebih berguna daripada sesuatu yang rumit tetapi tidak pernah dipakai."
Clara menatapnya sejenak.
"Kau tahu, Arthur, aku mulai berpikir bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang mendapatkan pelanggan."
Arthur mengembalikan kertas itu.
"Menurutmu, tentang apa?"
"Tentang membuat orang merasa bahwa waktu dan uang mereka tidak terbuang sia-sia."
Arthur terdiam.
Jawaban itu sederhana, tetapi menyentuh sesuatu yang sangat ia pahami.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia membangun kerajaan bisnis yang menghasilkan keuntungan luar biasa. Ia pernah menganggap angka pertumbuhan dan nilai perusahaan sebagai ukuran utama keberhasilan. Namun, ia juga pernah menyaksikan bagaimana keputusan yang tampak menguntungkan di atas kertas dapat merusak kehidupan orang-orang yang tidak pernah terlihat dalam laporan keuangan.
"Kupikir kau benar," jawabnya akhirnya.
Clara tersenyum, lalu memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam tas.
Mereka melanjutkan percakapan tentang kuliah, tugas yang harus diselesaikan, dan rencana akhir pekan. Tidak ada pengakuan cinta atau janji besar di antara mereka.
Hanya dua orang mahasiswa yang mulai merasa nyaman menghabiskan waktu bersama.
Bagi Arthur, kedekatan kecil seperti itu terasa jauh lebih berharga daripada yang pernah ia bayangkan.
Pukul 13.47, setelah berpisah dari Clara, Arthur berjalan menuju perpustakaan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
Ketika ia duduk dan membuka laptop, sebuah surel masuk ke kotak masuknya.
Pengirimnya adalah Daniel.
Subjek: Lawson Market — Catatan Awal
Arthur membuka pesan tersebut.
Daniel telah merangkum beberapa hal dari pertemuan mereka dengan Peter Lawson. Ia juga menyertakan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan dalam beberapa hari berikutnya.
Halaman promosi perlu diperbarui setelah Lawson mengonfirmasi daftar barang yang ingin ditonjolkan. Foto-foto baru harus diambil dengan pencahayaan yang lebih baik. Informasi jam operasional perlu diperiksa kembali di berbagai platform.
Daniel juga mengusulkan agar mereka menyiapkan format laporan singkat yang dapat dibagikan kepada Lawson setiap akhir minggu.
Arthur membaca semuanya dengan saksama.
Kemajuan itu tidak spektakuler, tetapi nyata.
Ia membalas surel Daniel dengan beberapa koreksi, kemudian membuka lembar kerja keuangan usaha mereka.
Uang yang mereka peroleh dari proyek Samuel memang sudah diterima sepenuhnya. Namun, mereka tidak boleh menganggap seluruh pendapatan sebagai keuntungan bersih. Mereka masih mengeluarkan biaya transportasi, menggunakan koneksi internet, dan menghabiskan banyak jam kerja untuk melakukan tugas-tugas yang belum sepenuhnya mereka ukur.
Arthur menambahkan kolom baru pada lembar kerja tersebut: waktu yang dihabiskan untuk setiap tugas.
Ia juga mencatat pengeluaran kecil yang selama ini mudah dilupakan.
Jika mereka ingin mengembangkan usaha, mereka harus mengetahui apakah setiap proyek benar-benar layak dikerjakan.
Sebuah proyek senilai dua ratus dolar mungkin tampak menarik bagi dua mahasiswa yang kekurangan uang. Namun, jika proyek itu membutuhkan puluhan jam kerja dan biaya tambahan yang besar, keuntungan sebenarnya bisa jauh lebih kecil daripada yang mereka bayangkan.
Arthur menyimpan lembar kerja tersebut.
Di masa depan, ia akan memiliki cukup modal untuk membeli perusahaan, membangun divisi baru, dan mempekerjakan ribuan orang.
Tetapi sekarang, ia harus mempelajari kembali dasar-dasar bisnis dengan tangannya sendiri.
Dan ia tidak ingin melewatkan pelajaran itu hanya karena mengetahui apa yang akan terjadi puluhan tahun kemudian.
Pukul 15.26, Arthur kembali membuka halaman Aurelia Therapeutics.
Kali ini, sebuah berita baru muncul di bagian pemberitahuan perusahaan.
Arthur langsung menegakkan tubuh.
Ia membuka tautan tersebut dan membaca pengumuman resmi yang baru dirilis.
Aurelia Therapeutics Mengumumkan Hasil Positif Uji Klinis Tahap Akhir Kandidat Obat Utamanya.
Selama beberapa detik, Arthur tidak bergerak.
Ia membaca judul itu sekali lagi, kemudian menelusuri isi pengumuman.
Perusahaan menyatakan bahwa uji klinis telah mencapai sasaran utama yang ditetapkan. Hasil awal menunjukkan perbaikan yang bermakna pada ukuran efektivitas yang telah ditentukan sebelumnya. Manajemen menyebut hasil tersebut sebagai perkembangan penting dalam program pengembangan obat mereka.
Namun, pengumuman itu juga menjelaskan bahwa perusahaan masih harus melakukan analisis tambahan, menyelesaikan persyaratan regulator, dan menyiapkan langkah berikutnya dalam proses pengembangan.
Tidak ada jaminan bahwa obat tersebut akan segera memperoleh persetujuan.
Arthur membaca seluruh pengumuman sampai selesai.
Ia mengenali peristiwa itu.
Inilah kabar yang selama ini ia tunggu.
Ingatan dari kehidupan sebelumnya ternyata masih cukup akurat untuk membawanya sampai ke titik ini.
Namun, ia tidak langsung bersorak.
Ia justru membuka halaman harga saham Aurelia dan memeriksa pergerakannya. Informasi tersebut baru saja dirilis, sehingga pasar masih bereaksi. Harga saham mulai bergerak naik, sementara volume perdagangan meningkat tajam.
Nilai opsi yang dimilikinya berubah dengan cepat.
Arthur menatap angka di layar.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke usia dua puluh tahun, ia melihat kemungkinan nyata bahwa modal kecilnya dapat berkembang menjadi jumlah yang cukup berarti.
Namun, ia juga memahami bahwa momen seperti ini adalah saat ketika keserakahan paling mudah menyamar sebagai keyakinan.
Ia membuka buku catatan dan menuliskan waktu pengumuman, poin-poin penting dari hasil klinis, serta risiko yang masih tersisa.
Ia tidak menambah posisi.
Ia juga tidak langsung menutup seluruh investasinya hanya karena harga mulai naik.
Sebaliknya, ia menunggu beberapa menit sambil memeriksa bagaimana pasar menyerap informasi tersebut. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak mengambil keputusan hanya karena lonjakan harga pertama.
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Pesan dari Daniel muncul.
Daniel: Kau melihat berita Aurelia? Sahamnya sedang naik. Bukankah itu perusahaan yang pernah kau analisis?
Arthur menatap pesan tersebut.
Ia tidak pernah memberi Daniel rincian mengenai ukuran posisinya, tetapi ia pernah menyebut nama perusahaan itu ketika menjelaskan salah satu tugas analisis investasinya.
Arthur: Ya. Aku sudah melihat pengumumannya.
Daniel: Hasilnya positif, kan?
Arthur: Hasil awalnya positif dan mencapai sasaran utama uji klinis. Tapi itu belum berarti obatnya pasti disetujui atau perusahaan langsung menjadi sukses.
Daniel membalas beberapa detik kemudian.
Daniel: Aku tahu. Aku cuma ingin tahu apakah kau mendapatkan keuntungan.
Arthur menatap layar laptopnya sekali lagi.
Arthur: Nilai posisinya meningkat, tetapi aku belum menjualnya. Jadi, belum ada keuntungan yang benar-benar masuk ke rekening.
Daniel: Kau serius? Kalau aku punya sesuatu yang nilainya naik seperti itu, mungkin aku sudah menjualnya sejak tadi.
Arthur tersenyum kecil.
Arthur: Mungkin itu keputusan yang masuk akal bagimu. Aku masih harus mengevaluasi risikonya.
Daniel tidak membalas selama beberapa menit.
Kemudian, sebuah pesan baru muncul.
Daniel: Baiklah. Jangan sampai kau terlalu sibuk memikirkan pasar sampai lupa makan.
Arthur tertawa pelan.
Ia mematikan layar ponselnya dan kembali memusatkan perhatian pada komputer.
Di hadapannya, harga saham Aurelia masih bergerak naik turun. Berita positif itu telah mengubah situasi, tetapi belum menghapus semua ketidakpastian.
Arthur tahu ia berada di persimpangan penting.
Jika ia mengambil keputusan yang tepat, ia mungkin memperoleh modal yang cukup untuk memperluas bisnis kecilnya bersama Daniel. Jika ia terlalu serakah, keuntungan yang sekarang terlihat besar bisa menyusut dalam waktu singkat.
Ia harus menimbang keputusan berikutnya dengan hati-hati.
Pukul 16.10, Arthur akhirnya menutup halaman perdagangan dan mulai menyusun laporan terbaru.
Ia tidak menulis bahwa investasinya telah menjadi keberhasilan besar. Ia juga tidak mengklaim bahwa ia mampu memprediksi seluruh pergerakan pasar.
Ia mencatat fakta-fakta yang dapat diverifikasi: hasil klinis mencapai sasaran utama, perusahaan menyatakan akan melanjutkan proses pengembangan, dan harga saham bereaksi positif setelah pengumuman.
Kemudian, ia memperbarui analisis risikonya.
Keberhasilan klinis mengurangi satu jenis ketidakpastian, tetapi masih ada risiko regulator, pendanaan, persaingan, dan komersialisasi. Ia juga mencatat bahwa perubahan volatilitas setelah pengumuman dapat memengaruhi nilai opsi, bahkan jika harga saham tetap berada di atas level sebelumnya.
Setelah selesai, ia menyimpan dokumen itu.
Arthur membuka surel dari Richard Coleman dan mulai menyusun pembaruan singkat. Ia ingin menunjukkan bahwa ia mengikuti nasihat Richard, bukan hanya mengirim laporan ketika hasilnya sesuai dengan harapan.
Namun, sebelum menekan tombol kirim, ia berhenti sejenak.
Ia memeriksa setiap kalimat untuk memastikan bahwa laporan itu hanya memuat informasi publik dan analisis yang bisa dijelaskan. Ia tidak ingin membocorkan ukuran posisinya atau membuat klaim yang tidak dapat dibuktikan.
Baru setelah yakin, ia mengirimkannya.
Beberapa menit kemudian, balasan Richard masuk.
Saya telah menerima pembaruan Anda, Arthur.
Saya akan membacanya dengan saksama. Saya juga ingin mendengar bagaimana Anda menilai harga saham setelah pasar memiliki informasi baru.
Ingatlah bahwa hasil yang benar tidak selalu berarti keputusan awal Anda sepenuhnya tepat. Saya ingin memahami proses berpikir Anda, termasuk bagian yang masih belum Anda ketahui.
Arthur membaca pesan tersebut dan mengangguk pelan.
Ia tidak mengharapkan pujian besar dari Richard. Ia juga tidak berharap mendapatkan pekerjaan hanya karena satu investasinya tampak berhasil.
Jika ia ingin membangun reputasi di dunia keuangan, ia harus membuktikan bahwa ia mampu berpikir secara konsisten, bukan sekadar beruntung pada satu kesempatan.
Arthur membalas dengan ucapan terima kasih, lalu menutup laptop.
Untuk pertama kalinya dalam hampir dua minggu, ia merasa bahwa sesuatu yang ia tunggu sejak awal kehidupannya yang kedua benar-benar telah terjadi.
Namun, keberhasilan itu tidak memberinya jawaban atas semua pertanyaan.
Ia masih harus memutuskan kapan akan merealisasikan keuntungan. Ia masih harus menjaga agar bisnis kecilnya berkembang tanpa mengorbankan persahabatan dengan Daniel. Ia masih harus menyelesaikan kuliah, mengelola pengeluaran, dan memberi ruang bagi hubungannya dengan Clara untuk tumbuh secara alami.
Kabar positif dari Aurelia hanyalah satu langkah.
Bukan akhir dari perjalanan.
Malam mulai turun ketika Arthur meninggalkan perpustakaan kampus.
Di trotoar, ia berhenti sejenak untuk memeriksa ponselnya. Ada satu pesan baru dari Clara.
Clara: Aku baru membaca berita tentang perusahaan farmasi kecil yang hasil penelitiannya positif. Aku teringat kau pernah membahas perusahaan seperti itu. Apakah analisismu berjalan baik?
Arthur tersenyum tipis.
Ia tidak tahu seberapa banyak Clara memahami dunia investasi, tetapi pertanyaannya menunjukkan bahwa ia mengingat hal-hal yang pernah mereka bicarakan.
Arthur: Untuk saat ini, hasilnya sesuai dengan perkiraanku. Tapi masih ada banyak risiko yang harus diperhitungkan.
Clara: Kau pasti lega.
Arthur menatap pesan itu beberapa saat.
Ia memang lega.
Namun, ada perasaan lain yang sulit dijelaskan. Kemenangan kecil ini mengingatkannya pada betapa mudahnya ia dahulu membiarkan keberhasilan finansial mengambil alih seluruh hidupnya.
Arthur: Sedikit. Aku akan merasa lebih lega kalau bisa tetap membuat keputusan yang masuk akal setelah kabar baik datang.
Clara membalas dengan cepat.
Clara: Itu terdengar seperti tantangan yang lebih sulit daripada sekadar mendapatkan uang.
Arthur tertawa kecil.
Arthur: Mungkin memang begitu.
Clara: Kalau begitu, jangan lupa makan malam. Orang yang terlalu sibuk berpikir juga perlu makan.
Arthur memandangi layar ponselnya, lalu menggeleng sambil tersenyum.
Arthur: Baik, Bu Vance.
Clara: Bagus. Aku akan memeriksa jawabanmu besok.
Arthur menyimpan ponselnya.
Ia berjalan pulang melewati jalanan Queens yang mulai dipenuhi cahaya lampu toko. Kota itu tidak berubah hanya karena sebuah perusahaan bioteknologi mengumumkan hasil positif. Orang-orang masih bekerja, bus masih melintas, dan pemilik toko masih harus menghitung pendapatan mereka untuk membayar sewa.
Dunia tidak berhenti untuk merayakan keuntungan yang baru saja ia peroleh di atas kertas.
Dan mungkin, justru itulah yang perlu diingatnya.
Arthur telah mendapatkan bukti bahwa ingatannya tentang masa depan masih berguna. Namun, ia belum membuktikan bahwa ia mampu mengubah pengetahuan itu menjadi kekayaan yang bertahan lama.
Besok, ia harus memutuskan apa yang akan dilakukan dengan posisi Aurelia.
Ia bisa mempertahankan seluruhnya dan berharap kenaikan berlanjut. Ia bisa menjual sebagian untuk mengamankan modal. Atau ia bisa keluar sepenuhnya dan menerima keuntungan yang tersedia sekarang.
Tidak ada pilihan yang bebas risiko.
Ketika sampai di apartemen, Arthur meletakkan tasnya di meja, lalu membuka buku catatan hitam untuk terakhir kalinya malam itu.
Di bawah catatan mengenai pengumuman Aurelia, ia menulis satu kalimat.
Keberhasilan pertama bukanlah saat aku membuktikan bahwa aku benar. Keberhasilan pertama adalah saat aku mampu mengambil keputusan berikutnya tanpa kehilangan kendali.
Arthur menutup buku tersebut.
Di luar jendela, lampu-lampu kota berkilauan di antara gedung-gedung.
Ia masih memiliki jalan panjang sebelum mencapai kekayaan yang pernah dimilikinya dalam kehidupan pertama. Namun, kali ini, ia tidak ingin membangun kerajaan bisnis hanya untuk menemukan dirinya sendirian di puncak.
Ia ingin membangun kekayaan tanpa kehilangan kesempatan untuk hidup.
Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, ia memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa tujuan itu mungkin tercapai.