NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Drama di lorong Fakultas

Evelyn menatap cangkir kopinya yang tinggal separuh. Kehangatan dari obrolan absurdnya bersama Matthew—termasuk aksi jitakan di kepalanya tadi—perlahan mengikis bayangan hitam ketakutan yang sejak tadi pagi menggelayuti pikirannya.

Setelah memastikan mobil Matthew benar-benar menghilang dari halaman kedai, Evelyn merapikan tasnya, berdiri, dan melangkah keluar menuju kampus.

Gedung Fakultas Kedokteran pagi itu ramai seperti biasa. Anak-anak yang panik nungguin jadwal praktikum, suara tawa dari lorong, sampai wangi antiseptik dan kopi melayang di udara. Dulu, waktu masih sekelas sama Matthew di semester awal, Evelyn selalu berjalan menyusuri lorong Fakultas tanpa menoleh ke arah manapun. Karena matanya hanya terpaku pada Cedric.

"Eve! Evelyn!"

Suara teriakan nyaring itu mendadak memecah lamunan Evelyn. Dari ujung lorong, seorang cewek berambut pirang sebahu lari-lari kecil menghampirinya sambil cengengesan.

Chloe. Sahabat terdekatnya sesama anak kedokteran. Cewek ceria yang dari dulu paling rajin ngomel tiap kali Evelyn terlalu nempel sama Keluarga Ashworth, tapi omongannya selalu Evelyn cuekin demi cintanya yang buta sama Cedric.

Mata Evelyn memanas seketika. Tanpa peduli dilihatin anak-anak fakultas yang lewat, Evelyn langsung meluk Chloe erat banget.

"Aduh, aduh! Kesambet hantu mana kamu pagi-pagi meluk ginian?" Chloe terkekeh bingung, walau tangannya tetap balas menepuk-nepuk punggung Evelyn. "Gaya amat pelukannya, kayak yang nggak ketemu setahun aja."

Evelyn tersenyum tipis seraya melepas pelukannya. Aku emang udah lama banget nggak ketemu kamu, Chloe... Aku bahkan udah pernah mati.

"Lagi kangen aja," sahut Evelyn cengengesan, mencoba bersikap santai.

Chloe menyipitkan matanya curiga. "Aneh deh kamu hari ini. Mukanya agak pucat lagi. Padahal hari ini ada jadwal praktikum jam dua nanti. Btw, biasanya jam segini mata kamu udah celingukan nyariin si pangeran idaman. Mana si Cedric? Kok nggak kelihatan nempel?"

Raut wajah Evelyn langsung berubah datar waktu nama Cedric disebut. "Ah masa sih aku pucat? Aku sama Cedric udah beres."

Chloe yang lagi minum air kemasannya seketika tersedak hebat. "UHUK! Apa?! Beres gimana maksudmu... putus?!" pekiknya ditahan, bikin beberapa anak fakultas yang lewat sempat menoleh. "Bentar, aku nggak salah dengar kan? Evelyn yang bucin setengah mati... minta putus?!"

Evelyn mengangguk santai sambil melangkah menuju ruang loker. "Iya. Aku yang minta putus. Males aja, udah nggak cocok."

"Demi apa pun, Eve!" Chloe langsung nyamai langkah kaki Evelyn dengan muka puas banget. "Sumpah ya, aku mau sujud syukur sekarang di depan perpustakaan! Akhirnya otak kamu bener juga! Pria itu emang red flag berjalan, ibunya apalagi, berasa paling berkuasa!"

Evelyn cuma tersenvum pahit dalam hati. Ibunya bukan cuma red flag, Chloe. Dia adalah dalang di balik kematianku.

Tapi masa-masa tenang itu nggak bertahan lama. Dari arah tangga lorong utama, suara langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat. Cowok kemeja biru rapi dengan muka panik campur emosi jalan cepat menghampiri mereka.

Cedric Ashworth.

Wajah tampan yang dulu dipuja Evelyn itu sekarang kelihatan kaku dan nahan amarah. Matanya lurus memandang ke arah Evelyn.

"Eve!" panggil Cedric tajam. Tanpa permisi, dia langsung narik pergelangan tangan Evelyn lumayan kasar. "Maksud kamu apa matiin telepon terus minta pisah tadi pagi?!"

Cengkeraman tangan Cedric terasa dingin di kulit Evelyn. Sentuhan itu bukannya bikin berdebar kayak dulu, malah bikin mual setengah mati dan bikin kilatan memori saat tangan yang sama nahan luka tembak di dadanya makin kerasa.

"Lepasin," kata Evelyn dingin.

"Gak! Aku nggak bakal lepas sebelum kamu jelasin!" Cedric mulai naikin nadanya. "Kamu pikir hubungan kita ini main-main?!"

"AKU BILANG LEPAS!"

Evelyn menghempaskan tangannya dengan sentakan kuat sampai pegangan Cedric terlepas paksa. Evelyn menatap Cedric lurus-lurus—matanya tajam, dingin, gak ada lagi jejak cewek penurut yang gampang dibodohi.

Cedric tertegun. Dia ngeliatin tangannya yang terhempas di udara, terus natap Evelyn dengan muka gak percaya.

"Dengar ya, Cedric," ucap Evelyn santai tapi menusuk. "Aku nggak lagi bercanda. Kita selesai. Jangan pernah temui aku lagi, dan jangan pernah sentuh aku pakai tanganmu itu."

"Eve... kamu kenapa sih?" Cedric coba nurunin nadanya, sok-sok melas—trik lamanya buat memanipulasi Evelyn. "Kalau aku ada salah, bilang. Kamu tahu kan aku sayang banget sama kamu? Rencana kita mau ke Paris—"

"Gak usah bahas Paris!" potong Evelyn cepat. Hatinya mencelos dengar nama kota itu. Paris cuma janji manis yang berujung jebakan kematian. "Jangan pernah sebut nama kota itu lagi di depan aku. Pergi, Cedric. Sebelum aku panggil satpam."

Ngelihat beberapa mahasiswa kedokteran mulai bisik-bisik ngeliatin mereka, Cedric yang gengsian dan selalu jaga nama baik keluarganya mendadak terdesak. Rahangnya merapat ketat.

"Kamu bakal nyesel, Evelyn," bisik Cedric penuh ancaman sebelum akhirnya berbalik dan jalan pergi gitu aja.

Chloe menghempaskan napas lega di sampingnya sambil nepuk dada. "Anjay, Eve! Gila, kamu keren banget tadi! Sumpah aku sampai merinding!"

Evelyn cuma tertawa kecil. Tapi pas dia nengok ke arah tangga utama gedung FK, matanya berselisih sama sosok tegap yang lagi nyandar santai di dekat pilar.

Matthew Pendragon.

Teman sekelasnya yang langka banget kelihatan nongkrong di luar lab itu berdiri melipat tangan di dada, menonton seluruh drama tadi dari jauh. Begitu mata keemasannya ketemu sama mata Evelyn, Matthew menyunggingkan senyum tipis—senyum puas—lalu mengangguk pelan seolah bilang, “Not bad, Eve.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!