Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Karena seluruh tenaganya tertahan secara tiba-tiba, Tata kehilangan keseimbangan tubuhnya dan hampir terjatuh ke belakang.
Srettt.
Jarot mengulurkan tangan kirinya dan menarik kerah baju belakang Tata hanya menggunakan satu jari telunjuk.
Tarikan kecil itu cukup untuk menjaga keseimbangan gadis tersebut agar tidak jatuh terduduk di lantai marmer.
"Hati-hati, Mbak. Lantainya licin lho ada tumpahan air es tadi," kata Jarot mengingatkan dengan nada sedatar papan.
Wajah Tata langsung memerah padam karena campuran rasa malu dan marah yang meledak-ledak di dadanya.
"Lepasin tangan kotor mu dari baju ku, brengsek!" teriak Tata kasar sambil menepis tangan Jarot sekuat tenaga.
Jarot langsung menarik tangannya santai lalu menggosokkannya ke celana seolah baru saja memegang benda yang menjijikkan.
Tindakan balasan Jarot itu sukses membuat urat nadi di dahi Tata semakin menonjol keluar karena emosi.
"Sudah cukup main-mainnya kalian bertiga!" bentak Nisa yang akhirnya benar-benar kehabisan kesabaran.
Nisa berdiri di tengah-tengah antara Jarot dan ketiga putrinya dengan wajah memerah menahan marah.
"Mulai malam ini, namanya Jarot. Dia adalah pengawal pribadi kalian yang baru dan tidak ada bantahan," tegas Nisa tanpa kompromi.
Lyly memutar bola matanya malas lalu mengambil sebuah map kertas tebal dari atas meja.
Prak.
Lyly melempar map kertas itu ke atas meja yang berjarak dua meter dari tempat Jarot berdiri.
"Kalau dia memang mau kerja di sini, suruh dia baca dan tanda tangani kontrak kerja itu dulu," perintah Lyly dengan nada meremehkan.
Jarot berjalan pelan mendekati meja lalu mengambil map kertas tersebut dengan sebelah tangan.
"Ini surat kontrak kerja atau naskah buku sejarah? Tebal amat buat ukuran pengawal," komentar Jarot sambil membolak-balik halamannya.
"Itu berisi aturan-aturan dasar mutlak yang harus kamu patuhi selama menginjakkan kaki di rumah ini," jelas Lyly seraya menyilangkan tangan di dada.
Jarot membuka dan membaca sekilas halaman pertama kontrak tersebut dengan mata yang sangat tidak niat.
"Pasal satu, pengawal dilarang menatap mata majikan lebih dari tiga detik. Kamu kira aku lagi ngelihat medusa?" ucap Jarot membaca keras-keras.
Melly tidak bisa menahan tawanya dan terkikik pelan dari ujung sofa mendengar komentar Jarot.
"Pasal sepuluh, pengawal harus siap sedia menjadi samsak hidup untuk latihan fisik Nona Tata setiap jam enam pagi," lanjut Jarot membaca isi kontrak.
Jarot menutup map kertas itu dengan kasar lalu menatap Lyly dengan ekspresi sangat lelah.
"Mbak Lyly yang terhormat, saya dikontrak ke sini buat ngawal dan melindungi nyawa, bukan buat jadi badut sirkus," kata Jarot santai.
Sreett. Sreett.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Jarot merobek kontrak kerja setebal lima puluh halaman itu menjadi dua bagian besar.
Ia lalu merobeknya lagi menjadi empat bagian kecil dan membuangnya ke keranjang sampah di bawah meja dengan gaya melempar bola basket.
"Kamu gila ya?!" teriak Lyly langsung berdiri dari sofa dengan wajah terkejut setengah mati.
Itu adalah kontrak kerja paling mengintimidasi yang pernah Lyly buat dan biasanya membuat pengawal lain langsung kabur mengundurkan diri.
Tapi pria berwajah gembel ini malah merobeknya begitu saja di depan mata kepalanya sendiri.
"Aku cuma patuh sama perintah bos utama aku, yaitu Mbak Nisa. Bukan patuh sama anak-anak angkatnya," balas Jarot sangat tidak peduli.
Nisa menghela nafas panjang dan merasa lega melihat ketegasan Jarot dalam menghadapi ketiga putrinya yang sangat egois ini.
"Nah, karena urusan perkenalan keluarga kita sudah selesai, di mana letak kamar saya?" tanya Jarot menoleh ke arah Nisa.
"Mari saya antar ke belakang, Mas. Kamar Mas Jarot ada di dekat area paviliun tamu," jawab Nisa sambil tersenyum ramah.
Jarot langsung melangkah pergi berjalan mengikuti Nisa tanpa mempedulikan tatapan membunuh dari tiga gadis di belakangnya.
Setelah Jarot dan Nisa menghilang dari pandangan dan menuju ke bagian belakang rumah, ketiga wanita itu langsung berkumpul di tengah ruang tamu.
"Gila tuh orang! Dia benar-benar berani merobek kontrak buatan aku tanpa mikir dua kali!" geram Lyly sambil memijat pelipis kepalanya yang berdenyut.
"Tendangan aku juga barusan ditangkis pakai bantal sofa! Aku yakin itu cuma kebetulan yang beruntung aja!" tambah Tata dengan nada sangat kesal.
Melly mengetuk-ngetuk layar tabletnya dengan cepat dan memunculkan sebuah baris kode merah berkedip.
"Aku udah coba retas sistem kunci pintu depan buat menyetrum tangan dia tadi, tapi sistem keamanannya anehnya langsung error," keluh Melly mengerutkan dahi.
Ketiga gadis itu saling berpandangan dalam keheningan dengan tatapan penuh rencana jahat di kepala masing-masing.
"Mama pasti kena tipu sama gembel jalanan yang pintar ngomong itu," ucap Lyly memberikan kesimpulan sepihak.
"Kita nggak boleh biarin orang aneh dan kurang ajar kayak dia tinggal di rumah kita lebih dari dua puluh empat jam," kata Tata mengepalkan tangannya semangat.
"Aku setuju banget! Besok kita kasih dia pelajaran mental yang jauh lebih parah dari malam ini!" dukung Melly sambil nyengir lebar.
Mereka bertiga sama sekali tidak tahu kalau obrolan konspirasi rahasia mereka itu terdengar sangat jelas di telinga Jarot.
Di lorong belakang rumah yang agak gelap, Jarot tersenyum tipis mendengar rencana konyol anak-anak nakal tersebut.
"Pendengaran super yang aku latih mati-matian puluhan tahun ternyata cuma dipakai buat nguping rencana anak kecil," batin Jarot menertawakan nasibnya sendiri.
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil terus mengikuti langkah Nisa dari belakang.
Setidaknya, kehidupan barunya sebagai pengawal di rumah mewah ini dijamin tidak akan berjalan membosankan sama sekali.
Permainan kucing-kucingan antara sang penguasa bawah tanah dan ketiga nona rahasia ini baru saja memasuki babak pemanasan.