Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Mama
Pukul dua dini hari. Rumah sakit jiwa itu tampak sunyi. Tampak petugas keamanan berjaga di berbagai sudut. Kamera pengawas terpasang di hampir setiap lorong.
Maya menyusup dengan seragam suster, masker, dan topi perawat. Ia mendorong meja berisi perlengkapan medis, sementara Yumna bersembunyi di bawahnya.
“Inget, jangan bersuara sebelum Onty menyuruhmu keluar.”
Yumna mengangguk kecil. “Yumna mau ketemu Mama."
Maya tersenyum tipis di balik masker. "Sebentar lagi kalian akan bertemu.”
Saat melewati pos pemeriksaan, seorang petugas menghentikannya.
“Berhenti. Mau ke mana malam-malam begini?”
Maya berhenti dan memasang wajah lelah. “Saya diminta mengantarkan perlengkapan ke ruang isolasi. Ada pasien yang kondisinya memburuk.”
Petugas itu memandangnya curiga.
“Kenapa saya tidak mendapat laporan?”
“Mungkin laporan dari ruang medis belum sampai ke pos keamanan. Kalau Bapak ingin memastikan, silakan hubungi ruang perawat. Tapi jika pasien itu mengalami sesuatu, saya harap Bapak bersedia menjelaskan pada dokter mengapa saya tertahan di sini.”
“Cepat selesaikan tugasmu," titah petugas menyingkir.
“Baik.”
Maya kembali mendorong meja. Setelah melewati pemeriksaan, ia mengembuskan napas lega.
Dahulu, ia pernah menyusup ke sebuah bank, tetapi kesalahan kecil membuatnya tertangkap dan dipenjara. Pengalaman itu mengajarinya untuk lebih berhati-hati.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia datang untuk menyelamatkan sahabatnya.
Maya menyusuri lorong sambil memeriksa papan petunjuk. Ia sudah mempelajari denah bangunan, tetapi masih ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan informasi yang diperolehnya.
Ia berhenti di persimpangan dengan tiga lorong menuju area perawatan tertutup.
“Di mana, ya?” gumamnya.
Dari bawah meja, Yumna mengangkat wajah.
“Onty.”
Maya menunduk sedikit. “Kenapa?”
"Lewat cana.” Tunjuk Yumna ke sebelah kiri.
Maya mengerutkan kening. "Kamu yakin?”
Yumna mengangguk mantap.
“Yumna tahu. Mama ada di cana.”
Maya sempat ragu, tapi ia mengikuti petunjuk anak itu.
Semakin jauh mereka melangkah, semakin terdengar suara-suara aneh dari balik pintu. Yumna mulai gelisah.
Maya berbisik, “Takut?”
Yumna menggeleng meski tangannya mencengkeram ujung baju. “Yumna halus belani demi Mama.”
Maya terdiam sejenak. Anak sekecil itu berusaha mengalahkan ketakutannya demi seseorang yang dicintainya.
“Baiklah, kita jemput Mamamu.”
Mereka pun tiba di sebuah pintu besi yang dijaga petugas. Maya mengamati keadaan sekitar, lalu menghampiri seorang perawat yang baru keluar dari ruang pemeriksaan.
“Maaf, apakah dokter jaga meminta saya memeriksa pasien di ruang isolasi nomor tujuh?”
Perawat itu tampak bingung.
“Ruang tujuh? Saya tidak tahu. Coba tanyakan kepada petugas di sana.”
Maya mengangguk dan berpura-pura memeriksa berkasnya. Setelah perawat itu pergi, ia menggunakan kartu akses yang diperolehnya dari seorang petugas yang bersedia membantu dengan imbalan uang.
Kini, ia hanya perlu menemukan Annabella.
“Onty, kanan,” bisik Yumna dari bawah meja.
Maya mengikuti arah yang ditunjuknya. Beberapa meter kemudian, mereka tiba di sel yang sebagian tertutup bayangan.
Yumna mengangkat kedua tangannya.
“Mama!”
Maya menghentikan meja dorong.
Di balik jeruji, seorang perempuan terbaring lemah di lantai. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan bibirnya kering. Maya memeriksa keadaan sekitar sebelum menggunakan alat kecil untuk membuka pengunci pintu.
Klik!
Pintu sel terbuka. Maya berlutut di samping Annabella.
“Bella, bangun. Ini aku.”
Annabella tidak bergerak. Maya mengguncang bahunya perlahan.
“Annabella, dengar suaraku. Aku datang untuk membawamu pulang.”
Perlahan, kelopak mata Annabella terbuka.
“Siapa ...?”
“Ini aku, Maya.”
Annabella menatapnya dengan pandangan kabur sebelum akhirnya mengenali wajah itu.
“Maya?”
Maya mengangguk. “Iya, ini aku. Aku datang menjemputmu.”
Air mata mengalir dari sudut mata Annabella.
“Maya ... bagaimana kau bisa ...?”
“Jangan banyak bicara dulu. Kita harus keluar dari sini.”
Namun, sebelum Maya membantunya berdiri, terdengar suara kecil dari belakang.
“Mama!”
Annabella shock. Ia mengenali suara itu. Tetapi kenapa ia dipanggil Mama? Itulah yang membuatnya heran.
Seorang anak kecil berlari menghampirinya dengan mata sembap dan pipi basah oleh air mata.
“Yumna?”
Anak itu sontak memeluk leher Annabella.
“Mama! Yumna datang! Yumna cali Mamaaa!”
Annabella mengangkat kedua tangannya dan memeluk Yumna erat-erat.
Annabella menciumi wajah kecil itu berkali-kali, seolah ingin memastikan Yumna benar-benar berada dalam pelukannya.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang? Ada yang menyakitimu?"
Yumna menggeleng sambil menangis.
“Yumna takut, Mama. Mama dibawa olang jahat. Yumna takut Mama ndak pulang lagi.”
Annabella mengusap rambutnya dengan tangan gemetar. “Maafkan Onty, Sayang. Maaf karena Onty membuatmu ketakutan," ucapnya dan membiarkan Yumna memanggilnya seperti itu agar anak itu tidak ketakutan.
“Yumna mau cama Mama. Jangan tinggalin Yumna lagi.”
Annabella kembali memeluknya.
“Iya. Onty janji akan berusaha tetap bersamamu.”
Yumna menyembunyikan wajah di dada Annabella.
“Mama cakit?”
“Sedikit, Sayang.”
“Yumna tiup bial cembuh. Fuhh... Fuhhh!”
Yumna meniup pelan tangan Annabella yang penuh luka. Air mata Annabella kembali mengalir. Ia mencium kening anak itu.
“Terima kasih, Sayang. Kamu sudah datang menjemput Onty.”
Maya ikut terharu, tetapi mereka tidak punya banyak waktu.
“Bella, aku senang kalian bisa bertemu. Tapi kita harus segera pergi sebelum petugas menyadari ada yang tidak beres.”
Annabella mengangguk. Saat Maya membantunya berdiri, ia menatap perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.
“Maya, kenapa kau menolongku? Kau kan baru saja bebas.”
Maya mendengus kecil.
“Memangnya aku harus menunggu kau mati di sini dulu baru boleh menolongmu?”
Annabella terdiam. Maya memegang kedua bahunya.
“Dengar, Bella. Kita pernah melewati hari-hari buruk bersama di penjara. Aku tahu kau punya banyak kesalahan, tetapi aku juga tahu kau sedang berusaha memperbaiki hidupmu.”
“Ketika aku mendengar namamu dari anak ini, aku tidak bisa berpura-pura tidak mengenalmu. Aku mungkin bukan orang baik, Bella. Aku bahkan pernah masuk penjara karena kesalahanku sendiri. Tapi aku tidak akan membiarkan temanku mati sendirian di tempat seperti ini.”
Annabella menutup mulutnya, menahan tangis.
“Maya ... terima kasih.”
Maya merangkulnya.
“Sudah. Jangan menangis lagi. Kalau kau ingin berterima kasih, bertahanlah hidup. Itu saja.”
Annabella mengangguk, ia merasa senang masih ada seseorang yang menganggapnya sebagai teman, bukan penjahat.
Maya menyamarkan penampilan Annabella dengan jas medis dan menutupi tubuhnya menggunakan kain. Yumna kembali bersembunyi di bawah meja dorong.
“Pegang pinggiran meja, ya,” bisik Maya kepada anak itu. “Jangan sampai tanganmu keluar.”
“Iya, Onty.”
Maya mempercepat langkah menuju pintu keluar yang sudah ditandainya. Beberapa menit kemudian, mereka berhasil keluar dari gedung.
Udara malam menyentuh wajah Annabella. Ia menghirup napas panjang, nyaris tak percaya dirinya telah meninggalkan tempat itu.
Maya membantunya masuk ke mobil yang sudah dipersiapkan di dekat gang. Yumna segera naik dan memeluknya.
“Mama ... eh, Onty Bella!”
Annabella tersenyum lemah.
“Tidak apa-apa. Panggil Mama juga boleh.”
Yumna mengangguk dan menyandarkan kepala di dadanya. Maya kemudian menyalakan mesin.
“Kita harus pergi sebelum mereka sadar kau sudah tidak ada.”
Brummm...
_
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???
doa yg terbaik buat mom semoga. cepat sampai retensi ny ,,
🤗