Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Begini, beberapa bulan lalu aku tahu istriku membeli sampel sperma dariku," kata Drilon.
"Kamu sudah menikah?" tanya Ratna.
"Tenang, Bu Mertua, perempuan jalang itu sudah kubunuh. Putri Ibu akan jadi satu-satunya istriku."
"Dia membunuh siapa?" bisik Mutiara pada Dimas.
"Aku nggak mau tanya. Bisa-bisa dia tinggal suruh orang membunuh kita." Dimas lalu berpaling pada Drilon. "Tuan Penguasa Dunia, jangan tersinggung ya, tapi bisa tolong turunkan senjata-senjata itu? Ada anak kecil di sini."
"Tentu. Simpan senjata kalian, nanti anak-anak ketakutan," kata Drilon, dan anak buahnya menurut. "Seperti yang kubilang tadi, aku mengejarnya sampai ke klinik, dan di sanalah pertemuan pertamaku dengan putri Bapak dan Ibu."
"Sekarang aku ingat kamu. Kamu si gila yang menerobos ruangan tempat aku berada di klinik," sahut Nadira.
"Betul. Cinta pada pandangan pertama, apalagi pas melihat 'barang'mu."
"Cerita apa ini, Nadira?" tanya Haryo.
"Aku pergi ke klinik, menunggu Pierre kembali membawa sampelnya. Aku sudah siap, kaki terangkat, terbuka lebar."
"Ya. Aku keluar dari ruangan itu dengan hati yang perih, lalu mengejar si jalang. Kukira dia berhasil mendapat yang diinginkannya, tapi sembilan bulan kemudian kami sadar bayinya tak mungkin anakku. Dia lahir berkulit gelap, dan berkat itu aku bebas darinya. Setelah itu kami mulai berpikir, bagaimana kalau sampelku masuk ke perempuan lain? Kami menyelidiki dan sampai padamu. Kamu berbulan-bulan berada di pelosok Prancis, tempat aku tak bisa melacakmu, sampai kamu naik pesawat ke rumah orang tuamu, dan di sinilah kita. Aku datang menjemputmu dan paket kecil kita ini." Ia mengecup pipi si bayi.
"Biar kupahami dulu," kata Erlangga. "Kamu melihat adikku setengah telanjang, sampel Pierre dan sampelmu tertukar, dan sekarang kamu datang ke sini untuk apa tepatnya?"
"Aku datang menjemput calon istriku dan putri kami, untuk kubawa ke rumahku."
"Bawa saja," kata Dimas.
"Dimas," tegur Ratna.
"Apa? Ada orang gila datang ke rumah kita, mengancam dengan senjata, dan dia cuma mau meniduri adikku. Biarkan saja, nanti mereka pergi."
"Dia adikmu," kata Haryo.
"Kamu akan membunuhnya?" tanya Dimas pada Drilon.
"Tidak akan."
"Kalau begitu, silakan bawa."
"Yang ini aku suka. Bawa calon istriku. Jangan sentuh apa pun selain lengannya," perintah Drilon. Dua anak buah memegang lengan Nadira dan menyeretnya pergi, sementara ia meronta. Saat itu Intan muncul.
"Ada apa ini?" tanyanya sambil menuruni tangga.
"Kak, boleh aku bawa dia juga?" tanya Besnik ketika melihat gadis dalam balutan gaun tidur tipis itu.
"Kamu sudah menikah?" tanya Drilon pada Intan.
"Be-belum."
"Berarti dia milikmu, Adik." Besnik langsung menerjang Intan, memanggulnya di bahu, dan membawanya keluar lewat pintu.
"Jet sudah siap, Bos," lapor Masco.
"Bagus." Drilon berdiri sambil membetulkan gendongan si bayi. "Ayo, Bayi."
"Ma ma ma," celoteh Bintang.
"Kita segera berkumpul lagi. Pak, Bu Mertua, senang bertemu kalian. Sebentar lagi undangan pernikahanku dengan putri Anda akan sampai," ucapnya, lalu pergi. Seluruh anak buahnya ikut meninggalkan rumah.
"Sialan," gumam Erlangga.
"Rangkuman yang sempurna, Nak," kata Haryo.
"Apa yang akan terjadi pada putriku?" tanya Ratna.
"Aku lebih mengkhawatirkan si mafia, Ma," kata Dimas sambil menggendong putrinya, sementara yang satu lagi memeluk kakinya.
"Aku nggak ngerti apa-apa, Papa," rengek Ayu.
"Nggak usah ngerti, Sayang. Ayo, kita sarapan." Dimas menggiring putrinya ke meja.
"Keluargamu memang masih gila. Aku pulang," kata Mutiara. Ia mencium putrinya, lalu pergi.
"Dia masih membenciku," gumam Dimas.
"Siapa suruh kamu pasang tanduk di kepalanya," sindir Erlangga.
"Nggak seperti itu kejadiannya."
"Lalu bagaimana?" tanya Sinta. "Sejauh ini semua orang tahu kamu tidur dengan perempuan lain waktu Mutiara hamil, dan perempuan itu juga hamil."
"Nggak semua hal seperti yang kelihatan, Sinta," jawab Dimas sambil melirik Vania.
"Seharusnya kamu nggak membiarkan dia membawa putri kita, Haryo," kata Ratna.
"Kamu maunya aku bagaimana, maju menghadang regu tembak? Biarkan si mafia bersama Nadira. Dari kelihatannya, paling jauh dia cuma akan menaruh anak lagi di perut Nadira."
"Ayo sarapan," ajak Erlangga, dan mereka semua duduk di meja, sarapan dalam keheningan yang mematikan.