Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Bersembunyilah, musuh telah menemukan kita. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari sini!" titah Hayden tegas.
"Tapi bagaimana denganmu?" tanya Fiora panik, mendekap Leo yang mulai gemetar ketakutan.
"Aku akan baik-baik saja," jawab Hayden singkat. Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Fiora yang menatap cemas punggung pria itu namun tetap menurut untuk bersembunyi di dalam *basement*.
Begitu Hayden melangkah keluar dari minimarket, laras senapan dari beberapa prajurit Aegis langsung tertuju tepat ke dadanya. Di tengah barisan itu, Marcus berdiri dengan senyum culas, memegang senapan serbu seraya mengarahkan pandangannya dingin ke arah Hayden.
"Hayden, kamu tidak bisa lari lagi! Cepat berikan vaksin itu!" gertak Marcus dengan suara menggelegar, jemarinya sudah bersiap di atas pelatuk.
Hayden berdiri tenang di bawah terik matahari pagi, tidak menunjukkan sedikit pun gestur menyerah. Tangan kanannya menggenggam senapan serbu dengan rileks, namun matanya dengan jeli menghitung jumlah musuh: Marcus, empat prajurit Aegis bersenjata lengkap, dan satu truk taktis.
"Kamu benar-benar tak pernah belajar, ya, Marcus?" sahut Hayden dingin, senyum tipis terukir di wajahnya. "Setiap kali kamu merasa menang, kamu hanya sedang berjalan masuk ke kuburanmu sendiri."
"Jangan banyak bicara!" potong Marcus murka. "Serahkan tas itu atau aku meratakan minimarket ini beserta siapa pun yang sembunyi di dalamnya!"
Ancaman itu membuat darah Hayden mendidih, tetapi fokusnya tetap tajam. Marcus belum tahu bahwa di dalam minimarket ada Fiora dan Leo. Hayden harus mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya agar pertempuran tidak merembet ke area *basement*.
Tanpa peringatan, Hayden menjatuhkan diri ke balik bangkai mobil sedan di sebelahnya tepat saat jemarinya melempar sebuah granat kilat (*flashbang*) ke arah tengah barisan pasukan Aegis.
*BOOM!*
Cahaya menyilaukan dan ledakan memekakkan telinga meletus seketika. Dua prajurit Aegis berteriak histeris sambil memegangi mata mereka yang buta sementara.
Hayden bangkit dari balik pelindung dan langsung memberondongkan pelurunya.
*RAT-AT-AT-AT!*
Dua prajurit yang terdisorientasi itu roboh seketika dengan luka tembak tepat di dada dan kepala. Senapan Hayden bergerak presisi tanpa celah.
"Sialan! Tembak dia! Tembak!" teriak Marcus yang sempat melindungi matanya di balik lengan baju pelindungnya.
Dua prajurit Aegis sisanya membalas tembakan secara liar, membuat dinding beton minimarket di belakang Hayden hancur berhamburan. Debu dan batu bata melayang di udara.
Hayden merayap cepat memutari bangkai sedan, mencabut pisau karambitnya, lalu menerjang keluar dari balik kabut debu bagaikan bayangan. Ia menyergap salah satu prajurit dari samping, mengunci lehernya, dan menancapkan karambit tepat di selangkangan leher di bawah helm taktisnya. Prajurit itu tumbang tanpa sempat berteriak.
Prajurit terakhir yang panik mencoba mengarahkan senapannya ke arah Hayden dari jarak dekat, tetapi Hayden melayangkan tendangan keras yang menghantam dada prajurit itu hingga tersungkur, disusul satu tembakan jarak dekat yang mengakhiri hidupnya.
Kini, di tengah kepulan asap dan mayat anak buahnya yang bergelimpangan, hanya tersisa Marcus seorang diri.
Marcus menurunkan senapannya yang kehabisan peluru, lalu melemparnya ke tanah dengan wajah merah padam oleh amarah. Dari balik pinggangnya, ia menarik sebilah pisau taktis berukuran besar.
"Cuma kita berdua sekarang, Hayden," desis Marcus penuh kebencian, menyeka darah yang menetes dari hidungnya. "Mari kita selesaikan ini."
"Baik, jika itu yang kamu inginkan," bisik Hayden dingin. Ia menyarungkan senapannya yang kosong dan mencabut pisau karambit di pinggangnya, pasang kuda-kuda bertarung.
Marcus menerjang lebih dulu dengan raungan liar. Pisau taktisnya membelah udara dalam sabetan horizontal yang cepat. Hayden merunduk refleks, merasakan hembusan angin tajam di atas kepalanya, lalu membalas dengan tusukan karambit menyilang ke arah rusuk Marcus.
Namun, Marcus bukanlah lawan sembarangan. Mantan komandan lapangan Aegis itu berhasil menangkis pergelangan tangan Hayden dengan siku lengannya, menciptakan benturan keras yang memutus momentum serangan Hayden. Marcus memanfaatkan keunggulan berat badannya untuk menghantamkan lututnya tepat ke dada Hayden.
*BUM!*
Hayden terseret mundur dua langkah, napasnya tertahan sejenak. Sebelum ia sempat menguasai keseimbangan, Marcus melayangkan pukulan kombinasi ke rahang Hayden, membuat penglihatannya berkunang-kunang.
Hayden mencoba memutar tubuhnya untuk menyayat paha Marcus, namun tubuhnya yang sudah kelelahan dari pertarungan berturut-turut membuat gerakannya kalah cepat. Marcus berhasil membaca arah serangan itu. Dengan cengkeraman baja, ia menyambar pergelangan tangan Hayden, memutarnya dengan keras hingga karambit itu terlepas dan jatuh ke aspal.
"Selesai sudah, Hayden!" desis Marcus penuh kemurkaan.
Dengan satu dorongan brutal, Marcus memojokkan Hayden ke kap mobil yang ringsek. Sebelum Hayden sempat melepaskan diri, Marcus mengayunkan pisau taktisnya dan menancapkannya dalam-dalam ke perut sebelah kiri Hayden.
*JLES!*
Rasa sakit yang luar biasa menjalar seketika ke seluruh tubuh Hayden. Ia mengerang tertahan, darah segar mengucur deras membasahi seragam taktisnya. Pandangannya mulai memburam saat Marcus menarik keluar pisau itu dengan kasar, membuat Hayden roboh bersimbah darah di atas tanah.
Marcus tersenyum puas menatap musuh bebuyutannya yang terkulai tak berdaya. Ia merenggut tas taktis di bahu Hayden tanpa perlawanan. Marcus membuka ritsleting tas tersebut sejenak, memastikan tiga tabung berkilau 'Genesis' masih utuh di dalamnya.
"Terima kasih atas kerja kerasmu membawa penawar ini padaku," ucap Marcus dingin sambil menyandang tas vaksin tersebut.
Sembari menahan luka tusuk yang membakar di perutnya, Hayden berusaha merayap, jemarinya menggapai-gapai aspal yang tertutup darahnya sendiri. Marcus melangkah menuju truk taktis yang masih menyala, melompat masuk ke kabin, dan memacu kendaraan itu pergi meninggalkan jalanan yang sepi.
Suara deru mesin truk perlahan menghilang di kejauhan. Hayden terbaring lemah, napasnya memburu dan terengah-engah, berjuang agar kesadarannya tidak sepenuhnya padam di tengah genangan darahnya sendiri.
Keheningan mencekam mendadak melingkupi area minimarket begitu deru mesin truk Marcus menghilang di kejauhan. Tidak ada lagi suara tembakan atau raungan pertarungan, membuat Fiora memberanikan diri mendorong pintu *basement* dan melangkah keluar bersama Leo yang menggenggam erat jemarinya.
Namun, langkah Fiora terhenti seketika. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, matanya menangkap sosok Hayden yang terkulai lemas di atas aspal dingin, dikelilingi genangan darah segar yang terus meluas dari perutnya.
"Hayden!" jerit Fiora histeris.
Gadis berambut nila itu langsung berlari menghampiri Hayden tanpa memedulikan bau hanyir darah yang menyeruak. Ia berlutut di samping tubuh Hayden, jemari kecilnya gemetar saat mencoba menekan luka tusuk di perut pria itu untuk menahan pendarahan.
"Hayden... Hayden, bertahanlah! Tolong buka matamu!" tangis Fiora pecah, air matanya menetes mengenai pipi Hayden yang pucat pasi.
Leo ikut berlutut di samping Fiora dengan mata bulatnya yang penuh ketakutan, memegangi tangan Hayden yang terasa makin dingin.
Kesadaran Hayden yang berada di ambang batas membantunya mendengar samar suara tangisan Fiora. Kelopak matanya terbuka perlahan, menatap wajah Fiora yang panik di atasnya. Dengus napasnya terdengar berat dan tersengal.
"Vaksinnya... Marcus membawa... Genesis..." bisik Hayden terputus-putus, suaranya hampir tak terdengar di antara rasa sakit yang luar biasa membakar perutnya.
"Jangan pikirkan vaksin itu dulu!" potong Fiora dengan suara bergetar, mencoba mengangkat lengan Hayden untuk dipapah. "Kita harus menyelamatkanmu! Leo, bantu Kakak!"
Meski tubuhnya kecil, Fiora mengerahkan seluruh tenaganya bersama Leo untuk memapah Hayden menuju kabin *Armored Rover* yang pintunya masih terbuka. Perjuangan mereka belum selesai; kini bukan hanya bukit pemancar dan vaksin 'Genesis' yang menjadi pertaruhan, melainkan nyawa Hayden yang berada di ujung tanduk.