Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Kesiangan
Hari Minggu yang ditakutkan sekaligus ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Matahari baru saja terbit penuh, tetapi kepanikan Tia sudah mencapai level siaga satu. Jam di dinding rumahnya menunjukkan pukul 08.00 pagi, sementara acara arisan keluarga besar di rumah Tante Lies dimulai jam 10.00 tepat.
Tia sudah tampil memukau dengan gaun terbaiknya, riasan wajah yang sempurna, dan rambut yang di-blow rapi. Masalahnya cuma satu, ponsel Samsudin sama sekali tidak bisa dihubungi sejak tadi subuh!
"Dasar pawang buaya! Jangan bilang dia kabur bawa uang mukaku!" jerit Tia frustrasi.
Tidak punya pilihan lain, Tia melacak alamat kostan Sam berdasarkan surat perjanjian di atas materai yang sempat mereka buat. Dengan motor matiknya, Tia menyusuri gang-gang sempit yang makin lama makin gelap, becek, dan penuh dengan jemuran warga yang melintang rendah.
Saat turun dari taksi di ujung gang, sepatu hak tinggi Tia langsung melesak ke dalam ubin yang retak.
"Astaga... ini pemukiman manusia atau labirin?" ringis Tia sambil mengangkat ujung gaun anggunnya tinggi-tinggi agar tidak terkena genangan air mandi warga.
Tia berjalan jingkrak-jingkrak, matanya menjelajahi deretan kamar kost bertingkat dengan atap seng yang berkarat. Bau tumisan terasi bercampur wangi sabun cuci murah menyengat hidungnya yang terbiasa dengan pendingin ruangan kantor. Bagi Tia yang selalu hidup rapi walau serba pas-pasan, pemandangan kostan kumuh ini seperti masuk ke dimensi lain.
Setelah bertanya pada ibu-ibu yang sedang menguliti bawang di pinggir jalan, Tia akhirnya menemukan kamar nomor 4, kamar kost Samsudin.
Namun, baru saja Tia mau melangkah mendekati pintu tripleks berujung lapuk itu, seorang wanita bertubuh aduhai dengan pakaian terusan ketat berwarna merah menyala mendahuluinya. Wanita itu bersolek menjorok, membawa rantang makanan bermotif bunga-bunga, lalu mengetuk pintu Sam dengan gaya yang sangat manja.
Tok! Tok! Tok!
"Sammy sayang... Ini Mbak Nani datang dibawain semur jengkol kesukaanmu!" panggil wanita itu dengan suara dibuat-buat seksi, menepuk-nepuk dadanya yang rendah.
Mbak Nani. Janda muda tanpa anak yang tinggal di ujung lorong kostan. Nani sudah lama menaruh hati pada Sam. Ketampanan dan tubuh atletis Sam yang sering kelihatan saat menjemur baju bertelanjang dada membuat Nani tak henti-hentinya melancarkan aksi gempuran gizi, mulai dari kirim semur jengkol sampai pura-pura minta tolong membenarkan lampu kamarnya yang mati. Namun, Sam yang pemalu dan trauma dengan kepalsuan selalu menghindar sejauh mungkin dari agresivitas Nani.
Tia berdiri mematung dua meter di belakang Nani, menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya meneliti penampilan Nani dari bawah ke atas.
'Siapa lagi emak-emak berdandan menor ini? Penggemar rahasia pawang buaya?' batin Tia heran.
Nani yang menyadari kehadiran wanita kantoran berpenampilan sangat elite dan wangi parfum mahal di belakangnya, langsung menoleh. Nani memicingkan mata, menyapu pandangan sinis pada Tia yang kelihatan salah tempat di lorong kost kumuh itu.
"Cari siapa ya, Mbak?" tanya Nani dengan nada ketus dan tatapan penuh permusuhan, sengaja membusungkan dadanya. "Kalau mau cari pemilik kost, rumahnya di depan. Kalau mau cari Sam... maaf ya, Sam itu sudah ada yang punya!"
Tia menaikkan sebelah alisnya, terkekeh sinis. "Maaf ya, Mbak. Saya bukan mau cari pemilik kost. Saya cari Sam. Dan setahu saya, Sam itu tidak punya pemilik... kecuali dia terikat kontrak sewa."
"Hah?! Sewa-sewa apa?! Kamu pikir Sam ini barang gajian?!" tembak Nani sewot, memindahkan rantang jengkolnya ke pinggang. "Siapa kamu sebenarnya?! Tiba-tiba datang ke kostan orang rapi-rapi begini, mau mengganggu Sammy-ku ya?!"
"Saya?" Tia tersenyum anggun, membenarkan posisi tas mewahnya. "Saya calon istrinya."
Mata Nani melotot hampir keluar dari kelopaknya. "APA?! Calon istri?! Jangan ngaco ya! Sam itu tiap hari di sini sendirian, tidak pernah cerita punya pacar kayak kamu!"
Saat ketegangan dua wanita itu makin memuncak dan bau semur jengkol beradu dengan aroma parfum mahal Tia, pintu kamar tripleks tiba-tiba terbuka lebar.
Kriiiet...
Samsudin berdiri di ambang pintu hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaus kutang putih yang sudah sedikit melar. Rambutnya berdiri tidak beraturan khas orang baru bangun tidur, dan matanya masih lengket. Ternyata Sam ketiduran luar biasa lelah setelah semalam membongkar kandang buaya yang rusak sampai subuh!
"Aduh... berisik banget sih di luar..." ujar Sam sambil mengucek matanya yang merah.
"Sammy sayang!" jerit Nani manja, langsung menyodorkan rantangnya. "Ini Mbak Nani bawakan semur..."
Namun, pandangan Sam yang masih samar-samar mendadak menangkap sosok Tia yang berdiri tegap di belakang Nani dengan wajah murka menggelegar bagai petir di siang bolong.
Kesadaran Sam terkumpul 100% dalam hitungan milidetik!
"MBAK TIA?!" jerit Sam histeris, suaranya melengking melebihi jeritan emak-emak melihat kecoa terbang.
Sam melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 08.15. Nyawanya serasa melayang! Ia lupa kalau hari ini adalah Hari H Arisan Besar!
"Mas Sam! Kamu jam segini belum mandi, belum siap-siap, dan malah asyik dilayani cewek lain?!" semprot Tia dengan suara yang sanggup membuat plafon seng kostan bergetar.
"Enggak, Mbak! Sumpah aku ketiduran! Ini tidak seperti yang Mbak lihat!" sahut Sam panik bukan main.
Tanpa memedulikan Nani yang berdiri tertegun memegang rantang, Sam langsung menyambar pergelangan tangan Tia. Dengan gerakan cepat penuh tenaga pawang buaya, Sam menyeret Tia masuk ke dalam kamarnya yang berukuran 3x3 meter, lalu...
Brak!
Pintu tripleks ditutup keras dan dikunci dari dalam tepat di depan hidung Nani!
Nani berdiri mematung di luar pintu, mulutnya menganga lebar. "S-Sammy... Kok Mbak ditinggal?! Sam! Buka pintunya, Sam! Kenapa cewek itu dibawa masuk ke dalam kamar?! Sam!" jerit Nani histeris sambil menggedor-gedor pintu dengan ujung rantang jengkolnya. Rasa cemburu membakar dadanya sampai ubun-ubun.
Di dalam kamar yang sempit dan pengap itu, Tia berdiri canggung. Matanya menyapu sekeliling, kasur lipat tipis, kipas angin tua yang berbunyi kriek-kriek, dan celana dalam Sam yang tergantung di balik pintu.
"Mas Sam! Keluarkan aku dari sini! Kamarmu bau kepiting rebus!" protes Tia sambil menutup hidungnya.
"Aduh, Mbak Tia, diam dulu!" bisik Sam panik, setengah berbisik ke arah pintu yang terus digedor Nani. "Mbak Nani di luar itu agresif banget! Kalau dia tahu aku mau pergi sama Mbak, bisa-bisa dia ngamuk dan merusak kemeja mahal yang Mbak belikan kemarin!"
"Ya terus kamu kenapa belum siap-siap, Samsudin?!" amuk Tia menunjuk dadanya. "Dua jam lagi acara arisan dimulai! Kalau kita terlambat, Ibu bakal pingsan betulan!"
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran