NovelToon NovelToon
Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.

Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.

Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.

Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zemima 1

'Dek, pulang kerja Mas mau mampir ke rumah ibu. Katanya ibu demam dan mau Mas bawa dulu ke dokter!'

Pesan masuk ke ponsel milik Zemima dari suaminya Arsyad.

"Apa aku juga perlu ke sana, Mas? Aku akan jenguk ibu sambil membawa makanan... Kasihan ibu pasti belum masak kalau dia sakit..."

'Tidak usah. Kamu di rumah saja istirahat. Kamu juga pasti capek baru pulang kerja, biar nanti Mas sekalian belikan makanan untuk Ibu di jalan...'

"Baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan, Mas..."

Zemima meletakkan ponselnya di atas meja konsol. Suara derit pagar besi dan derum mobil Arsyad yang makin menjauh dari area perumahan perlahan lenyap, menyisakan sunyi yang langsung memenuhi ruang tamu rumah minimalis mereka.

Langkah kakinya terasa berat saat menyeret sandal rumah ke arah dapur. Rasa pegal akibat memimpin rapat direksi serta meninjau dua cabang perusahaan seharian makin menjadi-jadi. Di mata Arsyad dan keluarga besar, Zemima hanyalah seorang pegawai kantoran biasa dengan posisi staf administrasi. Demi menjaga kenyamanan rumah tangga, Zemima memang memilih menyembunyikan status aslinya sebagai pemilik tunggal PT Aksara Nusantara, perusahaan tempat Arsyad sendiri membayangkan istrinya bekerja sebagai karyawan biasa.

"Harusnya aku paksa ikut saja tadi..." gumam Zemima pelan pada dirinya sendiri.

Tangannya bergerak membuka kulkas, mengambil botol air dingin, lalu meneguknya hingga tersisa separuh.

Ia menghela napas panjang, menatap tas belanjaan berisi bahan makanan yang sempat ia beli di supermarket dekat kantor tadi sore. Niat hati ingin memasak sup ayam hangat untuk mertuanya, tapi niat itu harus diurungkan.

Zemima melangkah ke kamar utama, melepas blazer formalnya dan menggantinya dengan daster katun yang adem. Saat ia mendudukkan diri di tepi tempat tidur, ponsel di genggamannya berdering nyaring. Layar menunjukkan nama asisten pribadinya, Maya.

"Halo, May?" sapa Zemima berbisik seraya memijat pelipisnya yang pening.

'Bu Zemima! Maaf kalau saya menganggu, saya baru ingat pas ngecek kalender. Laporan evaluasi investasi buat rapat pemegang saham besok pagi jam delapan sudah Ibu review belum?' suara Maya terdengar panik dari seberang telepon.

"Aduh, May... aku lupa banget," Zemima mengacak rambutnya yang terikat asal.

"Tadi pas jam pulang kantor aku keburu kepikiran Ibu mertuaku yang mendadak demam tinggi."

'Waduh, sakit apa Ibu, Bu? Tapi dokumen itu harus diproyeksikan di layar jam delapan pas lho, Bu. Para komisaris tadi wanti-wanti banget sebelum saya leave kantor.'

"Iya, aku paham. Ini aku baru sampai rumah kok," Zemima menghela napas, mengumpulkan sisa fokusnya.

"Nanti malam aku buka dari laptop rumah. Nanti kalau draf akhirnya selesai, langsung aku forward ke email kamu sama Pak Yudi ya. Bilang ke staf yang lain, rapat besok dipimpin langsung sama saya."

'Beneran enggak apa-apa, Bu? Maaf banget ya Bu Zemima, malam-malam malah nambah beban pikiran Ibu...'

"Enggak apa-apa, May. Kamu sudah kerja bagus seharian ini. Makasih ya sudah ngingetin."

Setelah mematikan sambungan telepon, Zemima merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar. Perasaannya campur aduk, antara cemas memikirkan kondisi Ibu mertuanya, kelelahan fisik usai mengendalikan bisnis besarnya, dan beban menyembunyikan rahasia identitasnya dari Arsyad.

Ia bangkit, berjalan menuju meja kerja di sudut kamar, lalu menyalakan laptop perusahaannya. Di tengah suara fan laptop yang mulai berdegung, Zemima mengetikkan satu pesan singkat lagi untuk suaminya:

"Mas, kalau sudah selesai dari dokter, kabari aku ya. Biar aku tenang."

Pesan terkirim dengan centang dua abu-abu. Zemima mendesah pelan, lalu mulai membuka dokumen laporan keuangan perusahaan, membiarkan keheningan malam menemaninya menunggu kabar.

Suara deru mesin mobil Arsyad yang memasuki garasi memecah keheningan malam yang makin larut. Jam dinding digital di meja kerja Zemima menunjukkan pukul 23.45 WIB. Zemima segera menutup laptop perusahaannya cepat-cepat agar tidak terlihat Arsyad, meluruskan kakinya yang pegal, lalu bergegas menuju pintu depan.

Begitu kunci diputar dan pintu terbuka, bau aroma minyak kayu putih dan antiseptik langsung tercium pekat. Arsyad berdiri di ambang pintu dengan wajah kuyu, lengan kemeja rolled up hingga siku, dan rambut yang berantakan. Namun, ia tidak sendiri, ia merangkul ibunya, Bu Rahmi, yang tampak pucat pasi dengan selimut tebal melilit tubuhnya.

"Lho, Mas? Ibu dibawa ke sini?" Zemima kaget, refleks memajukan langkah untuk membantu memegang lengan Bu Rahmi.

"Pegangin dulu, Dek. Kasihan Ibu, lemas banget," napas Arsyad terdengar memburu.

"Dokter tadi bilang gejalanya mirip tifus. Ibu enggak boleh sendirian di rumahnya."

"Aduh... Ibu, pelan-pelan ya," ucap Zemima lembut seraya merangkul pinggang mertuanya. Tubuh Bu Rahmi terasa sangat hangat saat tersenggol kulitnya.

"Zem... maaf ya, Ibu malah repot-repot dibawa ke sini tengah malam begini," bisik Bu Rahmi lirih, suaranya parau dan terputus-putus.

"Enggak apa-apa, Bu. Justru Zemima khawatir kalau Ibu di rumah sendirian," Zemima menuntun mertuanya perlahan menuju kamar tamu di lantai bawah.

"Baring dulu ya, Bu. Biar Zemima ambilkan kompres dan air hangat."

Setelah mendudukkan dan menyelimuti Bu Rahmi dengan nyaman, Zemima keluar dari kamar dan mendapati Arsyad sedang terduduk di sofa ruang tamu, menyandarkan kepala dengan mata terpejam.

"Mas..." panggil Zemima pelan sambil mendekat.

Arsyad membuka matanya, menatap istrinya dengan raut serba salah.

"Maaf ya, Dek. Tadi Mas enggak sempat mengabari lagi. Di klinik antrenya parah banget, terus pas diperiksa dokter, suhu Ibu hampir tiga puluh sembilan derajat. Mas langsung panik dan mikir lebih baik Ibu dibawa menginap di sini saja."

"Kenapa harus minta maaf, Mas? Ya jelas lebih baik dibawa ke sini," Zemima duduk di samping suaminya, mengelus punggung tangan Arsyad.

"Tapi kenapa di telepon tadi Mas bilang cuma mau beliin makanan terus pulang?"

"Mas tadi enggak tega sama kamu. Kamu kan pasti capek banget seharian lembur ditumpuk kerjaan kantor kamu," Arsyad menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar.

"Gaji kamu kan enggak seberapa tapi atasan kamu sering ngasih beban banyak. Mas enggak mau kamu kelelahan. Tapi pas lihat kondisi Ibu... Mas enggak mungkin tega tinggalkan Ibu sendirian malam ini."

Zemima tersenyum tipis mendengar anggapan suaminya tentang pekerjaannya. "Iya, aku paham kok, Mas. Yang penting Ibu sudah di sini."

"Resep obatnya mana? Sudah dibeli sekalian?" lanjut Zemima.

"Sudah, ini di plastik hitam," Arsyad menunjuk kantong plastik di atas meja.

"Obat penurun panasnya harus diminum sesudah makan. Tapi Ibu dari sore belum kemasukan makanan sama sekali, Dek. Tadi Mas coba belikan bubur di jalan, tapi Ibunya enggak mau, katanya enek."

Zemima bangkit dari sofa. "Ya sudah, Mas mandi dulu sana, bersihkan badan. Aku ke dapur sebentar. Tadi sore aku sempat beli bahan sup ayam. Aku buatkan kuah sup hangat yang bening ya, siapa tahu Ibu mau masuk makanan sedikit."

Arsyad menatap istrinya dengan tatapan lega campur haru. Ia berdiri, mengusap puncak kepala Zemima gemas.

"Makasih ya, Dek. Kamu memang istri yang berbakti. Padahal besok kamu harus masuk kantor pagi-pagi, kan?"

"Sama-sama, Mas. Pekerjaanku sudah beres kok," sahut Zemima tenang seraya berjalan menuju dapur.

"Udah, cepat mandi. Habis itu bantu aku suapin Ibu."

Langkah kaki Zemima kini tak lagi terasa seberat tadi. Rasa lelahnya seolah tergeser oleh kesibukan baru di tengah malam yang mendadak penuh hiruk-pikuk kecil itu. Denting panci dan aroma bawang putih goreng perlahan mulai memenuhi dapur, menggantikan sunyi yang sempat menguasai rumah sepanjang malam.

1
Ma Em
Arsyad bodoh dia kira sdh sukses dgn karirnya dan Arsyad kira Zemima cuma staf biasa bkn orang penting di perusahaan holding ga taunya Zemima pemilik saham terbesar di perusahaan tempat Arsyad bekerja , selamat menyesal Arsyad dan pasti menangis darah dan minta ampun pada Zemima .
Adinda
jijik aku lihat benalu mokondo pula ditambah tukang selingkuh,gak nafkahi zemima kayak punya kuasa aja
nely_48
blm jg zemima beneran selingkuh km suami dajjal udh kebakaran jenggot,, apa kabar nya diri km sendiri yg udh jelas n nyata selingkuh sm s dina n lg hamil pula tuh s gundik nya
nely_48
pria n suami yg mulia hati nya s Arsyad ini,, sampe² semua anggota keluarga nya D gundik nya D kasih makan n foya-foya pake uang haram dr hasil korupsi D kantor istri nya
Fitria Syafei
emang enak..rasain ..rasain... mati berdiri nti kau kalau kau tau siapa sesungguhnya Zamima ntuh Arsyad 😏 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Arieee
kebakaran jenggot tuhhhhhh🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
wkwkwkkwk.. siap2 arsyad sbentar lagi kamu kembali ke setelan awall 🤭🤭🤭
Yam_zhie: sabar ya
total 1 replies
Ilfa Yarni
kelamaan thor ah bosan munggunya terlalu diulur2
Yam_zhie: ya mau gimana Bun nanti aku kena sentil Edi kalau dari awal lambat terus cepet. gak dapat duit othor 🙈🙈🙈😭😭
total 1 replies
Aretha Shanum
sat set lah jangan ditunda2
Yam_zhie: kalau kecepatan hukumannya enak dong 🤣
total 1 replies
Fitria Syafei
syukurin semakin di gin kan istrimu Arsyad ...😏 KK cantik pinisirin 🙄
ryuka
senin adalah hari kehancuran mu arsen 🤭🤭🤭
Yam_zhie: biar dia pusing dulu 🙈🙈🙈
total 1 replies
Ilfa Yarni
aduuuh msh Lama bomnya iih aku yg gregetan jadinya
Yam_zhie: sabar ya maaaakkk🤣🤣🤣
total 1 replies
Ma Em
Mampus Arsyad kamu tdk akan menjadi kepala cabang malah kamu akan dipecat mungkin setelah Zemima tau tau semua kebusukan Arsyad juga keluarganya , selamat menyesal dan jadi gembel Arsyad .
Irsyad layla
jgn diundur terus deh ini mergokin nya malah bosen bacanya jadinya
nely_48
otak udang kau Arsyad,, nilep uang kantor buat foya-foya,, dasar org miskin d angkat derajat oleh istri bukanya bersyukur mlah makin menjadi korupsi
nely_48
josjis ath zemima,, jgn d ulur² trs
Fitria Syafei
hahahah baru jadi simpanan aja deh pengeretan apalagi jadi bini kedua ..ntuh laki orang lagi kelojotan ntuh kalau benar bini sah nya CEO di tendang deh kalian 😏 KK cantik kereen 🥰 terimakasih 🥰
ryuka
diihhh ada yg halu udah di nikahin 🤭🤭🤭🤭🤣
Oma Gavin
wkwkwk belum apa" sudah pusing arsyad baguslah nanti saat tau kebenarannya jadi stroke 🤣🤣🤣
Ilfa Yarni
aduh zemima kpn km Skalkmat ini orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!