NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Ancaman untuk Sang Istri

Hujan kembali mengguyur Roma ketika Dante Alessandro Vieri berdiri di ruang kerjanya, menatap foto Isabella yang baru saja diterimanya. Perempuan itu tampak ketakutan, dengan kedua tangan terikat di belakang kursi. Di belakangnya berdiri seorang pria bercincin lambang delapan kelopak.

Vittorio Vieri.

Paman Dante sendiri.

“Periksa semua kamera pengawas di villa,” perintah Dante kepada Marco. “Aku ingin tahu kapan Vittorio meninggalkan rumah ini dan siapa yang menemuinya.”

“Baik, Don.”

“Dan jangan biarkan siapa pun keluar tanpa pemeriksaan.”

Marco mengangguk lalu bergegas pergi.

Bianca berdiri di dekat meja, mencoba memahami foto tersebut. Sejak menemukan dokumen lama tentang ibunya, ia mulai menyadari bahwa keluarga Vieri menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang sanggup ia bayangkan.

“Apakah kau yakin itu cincin milik Vittorio?” tanyanya.

Dante menatapnya.

“Aku mengenal cincin itu. Ayahku memberikannya kepada Vittorio pada malam pertemuan keluarga terakhir mereka.”

“Lalu kenapa kau tidak pernah mencurigainya?”

“Karena dia adalah saudara ayahku. Selama bertahun-tahun, dia membantu mengelola bisnis keluarga dan menjadi salah satu orang yang paling kupercaya.”

Bianca mengamati ekspresi Dante. Ada kemarahan di sana, tetapi juga luka yang lebih dalam.

“Kadang-kadang, orang yang paling dekat dengan kita justru mengetahui cara terbaik untuk menyakiti kita,” katanya pelan.

Dante mendekat dan menggenggam tangannya.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”

Bianca menatapnya tajam.

“Aku tahu kau ingin melindungiku, tetapi jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati.”

Dante terdiam.

“Aku tidak membutuhkan suami yang mengurungku di balik pintu terkunci,” lanjut Bianca. “Aku membutuhkan pasangan yang bersedia berdiri di sampingku ketika semuanya menjadi sulit.”

Tatapan Dante melembut.

“Kalau begitu, berdirilah di sampingku. Tetapi jika keadaan berubah berbahaya, berjanjilah kau akan memberitahuku.”

Bianca mengangguk.

“Aku berjanji.”

Dante mengangkat tangannya, menyentuh pipi Bianca dengan lembut. Ia hendak mengatakan sesuatu ketika ponsel di atas meja berdering.

Nomor tak dikenal.

Dante mengaktifkan pengeras suara.

“Selamat malam, Don Vieri.”

Suara pria yang terdengar dari seberang begitu tenang hingga terasa mengerikan.

“Siapa kau?” tanya Dante.

“Orang yang memiliki sesuatu yang sangat kau inginkan.”

Sebuah bunyi berdesis terdengar, lalu suara perempuan menyusul.

“Dante, jangan datang! Ini jebakan!”

Isabella.

Terdengar suara benturan, disusul keheningan.

Dante mencengkeram ponselnya.

“Jika kau menyentuhnya, aku akan menemukanmu sampai ke ujung dunia.”

Pria itu tertawa pendek.

“Ancaman yang mengesankan. Namun, aku tidak menelepon untuk membicarakan Isabella.”

“Lalu apa maumu?”

“Bianca Laurent.”

Dante langsung berdiri di depan istrinya, seolah tubuhnya sendiri dapat menjadi perisai terhadap suara dari telepon.

“Jangan pernah menyebut namanya.”

“Sayangnya, justru dialah alasan semua ini terjadi.”

Suara itu berhenti sejenak.

“Kau memiliki waktu sampai tengah malam untuk menyerahkan cincin bulan sabit. Jika tidak, istrimu akan kehilangan seseorang lagi.”

Sambungan terputus.

Bianca menatap Dante dengan wajah pucat.

“Dia tidak mengatakan bahwa Isabella akan dibunuh,” bisiknya. “Dia mengancamku.”

Dante mengambil jasnya.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh sendirian.”

Bianca mengangkat dagu.

“Aku akan ikut mencari Isabella.”

“Bianca—”

“Aku tidak sedang meminta izin.”

Mereka saling menatap selama beberapa detik. Akhirnya Dante mengangguk, meskipun jelas ia tidak menyukai keputusan tersebut.

“Baik. Tetapi kau mengikuti instruksiku jika keadaan memburuk.”

Bianca meraih tangannya.

“Dan kau harus mendengarkan instruksiku jika aku menemukan sesuatu yang tidak kau lihat.”

Dante menghela napas.

“Kau benar-benar membuat hidupku lebih sulit.”

“Bukankah itu salah satu alasan kau menikahiku?”

Dante hampir tersenyum.

“Tidak. Aku menikahimu karena alasan yang jauh lebih rumit.”

“Kalau begitu, ceritakan semuanya setelah kita menemukan Isabella.”

Pukul sebelas malam, dua mobil hitam meninggalkan Villa Vieri menuju sebuah gudang di pinggiran kota. Lokasinya ditemukan dari catatan telepon salah satu anak buah Vittorio.

Bianca duduk di samping Dante, mengenakan mantel gelap. Di pangkuannya terdapat kotak kecil berisi cincin bulan sabit.

“Aku tidak suka menjadikan cincin ini sebagai alat tawar-menawar,” katanya.

“Cincin itu mungkin satu-satunya cara kita menemukan siapa yang mengatur semuanya.”

“Bagaimana jika mereka tidak berniat melepaskan Isabella?”

“Kalau begitu, kita akan mencari cara lain.”

Bianca menoleh kepadanya.

“Dan jika mereka memintamu memilih antara aku dan Isabella?”

Dante terdiam sejenak.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menentukan pilihan itu untukku.”

Jawaban tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan kecemasan Bianca, tetapi ia menghargai kejujuran suaminya.

Ketika kendaraan berhenti, mereka melihat gudang tua dengan pintu besi setengah terbuka. Cahaya redup terlihat dari dalam.

Marco mendekati Dante.

“Anak buahku sudah memeriksa sisi timur. Ada dua orang bersenjata di pintu belakang.”

“Jangan bertindak sebelum ada perintah,” kata Dante. “Kita perlu mengetahui siapa yang berada di dalam.”

Bianca memperhatikan jendela di lantai dua. Di balik kaca yang kotor, ia melihat bayangan seseorang bergerak.

Kemudian ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Masuklah sendirian jika kau ingin mengetahui kebenaran tentang ibumu.

Bianca menunjukkan pesan itu kepada Dante.

“Ini untukku.”

Dante menggeleng tegas.

“Kita tidak akan mengikuti perintah mereka.”

“Tetapi mungkin mereka memiliki informasi yang kita butuhkan.”

“Mereka juga memiliki senjata.”

Bianca menatap gudang itu. Ia tahu Dante benar. Namun, ia juga tahu bahwa musuh mereka sengaja menggunakan rahasia keluarganya untuk memancingnya.

“Aku punya ide,” katanya.

Dante memandangnya dengan curiga.

“Setiap kali kau mengatakan itu, biasanya aku harus menghadapi masalah baru.”

“Kali ini kau hanya perlu memercayaiku.”

Mereka memasuki gudang bersama-sama setelah Marco memastikan pintu utama tidak dijaga. Ruangan itu dipenuhi peti kayu, peralatan tua, dan bau logam yang menyengat.

Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi.

Isabella duduk di sana dengan tangan terikat. Ketika melihat Dante, ia langsung mengangkat wajah.

“Dante!”

Dante bergerak menghampirinya, tetapi Bianca menahan lengannya.

“Tunggu.”

Ada sesuatu yang janggal. Tidak ada penjaga yang terlihat, meskipun suara di telepon sebelumnya menyatakan bahwa Isabella berada dalam kendali mereka.

Bianca mengamati lantai. Di dekat kursi terdapat selembar kertas dengan lambang delapan kelopak.

Ia mengambilnya.

Tulisan di atasnya hanya terdiri dari satu kalimat.

Orang yang kau cari berdiri di belakangmu.

Bianca berbalik.

Di ujung ruangan, Vittorio Vieri muncul dari balik bayangan. Ia mengenakan jas abu-abu dan sarung tangan hitam. Wajahnya tampak tenang, seolah pertemuan tersebut hanyalah makan malam keluarga biasa.

“Bianca Laurent,” katanya. “Akhirnya kita bertemu tanpa gangguan.”

Dante segera mengarahkan pistolnya.

“Lepaskan Isabella.”

Vittorio tersenyum tipis.

“Kau masih sama seperti ayahmu, Dante. Selalu mengira bahwa kekuasaan dapat menyelesaikan segalanya.”

“Dan kau masih bersembunyi di balik nama keluarga.”

Senyum Vittorio memudar.

“Nama keluarga ini telah memberiku segalanya. Hanya saja, ayahmu membuat kesalahan dengan memilihmu sebagai pewaris.”

Dante tidak bergerak.

“Jadi, semua ini tentang takhta?”

“Awalnya.”

Vittorio mengalihkan pandangan kepada Bianca.

“Namun, semuanya berubah ketika kau menikahi perempuan ini.”

Bianca mengangkat dagu.

“Kalau kau ingin berbicara denganku, katakan apa yang sebenarnya kau inginkan.”

Vittorio tertawa pelan.

“Keberanianmu mengingatkanku kepada Elena.”

Nama ibunya membuat Bianca menegang.

“Kau mengenal ibuku?”

“Aku mengenalnya lebih baik daripada yang kau bayangkan.”

“Apakah kau terlibat dalam kematiannya?”

Vittorio tidak langsung menjawab. Ia justru mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya dan melemparkannya ke lantai.

Bianca membungkuk untuk mengambilnya.

Foto itu memperlihatkan Elena sedang berdiri di depan rumah sakit, dengan Rafael Moretti di sampingnya. Namun, ada seseorang lagi dalam foto tersebut.

Alessandro Vieri.

Di belakang mereka, seorang bayi terbaring di dalam keranjang.

Pada bagian belakang foto tertulis tanggal kelahiran Bianca.

“Siapa bayi itu?” tanya Bianca.

Vittorio tersenyum.

“Itulah pertanyaan yang seharusnya kau ajukan sejak awal.”

Dante melangkah maju.

“Cukup bermain-main, Vittorio. Katakan apa yang kau ketahui.”

Vittorio menatapnya dingin.

“Aku akan mengatakan semuanya ketika Bianca menyerahkan cincin itu.”

Bianca menggenggam kotak kecil di tangannya.

“Bagaimana jika aku menolak?”

“Kalau begitu, kau tidak akan pernah mengetahui siapa dirimu sebenarnya.”

Bianca memandang Dante. Suaminya memberi isyarat kecil agar ia tidak terburu-buru.

Namun, sebelum Bianca sempat menjawab, lampu gudang mendadak padam.

Terdengar suara langkah kaki, lalu sebuah tembakan menggema.

“Bianca!” teriak Dante.

Seseorang menarik Bianca ke belakang peti kayu. Ia berusaha melawan, tetapi tangan kuat mencengkeram lengannya.

Ketika lampu darurat menyala beberapa detik kemudian, Vittorio telah menghilang.

Isabella tergeletak di samping kursinya, sementara Dante berdiri di tengah ruangan dengan pistol terangkat.

Dan kotak cincin di tangan Bianca telah terbuka.

Cincin bulan sabit itu lenyap.

Bianca menatap telapak tangannya yang kosong.

Di lantai, tepat di tempat cincin itu sebelumnya berada, terselip secarik kertas baru.

Terima kasih telah membawakan kunci itu untuk kami, Bianca.

Di bagian bawahnya terdapat tanda tangan yang membuat darahnya terasa membeku.

Luciano Vieri.

Bianca mengangkat wajah dan menatap Dante.

Mereka baru saja menyadari bahwa Vittorio mungkin bukan dalang utama.

Dan orang yang paling berbahaya bagi keluarga Vieri selama ini ternyata telah bergerak selangkah lebih jauh daripada yang mereka bayangkan.

Bersambung — Bab 20: Ketika Dante Kehilangan Kendali

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!