NovelToon NovelToon
Cahaya dalam Kegelapan Sang Don

Cahaya dalam Kegelapan Sang Don

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / CEO / Lari dari Pernikahan / Tamat
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Di Roma, satu nama diucapkan dengan bisikan dan rasa takut: Il Macellaio. Matteo Vitalle, Don 'Ndrangheta yang berdarah dingin, sudah lama mengubur hatinya, sejak perempuan yang dicintainya lenyap tanpa jejak sembilan tahun silam.

Ribuan kilometer jauhnya, di sudut kumuh sebuah kota, Ágata berjuang mati-matian demi satu hal: mengumpulkan biaya operasi yang akan mengembalikan penglihatan putra kecilnya yang buta sejak lahir. Terdesak ke tepi jurang, ia mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya, menjual diri kepada seorang pria kaya raya. Yang tak ia duga, klien pertamanya adalah hantu dari masa lalunya sendiri, sang Don yang paling ia takuti.

Satu malam itu membuka kembali luka lama, cinta yang membara, dan sebuah rahasia yang bisa meruntuhkan sebuah imperium: bocah cerdik berbola mata dua warna itu adalah darah daging Sang Jagal.

Namun bayang-bayang masa lalu tak pernah benar-benar mati. Pengkhianat dalam keluarga, perintah pembunuhan yang tak kunjung padam, dan seorang musuh yang bersembunyi di antara orang-orang terdekat, semuanya mengintai. Untuk melindungi perempuan dan anak yang nyaris direnggut takdir darinya, Matteo siap menjungkirbalikkan dunia dan membakar siapa pun yang berani menghalangi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Para Arsitek di Langit

Penerbangan berjalan mulus di ketinggian sepuluh ribu meter. Di ruang lounge pesawat yang lapang, Matteo duduk di atas karpet, bermain bersama Rudá, menghibur keponakannya sambil sesekali tertawa pendek saat mereka beradu dalam permainan cepat di sebuah konsol game portabel.

Di tengah balapan, Rudá menoleh ke samping dan melihat Pietro yang tenggelam dalam buku Braille-nya. Bocah itu langsung bersemangat dan mengajak sepupunya bergabung dalam keributan mereka.

"Hei, Pietro! Ayo main sama kami!" seru Rudá sambil mengangkat controller kedua.

Pietro menghentikan gerakan jarinya di atas halaman buku dan memutar wajah ke arah suara itu, menggeleng pelan.

"Aku nggak mau, Rudá. Aku nggak akan bisa main game itu sama kalian karena ada layarnya."

Rudá mengerjap, berpikir sejenak. Tanpa kehilangan semangat, ia menaruh controller di sofa lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Kalau begitu kita bisa main balok kayu!" usul Rudá sambil menunjuk kotak di dekat kursi Júlia.

Sudut bibir Pietro tertarik membentuk senyum kecil, tertarik dengan tawaran itu.

"Kalau balok aku bisa!" jawab bocah itu sambil menutup bukunya.

Tanpa membuang waktu, Rudá menarik kotak balok ke tengah lorong jet dan menebarkan potongan-potongan berbentuk geometris di atas karpet. Matteo memberi ruang bagi keduanya, mengamati dari dekat saat kedua bocah itu duduk lesehan di lantai.

Di kabin, semua orang mengikuti pemandangan itu. Tomasso menurunkan korannya, Júlia tersenyum sambil bersandar di kursinya, sementara Yara dan Ágata memperhatikan keduanya berinteraksi.

Apa yang bermula sebagai permainan sederhana dengan cepat berubah menjadi peragaan bakat yang memukau. Pietro meraba setiap balok kayu dengan ujung jarinya, menghitung dimensi, bobot, dan keseimbangannya, sekaligus mengarahkan sepupunya di mana harus meletakkan tiap balok.

"Ambil dua silinder yang lebih panjang, Rudá," instruksi Pietro dengan serius. "Taruh satu di tiap ujung untuk jadi fondasi. Aku akan membangun struktur bagian tengah pakai balok yang lebar."

"Beres! Dan di bagian atas kita pasang balok segitiga buat bikin fasadnya!" sahut Rudá sambil hati-hati meletakkan tiap potongan ke tempat yang tepat.

Mereka bertahan cukup lama di sana, bekerja dalam kekompakan penuh. Persepsi peraba dan spasial Pietro yang tanpa cela berpadu dengan kegesitan Rudá, menghasilkan sebuah miniatur pencakar langit modern yang sempurna, dengan kolom-kolom yang sejajar, lengkung-lengkung geometris, dan desain yang berani.

Lorenzo yang sedang melewati lorong sambil membawa segelas air mendadak menghentikan langkahnya, menatap tercengang ke arah struktur di lantai.

"Madonna mia! Lihat bangunan itu!" seru Lorenzo, langsung menarik ponsel dari sakunya detik itu juga.

Ia mengelilingi miniatur itu, mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda untuk merekam tiap detail gedung kayu tersebut.

"Gedung ini luar biasa! Kita bisa ambil desain persisnya dan membangunnya sungguhan!" kata Lorenzo, memperlihatkan layar ponselnya dengan antusias.

Matteo, yang masih berlutut di samping kedua bocah itu, menatap bangunan tersebut lalu menatap putranya, dengan kilau bangga terpancar jelas di wajahnya.

"Aku memikirkan hal yang sama," Matteo menyetujui, suaranya mantap dan puas. "Rancangannya spektakuler."

Pietro terkikik senang mendengar pujian itu, tapi sedetik kemudian perutnya berbunyi keras memecah kesunyian kabin, memancing tawa pelan dari seluruh keluarga.

Bocah itu bangkit dari lantai dibantu Rudá, mengusap serbuk kayu dari telapak tangan ke celananya, lalu berjalan menuju kursi tempat Ágata duduk. Ia menyandarkan kepala di bahu ibunya, mengubah nada bocah cerdik tadi menjadi manja seperti biasa.

"Ma…" pinta Pietro pelan. "Aku lapar, pesankan sesuatu buat kumakan, dong?"

Ágata tersenyum lembut, mengusap-usap rambut putranya dan mencium pipinya.

"Tentu, sayang, kamu mau makan apa?"

"Aku mau pasta yang enak…" jawab bocah itu sambil menguap lebar. "Habis itu aku mau istirahat sebentar sampai pesawatnya mendarat."

Sepiring penuh fettuccine saus bolognese yang masih mengepul tak bertahan lima menit di hadapan Pietro. Bocah itu menyantap tiap suapan dengan kecepatan mengagumkan, membersihkan sisa saus hingga titik terakhir. Tanpa sungkan sedikit pun, ia mengangkat kepala ke arah pramugara dan meminta tambah.

Dan ia menghabiskan piring kedua bulat-bulat, dengan selera makan yang sama rakusnya.

Begitu suapan terakhir dari piring pasta kedua masuk, energi bocah itu langsung habis. Pietro menyandarkan tubuh ke sandaran kursi kulit yang empuk, memejamkan matanya yang berat, dan bahkan sebelum Ágata sempat membereskan piring, ia sudah terlelap dalam tidur yang dalam dan nyenyak.

Júlia menatap cucunya yang tertidur dan tertawa tertahan sambil menggeleng.

"Madonna mia… Anak ini makannya banyak sekali!" komentar sang nenek, matanya berbinar penuh sayang.

Ágata membenahi selimut di atas bahu Pietro dan tersenyum geli, melirik ke arah Matteo yang duduk tepat di hadapannya.

"Semuanya menurun dari Matteo," ujar Ágata tanpa basa-basi. "Kepribadian, selera makan… Pietro cuma dapat mataku, karena sisanya benar-benar mirip ayahnya. Keras kepala, doyan makan, dan suka berkelahi."

Matteo tersenyum miring, tak peduli dengan sindiran itu, jelas-jelas bangga melihat pantulan dirinya pada sang putra.

Yara, yang duduk nyaman di kursi sebelah, menatap miniatur balok yang masih berdiri di atas karpet lalu tersenyum.

"Dia akur sekali dengan Rudá…"

"Karena putramu memperlakukan putraku dengan sangat baik," jawab Ágata, suaranya sarat rasa terima kasih yang tulus. "Dia membantu Pietro bersembunyi di mansion, membawakannya makanan, apel, dan pisang… Rudá sangat perhatian padanya."

Lorenzo, yang sedang menyeruput kopi, mengangkat alis dan tertawa dengan putus asa yang lucu.

"Serius?! Rudá berulah begitu?" Lorenzo mengusap wajahnya. "Sebentar lagi mereka berdua pasti manjat pohon bareng! Aku dibuat pusing sama Rudá… Begitu aku menoleh, dia sudah nangkring di atas, bergelantungan di dahan paling berbahaya!"

Ágata tergelak pelan, teringat kenakalan putranya sendiri.

"Jangan tanya. Beberapa hari lalu Pietro membuatku ketakutan setengah mati. Dia manjat jungkat-jungkit di taman, membalik badan jadi kepala di bawah, lalu bergelantungan pakai kaki sambil menertawakanku, padahal aku hampir kena serangan jantung!"

Di seberang meja, Rudá yang sudah rebahan dengan tubuh lemas mengantuk dan kepala bersandar di pangkuan Yara, membuka mata perlahan mendengar percakapan itu. Dengan suara berat dan manja khas orang yang nyaris terlelap, bocah itu menyunggingkan senyum cerdik.

"Kayaknya seru… Aku mau coba di rumah, di sana kan ada jungkat-jungkit…"

"Jangan harap, anak muda!" tukas Yara seketika, menutupi wajah putranya dengan selimut sementara seisi kabin pecah dalam tawa, terbuai perjalanan pulang yang tenang menuju Italia.

Rudá

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!