**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06- KONTRAK DENGAN IBLIS
Dentingan halus lift eksekutif lantai tiga puluh lima membelah keheningan yang sejak tadi membungkus kami berdua.
Bau kayu cedar bercampur aroma tembakau dingin yang menguar dari mantel Adrian Varell terasa makin pekat, mendominasi udara tipis di dalam ruang sempit berlapis kaca tembus pandang ini. Dua pengawal bertubuh tegap di sudut belakang berdiri kaku tanpa suara, menjaga pandangan mereka tetap tertuju ke lantai.
"Trik yang cukup cerdas untuk gadis yang bahkan belum menyelesaikan semester dua, Nona Arlena," suara bariton Adrian memecah udara tanpa peringatan.
Aku tidak langsung menoleh. Pandanganku tetap lurus menatap pantulan kami di pintu baja antikarat.
"Saya tidak sedang bermain trik, Tuan Varell."
"Menolak rancangan kerja sama Arkana tepat di hadapan Edward Arlena, lalu sengaja memancing putranya ke lobi hanya untuk meretakkan harga dirinya di depan publik?" Adrian terkekeh pelan—tawa rendah yang dingin dan berjarak. "Jika itu bukan sebuah langkah catur yang diperhitungkan, Anda adalah aktris paling berbahaya yang pernah saya temui di ibu kota."
"Saya hanya menghentikan hama sebelum menggerogoti lumbung keluarga saya," sahutku tenang. "Bukankah Varell Group juga tidak punya waktu untuk meladeni parasit amatir?"
Ekor mata Adrian melirik ke arahku. Garis rahangnya yang tegas tampak mengeras tipis di bawah temaram lampu lift. "Kamu mengutip persis klausul penalti likuiditas yang tersembunyi di halaman empat puluh dua draf Arkana. Direktur keuangan Edward sendiri baru menyadarinya setelah tim legal saya menunjukkannya sepuluh menit lalu. Dari mana gadis berusia sembilan belas tahun mempelajari jebakan hukum korporasi semacam itu?"
Jantungku berdegup sepersekian detik lebih cepat. Namun, otot wajahku tetap kukunci rapat. Tidak boleh ada celah, tidak boleh ada keraguan. Di masa depan, Adrian Varell dikenal sebagai sosok predator tanpa ampun yang memegang kendali atas separuh perputaran uang di sektor riil. Begitu dia mendeteksi kelemahan, dia tidak akan ragu membalikkan keadaan untuk menguntungkan dirinya sendiri.
"Ada banyak hal yang bisa dipelajari jika seseorang tahu di mana tumpukan dokumen rahasia disimpan, Tuan Varell," jawabku seringkas mungkin, membiarkan jawabanku berayun di batas ambiguitas.
Ting.
Pintu lift bergeser terbuka ke samping, menampakkan lorong megah beralas karpet wol tebal berwarna merah marun yang langsung bermuara ke ruang rapat dewan direksi utama.
Sebelum langkah pertamaku menyentuh karpet itu, sebuah lengan berbalut jas hitam arang terulur kaku di depanku. Tangannya yang besar dan berurat mencengkeram kusen pintu lift dengan kokoh, menutup jalur keluar secara mutlak.
Aku berhenti, lalu menoleh dan menatap tepat ke manik matanya yang kelam.
Adrian mencondongkan tubuhnya setengah jengkal ke arahku. Jarak kami begitu tipis hingga hawa napasnya yang dingin menyentuh pelipisku.
"Ayahmu menandatangani nota kesepahaman ini karena mengira Varell Group akan menjadi tameng gratis bagi Arlena Holding," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan intimidasi yang nyata. "Namun saya bukan badan amal swasta, Nadia. Menghancurkan keluarga Arkana hanyalah masalah menjentikkan jari bagi saya. Pertanyaannya... apa kompensasi sepadan yang bisa kamu berikan untuk itu?"
Aku tidak bergeming. Tidak ada getaran ketakutan yang biasanya diperlihatkan wanita lain di bawah tatapannya. Sebaliknya, aku melangkah setengah tapak lebih maju, membiarkan ujung kemejaku nyaris bersentuhan dengan kain jas mahalnya. Senyum tipis yang dingin terbit di sudut bibirku.
"Keluarga Arkana bukan satu-satunya pihak yang bersiap mengincar proyek dermaga barat itu, Tuan Varell," bisikku balik, cukup pelan agar hanya telinganya yang menangkap kata-kataku. "Bulan depan, anak usaha Marvia Corporation akan mengajukan sengketa batas lahan reklamasi melalui jaringan mereka di kementerian agraria. Jika Anda masuk hanya dengan modal uang tunai tujuh puluh persen tanpa memegang dokumen pelepasan hak adat tahun sembilan puluhan, seluruh investasi Anda akan dibekukan oleh pengadilan niaga dalam semalam."
Pupil mata Adrian menyempit seketika.
Topeng tenangnya yang sedingin es batu retak tipis. Ada riak keterkejutan murni yang melintas di sana. Kasus sengketa agraria Marvia Corporation adalah skandal besar yang baru meledak tiga tahun kemudian di lini masa laluku—sebuah rencana busuk yang saat ini bahkan baru dirancang di ruang tertutup oleh para koruptor kementerian.
"Dan dokumen asli itu," lanjutku sambil menepis pelan ujung lengannya yang masih mencengkeram kusen, "hanya bisa dikeluarkan dari brankas keluarga Arlena dengan cap jemari saya, bukan jemari Ayah."
Adrian menatapku lurus selama beberapa detik yang membeku. Udara di sekitar kami terasa berat bagai medan magnet bertegangan tinggi.
Perlahan, pria itu menarik tangannya kembali ke sisi tubuh. Bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis—senyuman seorang pemburu ulung yang akhirnya menemukan mangsa yang mampu membalas taringnya.
"Luar biasa," gumam Adrian serak. Ia memundurkan langkahnya satu tapak, memberi ruang bagiku dengan gestur formal yang sarat makna. "Silakan lewat, Nona Arlena. Mari kita lihat seberapa jauh Anda bisa memainkan papan catur ini."
Aku melangkah mantap keluar dari lift, melintasi koridor megah menuju pintu ganda ruang rapat direksi.
Pintu besar itu didorong terbuka oleh asisten di depan. Di dalam sana, Edward Arlena duduk di kursi pimpinan meja bundar marmer, dikelilingi oleh jajaran direktur senior dan pengacara perusahaan. Begitu melihatku melangkah masuk berdampingan dengan Adrian Varell, sorot mata Ayah berubah tajam, campur aduk antara rasa bangga dan kebingungan yang tak terjawab.
Ryan dan Selena mengira mereka baru saja memancingku ke dalam perangkap rasa bersalah.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di ruang rapat ini, aku baru saja mengikat kontrak tak tertulis dengan monster paling berbahaya di lantai bursa untuk melenyapkan mereka selamanya.
Bersambung...